
Di dalam ruangan itu Bella tidak melihat apa - apa, semuanya gelap tanpa cahaya.
"Apa benar disini acaranya? kenapa semuanya gelap gini" gumam Bella melihat sekelilingnya.
Clik
Tiba - tiba hidup lampu sorot yang mengarah ke Bella dan Dani.
"Dani?" gumam Bella pelan
Dani berjalan kearah Bella dengan perlahan, sembari tersenyum menatap Bella yang berdiri mematung menatapnya.
Tepat di depan Bella Dani menghentikan langkahnya, ia memberikan bunga yang sedari tadi di pegangnya.
Dengan bingung Bella menerima bunga yang di berikan oleh Dani kepadanya.
"Bella..." panggil Dani dan tiba - tiba terdengar aluna musik yang tak tau dari mana asalnya memenuhi ruangan itu.
"Bella...." panggil Dani lagi, Bella menatap Dani bingung.
"Iya Dani, elu kenapa manggil gue mulu dan apa ini semua?" tanya Bella.
Dani tidak menghiraukan pertanyaan dari Bella, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak cincin.
Dani membukanya.
"Sejak dulu aku ingin melakukan ini. Bella mau kah kau menikah denganku?" tanya Dani dengan tatapan penuh cinta.
"Dani tapi, tapi… Aku, aku"
"Jawabannya, iya atau tidak Bella!!" potong Dani. Bella menatap Dani dengan sorot mata yang penuh akan pertanyaan. Ia masih kaget akn ini semua.
"Bukannya Rose bilang dia akan melamar seorang wanita" pikir Bella.
"Tapi kenapa dia malah melamar gue? Apa jangan - jangan orang itu gue?" pikirnya lagi. Bella menatap mata Dani, ia seakan - akan mencari kebohongan di mata itu. Namun yang di lihatnya, hanyalah ketulusan.
"Bell, kenapa malah diam. Kamu mau tidak menikah denganku. Menjadi ibu dari anak - anakku kelak" ucap Dani. Ia meraih sebelah tangan Bella dan menggenggamnya.
Bella sangat kaget akan sentuhan tangan pria yang ada di depannya ini.
"Aku, Dani gue, eh aku…"
"Akhh…" tiba - tiba terdengar suara teriakan kesakitan seseorang yang ada di sudut ruangan yang gelap itu.
__ADS_1
Bella dan Dani pun menoleh kearah sumber suara.
"Nyalakan lampunya!!" ucap Dani.
Terlihat lah Lisa yang sedang menahan rasa sakit di perutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan panik. Ia mengecek perut istrinya itu dan ia sangat kaget saat melihat banyaknya air yang merembes di bawah tempat duduk Lisa dan ia juga menemukan bercak darah di baju yang di kenakan oleh istrinya itu.
Lisa terus mengeluh sakit dan juga rasa mulas yang mengguncang perutnya dengan jarang, Zidan dan semua orang yang ada di ruangan itu panik seketika.
Dani memasukkan kembali kotak cincin yang di pegangnya kedalam saku celananya. Sebelum menghampiri Lisa, Dani menatap Bella sejenak.
Kemudian ia mendekati Lisa, dan melihat kondisi kakaknya itu.
"Kak, kelihatannya kak Lisa akan melahirkan" ucap Dani. Zidan menatap Dani, kemudian kembali melihat kearah Lisa dengan panik.
Zidan segera membawa Lisa kerumah sakit dan ia juga menyuruh Rose untuk mengabarkan kepada keluarga mereka, kalau Lisa akan melahirkan dan menyuruh mereka untuk segera menyusulnya kerumah sakit.
~
Zidan kini terlihat sedang berada dalam ruangan persalinan menemani Lisa yang sedari tadi menahan sakit karena kontraksi.
Sebisa mungkin Zidan menenangkan istrinya saat jeritan - jeritan kecil lolok dari mulut istrinya.
Zidanmembiarkan tangannya menjadi sasaran cakaran kuku - kuku Lisa yang lentik hingga garis - garis merah yang pedih membekas di tangannya itu. Tubuhnya gemetar hebat dan nyawanya seakan melayang saat melihat istrinya kesakitan seperti itu.
Rasanya Zidan benar - benar tak tega melihat kondisi Lisa saat ini. Ia sungguh tak bisa melihat istrinya kesakitan, ingin rasanya ia menunggu di luar saja. Namun, ia juga tak tega membiarkan istrinya harus berjuang sendirian di dalam ruangan persalinan ini. Zidan sudah bertekat tidak akan pernah meninggalkan istrinya pada prosesnya melahirkan anak pertama mereka.
