《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
Sbeuah Cerita Di Negri Piramid Part1


__ADS_3

Singkat cerita setelah satu tahun lamanya Alinka menimba ilmu di mesir, banyak kisah dan perjalanan yang sudah Alinka lalui bersama Shema sahabat terbaiknya, sampai jatuh bangun kisah perjuangannya meraih cita-cita dan saat ini cerita asmaranya sebentar lagi akan segera di mulai, karna saat ini ada sosok laki-laki asal mesir anak seorang kyai, yang sedang memperhatikan setiap detik aktivitas dan kesibukan Alinka. Yaaa... dia adalah orang pertama di negri ini yang mulai tertarik pada si wanita bercadar yang tidak seberapa kecantikannya di banding wanita wanita asli mesir yang cantiknya di atas rata-rata, tapi anehnya dia tetap mengagumi Alinka dengan semua kesederhanaannya.


"Lin... kita kuliah kan udah lumayan cukup lama dan waktu pasti tidak akan terasa cepat berlalu, kamu gak ada niatan gitu sebelum kuliah mu di sini berakhir, mau mencari pasangan asli orang sini atau temen seangkatan kita, kepikiran gak sih kamu sampe situ??" tanya Shema saat mereka jalan-jalan di hari libur, ke tempat bersejarah di kota itu.


"Fokus belajar dulu Shema, masa aku mau kuliah sambil cari jodoh." Jawab Alinka simple.


"Mencari ilmu itu memang kewajiban, tapi kalo tiba-tiba kamu dalam waktu dekat ini dapet jodoh, itu bonus dari Allah namanya." sahut Shema konyol.


"Apaan deh Shema, mulai kumat ya, kamu ngawur ni..." ucap Alinka sambil tertawa.


"Gak ngawur Lin... Aku serius..." jawab Shema.


"Di aminkan saja deh ya, semoga doa mu itu menjadi yang terbaik untukku." ucap Alinka kalem.


Lalu Shema pun memeluk Alinka sambil terus berjalan menyusuri tempat-tempat yang mereka akan kujungi.


"Lin... sebenarnya selama ini ada orang yang sangat mengagumi mu loh." Ucap Shema.


"Hah... siapa...??" tanya Alinka bingung.


"Kamu tau ustad Maher al hadr..?? Iya suami dari ustadzah Jamilah dosen kita." sahut Shema.


"Tau... beliau orang yang sangat berpengaruh di kota ini kan." jawab Alinka.


"Nah... mereka mempunyai seorang putra tunggal yang bernama Amer al hadr." lanjut cerita Shema.


"Lalu apa hubungannya kamu cerita itu semua padaku...??" tanya Alinka penasaran.


"Sebenarnya banyak kaum wanita asli sini maupun mahasiswi indonesia yang sangat mengagumi Amer, tapi sayang dia anak nya sedikit pemilih, entah tipe cewe yang kaya gimana yang dia idamkan." Jelas Shema.


"Teruuuss...!!! Langsung aja deh Shema jangan berputar putar kaya gini topik pembicaraan kamu, sebenarnya kamu mau bilang apa...??" tanyaku sedikit mendesak pada Shema.


"Sebenarnya dia mengagumi mu..." celetuk Shema.


"Hah... siapa...??" tanya Alinka.


"Amer... yaa.. Amer al hadr, seorang pria tampan, mapan, cerdas nan sholeh idaman setiap para wanita, juga sikap lembutnya yang menjadikan ciri khas tentang dirinya." jelas Shema begitu membanggakan seorang Amer.


"Nanti dulu, masalahnya kok aku gak tau tentang si Amer Amer itu ya Shema." ucap Alinka polos.


"Makanya, yang kamu urusin itu jangan buku pelajaran mulu, tentang asmara kek sesekali, gak mungkin kan seumur hidup kamu lalui sendiri." jawab Shema sedikit gemes pada kepolosan Alinka.


"Ya maaf, soal ilmukan wajib di banding asmara." ucap Alinka sambil tertawa.


