
Hai readers, sebelumnya aku mau minta maaf atas ketidak nyamanannya di episode sebelumnya🙏 sekarang kalian bisa baca ulang episodenya. karena author sudah memperbaiki kesalahannya😊
Mon maaf ya , kalau kalian gak nyaman bacanya. aku janji untuk episode selanjutnya, aku akan lebih hati - hati lagi🙏😁
yaudah deh aku gak mau banyak bacot, silakan di lanjutkan bacanya.
selamat membacaaaa
*****
Zidane dan Lisa menjalani aktivitas seperti biasanya, bahkan selama 1 bulan ini, kedekatan di antara mereka pun terlihat semakin nampak meskipun tak jarang perdebatan dan adu mulut di antara mereka seringkali terjadi. Namun, itulah yang membuat keduanya semakin dekat dan saling merindukan satu sama lain.
Sore itu, Zidan terlihat baru saja pulang dari kampus, ia terlihat membawa sebuah kantong plastik berwarna putih di tangan kanannya.
dengan langkah penuh semangat, ia segera masuk kedalam rumah. Iya melihat sekeliling rumahnya tampak sepi seperti tidak ada penghuninya.
" Mungkin dia di kamar" gumam Zidan titik Iya segera berlalu pergi ke kamarnya setelah ia tidak menemukan istrinya di manapun.
di dalam kamar terlihat sedang membuat desain di beberapa lembar kertas putih. ia melihat Zidan yang baru saja pulang dan masuk ke dalam kamar rumah ya segera mengakhiri pekerjaannya dan beranjak berdiri menghampiri suaminya tersebut.
" Kau sudah pulang?"
" Kau melihatnya bagaimana?" seru Zidan.
" aku membawakan cendol untukmu. tadi pas di jalan mau pulang aku melihat penjual cendol yang kemarin kau beli, jadi aku sekalian membelikannya untukmu." ujar Zidan saat melihat ekspresi istrinya.
"Cendol? wah kebetulan aku sangat menginginkannya. Terimakasih" Lisa mebgambil Cendol tersebut.
"Tunggu sebentar!" Lisa berlalu pergi keluar kamar, beberapa saat kemudian Lisa kembali masuk kedalam kamar dengan dua gelas cendol di tangannya.
ia melihat sekeliling kamar dan memilih tempat tidur untuk mendudukkan tubuhnya dan segera menikmati cendol yang dibelikan oleh suaminya itu. Iya setelah mengetahui bahwa istrinya sangat menyukai cendol mama Setiap sepulang dari kantor ataupun kampus dan jika dirinya tidak memiliki banyak kesibukan, Iya selalu menyempatkan diri untuk membelikan istrinya itu cendol.
Zidan mengikuti Lisa dan duduk di samping istrinya itu. Ia memperhatikan Lisa yang sedang menikmati cendol tersebut tanpa memberi jeda untuk bernapas. merasa aneh, Lisa melirik ke arah Zidan dan menghentikan aktivitas mengunyahnya.
"Kau tidak mau?, itu makanlah punya mu. Jangan melihatku seperti itu." seru Lisa.
"Cendol ini gratiskan?" tanya Lisa dengan lirikan penuh curiga.
"Tentu saja… Cepat makanlah! kalau kau masih kurang, kau boleh makan punyaku." perintah Zidan sambil melepaskan seoatu fantovel yabg masih melekat di kakinya. Suara dering ponsel terdengar dari saku celana Lisa. Wanita itu segera meraih ponselnya. Terlihat ada satu panggilan masuk dari Reyhan. Lisa melirik kearah Zidan.
"Siapa yang menghubungimu? Kenapa gak di angkat?" tanya Zidan.
__ADS_1
"Reyhan, bolehkah?" tanya Lisa.
"Angkatlah, nyalakan spikernya!"mendengar jawaban dari sabg suami, lisa pun dengan segera menerima panggilan tersebut dengan menyalakan spikernya.
"Halo..."
"Iya, Rey. Ada apa?" tanya Lisa
"Lis, gue sudah pulang dari luar negeri, bisakah kita bertemu untuk membicarakan kerja sama lagi?" tanya Reyhan.
"Hmm.... Maaf Rey, kalau masalah ini, kenapa elu gak ngehubungi ke bos gue aja? " tanya Lisa.Ia mengernyitkan heran.
"Gue gak punya nomor dia, lagian elu kan sekretarisnya Zidan. Jadi, elu aja yang nyampein nya ke dia..!" tutur Reyhan
"Baiklah, elu mau ke kantor nya kapan?" tanya Lisa, ia melirik kerah Zidan.
