《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
LUKA YANG SAMA Part1


__ADS_3

Satu tahun berlalu semenjak kejadian pahit tersebut, kini tiba saatnya Alinka mendengar kabar bahagia dari kak Faiz yang sebentar lagi akan mengkhitbah wanita yang selama ini dia perjuangkan.


Tapi Alinka merasa aneh, perasaannya justru seakan merasa sedih, tapi dia harus merasa senang karna itu hari bahagia kakaknya sendiri, meski bukan kakak kandung tapi Alinka sudah Faiz anggap seperti adik kandungnya.


Semalaman Alinka tidak bisa tidur memikirkan perasaan yang sedang dia rasakan, sampai Shema pun mengetahuinya lantas bertanya.


"Ada apa Alin, sepertinya kamu gelisah?" Tanya Shema yang terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Gak tau nih Shema, tiba-tiba perasaanku gak enak aja." Jawab Alinka.


"Memangnya kamu lagi memikirkan apa Alin?" Tanya Shema kembali.


"Jadi begini Shema..." Akhirnya Alinka pun mau berterus terang pada Shema.


"Hem.." gumam Shema siap menjadi pendengar setia untuk Alinka.


"Bulan depan kak Faiz mau mengkhitbah seorang perempuan yang selama ini kakak perjuangkan." Ucap Alinka.


"Terus...!!!" Sahut Shema.


"Gak tau aku juga bingung, seharusnya aku bahagia mendengar kak Faiz akan mengkhitbah seseorang, tapi perasaanku malah gak enak seperti ini." Sambung cerita Alinka.


"Alin kamu tidak menyimpan rasa untuk kakak mu itu kan?" Tanya Shema.


"Hah... apaan sih Shema, kita ini adik kakak." Jawab Alinka kaget.


"Tapi bukan sodara kandungkan?" Desak Shema.


"Syah kok Lin kalo kamu suka sama kak Faiz, kalian kan gak ada hubungan darah." Sahut Shema memperjelas ucapannya.


Seketika Alinka pun merenungi perkataan Shema.


"Tapi sudah terlambat... kak Faiz sudah mau lamaran Shema." Ucap Alinka sedih.


"Yaudah gak papa... Mungkin kalian tidak berjodoh, aku yakin pasti ada jodoh yang lebih baik untuk mu di kemudian hari." Sahut Shema sambil memeluk Alinka.


"Jadi kamu nanti mau pulang buat menghadiri acara tersebut?" Tanya Shema.


"Sepertinya gak bisa deh, soalnya bulan depan kan kita ujian, ingat loh Shema tinggal satu tahun lagi menuju puncak...!!!" Ucap Alinka bersemangat sambil memeluk Shema.


"Yasudah lebih baik kita sekarang tidur, besok jangan sampe kesiangan masuk kelas, giliran jadwal kelas ustadzah Jamilah calon mertua gagal mu." Ledek Shema sambil menggoda Alinka.


"Iiiihh... apaan sih kamu, jangan ingatkan aku lagi....!!!" Teriak Alinka sambil mencubit perut dan pipi Shema.


"Iya.. iya.. deh ampun bosku...!!!" Sahut Shema sambil tertawa terjungkal-jungkal karna Alinka mengglitikinya.


Satu bulan kemudian, sampailah di hari sebelum hari H Faiz mengkhitbah seseorang, dia menyempatkan diri mengunjungi Alinka ke asramanya bermaksud untuk mengajak pulang bersama agar bisa menghadiri acara tersebut.


"Assalamu'alaikum...?" Ucap Faiz di depan pintu asrama.


Tapi tak ada satu orang pun yang menjawab salamnya, lalu Faiz pun mengulangi kembali mengucapkan salam sampai berkali-kali namun tak kunjung ada jawaban dari dalam asrama.


Datanglah ibu asrama menghampirinya lalu berkata,

__ADS_1


"Cari siapa nak?" Tanya ibu asrama itu.


"Adik saya bu, apa dia sedang tidak berada di asrama?" Ucap Faiz.


"Alinka?" Tanya ibu asrama kembali.


"Na'am bu," jawab Faiz kembali.


"Oh kalo Alinka mereka lagi ada tugas kuliah entah apalah itu namanya, pokoknya sekarang dia sedang berada di luar kota bareng dengan Shema juga." Jelas ibu asrama.


"Oh.. Terimakasih kalo begitu atas infonya bu." Sahut Faiz.


"Iya sama-sama nak." Jawab ibu asrama dan langsung meninggalkan Faiz.


Lalu Faiz pun segera bergegas menuju bandara, karna sebentar lagi pesawat yang akan dia tumpangi akan segera take off.


