
Lisa duduk dan merapikan bajunya, Zidan mendekati Lisa. Lisa merasa was - was berdekatan dengan Zidan dan dia pun hendak berdiri tapi ditahan oleh Zidan.
"Mau kemana?"tanya Zidan curiga. Zidan memegang bahu Lisa dan mengangkat wajahnya. Ia memperhatikannya dengan begitu seksama, jantung Lisa tiba-tiba beradu tak karuan, bahkan berulang kali ia mencoba menelan salivanya dengan susah payah. Zidan memegang leher Lisa dan hendak mencium bibirnya.
"Zidan!" Lisa mendorong keras tubuh Zidan namun Zidan dengan cepat mencengkram lengan Lisa.
"CUKUP!"
" Cukup! sudah cukup gue memberi elu kebebasan selama ini. jangan berani menolak gue lagi! Gue hanya ingin meminta hak gue aja, oke." Zidan mencengkram erat lengan Lisa hingga membuat wanita itu kesakitan.
"Zidan lepasin, tangan gue sakit "Lisa memelas . Seketika itu Zidan melepaskan lengan Lisa dengan kasar.
" Turuti semua yang gue katakan mengerti!!" seru Zidan. Lisa sejenak diam dan menganggukkan kepalanya dengan takut.
" Nah, kalau elu menurut seperti ini elu sangat manis" tutur Zidan
Zidan memperhatikan bibir tips Lisa kemudian dia mengusap-ngusap nya lalu ia mencium dan ******* bibir istrinya tersebut. Bahkan membuat Lisa merasa kesulitan untuk bernapas.
"Zidan." Lisa mencoba medorong tubuh Zidan. namun Zidan tidak mau melepaskannya. Kini bibir Zidan berpindah dari bibir turun ke leher jenjang Lisa. Ia menyelusuri setiap jengkal leher istrinya tersebut dan meninggalkan beberapa kissmark disana. Lisa hanya bisa mendesah geli di buatnya, Lisa belum pernah sebelumnya merasakan hal yang seperti ini.
Zidan perlahan membuka kancing baju Lisa satu per satu. Lisa menolak akan hal itu. Namun, tenaga Zidan lebih kuat dari pada Lisa. Hingga dengan satu kali tarikkan saja membuat kain yang membaluti tubuh Lisa lepas begitu saja. Zidan tertegun saat melihat lekuk tubuh indah istrinya, bahkan Zidan menelen salivanya saat melihat pemandangan di depan nya.
Lisa yang merasa malu di tatap seperti itu oleh Zidan, ia menarik selimut yang berada di bawahnya, untuk menutupi tubuh polosnya.
"Jauhkan ini," seru Zidan sembari manarik dan membuang selimut tersebut kesembarangan arah. Spontan Lisa menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Zidan, kita tidak bisa melakukan ini" ujar Lisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa, dimana letak kesalahannya. Gue berhak atas diri elu." tegas Zidan, dia menarik kedua tangan Lisa dan mengunci pergerakannya.
"Tapi kita nggak saling cinta Zidan" seru Lisa berusaha meolak Zidan.
"Meskipun gue nggak cinta sama elu, tapi bagaimana pun gue ini laki - laki normal dan bagaimana pun gue ini suami elu. Jadi, elu seharusnya melakukan apa yang seharusnya Seorang Istri lakukan. Mengerti .!!" bisik Zidan. Tangan Zidan mulai bergerilya sembari bibirnya memberi sentuhan di setiap jengkal tubuh Lisa.
Zidan tak segan membuka baju dan celana miliknya. Hingga keduanya sama-sama tak memakai sehelai benang di tubuhnya, bahkan tubuh kekar Zidan yang layaknya roti sobek itu sudah basah akan keringatnya.
Zidan tak segan - segan menindih tubuh Lisa.
Lisa hanya Bisa pasrah saat merasakan sesuatu yang tiba - tiba menyakitinya di bawa sana.
"Zidan, sakit." Lisa berteriak kesakitan, ia mendorong tubuh Zidan Seraya memejamkan kedua matanya. Lisa menggigit Bibir bawahnya sembari kedua tangannya meremas kain sprei untuk menahan rasa sakit itu.
