
"Aku tidak menghindarimu!" bantah Lisa.
"Pergi bekerja pagi sekali,tidak membangunkanku dan menyuruh pegawai untuk berbohong, apa itu bukan menghindar?"
"Aku banyak pekerjaan, itu sebabnya aku tidak mau di ganggu oleh siapa pun."
"Termasuk diriku? Kau pikir aku pengganggu begitu?"
Lisa berdecak bingung, ia beranjak berdiri, lebih dekat dengan suaminya itu.
"Ayo duduklah dulu, jangan marah - marah seperti ini!" ajak Lisa seraya menyentuh lengan suaminya.
"Tidak mau!" Zidan menepis tangan Lisa dengan begitu kasar.
"Lalu apa mau mu?" bentak Lisa. Zidan hanya diam, dan menatap kesal istrinya itu.
Ponsel milik Zidan bergetar berkali - kali membuat dirinya dengan segera mengambil ponsel itu yang ada di dalam saku celananya. Terlihat ada beberapa pesan masuk dari Bella
Bapak, dimana?" ~ Bella
Pak, aku sudah ada di rumah sakit, bapak dimana? Jadi kan kita jenguk Daniel? ~ Bella
"Oiya aku lupa!" gumam Zidan. Ia melirik kearah Lisa lalu mengalihkannya, sibuk mengetik huruf alphabet yang tertera di layar ponselnya tersebut.
Aku sedang di jalan, tunggulah ~ Zidan.
Zidan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia meraih tangan Lisa.
"Ayo ikut aku..." Zidan menarik tangan Lisa dengan begitu kasar dan mengajaknya pergi dari boutique.
"Zi, kau mau mengajakku ke mana?" Lisa meronta, namun Zidan tak menghiraukannya.
Tubuhnya di paksa masuk kedalam mobil yang pintunya baru saja di buka oleh Zidan , laku Zidan pun menyusul istrinya masuk kedalam mobil, ia mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi, ia menyalakan mesin dan segera melajukan mobilnya tersebut untuk pergi berlalu meninggalkan boutique istri nya itu.
Mulut Lisa tak henti - hentinya mengoceh, mempertanyakan kemana suaminya itu akan membawanya. Namun, rasanya suara Lisa terbuang sia - sia.
Zidan tak menghiraukannya dan fokus mengemudikan mobilnya tersebut.
"Zi, hentikan mobilnya! Atau aku akan locat dari mobil mu ini!" ancaman Lisa membuat Zidan menoleh, menatap kearah Lisa dengan serius.
"Loncat saja!." Zidan menantang, ia semakin menambahkan laju mobilnya dua kali lebih cepat, dari sebelumnya.
"Kenapa dia malah benar - benar menyuruhku meloncat?" Lisa melirik takut kearah luar jendela mobil, kecepatan mobil Zida. Membuat jalanan hanya terlihat sekilas tanpa jedah di matanya.
"Kenapa diam? Ayo loncat! Tidak berani?" tantangnya kembali.
Lisa mengalihkan pandangannya kepada Zidan, menciut takut. "Kata Siapa aku tidak berani? Aku berani! Tapi hentikan dulu mobilnya, baru aku akan loncat!"
Zidan tak menghiraukan perkataan istrinya itu dan masi memacu mobilnya dengan kecepatan yang masih sama.
__ADS_1
"Zi!" teriakan suara Lisa membuat Zidan menoleh dan menatap tajam kearah wanita yang duduk di sampinya itu.
"Apa kau tidak bisa diam?"
"Tidak bisa! Katakan terlebih dulu, kau mau membawaku kemana?!" kedua mata Lisa terlihat melotot.
"Ke tempat kremasi!" jawab Zidan dengan nada suara yang kesal.
"Memangnya siapa yang meninggal?"
"Untuk apa kita kesana?" Lisa bertanya dengan tak sabar.
"Untuk membakarmu hidup - hidup!" kedua mata Lisa mendelik takut.
"Ka - kau mau me-mmebakarku?" Lisa bertanya dengan terbata - bata.
"Iya, aku akan benar - benar membakarmu jika kau bertanya dan berbicara lagi! Diam dan ikut saja!" seru Zidan dengan kesal. Lisa seketika diam, membungkam mulutnya rapat - rapat dengan menggunakan tangannya. Sesekali kedua matanya tak bisa berhenti diam melirik takut ke arah suaminya itu.
