ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Pasangan psycho


__ADS_3

Ini pertama kalinya, Lisa datang ke perusahaan yang di kelolah oleh suaminya itu, hal itu membuatnya begitu sedikit takut dan tidak percaya diri.


"Cepat!!"


"Apa perlu ku ambilkan kursi roda?" tatapan Zidan membuat Lisa takut.


Lagi - lagi Lisa tak memiliki pilihan lain kecuali menurut, langkah kakinya beriringan dengan Zidan, mencoba menunduk, menyembunyikan sedikit wajahnya di balik bahu suaminya. Lisa tidak tau apa yang sedang di rencanakan oleh suaminya itu.


Lisa dan Zidan kini menjadi pusat perhatian semua orang melihat kearah mereka, saat mereka.memasuki lobby utama, hal itu membuat Lisa merasa risih. Semua orang yang berpapasan dengan mereka tak henti - henti nya memberi sapaan kepada Zidan , namun mereka tak jarang melirik aneh saat melihat Lisa.


Zidan yang melihat perubahan raut wajah Lisa segera meraih telapak tangannya dan merekatkan jemarinya di sela - sela jari


tangan iastrinya tersebut. Menggenggamnya erat hingga kaki mereka kini terhenti di depan lift, dan mereka pun menunggu pintu lift itu terbuka.


"Ayo..." Zidan menarik tangan Lisa hendak mengajaknya untuk masuk ke dalam sana. Namun, Lisa mencoba melepaskan genggamannya.


"Aku bukan orang tua,jadi aku bisa berjalan sendiri."


Zidan mengernyit. "berjalanlah! Berjalanlah sendiri sana!"Zidan begitu kesal hingga tanpa sadar ia mendorong istrinya itu.


Tubuh Lisa hendak terjatuh, namun salah seorang pegawai Zidan yang juga hendak masuk ke dalam lift menahan tubuh Lisa hingga tidak sampai terjatuh.


"Nona, berhati - hatilah..." tutur pegawai itu, Zidan memperhatikan pegawainya itu dengan tatapan tak suka.


Zidan yang merasa kesal dengan pemandnagan itu, segera menarik tangan Lisa dan mendekap tubuhnya.


"Apa kau tidak punya mata?" serunya kepada pegawainya itu.


Pegawai itu mengernyit heran, memangnya apa yang salah? Mungkin itu yang ada di pikiran pegawai pria itu.


"Maaf tuan" ucap pegawai itu menunduk.


"Zi... Kau yang mendorongku, dia hanya membantuku saja. Kenapa kau berbicara seperti itu kepadanya?" tegur Lisa.


"Aku tidak berbicara kepadamu, berani sekali kau membela pria lain di depanku"Lisa terdiam merasa serba salah.


"Tidak apa - apa nona, memang aku yang salah. Sekali lagi maafkan aku tuan" saut pegawai itu takut.


"Kau dengar sendirikan, dia yang salah" kekeh Zidan.


"Ya sudah kau pergilah dari sini!" perintah Zidan kepada pegawainya.


"Permisi tuan, nona." pamit pegawai itu.


"Apa yang kau lihat?" Zidan menegur istrinya saat melihat kedua mata istrinya mengikuti langkah kaki laki - laki itu.

__ADS_1


"Kenapa kau memarahi dia?"


"Kenapa memangnya? Kau mau memarahiku juga?" melihat tatapan Zidan yang tajam membuat Lisa menciut takut.


"Ti- tidak"


Zidan melanjutkan niatnya untuk mengajak istrinya itu masuk ke dalam lift. Pintu lift yang tadi sempat tertutup dan melewatkan mereka. Kini kembali terbuka, terlihat ada beberapa orang di dalam sana.


"Kenapa kalian masih di dalam? Cepat keluar!! Aku ingin menggunakan lift ini berdua dengan dia." perintah Zidan.


"Baik tuan" mereka pun menuruti perintah Zidan. Untuk keluar dari dalam lift.


Zidan menarik paksa tangan Lisa, hingga kini mereka berdua berada di dalam lift, hanya ada mereka berdua di dalam lift itu. Tangan Zidan menekan tombol angka 8 yang tertera disana.


Kemudian Zidan berdiri di samping istrinya, tangan Zidan dengan nakalnya merambat ke pinggang Lisa.