"Yasudah, daripada cerita tentang Amer melulu, mending kita lanjut cari makan yuk, laper nih udah siang pula." ajak Alinka sambil menarik Shema berjalan menuju tempat yang mereka tuju.


Keesokan hari nya, saat mereka kuliah.


"Lin... Alin...!!!" sahut Shema sambil berlari memanggil Alinka.


"Ada apa Shema??" jawab Alinka.


"Ada yang nitip salam buat kamu." ucap Shema sambil tersenyum senyum bahagia.


"Siapa...??" tanya Alinka.


"Amer..." jawab Shema sambil berbisik.


Alinka pun hanya memandang wajah sahabat nya itu,, lalu dia melanjutkan langkah nya menuju ruang kelas.


"Loh kenapa kok cuek." tanya Shema.


"Shema.. Shema.. kamu bilang Amer seorang yang pemilih, jika wanita asli sini saja yang cantiknya luar biasa dia tidak tertarik apalagi aku. Aku tidak percaya sama sekali atas ucapan mu itu Shema, maaf..." jelas Alinka.


"Oh jadi gitu, awas aja kalo nanti orang nya sampe tiba-tiba muncul di hadapan mu ya Lin... kamu bakal nyesel udah meragukanku..." sahut Shema.


Dan mereka pun berjalan menuju ruang kelas karna sebentar lagi mata kuliah akan di mulai.


Setelah jam kuliah selesai, Shema dan Alinka bermaksud untuk segera pulang ke asrama, karna cuaca hari itu sangatlah terik dan panas terasa, tetapi saat di koridor kampus mereka berpapasan dengan salah seorang pria berbadan tinggi, putih, wajah yang khas seperti orang mesir pada umumnya, dengan bola mata berwana abu, sudah ketebak oleh Shema kalo itu adalah Amer cowo idaman para wanita.


"Lin... Alin... kamu mau tau kan Amer itu kaya gimana??" bisik Shema sambil sedikit menyenggol pundak nya.


"Memangnya dia ada..." tanya Alinka.


"Kamu lihat mobil berwarna putih itu?? Dan yang di dekat nya orang yang memakai baju hitam itu adalah Amer." tunjuk dan lanjut penjelasan Shema.


"Oh itu... Mau ngapain ya dia kemari...??" tanya Alinka.


"Mungkin dia mau menjemput ibu nya kali." jawab Shema.


Lama mereka memperhatikan pemuda itu, dan ketika Alinka memutuskan untuk lanjut pulang, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari belakang...


"Ukhty...!!!" sahut nya.


Lalu mereka berdua pun saling pandang dan melihat di sekitar, untuk memastikan kalo yang dia panggil itu adalah Shema dan Alinka.


"Perasaan di sini gak ada ukhty yang lain selain kita ya, lalu dia panggil siapa...??" bisik Alinka pada Shema.


"Mungkin dia memanggil kita." Jawab Shema.


Barulah mereka berdua berani untuk menengok ke belakang.


Dan benar saja pria itu memanggil Mereka,,


"Kenapa di panggil dari tadi tidak menengok juga...??" tanya pria itu.


"Maaf akhy, kami tidak tau kalo akhy memanggil kami." jawab Shema.


"Maaf mengganggu perjalanannya sebentar, boleh kita kenalan...??" ucap pria itu.


"Kalo saya sih udah tau kamu siapa." Jawab Shema sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ukhty yang satu nya lagi...??" tanya pria itu.


"Maaf akhy temanku memang sedikit agak pendiam dan pemalu." Jawab Shema.


"Saya suka wanita seperti itu." Jawabnya.


"Perkenalkan nama saya Amer." Ucap dia sambil salam hormat pada Alinka.


Lantas Alinka pun menjawab.


"Nama saya Alinka." Ucap Alinka sambil mengangkatkan kedua tangannya.


"Kamu mahasiswi asal indonesia...??" tanya Amer.


"Iya betul." jawab Alinka.