"Apa salah dan dosaku tuhan, sehingga kau kirimkan aku jodoh yang seperti ini?" keluh Lisa dalam hati.
Tak lama kemudian, Zidan menghentikan mobilnya yang ia kendarai di depan rumah sakit NMY. Lisa celingak celinguk memperhatikan sekitar rumah sakit tersebut dari dalam mobil.
"Rumah sakit? Ngapain kita ke sini?" tanya Lisa.
"Ayo turun!!"
"Untuk apa au mengajakku kemari? " Lisa menarik tangan Zidan menghentikannya untuk turun dari mobil.
"Ayo!" Zidan menggandeng tangan Lisa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
"Zi, ini tempat umum dan banyak sekali orang" tutur Lisa menetap tangannya yang di gandeng oleh suaminya itu.
"Lalu kenapa?"
Lisa diam sejenak, menatap suaminya itu. " Tidak ada yang tau jika kita sudah menikah, lalu untuk apa kau mengandeng ku seperti ini? Bukannya kau malu jika ada yang tau tentang status kita?" Zidan diam, menatap istrinya.
"Kapan aku pernah bicara seperti itu? Bukannya kau yang tidak ingin orang - orang tau status kita?" Lisa bungkam mendengar perkataan suaminya tersebut.
"Aku kan sudah bilang, jangan banyak bertanya dan berbicara! Ikuti apa kataku saja. Apa susahnya sih!" Zidan kembali menarik tangan Lisa , mengajak istrinya itu masuk kedalam Rumah sakit.
Setibanya di lobi, Zidan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bella.
"Hallo, Bella" sapa Zidan ketika panggilannya di terimah oleh mahasiswanya itu.
"Iya pak, bapak dimana?" tanya Bella.
"Saya sudah di lobi. Kamu di mana?"
"Saya di kantin pak, tunggu ya pak saya kesana" ujar Bella, Zidan pun mematikan
__ADS_1
"Ayo kita duduk dulu" Zidan mengajak Lisa duduk di bangku yang telah di sediakan di sana. Lisa hanya mengikuti semua yang di perintahkan oleh suaminya itu.
"Sebenarnya, ngapain kita disini? Apa kau sakit? Atau ada yang sakit?" berbagai pertanyaan pun di utarakan oleh Lisa.
"Sudah kau diam saja, nanti kau juga akan tau." ujar Zidan.
"Baiklah" ucap Lisa pun diam.
Tak lama setelah itu, Bella pun datang menghampiri mereka. " Pak, eh kak Lisa juga ikut" sapa Bella .
"Bella? Kamu ngapain disini?" tanya Lisa
"Ha..." Bella bingung harus jawab apa, ia melirik kearah Zidan.
"Ayo, kau akan tau nanti" ajak Zidan, mereka pun melangkah berlalu pergi menuju keruangan Daniel.
Setelah sampai di depan pintu ruang rawat Daniel, Zidan pun membuka pintu ruangan itu.
Lisa menatap suami nya itu, dia sangat penasaran, siapa yang ada di dalam ruangan itu.
Ceklek. Zidan mengajak istrinya dan mahasiswanya itu masuk kedalam. Setelah sampai di dalam, disana Lisa melihat seseorang terbaring di ranjang rumah sakit itu dengan banyak Selang yang tertempel di tubuhnya.
Lisa menatap suaminya dengan bingung, ia pun mendekati ranjang itu dengan ragu.
"Dia?...." Lisa sangat kaget saat melihat dengan jelas siapa yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu.
"Inilah alasannya kenapa Daniel tiba - tiba menghilang tanpa kabar" seru Zidan mendekati istrinya. Lisa menatap Zidan, meminta penjelasan
"Aku baru tau kalau dia seperti ini dua hari yang lalu."
"Apa Rose tau?" tanya Lisa kepada Bella.
"Belum kak, kami belum memeritahukannya." jawab Bella.
"Kita tunggu Daniel sadar, jadi biarkan dia yang menjelaskannya." saut Zidan.
Lisa menatap Daniel dengan begitu sedih, karena dia sudah menganggap Daniel sudah seperti adiknya sendiri.
~•••~
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