
Melihat Zidan sudah berbaring di sofa, Lisa pergi ke ruang gantinya dan berganti dari pakaian biasa ke pakaian tidur. Setelah berganti pakaian Lisa bejalan menuju ke tempat tidurnya.
"huft lelahnya hari ini" gumam Lisa. Setelah beberapa saat Lisa pun terlelap. Melihat Lisa yang sudah pulas akan tidurnya, Zidan pun beranjak dari sofa dan mendekati ranjang.
"Lu tega sama gw, jadi gw juga bakalan tega ama lu" ucap Zidan pelan. Kemudian dia memindahkan Lisa ke sofa menggantikan posisinya.
"Hmm nyaman sekali tidur disini" gumam Zidan pelan.
"Pantesan tu cewek aneh gak mau pindah tempat tidur" ujar Zidan lagi. Dia mulai menutup matanya sambil tersenyum. Zidan membayangkan bagaimana marahnya Lisa ketika iya bangun besok.
"Ahh masalah besok, ya besok aja cari solusinya" ucap Zidan masa bodoh dia terlalu capek berpikir
untuk saat ini.
~
Keesokan paginya Zidan bangun lebih dulu daripada Lisa, dia merasa sangat segar pagi ini karena tidurnya sangat nyenyak dan nyaman.
"Hoam" Zidan merenggangkan otot - ototnya. Dia melihat kearah Lisa yang masih betah akan tidurnya.
" Mending gw pindahin aja lagi" ucap Zidan pelan. Dia melangkah mendekati Lisa dan sejenak memperhatikan wajah cantik Lisa.
"Seadainya lu bersikap manis ke gw pasti kehidupan dipagi hari ini akan terasa indah dan bermakna. Tapi karna lu bersikap nyebelin ke gw maka terima lah ini" ujar Zidan pelan. Dia memindahkan Lisa dengan sangat pelan dan hati - hati
"Tidur lah yang nyenyak istriku" ujar Zidan. Dia pun beranjak ingin ke kamar mandi tapi langkahnya terhenti ketika melihat jam waker Lisa berbunyi.
Triiiing.....triiiing...
Zidan mematikan alarmnya cepat - cepat. Kali ini dia ingin mengerjai Lisa.
"Rasain lu" ucap Zidan tersenyum jahil. Dia melanjutkan tujuannya untuk ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan dan berganti pakaian. Zidan kembali ke ranjang dan melihat Lisa sedang tidur pulas.
"Dasar pemalas" Ujar Zidan berlalu pergi keluar untuk sarapan.
~
Dimeja makan sudah ada ayah Andre, Rose dan kedua orang tua Zidan.
" Pagi semua" sapa Zidan.
"Pagi sayang" sahut mama Lilis.
"Lisa mana?"tanya mama Lilis lagi yang tak melihat kehadiran menantunya itu.
"Dia masih tidur ma" jawab Zidan.
"Kelelahan kali ya Zi?" sambung papa Dika sambil tersenyum misterus kearah Zidan.
"Ya begitulah pa" jawab Zidan. Dia tau maksud dari senyum papanya itu.
"Hahahaha....ini baru anaknya papa" papa Dika tiba - tiba tertawa, dia melihat kearah Andre.
__ADS_1
"Lu tenang aja, bentar lagi kita punya cucu" ucap papa Dika.
"Semangat ya Zi" sambung papa Andre.
Lilis ikut tersenyum mendengar topik pembicaraan para laki - laki itu. Berbeda dengan Rose, dia sangat kaget mendengarnya. Dia tak menyangka kakaknya akan menyerahkan dirinya secepat itu kepada Zidan.
"Kamu kenapa Rose?" tanya Lilis yang menyadari perubahan raut wajah Rose.
"Gak ada tan" jawab Rose tersenyum.
"Jadi kapan kalian akan pindah?" tanya ayah Andre kepada Zidan.
"Rencananya siang ini yah" jawab Zidan.
"Apa tidak terlalu cepat kak?" tanya Rose.
"Tidak, kami sudah diskusikan soal ini semalam. Lagian rumah kakak lebih dekat ke tempat kerja kakak dan Lisa " ujar Zidan. Rose menanggapinya dengan anggukan.
"Aku panggil kak Lisa dulu ya, ini udah terlalu siang" ucap Rose berdiri dari duduknya.
"Rose kamu gak boleh ganggu kakakmu. Biar Zidan yang membangunkan kakakmu." seru ayah Andre.
"Iya nak, biarkan Zidan yang membangunkannya" tambah tante Lilis.
"Baiklah" ujar Rose kembali duduk dan memakan sarapannya..