"Sungguh wanita yang pemberani, menimba ilmu sampai sejauh ini." sahut Amer sedikit memuji Alinka.


"Oyah,, Amer lagi ada keperluan apa di kampus ini??" tanya Shema.


"Kebetulan mau jemput umi pulang." jawab Amer.


"Oh.. begitu,, boleh nanya lagi gak Amer??" ucap Shema.


"Boleh... tentu boleh." jawab Amer.


"Kesibukannya apa sekarang??" tanya Shema.


"Kebetulan, meneruskan mengelola universitas abi yang ada di kota tetangga, lalu ada sedikit bisnis di bidang perhotelan di salah satu tempat wisata terkenal di kota lain." Jelasnya rinci.


"Masyaallah... kalo begitu lumayan sibuk ya...??" ucap Shema dengan terkagum-kagum.


"Kebetulan saya cuma memantau itu semua dari rumah, karna sudah ada orang-orang kepercayaan yang di beri tugas di masing-masing tempat, tapi sesekali saya juga turun tangan untuk terjun langsung ke lapangan jika ada waktu luang. " Jawab Amer.


Tiba-tiba Alinka menarik tangan Shema dan berbisik.


"Ayo kita pulang, kenapa kamu malah asyik ngobrol sama dia."


"Iya.. iya... tunggu dulu sebentar, mumpung ada kesempatan." jawab Shema.


"Oyah Amer, terimakasih atas waktunya sudah bisa berbincang sedikit denganmu." Sahut Shema.


"Dengan senang hati ukhty, kalo bisa kita berteman boleh...??" tanya Amer


"Sangat boleh..." jawab Shema.


Lalu Alinka pun menarik tangan Shema kembali.


"Kamu tau peraturan di kampus kita kan...??" bisik Alinka.


"Kita gak boleh deket sama cowo," sambungnya.


"Tapi jika keseringan bertemu kita akan menjadi semakin dekat," ucap Alinka.


"Yasudah.. yasudah... iya oke kita temenan tapi tetap ada jarak oke." Jawab Shema mencoba mencari jalan tengah.


"Kenapa...?? Ada masalah...??" tanya Amer.


"Emh... enggak Amer, ini Alin ngajak pulang, kata nya tidak kuat panas." Jawab Shema sedikit berbohong.


"Yasudah kalian pulang naik apa..??" tanya Amer.


"Kendaraan umum.." jawab Shema.


"Yasudah kalian pulang hati-hati ya, maaf hari ini belum bisa antar kalian pulang, karna aku harus jemput umi dulu." Ucap Amer sambil meminta maaf.


"Iya gak papa Amer, kalo gitu kami pulang dulu,," jawab Shema.


"Assalamu'alaikum..." sahut Shema dan Alinka sambil berjalan pulang.


"Wa'alaikumussalam..." jawab Amer sambil melambaikan tangannya.


Sesampainya di asrama.


"Kamu kenapa sih Shema berani banget ngajak ngobrol Amer??" keluhku.


"Loh kenapa,, gak papa dong, orang dia nya sendiri yang mau kenal." Jawab Shema.


"Tapi aku gak enak sama peraturan di sini." ucapku gak enak.


"Kenapa Alin, kita gak ngelanggar peraturan kok, hanya sekedar ngobrol ringan, lagian di tempat umum juga gak sembunyi sembunyi kan kita, di tambah lagi kita bertiga Alin ingat." Jawab Shema.


Alinka hanya menghela nafas nya seakan masih ada sesuatu yang mengganjal hati nya.


"Yasudah, kalo kamu gak nyaman dengan perkenalan ini, biar lah semua ini mengalir seperti layak nya air ya,, gak usah ngobrol-ngobrol lagi meski hanya obrolan ringan, gak perlu ketemu-ketemu lagi, meski hanya sekedar bertegur sapa, jika memang dia sudah siap, dia pasti akan serius mengajak mu ta'aruf ya Alin." Sambung ucap Shema berusaha membuatku tenang.


