
"Dia sangat mencintai Daniel pak"
"Itu bukan cinta. Terus, sekarang Danielnya di mana? Kenapa dia bisa tiba - tiba menghilang seperti itu. Saya tanya ke dosen - dosen yang lainpun, mereka juga tidak mengetahui dimana Daniel" ujar Zidan.
"Saya juga tidak tau pak, saya juga sedang mencarinya pak. Saya kasihan dengan Rose pak, dia dimanfaatin sama Ronal itu." seru Bella.
Zidan terdiam mendengar kata - kata Bella, dia benar - benar pusing memikirkan mengenai adik ipar nya itu.
"Jadi, kita harus bagaimana pak? " tanya Bella.
" Kamu terus lah mencari Daniel, saya juga akan menyuruh orang untuk mencarinya. Dan ingat hal ini jangan sampai diketahui oleh Lisa. Mengerti!" ucap Zidan. Bella mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, kamu boleh pergi" seru Zidan. Bella pun berdiri dan keluar dari ruangan dosennya itu.
Setelah Bella keluar Zidan pun mulai menyuruh seseorang untuk mencari tahu keberadaan Daniel.
Zidan duduk termenung di ruangannya, dia harus berpikir keras untuk menyelesaikan masalah adik istrinya itu.
"Bagaimana pun caranya gue harus menemukan keberadaan Daniel!" gumam Zidan pelan.
"Oiya,.. Ridho, kenapa baru kepikiran sih" ujar Zidan senang, dia seolah - olah telah menemukan cara menemukan Daniel.
Zidan meraih ponselnya yang tak jauh dari jangkauannya.
"Hallo Dho" sapa Zidan.
"Tumben lu nelpon gua? Ada apa?" tanya Ridho to the poin.
"Gue butuh bantuan elu!" seru Zidan.
"Bantuan? Bantuan apaan? Jangan bilang elu mau gugat cerai Lisa?" ledek Ridho.
"Kalau ngomong jangan Sembarangan dong, mau gue potong tu Lidah ?" ancam Zidan.
"Yaelah, serius bener. Mau minta tolong apa elu?" tanya Ridho.
"Tolong elu cariin orang, yang bio nya udah gue kirim ke e-mail elu. Kalau bisa gue butuh cepat." perintah Zidan. Ridho membuka e-mailnya dan melihat siapa orang yang ingin di cari oleh sahabatnya itu.
"Ini siapa? Ada hal apa elu cari dia? " tanya Ridho.
"Itu mahasiswa gue, dia tiba - tiba nggak ada kabar, makanya gue cari!" ujar Zidan.
"Tumben elu care sama orang lain, biasanya cuek bebek aja tu?" seru Ridho.
"Udah, elu nggak usah banyak tanya, yang penting sekarang elu bantu gue cari tu orang." perinta Zidan.
"Iya, iya gue usahain"setelah mendengar jawaban Ridho, Zidan langsung mematikan sambungan telponnya begitu saja.
"Dasar, teman nggak ada akhlak." ujar Ridho kesal. Ia pun mulai menghubungi anak buahnya dan memerintahkan untuk melakukan pencarian kepada orang yang di maksud Zidan.
Setelah menghubungi sahabatnya Ridho, Zidan pun mulai sibuk dengan memeriksa tugas - tugas mahasiswanya.
__ADS_1
~
Sementara di boutique Lisa terlihat sedang sibuk mempersiapkan sketsa - sketsa gaun untuk di perlihatkan kepada seseorang yang belum ia ketahui namanya.
Tok... Tok...
"Masuk!" saut Lisa dari dalam.
Ceklek. Lisa menoleh kearah pintu melihat siapa yang masuk.
"Nona, lima menit lagi orangnya sampai, semuanya sudah siapkan" tanya Sindy
"Semuanya sudah ok kok." ujar Lisa.
"Baik lah kalau begitu saya permisi." pamit Sindy formal.
"Siapa sih orangnya misterius banget"
Tok... Tok...
"Masuk" saut Lisa
"siapa lagi ini, tadi katanya 5 menit lagi" gumam Lisa pelan, ia melihat kearah pintu dan sangat kaget saat melihat Zidan berdiri di depan pintu. Zidan pun masuk ke ruangan Lisa dan tak lupa ia menutup pintunya kembali
"Zidan?" ujar Lisa kaget, ia pun berdiri dan menghampiri suaminya itu.
