
Ceklek. Suara pintu terbuka mengurungkan langkah kaki Zidan yang hendak pergi dari sana. Ia menoleh dan membalikkan badannya kembali kearah pintu.
"Ada apa?" Lisa bertanya dengan suara yng hampir tidak terdengar sama sekali, karena sebagian tubuh hingga kepalanya dibalut oleh selimut, yang kelihatan hanya wajahnya saja. Zidan mengernyit , ia mencoba menarik selimut itu dari tubuh istrinya tersebut.
"Jangan menarik selimutnya!" Lisa menahat selimut tersebut dan mendekapnya dengan erat - erat agar tidak terlepas dari tubuhnya. Zidan tak mau mnyerah dan ia menarik selimut itu dengan kuat - kuat hingga kain tebal itu pun terlepas dari tubuh Lisa dan teronggok di lantai.
Lisa seketika menundukkan wajahnya hingga membuat Zidak tidak bisa melihat wajahnya, karna tertutupi oleh rambutnya yang terlihat acak - acakan
"Kau menangis?" Zidan bertana saat tenganya mengangkat wajah istrinya itu, terlihat begitu jelas dan Zidan begitu terkesiap saat melihat kedua mata wanita itu menyipit dan air mata masih mengalir dengan jarang di sana. Zidan sudah bisa menebak, istrinya menangis pasti karena ucapan kasarnya tadi.
Lisa menjauhkan tangan Zidan dari dagunya " ada apa?" tanya nya sambil menundukkan kembali, ia menyembunyikan wajahnya dari delikkan mata suaminya itu.
"Aku mau minta maaf, ponselku tadi tertinggal jadi aku tidak tau kalau kau mengirimkan pesan kepadaku, maaf aku tadi meragukanmu, aku kira kau pergi berdua dengan si brengsek itu!" ujar Zidan. Lisa hanya diam tak berkomentar apa pun.
"Lisa, tolong maafkan aku!" Zidan melangkah lebih dekat membuat tangannya lebih mudaj menjangkau tubuh istrinya itu.
"Lisa?"
"Untuk apa kau minta maaf? Yang salah kan memeng diriku, karna tidak seharusnya aku malan dengan laki - laki lain."
"Tapi apa perlu kau berbicara sekasar itu kepada ku?" Lisa memberanikan dirinya untuk menatal Zidan dengan tatapan penuh seakan air matanya hendak meledak kembali.
Zidan membalasnya dengan sedikit menyesal , bukankah ini adalah sifat buruknya dari dulu? Pemarah dan tidak mengendalikan emosinya, tetapisetelah itu dia pasti akan.selalu menyesali perbuatannya tersebut.
"Maafkan aku! Seharusnya tadi aku tidak berkata kasar kepadamu. Aku hanya kesal saja, aku tadi menjemputmu ke boutique tapi pegawaimu memberitahukan aku, kalau kau sudah di jemput sama si brenseng iti! Bahkan kau tidak memberitaukan aku terlebih dahulu." sebenarnya Zidan tidak mau.menyebutkan nama Reyhan, entah kenapa dia begitu tidak menyukai laki - laki itu.
"Ponselmu tidak aktif!"
"Sudah tau tidak aktif kenapa kau tidak menelpon ke nomor kantor? Aku tadi lupa membawa ponsel pribadi ku tapi aku selalu membawa ponsel khusus untuk kerja ku." Lisa bungkam seketika, ia tidak berfikir hingga ke sana.
Zidan menggerakkan tangannya, merapikan anak rambut Kisa yang berantakan hingga menutupi wajahnya itu.
__ADS_1
"Katakan kepadaku, suami mana yang tidak kesal saat tau istrinya di jemput oleh laki - laki lain?" tanya nya dengan pelan. Kedua mata Lisa yang menyipit itu mendadak melebar akan pertanyaan suaminya tersebut.
"Itu berlaku kepada sumi yang mencintai istrinya. Sedangkan kau? Zi, kita sama - sama tau, kenapa kita menikah. Jadi, untuk apa kau merasa kesal?" perkataan itu seketika menghentikan gerakan tangan Zidan yang masih sibuk merapikan rambut Lisa. ia menatap istrinya itu, namun ia tak membalas perkataan itu.