Mereka melanjutkan sarapannya dengan hening dan hanya bunyi dentingan sendok yang terdengar.
~
"Hoam, aduh badanku pegal - pegal semua" ujar Lisa memijit - mijit kecil lengan dan tengkuknya.
Lisa melihat sekitar kamarnya dan dia tidak menemukan keberadaan Zidan.
"Kemana dia"gumam Lisa beranjak dari tempat tidur.
"Kenapa tempat tidurku berantakan begini? Biasanya aku tidur pernah seperti ini" ujarnya lagi. Lisa membereskan tpat tidurnya kemudian berlalu ke kamar mandi.
Setelah 30 menit Lisa sudah selesau dengan ritual mandinya.
"Ponselku mana ya?" gumam Lisa mencari ponselnya. Saat mencari ponsel tidak sengaja Lisa melihat jam wakernya.
"Ha jam sembilan? Kok bisa? Perasaan tadi malam aku set alarm jam 6 deh" ujar Lisa.
"Hais ini pasti kerjaannya si Zidan" kesal Zidan.
Lisa begegas pergi kebawa untuk sarapan. Tibanya di ruang makan Lisa tidak menemukan seorang pun.
"Bi Anah yang lain pada kepada kemana?" tanya Lisa kepada bi Anah yang sedang membersihkan dapur.
" Semua orang sedang ngumpul di ruang keluarga non, kecuali nona Rose" jawab bi Anah.
"Rose kemana?" tanya Lisa lagi.
__ADS_1
"Nona Rose pergi kuliah" jawab bi Anah lagi.
" Yaudah aku ke ruang keluarga dulu ya bi" ujar Lisa.
"Nona tidak sarapan?" tanya bi Anah
"Nanti aja bi"jawab Lisa dan berlalu pergi.
Diruang tamu Zidan dan semua orang sedang berkumpul dan membahas tentang kepindahan Zidan dan Lisa nanti siang.
"Selamat pagi semua" sapa Lisa.
"Pagi sayang, eh anak mama uda bangun. Sini - sini duduk dekat mama" ajak mama Lilis.
Zidan mengalihkan pandangannya sesaat melihat Lisa. Kemudian dia kembali fokus dengan pembicaraan ayah Andre dan papanya.
"Jadi mulai sekarang kamu gak usah ngajar lagi Zi" ujar papa Dika.
"Lah kenapa pa?" tanya Zidan kaget.
"Kamu fokus aja ngurusin kantor cabang yang disini"jawab papa Dika.
"Kan bisa sambil ngajar pa, lagian hal ini udah pernah kita bahas lo pa" ucap Zidan. Dia sangat berat meninggal kan kerjaannya sebagai dosen. Karena jadi dosen adalah cita - citanya sejak dulu.
"Tapi Zi, ngurus perusahan sambil ngajar itu sulit. nanti kamu kewalahan" ujar papa Dika.
"Pa, Lisa boleh bicara?" tanya Lisa.
"Boleh sayang, silahkan" jawab papa Dika.
"Menurut Lisa, gak masalah kalau Zidan nerusin kerjanya sabagai dosen. Nanti kalau urusan perusahaan Lisa bisa bantu" ujar Lisa. Dia tau kalau jadi dosen adalah impian Zidan dari dulu.
Zidan menatap Lisa untuk sesaat, dia senang karna istrinya mendukungnya.
"Emang kamu ngerti soal urusan kantor Lis?" tanya papa Dika.
"Lu tenang aja Dik, Lisa bisa diandalkan kok kalau soal perusahaan. Dianya aja yang gak mau kerja diperusahaan" ujar ayah Andre.
"Benarkah itu sayang?" tanya mama Lilis kaget mengetahui ternyata menantunya itu selain ahli di bidang desain dan fashion, dia juga ahli dibidang bisnis.
"Iya ma"jawab Lisa.
Zidan menatap Lisa, dia tidak menyangka kalau istrinya itu sangat bisa diandalkan dalam bisnis. Lisa yang merasa ada yang menatapnya pun, menoleh kearah Zidan. Untuk beberapa saat mereka saling pandang.
"Terus gimana pa? Aku boleh lanjut ngajarkan?"tanya Zidan mengalihkan pandangannya dari Lisa kearah papa Dika.
"Asal kalian gak kerepotan aja Zi." jawab Zidan
"Iya pa. Besok kalau kita ke repotan. Zidan janji bakal ninggalin profesi sebagai dosen" ucap Zidan.
Papa Dika menjawabnya dengan sebuah anggukan dan senyuman. Zidan sangat senang karna dia tidak jadi berhenti jadi dosen.
~•••~
__ADS_1