ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Ke kantor


__ADS_3

Lisa menatap suaminya dengan bingung, ia pun mendekati ranjang itu dengan ragu.


"Dia?...." Lisa sangat kaget saat melihat dengan jelas siapa yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu.


"Inilah alasannya kenapa Daniel tiba - tiba menghilang tanpa kabar" seru Zidan mendekati istrinya. Lisa menatap Zidan, meminta penjelasan.


"Aku baru tau kalau dia seperti ini dua hari yang lalu."


"Apa Rose tau?" tanya Lisa kepada Bella.


"Belum kak, kami belum memeritahukannya." jawab Bella.


"Kita tunggu Daniel sadar, jadi biarkan dia yang menjelaskannya." saut Zidan.


Lisa menatap Daniel dengan begitu sedih, karena dia sudah menganggap Daniel sudah seperti adiknya sendiri.


Lisa sangat sedih mengetahui keadaan Daniel, ia pun pergi menemui dokter yang menangani Daniel dan bertanya apa sebebarnya penyakit yang di derita Daniel. Untuk saat ini Lisa lebih mempercai perkataan dokter dari pada suami dan juga teman adiknya itu.


Tok...Tok...


"Masuk!" Lisa dan Zidan pun masuk ke ruangan dokter yang menangani Daniel.


"Permisi dokter.."


"Iya ada apa, tuan dan nona? Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter yang di ketahui bernama Mike.


"Silahkn duduk!" imbuhnya, Zidan dan Lisa pun duduk di kursi yang ada di depan meja dokter Mike.


"Begini dok, saya mau menanyakan tentang penyakit yang di derita pasien atas nama Daniel. Sebenarnya di sakit apa dok?" tanya Lisa, sembari menatap dokter Mike serius.


"Ehm... Soal Daniel ya, dia sebenarnya mengidap penyakit kangker darah..."Lisa sangat kaget mendengarnya, ia mendekap mulut nya dengan tangan dengan kepala yang menggeleng kecil. Zidan mengusap bahu Lisa, ia mencoba memberikan kekuatan kepada istrinya itu.


"Sudah berapa lama dia mengidap kanker ini dok?" tanya Lisa.


"Sebenarnya, dia mengidap ini sudah dari 5 tahun yang lalu. Dan sekarang dia sudah stadium akhir..."


"APA dok? Sudah stadium akhir, apa tidak ada cara biar dia pulih kembali dok?" tanya Lisa.


"Kami sedang mengusahakannya, kita doa kan saja dia biar cepat sembuh." Lisa menganggukkan kepalanya.


"Apa kau sudah puas sekarang?"tanya Zidan, Lisa pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah dok terima kasih, kami permisi dulu. Maaf mengganggu waktu nya." ujar Zidan.


"Iya tidak apa - apa tuan ." mendengar jawaban dari dokter. Zidan pun segera membantu istrinya untuk berdiri.


"Ayo kita keluar dari sini! " Zidan menuntun tubuh Lisa untuk keluar dari ruangan dokter Mike. Di luar terlihat Bella sedang duduk di bangku yang ada di depan ruangan dokter tersebut.

__ADS_1


"Kak Lisa" panggil Bella, ia pun menghampiri mereka.


"Kak Lisa kenapa?" tanya Bella yang melihat Lisa keluar dari ruangan dokter di papah oleh Zidan.


"Dia hanya sedikit syok mendengar penyakit Daniel. Apa kamu sudah selesai?" tanya Zidan kepada Bella.


"Sudah pak, tadi aku sudah berpesan kepada perawat yang menjaga Daniel, aku menyuruhnya mengabari kita kalau Daniel sudah siuman dan aku juga sudah meninggalkan nomor ponselku" tutur Bella.


"Bagus, kalau begitu ayo sekarang kita pulang." ajak Zidan menoleh kearah istrinya


Lisa pun mendongakkan kepalanya melihat suaminya itu. "Bisa kah kita melihat Daniel sebentar?" tanya Lisa.


"Tidak bisa kak, waktu besuknya sudah habis" saut Bella.


"Kita besuk dia lain kali aja ya, sekarang ayo kita pulang" bujuk Zidan.