"Karna aku tidak ingin menaruh perasaan kembali, tapi pada akhir nya dia hanya sekedar singgah bukan sungguh." ucap Alinka, mengingat kembali peristiwa cinta pertama nya dengan Salman.


"Dan salahku yang terlalu berlebihan, membuatku yakin akan diri nya, padahal dia sendiri sebenar nya sudah mempunyai sebuah cinta dan itu bukan untukku." Sambung Alinka.


"Dulu kamu mempunyai sebuah cinta pertamakah Alin??" tanya Shema.


Dan Alinka pun menganggukan kepala nya.


"Jangan mudah tertarik pada seseorang, cuma karena dia memperlakukan mu dengan baik, bisa saja pada setiap orang dia memang seperti itu." sahut Shema.


"Iya dan aku bodoh, terlalu percaya diri, dan mengira kalo dia suka padaku. " jawab Alinka terdengar sedih.


"Kamu tidak bodoh Alin, kamu hanya senang yang berlebih dan membuat mu mengira dia memperlakukan mu spesial kalo kamu itu istimewa untuk nya, padahal fakta nya bukan kamu yang istimewa di hati nya melainkan dia." ucap Shema.


"Kenyataan memang kadang menyakitkan Alin, tapi lantas kamu tak harus sedih dan mengingat nya terus menerus." Pesan Shema.

__ADS_1


Lalu Alinka pun memeluk Shema sahabat nya itu.


"Tenang Alin, sekarang ada aku di sini dan sekarang kamu juga sudah menginjak usia dewasa, seharus nya kamu sudah matang dalam hal hubungan, jadi kamu gak perlu salah sasaran lagi ya, insyaallah akan ku kawal kamu sampai halal." ucap Shema sambil memeluk dan mengelusnya.


"Makasih ya..." jawab Alinka sambil terus memeluk Shema.


Beberapa hari pun berlalu, setelah pertemuan itu, Amer tidak pernah minta untuk bertemu kembali dan Alinka pun menjalani aktivitasnya dengan normal.


Tetapi, setelah pertemuan itu, selalu ada saja hal istimewa yang di berikan Amer kepada Alinka, entah itu seperangkat alat sholat, al quran dan barang-barang lain yang lebih bermanfaat untuk di gunakan Alinka beribadah, semua Amer berikan pada nya.


Sampai pada suatu hari ketika Alinka merasa tidak enak badan, Amer pun memberikan perhatiannya dengan mendatangkan dokter ke asrama Alinka untuk mengobatinya. Dan semua perhatian itu sampai di sadari oleh semua mahasiswi di kampus terutama yang satu angkatan dan satu kelas dengan Alinka, mereka iri melihat Alinka mendapat perhatian lebih dari seorang laki-laki idaman banyak wanita di kota itu. Sampai-sampai Alinka nyaris di musuhi oleh setiap orang.


"Oh jadi ini perempuan beruntung yang mendapat perhatian lebih dari Amer." Sahut salah satu mahasiswi satu angkatan dengan Alinka.


"Padahal penampilannya biasa aja, bahkan aneh terlihat, pakaian kok tertutup gak sekalian aja tutup semua bagian wajahnya biar gak ada yang lihat sama sekali," lanjut teman mahasiswi yang lainnya.


"Lagian gak yakin juga kalo orang tua Amer bisa restuin hubungan mereka, secara keluarga Amer kan bukan keluarga biasa, mereka orang-orang terhormat di negara ini, beda sekali dengan kasta perempuan pendatang yang satu ini, jelas-jelas dia bukan orang asli negara sini."


Begitulah sedikit percakapan dan nyinyiran teman-teman kampus Alinka ketika mereka merasa iri dengannya,


Sampai sejak saat itu membuat mental Alinka sedikit drop kembali, seperti rasa trauma yang sering dia alami selama ini dia rasakan kembali.


Untung Alinka mempunyai sahabat yang benar-benar care dan selalu ada di saat Alinka senang maupun sedih.