"Tidak! gue gak mau ketemu di kantor. Gue kita meetingnya di luar saja." jawab Reyhan
"Bailalah..."
"Elu juga harus ikut! kalau eku gak ikut, gue gak jadi jalin kerja sama dengan perusahaan Zidan."permintaan Reyhan tiba - tiba membuat dahi Zidan mengernyit kesal. Lisa melirik kearah Zidan yang sedang memperhatikannya.
"Ya sudah, jadwalkan pertemuannya lain kali saja, tunggu elu bisa aja" ujar Reyhan.
"Kenapa jadi seperti itu?"Zidan bertanya dengan kesal, membuat Lisa menoleh kearah suaminya itu.
"Diam lah, nanti dia mendengarmu bagaimana?" bisik Lisa kepada Zidan.
"Halo Lis, apa elu masih di sama?" tabya Reyhan.
"Iya, halo Rey, gue dengar kok."saut Lisa.
"Jangan sampai lupa ya Lis, dan jadwalnya cocokka. saja sama jadwal libur elu" seru Reyhan.
"Iya Rey, ntar gue coba tanya sama pak Zidan dulu. Emang kalau gue gak ikut, kenapa emangnya Rey?" tanya Lisa.
"Ya gak kenapa - kenapa, gue maunya ada elu. Kenapa memangnya? Eku gak suka ya ketemu sama gue? Kalau elu gak ikut lebih baik batalkan saja rencana kerja sama ini!" seru Reyhan.
"Sialan dia ngancam!" umpat Zidan pelan.
"Kenapa harus gitu Rey, ini kan gak ada sangkut pautnya sama gue, itu namanya elu gak profesional." seru Lisa.
__ADS_1
"Yaudah, gue matiin dulu ya telponnya. Ntar gue tanya dulu sama pak Zidan. besok pagi gue kabari elu."
"Baiklah, gue tunggu kabarnya. "saut Reyhan
"Ok, bye" Lisa memutuskan sambungan telponnya
"Sialan...." umpat Zidan kesal,guratan di dahinya terlihat jelas menggambarkam bahwa dia sedang sangat kesal.
"Bagaimana? apa kau mebyetujuinya?" tanya Lisa, meletakkan ponseknya ke tempat semula
"Ingin rasanya aku menolak kerja sama ini" saut Zidan.
"Tapi, jika kau menolaknya. Maka, impianmu sebagai dosen akan kandas seketika." tutur Lisa.
Zidan tampak berfikir sejenak."Baiklah aku akan menemuinya besok." jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu aku kabari dia dulu" Lisa meraih kembali ponselnya dan mengetikkan beberapa kata disana, setelah mengirim pesan untuk Reyhan, Lisa meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Kabar baik begini, kenapa kai kelihatan kesal begitu?" tanya Lisa mengernyit heran.
"Kau tidak dengar, dia menyuruhku mengajakmu!"
"Ya sudah aku akan menemanimu, nanti aku akan menyuruh Sindy untuk mengurus boutique." Jawaban Lisa semakin membuat Dahi Zidan mengernyit kesal.
"Kenapa kau begitu bersemangat sekali bertemu dengan Reyhan? kau menyukainyakan?" seru Zidan.
"Siapa ya g menyukainya? aku dan Reyhan itu cuma sebatas teman itu saja. Kau kan tau sendiri aku berteman dengannya dari SMA."tutur Lisa meyakinkan Zidan.
"Kalau kau tidak menyukainya , lalu kenapa kau begitu bersemangat seperti ini? kau jnagan macam - macam ya!"
"Siapa yang macam - macam? Zi, aku bersemangat karena aku hanya ingim membantumu itu saja! Aku kan selama ini tidak pernah membantumu, aku terlalu sama kerjaanku di boutique, sementara kau harus mengurus perusahaan dan mahasiswa - mahasiswamu. Itu pasti sangat melelahkan." jawab Lisa.
Zidan terdiam sejenak, ia menatap istrinya itu dengan tatapan penuh selidik.
"Awas saja kalau sampai kau berani macam - macam di belakangku!" ancam Zidan. Ia beranjak berdiri dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tatapan mata Lisa masih melekat di pintu kamar mandi yang baru saja tertutup rapat itu, pandangannya berubah menjadi kosong.
"Seharusnya aku yang takut, jika kau berbuat yang macam - macam kepada ku" gumam Lisa tersenyum getir.
Ia kembali melanjutkan memakan cendolnya yang masih ada setengah gelas lagi.
~•••~
__ADS_1