Ini masih terhitung pembukaan kelima, setelah seorang perawat memberi induksi agar lebih mempercepat proses persalinan perlu menunggu beberapa jam lagi?
Sementara perawat berata kalau bayinya siap dilahirkan setelah pembukaan sembilan. Rasanya Zidan sungguh tak sanggup melihat istrinya yang terus saja menjerit kesakitan.
Tak sedikit air mata yang tergenang di sudut kedua matanya. Mungkin inilah yang di rasakan mama saat melahirkanku, pikirnya.
Semua ini pun sungguh di luar dugaan Lisa, ia tidak menyangka jika melahirkan akan sesakit ini. Terlebih lagi ini untuk pertama kalinya wanita itu melahirkan.
"Tahanlah sayang, aku selalu disini menjagamu!" ucap Zidan yang terus menggenggam tangan Lisa.
Doa - doa untuk keselamatan istrinya tak henti - hentinya terucap dari bibir pucat Zidan yang sudah gemetar.
"Kau tidak mengerti bagaimana sakitnya ini, lebih baik kau diamlah!!" Lisa memejamkan matanya, ia mencoba menikmati bagaimana saat perutnya kembali terasa kencang. Ia merasakan bagaimana bayinya itu mencari jalan untuk keluar dari rahim yang hanya memiliki sedikit cela.
"Ibu, sakitt…"
__ADS_1
"Zi sakit…" Lisa meracau dan menjangkau bagian - bagian tubuh Zidan yang mampu ia jangkau menjadi sasaran dari rasa sakitnya yang ia rasakan.
"Aku tau ini sakit, tapi itu semua semudah menjadi khodratnya seorang wanita" ucap Zidan sembari meringis menahan sakit di kepalanya saat Lisa menjambaknya.
"Diamlah!! kau tau apa? Coba saja kau juga bisa merasakannya, pasti kau tidak akan mau melakukan 'itu' lagi" seru Lisa yang tak bisa mengontrol emosinya.
"Astaga salah lagi"
"Sakit, aku tidak kuat lagi sayang" isak Lisa kembali menjatuhkan air matanya. Matanya yang sendu menatap Zidan seakan meminta bantuan untuk mengurangi rasa sakitnya itu.
Zidan semakin cemas dan mebgeratkan pegangan tangannya. Ia mencium pipi itu dan ikut menangis
"Semuanya akan baik - baik saja sayangku"
Ceklek
Seorang perawat pun masuk kedalam ruangan itu dan melihat bagaimana kondisi Lisa saat itu.
"Bagaimana, apa masih lama?" tanya Zidan
"Sudah buka sembilah, nyonya Lisa akan melahirkan tunggu saya panggilkan dokter" ucap perawat itu, kemudian berlari keluar memanggil dokter.
Tak lama kemudian, seorang dokter wanita pun masuk kedalam ruangan itu dan segera melakukan persalinan Lisa.
Zidan selalu menemani Lisa saat proses persalinan. Tubuh Zidan semakin gemetar dan tidak terkondisikan, darahnya seakan berhenti saat dirinya melihat secara langsung bagaimana prose istrinya melahirkan.
"Hati - hati, jangan menyakiti istriku!" bentak Zidan. Kedua matanya terpejam tatkala melihat dokter Sinta menggunting area perineum supaya memperluas jalan lahir agar mempermudah bayi untuk keluar, bahkan Zidan bisa mendengar dengan jelas bagaimana gunting yang dibawa oleh Sinta merobek area itu.
Mulut Sinta rasanya ingim sekali mengumpat laki - laki yang ia anggap cerewet dan menyebalkan di saat situasi darurat seperti ini.
Sinta memberikan intruksi terakhir kepada Lisa untuk lebih kuat mengejan, hingga akhirnya, suara tangisan bayi memecah seisi ruangan.
Zidan meneteskan air matanya saat melihat bayinya yang sudah berhasil di lahirkan oleh istrinya itu.
"Sayang, anak kita sudah lahir"
"Terima kasih…" ucap Zidan, ia mengecup seluruh bagian wajah Lisa.
"Terim kasih…" ucap nya lagi
~•••~
Terimah kasih sudah mau memberi dukungan..
__ADS_1