"Kenapa? Apa kau tidak senang melihat ku disini?" tanya Zidan yang melihat ekspresi kaget istrinya itu.
Zidan pun mengikuti Lisa untuk duduk disofa tersebut.
"Aku bosan di kampus, lagian di sana sudah tidak ada kerjaan lagi" jawab Zidan sembari menarik istribya kedalam pelukannya.
"Zidan lepaskan aku, ini di boutique, nanti ada yang lihat bagaimana?" Lisa mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Zidan.
"Tidak akan ada yang Lihat, ayolah aku cuma mau memelukmu itu saja" pinta Zidan yang mengerat kan pelukannya.
"Tapi...."
"Sudahlah, lebih baik kau diam lah sebentar." seru Zidan. Lisa pun diam dan membiarkan suaminya itu memeluknya. Zidan meletakkan dagunya di bahu Lisa dan menghirup aromah istrinya itu, baginya Lisa adalah obat penenang yang sangat ampuh untuk menenangkan pikirannya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan semuanya. Lisa dengan segera mendorong tubuh Zidan hingga menjauh darinya.
"Sialan, siapa yang mengganggu?" umpat Zidan kesal.
"Kau yang di sini mengganggu... Ini bukan rumah atau pun kantormu!" seru Lisa.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu kembali terdengar.
__ADS_1
"Iya, masuk!" perintah Lisa.
Pintu pun terbuka, terlihat salah seorang laki c laki bertubuh gemuk dengan polesan make up tipis berdiri di sana. Senyum genit melebar sempurna kearah Lisa.
"Jeremy..." sapanya seperti itu. Lisa beranjak seketika beranjak berdiri, Zidan mengernyit memandabg lelaki tersebut dengan tatapan aneh.
"Nona Lisa...." Jeremy berjalan dengan tubuh yang meliuk - liuk layaknya seorang perempuan dan segera menghampiri Lisa, lisa memberi sambutan hangat, seperti biasa, Jeremy hendak mendaratkan ciumannya di pipi Lisa, hal uang selalu mereka berdua lakukan setiao kali bertemu. Namun, Zidan tiba - tiba menarik tubuh Lisa hingga membuat Jeremy hendak terjatuh karena tubuhnya terlalu mencondong ke depan.
"Zidan! " teriak Lisa.
"Dia mau menciummu!" seru Zidan.
"Lalu kenapa?" tanya Lisa.
" Dia laki - laki, kau jangan kegenitan!" seru Zidan.
Lisa mendekatkan bibirnya ke daun telinga Zidan " apa kau tidak lihat dia itu Shemalen" bisiknya.
"Tetap saja dia seorang laki - laki!" protes Zidan tak terima.
"Jeremy,maaf..." Lisa tersenyum merasa tak enak hati kepada Jeremy.
"Tidak apa - apa, untung aku tidak terjatuh." Jeremy seketika melirik kearah Zidan, kemudian ia tersenyum. " Nona, siapa dia?" tanya nya.
" Zidan, suaminya Lisa." Zida. Mendahului Lisa memperkenalkan dirinya. Bahkan suara Zidan yang terdengar maco fi telingan Jeremy membuatnya merinding tak karuan, Jeremy begitu menyukainya.
"Sexy sekali..." gumam Jeremy sembari menggigit bibir bawahnya.
"Jeremy..." suara Lisa membuyarkan pikiran kotornya tentang Zidan.
"I-iya, nona. Dia suamimu? Kau sudah menikah?" tanya Jeremy kepada Lisa.
"Emh, iya..." jawab Lisa dengan ragu.
"Kenapa aku tidak tau, kau sudah menikah? Kau tidak mengundangku nona?" tanya Jeremy.
"Acaranya hanya sederhana, an dihadiri oleh kerabat dekat saja, " ucap Lisa.
"O iya, kau kemari pasti ada pesanan untuk gaun pernikahakan? " sambungnya.
"Benar sekali nona, bukannya aku sudah membuat janji dengan sekretaris mu. Apa dia tidak mengatakannya pada mu?" tanya Jeremy.
"O jadi kau yang di maksud oleh Sindy tadi, dia sudah mengatakannya kepada ku. Kalau begitu kau duduk lah dulu!" Ujar Lisa.
~•••~
Jangan bosan - bosan ya nunggu up kelanjutannya.
Terima kasih atas dukungannya semuanya🤗
Jangan lupa Like dan komennya ya, karena komen dari kalian sangat saya nantikan.😉
__ADS_1
Happy reading guys😘