Tak mendapat balasan akan perkataannya, Lisa menundukkan kembali wajahnya.
"Tolong pergilah, aku mengantuk. Aku ingin tidur di kamar ayah!" perintah Lisa debgan suara memberat.
Zidan mengangguk."Baiklah, malam ini kita akan tidur di kamar ayah" ia menarik tangan Lisa, namun Lisa menepisnya begitu saja.
"aku mau tidur sendiri disini, kau pergilah kekamar!"tolak Lisa.
"Tapi, mana bisa begitu?"
"Aku ingin tidur sendiri disini, kau kmbalilah ke kamar!" Lisa mebgulang perkataannya lagi. Ia hendak menutup pintu kaamr itu, namun Zidan menahannya.
"Lisa kau tidak memaafkanku?" tanya Zidan.
"Kalau mmemang kau sudah memafkan aku , lalu kenapa kau tidak mau tidur dengan ku dan kau seolah sedang menghindariku?" tanya Zidan mencoba menerobos paksa pintu itu, namun Lisa menahannya debgan sekuat tenaga agar suaminyanitu tidak masuk.
"Aku hanya ingin tidur sendiri saja, karna aku merindukan ayah, itu saja"
"Zi, tolong mengertilah!" permintaan Lisa tak bisa membuat Zidan untuk memaksanya.
"Baiklah..." Zidan seketika menjauhkan tubuhnya dn membiarkan pintu itu tertutup dengan sempurna.
Setelah penolakan Lisa yang tidak mau berbagi kamar dengan nya, Zidan terpaksa kembali ke kamarnya sendiri. Ia merebahkan tubuh dan mencoba mengistirahatkannya, berulang kali Zidan memejamkan kedua matanya, namun tetap saja ia tidak bisa tidur. Ia beranjak duduk dan mengacak-acak rambutnya, memperhatikan ke samping tempat tidurnya yang biasa diisi oleh istrinya, yang kini kosong.
"Kenapa aku tidak bisa tidur?" Zidan mengusap kasar wajahnya. Terdengar suara dering beserta getar dari ponsel miliknya. Zidan segera meraih ponsel itu, yang kala itu berada di atas meja samping tempat tidurnya. Ada satu pesan masuk dari nomor yang tak dikenal, ia segera membuka pesan tersebut.
Zidan, bagaimana kabar mu? Ini aku putri. Apa kau masih ingat dengan ku? ~ Putri
__ADS_1
"Putri? Bagaimana dia bisa tau nomor ponselku?"decaknya, ia tak menghiraukan pesan itu. Terlihat ada satu pesan baru lagi yang masuk dari Ridho. Zidan yang hendak meletakkan ponselnya, namun ia mengurungkan niatnya dan segera membuka pesan dari sahabatnya itu.
Zi, elu ingat Putri? mantan kekasih elu yang cantik itu. Gue baru aja bertemu dengannya, dia minta nomor ponsel elu. Dan gue berbaik hati memberikannya kepada dia. Sekarang elu berhutang sama gue. Elu harus memberi gue hadiah! ~ Ridho
Oh baik banget elu ya, tenang aja gue bakal kasih elu hadia. TUNGGU AJA HADIAH DARI GUE!! .~ Zidan
"****! Ingin sekali ku cabut nyawa si bodoh ini!!!" umpat Zidan seraya membanting ponselnya ke lantai, namun tak membuat ponsel itu rusak atau pun pecah sedikit pun. Ia begitu masa bodoh dan kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur kembali.
Namun, mata Zidan seolah tak ingin di pejamkan, ia membuka kembali matanya dan menoleh ke samping.
"Aku bener tak bisa tidur tanpanya" keluh Zidan. Ia melirik jam dinding yang ada di kamar itu.
"Sudah begitu larut, tapi kenapa aku belum juga mengantuk. aku harus tidur, besok begitu banyak urusan yang menunggu ki" serunya, ia mencoba memejamkan matanya.
Berbagai macam posisi tidur yang ia coba, namun matanya tak juga mau di ajak kompromi. Akhirnya Zidan mengambil foto Lisa yang tergantung di dinding kamar, kemudian di peluknya, tak lama Zidan pun masuk ke dunia mimpi.
~•••~
.
.
.
.
.
Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜
__ADS_1