
"Tante, ini gak benarkan?" tanya Rose manatap wanita paru baya di depannya itu. Ibu Daniel tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Daniel…" ucap Rose lagi. Ia melepaskan pelukan ibunya Daniel, kemudian ia berjalan tertatih - tatih kearah ranjang Daniel.
"Ini benar dirimu? Aku mimpikan? Kau tidak akan meninggalkanku bukan…"
"Katakan padaku, Kau sedang becandan kan sayang. Kau tidak mungkin meninggalkanku lagi. A-aku tidak akan pernah memaafkannya lagi jika kau meninggalkanku untuk yang kedua kali nya…"
"Aku mohon bangun lah!! Jangan seperti ini kau sangat menyiksaku, aku mohon"tangis Rose terus memenuhi ruangan itu sampai semua orang yang menyaksikan tak kuasa lagi menahan tangis mereka.
Rose sampai tidak perduli dengan keadaan tubuhnya saat ini. Lisa terus berusahan menenangkan adiknya itu, namun Rose seolah tuli tak mendengarkan ucapan kakaknya itu.
"Daniel bangun! Jangan membuatku khawatir aku mohon!." Rose terus menggoyangkan tubuh Daniel sembari menangis bergemetar
Perlahan tatapan Rose mulai buram dan sukses membuat semua orang terkejut ketika Rose berhenti bersuara.
"Rose… Rose, bangunlah!" Suara Lisa panik. Dengan cepat Dani meraih tubuh Rose dan membawanya Ke kamar rawatnya.
Di sana Dokter sudah menunggu mereka, karena sebelum menyusul Rose ke kamar Daniel Lisa terlebih dahulu menemui Dokter dan mmeinta untuk stand by di ruangan Rose.
Tentu saja Lisa sudah mempekiran hal ini akan terjadi cepat atau lambat.
"Dok, apa adik ku baik - baik saaj?" tanya Lisa khawatir.
"Kami harap juga begitu nyonya."jawab fokter dengan cepat memeriksa Rose.
Di dalam ruangan, doter dan perawat bekerja dengan cepat membersihkan beberapa bercak darah yang membanjiri tubuh wanita itu. Sementara keluarga Rose yang sudah panik kini terus gelisah di depan ruang rawat Rose menunggu kabar dari dokter.
"Izin kan saya bicara dengan Rose setelah ini." ucap ibu Daniel yang tampak sembab di kedua matanya.
Ayah Andre tidak menjawab, ia hanya terdiam meratapi semua yang terjadi kepada putrinya. Setelah dokter keluar ayah Andre dan yang lain pin dengan antusias bertanya.
__ADS_1
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya ayah Andre.
"Tuan, anak anda saat ini sangat lemah. Ia butuh waktu untuk memulihkan tenaganya. Beruntung pasien cepat di bawa kembali. telat sedikit saja, saya tidak tau apa yang akan terjadi, mungkin kondisinya akan akan lebih buruk ." jelas dokter
Setelah beberapa jam menunggu, kini ayah Andre dan Lisa tampak panik ketika Rose tersadar. Mereka takut jika Rose akan kembali histeris.
Dengan cepat Dokter seera datang memeriksa keadaan Rose.
" Bagaimana dok?" tanya Lisa.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, nyonya." jelas dokter.
Ayah Andre pun teringat akan ucapan ibunya Daniel yang meminta waktu untuk berbicara dengan Rose, ia pun membawa semua orang untuk keluar dan meninggalkan Rose berdua dengan ibunya Daniel.
"Rose, boleh tante bicara denganmu?" tanya ibu Daniel.
Rose hanya mengangguk tanpa bisa bicara tubuhnya sangat lemah, hanya air mata yang terus membasahi wajah wanita itu.
"Daniel sudah banyak cerita tentang kamu, kamu wanita yang sangat di cintai oleh Daniel. Setiap waktu kami bicara, Daniel tidak pernah lupa menyebut namamu.
"Semenjak itu Daniel pin memutuskan untuk meninggalkan mu. Dia tidak ingin membuatmu sedih, dia juga sudah berjuang mati - matian untuk melawan panyakitnya ini tapi…" tubuh ibu Daniel bergetar menahan tangis.