"Sudah ya Alin, jangan gara-gara ucapan mereka kamu menjadi down, kamu harus lebih kuat, ingat tujuan utama mu berjuang di negara ini untuk apa dan teruskanlah perjuanganmu, sampai kesuksesan mu bisa membungkam mulut mereka." Sahut Shema sangat bijak.


Semangat Alinka pun tergugah kembali ketika mendengar ucapan Shema.


"Makasih ya Shema, kamu selalu ada untukku." Ucap Alinka sambil memeluk erat Shema.


3 bulan berlalu begitu cepat, sampai pada suatu hari Amer berniat ingin memberi satu kejutan untuk Alinka, Yakni berniat ingin mengenalkan nya kepada kedua orang tua Amer dan sekaligus berniat ingin langsung melamarnya.


Dan semua berita itu pun sampai terdengar pada keluarga Alinka yang berada di Indonesia terutama keluarga ustad Fakhry dan Abi kandung Alinka sendiri, karna Amer selama ini diam-diam mendekati dan minta izin untuk bisa mengenal Alinka lebih dalam lagi, Sampai-sampai Faiz kakak angkat Alinka pun tahu dan dia pun merasa putus harapan karna Alinka sudah mau menjadi milik seseorang, maka sejak saat itu Faiz pun memutuskan untuk ta'aruf juga dengan salah seorang akhwat pilihannya.


Dua minggu setelah Amer meminta izin kepada abi Fakhry dan abi Hasan untuk bisa mengenalkan kepada keluarga besarnya, Amer pun benar-benar datang dan menjemput Alinka ke asramanya, dengan di temani Shema dan keluarganya sebagai wali pengganti orang tua Alinka yang berada di indonesia dan tidak bisa untuk mendadak hadir di hari bahagia tersebut.


"Assalamu'alaikum...??" Ucap Amer dari balik pintu asrama.


Lantas Shema pun membukakan pintu untuk nya, di samping itu, Alinka masih bersiap dan merapikan penampilannya di kamar yang di bantu oleh ummah Shema sendiri.


"Tunggu sebentar, calon mu belum selesai ummah make up in jadi sabar ya untuk menunggunya." Ucap Shema sambil sedikit bercanda pada Amer.


"Iya gak apa-apa Shema, santai saja gak buru-buru juga kok," jawab Amer sambil tersenyum.


Lalu Wan Azis selaku ayah Shema, berusaha untuk menemani Amer sekejap berbincang demi menghindari rasa bosan karna menunggu.


Setelah beberapa menit Amer menunggu, lalu Alinka pun siap dan mulai keluar kamar dengan di dampingi Shema dan ummahnya.


"Nak Amer, sekarang calon mu sudah siap, mari kita segera berangkat saja." Sahut Ummah Rubya.


Seketika Amer sangat terpana, saat pertama kali melihat penampilan Alinka yang sedikit agak berbeda.


Lantas tanpa membuang waktu lama, mereka pun segera berangkat menuju rumah orang tua Amer.


Beberapa saat perjalanan, sampailah mereka di rumah nan begitu megah bagai istana, sejak saat itu hati Alinka mulai tidak karuan, deg-degan, grogi dan rasa takut bercampur menjadi satu.


Ketika mereka turun dari mobil Amer, mereka pun sudah di sambut oleh beberapa asisten rumah tangga orang tua Amer, karna memang orang tua Amer sendiri mempunyai banyak asisten rumah tangga, secara rumahnya sendiri bak istana di negri dongeng.


"Mari masuk...!!!" Sahut Amer sambil mempersilahkan Alinka, Shema dan ummah rubya berjalan lebih depan dibanding dirinya.


Saat memasuki pintu yang sangat tinggi menjulang bagaikan gerbang, perasaan Alinka semakin tak karuan, gemetar, keringat dingin bahkan lemas semua di rasakannya, karna memang ini pengalaman pertama dalam hidupnya bisa sampai titik ini.