"Baiklah ayo"


"Bella, kamu tadi kesini pake apa? Apa mau sekalian saya antar?" tawar Zidan kepada mahasiswanya itu.


"Tadi saya bawa mobil kok pak, jadi bapak pergilah duluan dengan kak Lisa. Saya mau ke toilet terlebih dahulu." jawab Bella.


"Kalau begitu kami duluan ya" pamit Zidan sembari mengiring istrinya untuk melangkah pergi.


Bella menatap kepergian dosen dan kakak sahabatnya itu. "Kalian orang - orang baik, tapi sayang adik kalian yang kurang baik" gumamnya kemudian dia pun berlalu pergi dari situ.


"Masukah!" perintah Zidan Lembut. Lisa menatap suaminya sejenak, lalu ia pun masuk kedalam mobil. Setelah Lisa masuk Zidan pun menutup pintu mobil kemudian ia pun berlari kecil memutari mobil, Zidan masuk dan mendudukkan tubuhnya di bangku kemudi.


Sebelum menjalankan mobil Zidan melirik istrinya terlebih dahulu. "Apa kau tidak lapar?" tanya Zidan.


"Tidak, ayo pergi!"


"Benarkah? atau ada makanan yang ingin kau makan? " tanya nya lagi


"Kau ini sebenarnya kenapa? dari tadi bertanya soal makanan, apa kau lapar?" tanya Lisa balik.


"Aku tadi tidak sempat sarapan.."


Lisa terdiam mendengar perkataan suaminya itu. "Kalau begitu ayo kita makan. Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau lapar" seru Lisa


"Baiklah" Zidan meraih ponselnya. Saat ia menyalakan ponselnya di sana ada satu pesan masuk. Zidan pun membuka pesan itu.


Zi, elu dimana? gue idah di kantor elu nih. Ada yang mau gue bicarain tentang putri ~ Ridho.


"Ingin sekali aku membunuh si bodoh ini" gumam Zidan dalam hati. Ia pun melirik Lisa, kemudian ia mengetikan sesuatu di ponselnya.


Lalu Zidan menyalakan mesin dan segera melajukan mobilnya tersebut untuk berlalu pergi meninggalkan tempat itu

__ADS_1


Tak lama kemudian, Zidan menghentikan mobil yang ia kendari di depan kantor miliknya. Lisa celingak celinguk memperhatikan sekitar kantor tersebut dari dalam mobil.


"Ini bukannya perusahaanmu?" tanya Lisa.


"Iya ayo turun!"


"Untuk apa kau mengajakku kemari?" Lisa menarik tangan Zidan menghentikannya untuk turun dari mobil.


"Jangan banyak bertanya, cepat turun!".


"Zi, bukannya tadi kau bilang ingin makan?"tanya Lisa.


"Lalu kenapa?"


"Kok tanya kenapa sih? Kenapa kita kesini, seharusny kita kan ke restauran bukan kekantor. Atau kamu mau makan di kantin kantor?" tanya Lisa menatap suaminya itu bingung.


"Aku tadi udah pesan makanannya. Ayo kita naik!" ajak Zidan


Tak banyak bicara , Zidan turun dari mobil,membuka pintu mobil untuk Lisa dan menarik tangan istrinya itu agar turun dari mobil.


"Ayo turun!" Lisa menurut, Zidan hendak mengandeng tangan Lisa untuk mengajaknya kedalam. Namun, Lisa tak bergeming, ia menolak ajakkan suaminya tersebut.


"Zi..."


Ini pertama kalinya, Lisa datang ke perusahaan yang di kelolah oleh suaminya itu, hal itu membuatnya begitu sedikit takut dan tidak percaya diri.


"Cepat!!"


"Apa perlu ku ambilkan kursi roda?" tatapan Zidan membuat Lisa takut.


Lagi - lagi Lisa tak memiliki pilihan lain kecuali menurut, langkah kakinya beriringan dengan Zidan, mencoba menunduk, menyembunyikan sedikit wajahnya di balik bahu suaminya. Lisa tidak tau apa yany sedang di rencanakan oleh suaminya itu.


~•••~


.


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜

__ADS_1


__ADS_2