
Lisa hendak mengikuti adiknya tersebut, Namun tangannya ditarik oleh Zidan.
"Sudah biarkan saja!" tutur Zidan
" Lalu maksudmu, aku harus membiarkan adikku pergi begitu saja. Dia itu perempuan."seru Lisa
"Lalu kau mau apa? Mau mengikutinya? Atau kau mau melarangnya lagin"
"Ayolah Lisa, adikmu itu keras kepala, tidak ada gunanya kau melarangnya. Kenapa kau begitu suka sekali dimaki-maki oleh Nya ? "ujar Zidan. Lisa diam dan membenarkan perkataan suaminya tersebut.
"Sudahlah, ayo kita masuk dan istirahat." Zidan menarik tangan Lisa dan menyuruhnya untuk duduk diatas tempat tidur. Ia hendak pergi ke dapur berniat mengambilkan minum untuk istrinya tersebut. Namun, tiba-tiba tangan Lisa menghentikannya.
"Kau mau ke mana Jangan pergi di rumah saja?"pintar Lisa, seketika senyum usil pun muncul di wajah Zidan.
"Kau sendiri yang menyuruhku pergi, bukan?. Jadi sebagai seorang suami yang baik aku akan menuruti kemauan istriku " jawab Zidan.
"Di luar hujan, jangan pergi!!" tutur Lisa.
"Jika hujan lalu kenapa?" tanya Zidan
"Aku akan tetap pergi!" imbuhnya.
Lisa memelaskan wajahnya dan memohon, "Zi, jangan pergi! Aku benar-benar takut di rumah sendiri jika hujan seperti ini. Kalau nanti ada orang jahat tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam rumah bagaimana?"
"Itu kan masalahmu!" seru Zidan
"Zi, ku mohon?"
"Kau boleh menghukumku sebanyak yang kau mau" ujar Lisa. Ia tak menyadari kata-kata yang lolos begitu saja dari mulutnya.
"Sial, kenapa aku jadi berbicata seperti itu? " gumam Lisa dalam hati.
"Ti-tidak..." saut Lisa.
"Tidak" Zidan mengernyitkan dahi nya .
"Ya sudah lebih baik aku pergi, jaga lah dirimu baik-baik di rumah.!"
"Maksudku, aku tidak menolak hukuman yang kau berikan. Jangan pergi, kumohon jangan pergi !" Lisa mengatupkan kedua tangannya dengan begitu berharap, ia benar-benar takut jika harus di rumah sendirian. Apalagi situasinya sedang hujan seperti ini, hal-hal buruk berkeliaran di pikirannya. Zidan pun tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, aku akan di rumah. Tunggulah di sini dulu!" perintah Zidan.
"kamu mau kemanan" tanya Lisa cemas.
"Jangan banyak bertanya! Tunggulah disini!!" Zidan segera berlalu prrgi dari sana.
Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa gelas berisi air putih yang baru saja ia ambil dari dapur.
__ADS_1
"Minumlah..." perintah Zidan sembari menyodorkan gelas tersebut kepada Lisa.
"Apa ini?..." tanya Lisa memperhatikan air tersebut.
"Apa penglihatanmu sudah tidam berfungsi? Ini air putih!" seru Zidan.
"Aku tahu, maksudku. Kenapa kau memberiku air putih, apa kau mencampurkan sesuatu didalamnya?" tanya Lisa dengan tatapan penuh curiga
"Pikiranmu itu selalu saja buruk! aku hanya mengambilkan minum saja untukmu dan kau menuduhku memasukkan sesuatu di dalamnya. Kalau kau tidak mau meminumnya, letakkan saja di atas meja!" seru Zidan dengan kesal, ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur
"Aku akan meminumnya..." Lisa segera meneguk habis air tersebut, hingga tak tersisa sedikit pun didalam gelas dan kemudian dia meletakkan gelas itu di atas meja. Ia melirik Zidan yang masih merasa kesal.
" Zidan, maafkan Aku!"Zidan hanya diam dan sibuk dengan ponselnya karena ia sedang mengirimkan pesan singkat ke beberapa temannya termasuk Ridho, bahwa dirinya tidak jadi bisa ikut untuk berpesta dengan mereka malam ini.
" Zi..."
"Lupakan saja..." saut Zidan. Ia meletakkan ponselnya dan merengkuh tubuh Lisa.
"Ayo..." Zidan menarik baju Lisa.
Suara dering ponsel milik Zidan tiba-tiba berbunyi bahkan berkali-kali. Telinga Zidan begitu risih mendengar dering ponsel yang menandakan adanya panggilan suara masuk di ponselnya tersebut. Ia sudah bisa menebak bahwa yang menelponnya itu tak lain ialah teman-temannya. Dengan mulut yang menggerutu kesal ia meraih ponsel itu dan melihat ada satu panggilan masuk dari Ridho.
"Ada apa?" tanya Zidan kesal, ia menempelkan ponselnya tersebut ke daun telinganya.