Lisa masih membiarkannya. Namun, lama kelamaan, tangan itu mulai menjalar kemana - mana, membuat Lisa sangat risih.


"Kau tidak lihat ada CCTV." Lisa dengan kesal menjauhkan tabgan suaminya itu dari pinggangnya.


"Di saat emosi masih saja sempat - sempatnya." Lisa mengumpat dalam hati.


"Kau berani menolakku? Mau ku kurung kau dalam Lift ini" ancam Zidan


"Tidak mau!" jawab Lisa sembari menggelengkan kepalanya.


Hal yang serupa pun kembali terjadi di sana, semua orang menyapa Zidan dan menatap aneh kearah Lisa, bahkan beberapa wanita terlihat berbisik membuat Zidan tak menyukainya.


"Apa yang kalian bicaraka ?" tegur Zidan.


"Ti - tidak, tuan Zidan." mereka menunduk takut. Zidan kembali menarik tangan Lisa dan hendak mengajaknya masuk ke dalam ruangan yang selama ini ia tempati untuk bekerja.


Pintu terlihat terbuka sebagian, dan saat Zidan membuka sempurna pintu itu, terlihat seorang laki - laki di depan meja kerjanya sedang duduk membelakanginya, laki - laki itu tidak lain ialah Ridho.


Suara derap langkah kaki Lisa dan Zidan mmbuat Ridho menoleh dan seketika beranjak berdiri.


"Zi...." sapanya dengan senang, saat Lisa mengetahui laki - laki itu ialah Ridho. Lisa dengan segera bersembunyi di belakang tubuh suaminya, membuat Ridho mengernyit penasaran, akan wanita yang belum sempat ia lihat wajahnya.


"Zi, siapa wanita yang ada dibelakangmu itu?" Ridho berjalan mendekat. Mencari cela untuk melihat wajah wanita yang di ajak temannya itu.


Saat Ridho semakin dekat, Zidan menarik kasar tangan Lisa hingga membuat Ridho melihat dengan jelas siapa wanita itu.


"Lisa? Kenapa elu ajak Lisa juga?" tanya Ridho berbisik, namun terdengar dengan jelas di telinga Lisa. Membuat Lisa jadi penasaran dengan teman suaminya itu.


"Kenapa dia mengajakku bertemu dengan temannya ini?" gumam Lisa dalam hati.

__ADS_1


"Gue sungguh heran dengan elu akhir - akhir ini. Kenapa elu selalu menempel dengan istri lu itu sih?" bisiknya kembali.


"Kenapa memangnya? Apa elu ada masalah?" Zidan menatap tajam membuat Ridho takut.


"Bukan seperti itu, gue hanya aneh saja. Biasanya, elu itu selalu ikut bersenang - senang dengan kami di klub, tapi sekarang bisa di bilang elu sudah tak pernah mau kami ajak party" tutur Ridho.


"Bicaralah yang jelas biar gue juga bisa mendengarnya!" Lisa tiba - tiba menyaut dan melototkan kedua matanya.


"Kenapa elu jadi ikutan galak seperti Zidan?. Terserah gue dong, mau bicara jelas atau tidak. Kenapa elu yang sewot" seru Ridho


"Kenapa memangnya? Apa elu ada masalah, kalau dia galak?" Zidan menatap tajam


"Ah kalian berdua sama aja," seru Ridho.


"Bodo amat" ucap mereka kompak. Zidan dan Lisa saling pandang, kemudian mereka saling melempar senyum.


"Ngapain elu kesini? kalau gak penting mending elu cabut aja" seru Zidan.


"Elu ngusir?"


"Ya kalau elu anggapnya seperti itu berarti kurang lebih seperti itu lah"jawab Zidan.


"Tega banget"


"Cepatlah, ada keperluan apa elu kemari?" tanya Zidan lagi.


"gak jadi deh, kapan - kapan aja gue ceritanya" ujar Ridho.


"Kalau gitu, pintu keluarnya di sebelah sana" ujar Zidan sembari menunjukkan arah pintu keluar.


"Dasar pasangan psycho" mendengar ucapan temannya itu, Zidan menatap tajam kearah Ridho.


~•••~


.


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜


__ADS_2