"Assalamu'alaikum..." ucap Amer kepada kedua orang tuanya, lalu dia pun mencium tangan kedua orang tua nya tersebut di ikuti dengan Alinka.


" Wa'alaikumussalam nak,, jadi juga kamu bawa seseorang yang sering kamu ceritakan pada kami." Jawab ummi Amer sambil membelai kepala anak tunggal nya tersebut.


" Loh... bukannya ini mahasiswi yang ummi ajar di kampus nak, jadi dia orang nya yang selama ini kamu kagumi?" Tanya ummi Amer terheran.


" Na'am ummi, dia memang mahasiswi ummi yang selama ini ummi ajar, maaf Amer belum bisa menceritakan semua identitas tentangnya, tapi hari ini semua akan tau siapa dia yang akan Amer jadikan calon istri." Jawab Amer menegaskan pada kedua orang tua nya.


" Kalo abi sih setuju-setuju aja nak, asal itu semua baik untuk mu dan membuat mu bahagia." Sahut abi Amer.


" Terimakasih abi telah merestui hubungan kami." Jawab Amer tersenyum bahagia sambil memeluk abinya.


Lalu ummi Amer pun tiba-tiba mendekati Alinka dan fokus memperhatikan penampilan Alinka dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Amer, ngomong-ngomong dengan wanita tertutup seperti ini apa kamu yakin wajah dia akan secantik penampilannya?" Sahut ummi Amer.


" Amer yakin ummi, dibalik niqob yang selalu melindunginya ada hati yang tulus bisa mencintai dan menerima Amer apa adanya Amer, begitu pula untuk Amer sendiri, misalkan wajah Alinka jauh dari expetasi kita, Amer akan tetap menerima dia apa adanya, karna Amer memilihnya karna Akhlak dan attitude nya ummi." Jawab Amer yakin.


"Jadi kapan kamu mau mengkhitbahnya? Dan mana keluarga dari nya yang bisa menghadiri acara nanti?" Tanya ummi Amer kembali.


"Kebetulan nyonya, saya di beri amanat untuk menjadi wali dari Alinka karna keluarga nya dari indonesia belum bisa datang ke sini secara mendadak, tapi insyaallah, di hari pengkhitbahan nanti, keluarga dari pihak Alinka bisa hadir semua dan untuk hari ini mungkin hanya saya saja yang bisa jadi wali untuk Alinka sendiri." Ucap wan Aziz begitu berhati-hati dalam berbicara.


" Oh... oke kalo begitu, ayo silahkan duduk, kita lanjut ngobrol sambil menikmati jamuan yang sudah saya siapkan." Jawab Ummi Amer sambil mempersilahkan Alinka dan keluarga Shema duduk.


" Akhirnya Lin,, kamu sebentar lagi di khitbah dan alhamdulillah juga keluarga Amer bisa menerima kamu." Bisik Shema bahagia.


Alinka tanpa bisa menjawab perkataan Shema dia hanya mengangguk dan tersenyum.


"Jadi kamu anak fakultas ussuluddin kan, semester 3?" Tanya Ummi Amer pada Alinka.


" Na'am ustadzah." Jawab Alinka sambil tertunduk.


"Saya akui kamu memang mahasiswi tercerdas di kelas saya, kamu beda dengan yang lain tapi.. saya sebenarnya berniat menjodohkan anak tunggal saya dengan rekan bisnis saya, tapi Amer sendiri menolaknya dan lebih memilih kamu, jadi pesan saya jangan pernah kecewakan anak saya ya." Ucap ummi Amer.


Alinka pun mengangguk tanpa berkata.


"Ummi tenang saja, Amer percaya kalo Alin tidak akan pernah ngecewain Amer." Sahut Amer sedikit membelanya.


"Yaudah kalo gitu silahkan di nikmati sajian yang sudah saya siapkan." Ucap Ummi Amer kepada Alinka dan keluarga Shema, lalu mereka pun lanjut berbincang sambil menikmati sajian yang sudah tersedia di meja.

__ADS_1


__ADS_2