"Zi, kau dimana? Pestanya kan segera di mulai, kami semua sedabg menunggumu!" ujar Ridho.
"Aku sudah mengirimkan pesan singkat kepadamu. Bahwa aku tidak jadi ikut berpesta." ujar Zidan dengan penuh penekanan.
"Wanita cantik dan sexy?" Zidan mengeraskan suaranya sembari melirik ke arah Lisa yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam
"Iya, Zi. Ayolah. Tidak seru jika kau tidak datang!" paksa Ridho
"Baiklah... Aku akan datang." mendengar perkataan Zidan. Lisa melototkan kedua matanya.
"Benarkah kau akan datang, Zin" tanya Ridho.
" Tentu saja aku akan datang tapi dalam mimpimu" Ridho hendak memaki Zidan. Namun, Zidan dengan cepat segera mengakhiri panggilan tersebut dan mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya lagi. Lalu ia meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula.
"Dari pada aku berpesta disana, mending aku berpesta disini saja. Lagian disini lebih menggoda" pikir Zidan. Sembari menatap istrinya.
Zidan kembali melanjutkan niatnya yang tertunda, untuk melampiaskan hasratnya kepada istrinya tersebut. Ia menarik tangan Lisa dan meletakkannya di dada bidangnya.
"Ayo..."
"Apa?" tanya Lisa pura - pura tak mengerti maksud dari perkataan Zidan.
"Aku sedang menghukummu! cepat bantu aku melepaskan kancing bajuku!" perintah Zidan. Lisa hanya diam dan menatapnya kesal.
__ADS_1
" Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau mau aku pergi berpesta dengan teman-temanku dan membiarkan wanita panggilan Ridho itu yang membantu ku melepaskan kancing kemejaku?."tanya Zidan.
"Banyak bicara.." Lisa dengan segera membuka kancing kemeja Zidan satu - persatu, kepalanya menunduk dengan wajah bersemu merah. Padahal, ia sudah berkali-kali melihat tubuh suaminya itu. Namun, kali ini ia merasa begitu canggung, terlebih lagi Zidan tak henti-hentinya memandanginya. Iya,saat ini Zidan tak lepas memandanginya dengan begitu dekat. Zidan tiba-tiba menghentikan gerakan tangan Lisa yang sedang membuka kancing kemejanya itu. Zidan mengangkat dagu istrinya tersebut dan memberikan ciuman lembut di bibirnya, tubuhnya kini sudah mendidih tubuh Lisa dan Menghabiskan malam berdua.
Sudah hampir tengah malam, namun Lisa tak kunjung tidur. Ia menatap langit-langit kamar dan memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh adiknya Rose di luar rumah. Jika ada Ayah Andre Tose tidak akan mungkin berani keluar malam hingga tak pulang ke rumah seperti ini.
"Kenapa belum tidur?" tanya Zidan yang kini sedabg memainkan rambut istrinya.
"Aku sedang memikirkan Rose," jawab Lisa
"Dia sudah dewasa, sudah bisa menentukan hidupnya" tutur Zidan.
"Tapi Zi...."
"Jangan terlalu memikirkan adikmu itu, lebih baik kau memikirkan hidup kita."perkataan Zidan membuat hati Lisa terenyuh, entah perasaan apa yang lewat begitu saja. Ia menanggapi kata - kata Zidan dengam penuh harapan.
"Hidup kita?" tanya Lisa. Zidan mengangguk.
" Aku ingin kita segera memiliki anak" permintaan Zidan tiba-tiba membuatmu Lisa tak bergeming.
" Mama sangat menginginkan seorang cucu, aku belum pernah membuatnya bahagia. Dulu setelah Adik perempuanku meninggal, mama berusaha ingin memiliki seorang anak lagi, tapi tuhan tidak mempercayainya kembali. Jadi, Aku ingin memenuhi permintaan mama tersebut. Lagi pula dengan kita memiliki anak, rumah kita tidak akan kesepi lagi."
"Dia menginginkan anak darimu, hanya karena mama Lisa" gumam Lisa dalam hati.
"Kenapa kau diam?" tegur Zidan.
"Tidak apa - apa," saut Lisa
"Jika kamu sudah memiliki anak dariku lalu selanjutnya Apa tujuanmu? Apa kau akan meninggalkanku ?" tanya Lisa dengan tatapan sendu, rasanya ia ingin menangis saat berucap seperti itu. Namun ia menahan nya.
"Kalau itu tergantung..." jawaban Zidan tiba-tiba membuat bisa menjauhkan tangannya dari tubuh Zidan. Zidan seketika menarik kembali tangan istrinya tersebut.
" Aku sangat membenci seorang penghianat. Jika kamu menghianatiku aku pasti akan meninggalkanmu..." tegasnya.
"Ayo tidurlah..." Zidan seketika memeluk istrinya dan mendekapnya dengan erat.
~•••~
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