Zidan tidak menghiraukan rintihan Lisa, ia mulai sibuk melakukan aktivitas yang sudah sangat ia inginkan sejak lama dengan istrinya tersebut.
Sebelumnya, Zidan memang sudah pernah melakukan semua ini dengan semua mantan kekasihnya, apalagi ketika dia masih SMA. Namun berbeda dengan dengan Lisa, rasanya Zidan memiliki kenikmatan tersendiri terhadap Lisa, bahkan semalaman penuh ia tidak melepaskan Lisa tanpa ampun. Ia menerkam Lisa dengan begitu liar.
~
Keesokan paginya Lisa terbangun lebih dulu. Ia melihat Zidan masih tertidur dengan posisi memeluknya. Dia mendesis merasakan rasa sakit yang masih terasa nyerih di bawah sana. Mungkin ada rasa sedikit penyesalan di wajah Lisa. Hingga ia menatap ke atas langit-langit kamar itu dengan tatapan kosong. Tiba-tiba tangan Zidan. Semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Lisa.
Lisa mencoba dengan perlahan-lahan menjauhkan tangan Zidan dari tubuhnya. Namun ia kesulitan karena pelukan Zidan ditubuhnya sangatlah erat.
" Zi, tolong lepaskan, gue mau mandi. Ayo la Zi!" pinta Lisa. Zidan membuka kedua matanya.
"Nanti saja kita mandi bersama"ucap Zidan semakin merapatkan dirinya dengan Lisa.
__ADS_1
"Tidak mau! Cepat lepaskan!!" perintah Lisa sembari menjauhkan tangan Zidan. Bukannya melepaskan Zidan justru semakin mengeratkan pelukannya dan malah memejamkan kedua matanya kembali. Ia tak menghiraukan celotehan Lisa yang sedari tadi minta di lepaskan.
Lisa merasa lelah berteriak - teriak tidak jelas. Ia pun kini memilih diam dan mengubah posisinya menghadap ke arah Zidan. Lisa memperhatikan wajah Zidan dengan begitu dekat. Lalu, kedua mata Zidan pun tiba - tiba terbuka kembali.
"Kalau diam seperti ini elu sangat cantik," bisik Zidan tersenyum. Lisa hanya diam dan menatap kedua mata Zidan dan membuat mereka saling beradu pandang.
"Kenapa melihat gue seperti itu? Apa elu menyesal telah melakukannya dengan gue?" tanya Zidan. Zidan mengusap dan menyibakkan rambut yang menutupi wajah Lisa.
Lisa hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara. Rasanya ingin sekali ia bilang bahwa dirinya sangat menyesal telah berbuat janji dengan Zidan. Jika ia tau janji yang dimaksud Zidan adalah hal seperti ini. Namun,ia seakan tak memliki tenaga untuk beradu mulut dengan suaminya itu lagi.
" gue kira lu akan menjawab menyesal, jika lu menjawab menyesal. Gue tidak akan mengajak lu jalan-jalan lagi lagi nanti dan gue pastiin kita akan pulang nanti malam" seru Zidan.
"Sabar Lisa, sabar dia hanya memancing emosi mu saja." gumam Lisa dalam hati.
"Kenapa diam?" tanya Zidan
"Terus,elu maunya apa? Gue diam salah, gue bicara juga salah. Kenapa gak sekalian aja elu lempar gue ke rawa - rawa huh" seru Lisa kesal. Zidan pun menahan tawanya. Rasanya ia memiliki kesenangan sendiri saat menggoda Lisa.
"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Lisa sembari melototkan matanya kepada Zidan.
"Elu marah - marah begini, gue jadi semakin tergoda" ucap Zidan yang mulai menyerang Lisa.
Lisa tidak bisa berbuat apa - apa ia hanya bisa pasrah. Karena melawan pun ia rasa percuma dan hanya membuang - buang tenaganya saja.
Tanpa bisa dielakkan lagi kejadian tadi malam pun terulang kembali.
~•••~
__ADS_1
Readers tersayang jangan bosan - bosan ya nunggu kelanjutannya ceritanya.
jangan lupa juga gerakkan jempolnya buat like, komen dan kalau kalian suka jangan lupa juga di favorit sekalian votenya. Terima kasih☺