Ibu Daniel pin menceritakan bagaimana perjuangan dan penderitaan Daniel untuk sembuh. Tangis Rose pun kembali pecah, saat mendengar semua cerita ibu Daniel.
Begitu juga dengan ibu Daniel yang tak kuasa menahan kesedihannya ketika melihat keadaan Rose saat ini yang sangat lemah. Di tambah lagi dengan keadaan putranya yang sudah dengan keadaan putranya yang sudah tiada.
Rose yang hanya bisa menangis mendengar semua ucapan ibu Daniel kini hanya bisa membayangkan wajah Daniel yang selalu ada di sampingnya tersenyum di kala Rose menangis. Tidak ada kata yang bisa di ucapkannya pada wanita di hadapannya ini. Ibu Daniel mendekat kearah Rose dan memeluk tubuh Rose, sembari mengelus rambut Rose lembut.
Ia melihat, batapa besarnya cinta Rose terhadap putranya dan di mata gadis itu terlihat kesedihan yang sangat besar, air mata ibu Daniel kembali berjatuhan tanpa bisa ia tahan.
"Terima kasih Rose, kau sidah membuat hari anakku begitu berwarna. Kau begiyu berarti bagi Dani." ucap ibu Daniel sembari menangis dan membungkam mulutnya menahan tangis.
__ADS_1
Ibu Daniel pin keluar dari ruanga Rose seraya menghapus air matanya yang terus saja menetes. Ia pin menuju ke ruangan jenazah putranya untuk segera mengurus pemakaman Daniel.
Sementara Rose yang sendiri kini di temani oleh ayah dan kakaknya.
"Istirahatlah, kau juga harus memikirkan dirimu sendiri." ucap ayah Andre.
Rose hanya diam tanpa mau mengatakan apa pun pada ayah dan kakaknya, ia masih sangat terpukul akan kepergoan Daniel. Ia juga sangat merasa bersalah, karena ia telah berburuk sangka kepada Daniel dan bahkan dia sampai tega mengkhianati kekasihnya itu.
Bella dan Dani yang baru saja masuk ke dalam ruangan Rose di minta Lisa untuk menjaga Rose.
"Kalian berdua temani lah Rose, aku, ayah dan Zidan ingin pergi ke pemakaman Daniel."suruh Lisa.
"Iya baiklah kak, kami akan menemani nya" jawab Dani.
Belum sempat Lisa dan ayah Andre melangkah keluar, Rose segera bangun dari tidurnya.
"Aku akan ikut mengatar kepergian terakhirnya." mereka terkejut mendengar Rose mengatakan hal itu, Lisa pin menoleh kearah Rose dan melangkah kembali.
"Sayang, kau tidak boleh pergi dari rumah sakit dulu, sampai keadaan mu membaik, ini sangat bahaya Rose. Tolong mengertilah…" pinta Lisa memegang tangan adiknya itu, ia berusaha memberi pengertian kepada adiknya itu.
"Kakak aku mohon, ayah aku ingin ikut mengantarkan Daniel ke pemakamannya." rengek Rose.
"Baiklah, kalau kalian tidak mengijinkanku, aku akan pergi sendiri!"ancam Rose dengan ketusnya.
Ayah Andre menghela nafas kasarnya, ia berfikir sejenak. "Baiklah ayah akan mengurus semuanya tunggu disini." ucap ayah Andre, Lisa menatap Ayahnya.
Ayah Andre memanggil asisten pribadinya dan memerintahkan untuk mengurus semua keperluan kepergian Rose ke pemakaman.
Asisten ayah Andre telah mengurus semuanya, ia menyiapkan satu suster dan satu dokter, untuk menemani kepergian mereka ke pemakaman.
Kini semua sudah siap di mobil bersama dengan Rose. Sepanjang jalan Rose terus menangis, wajahnya terlihat begitu sembab hingga untuk melihat saja ia sangat kesulitan saat ini.
__ADS_1
~•••~
Budayakan lah like setelh membaca, karena like yang kalian berikan sangat berarti bagi author.