Sesaat sebelum pesawat lepas landas, Faiz menyempatkan diri menghubungi Alinka terlebih dahulu.


"Hallo.. Assalamu'alaikum..." sahut Alinka dalam sebuah panggilan video.


"Wa'alaikumussalam... dek kamu lagi dimana?" Tanya Faiz tanpa basa-basi.


"Oh maaf kak, Alin sekarang lagi ada tugas kuliah di luar kota," jawab Alinka


"Tadi kakak ke asrama, tapi kamunya gak ada." Sahut Faiz sambil memasang wajah kecewa.


"Maaf kak, sebetulnya Alin baru berangkat tadi pagi dan gak sempet kasih tau siapa-siapa termasuk kakak, emang ada apa kak?" Tanya Alinka.


"Oh Astaghfirulloh... maaf, maaf kak.. sekarang kakak pulang kampung ya? Maaf kak, akhir-akhir ini Alin sibuk kuliah karna sudah mendekati semester akhirkan." Jawab Alinka kaget dengan rencana kepulangan Faiz hari ini.


"Yaudah, Alin titip salam saja buat abi sama umi dan semua keluarga di sana, juga semoga acara kakak berjalan lancar, nanti kenalin ya siapa calonnya sama Alin." Sahut Alinka kembali.


Faiz hanya menghela napasnya dan berusaha baik-baik saja di depan Alinka.


Panggilan video pun berakhir dan Faiz pun segera terbang menuju indonesia.


Di samping itu dimana Alinka berada.


"Siapa yang telpon?" Tanya Shema.


"Kak Faiz hari ini pulang, untuk acara khitbahnya." Sahut Alinka denga nada sedih.


"Sabar.. kamu harus ikut bahagia di saat sodara mu bahagia." Ucap Shema menguatkan.


Alinka pun memandang wajah Shema dan tersenyum kepadanya.


"Yang penting sekarang kita fokus pada kuliah kita yang bentar lagi lulus." Sahut Shema sambil memeluk Alinka.


"Semangat...!!!" Sahut Alinka.


Lantas mereka pun segera menyelesaikan tugas kuliah mereka di sana.


Sesampainya Faiz di indonesia.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..." ucap Faiz di depan rumah.


"Wa'alaikumussalam... nak, kok kamu sendiri mana adik mu Alin?" Tanya umi sambil melihat di sekeliling.


"Maaf mi, Alin gak bisa ikut pulang, dia sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya di luar kota, tadi Faiz juga nyempetin jemput Alin ke asramanya, tapi Alinnya sudah tidak ada, dia sudah lebih dulu berangkat sebelum Faiz datang." Jelas Faiz pada umi Fatimah.


"Yang sabar ya sayang, maklumin saja kesibukan adikmu, karna itu semua demi masa depannya, lagi pula sebentar lagi Alinka wisudakan, wajar kalo akhir-akhir ini dia sibuk di perkuliahannya." Ucap umi menenangkan rasa kecewa Faiz yang tidak bisa bawa Alinka pulang bersamanya.


"Padahal Faiz khawatir akan keadaan Alin mi, setelah penolakan itu sebesar apa luka yang tertoreh di dalam hatinya, kalo Faiz bisa menyembuhkan luka hatinya, Faiz mau jadi obat atas lukanya mi." Sahut Faiz merana.


"Tenang nak, adik mu perempuan tangguh. Dia kuat, setelah kejadian itu sudah satu tahun lamanya, tapi Alin malah menjadi semangat dalam hidupnya kan, dia tidak akan berlarut dalam kesedihan nak, ajaran orang tuanya yang sangat kuat akan selalu melekat dalam prinsip kehidupannya." Jawab umi.


"Satu tahun lagi Alin dan Faiz wisuda mi, mungkin saat Faiz wisuda S2 Faiz akan segera menghalalkan Kanaya, calon istri Faiz yang sekarang akan Faiz khitbah. Tapi bagaimana dengan Alin? Faiz gak mau mendului Alinka untuk menikah." Sahut Faiz.


"Tenang, jika sampai nanti Alin wisuda Alin masih sendiri, abi dan umi tidak akan berdiam diri saja, agar semua anak umi hidup bahagia, Faiz, Alin juga Zainab yang sudah lama menunggu kalian mendapat pasangan masing-masing, abi dan umi sudah menyiapkan calon suami untuk Alin dari kalangan kyai besar teman abi." Jawab umi.


"Bagus lah mi kalo begitu, Faiz merasa agak lega." Sahut Faiz.


Lalu Faiz dan umi pun masuk ke dalam rumah dan menyuruh Faiz segera beristirahat.


Keesokan harinya, tibalah hari yang di tunggu Faiz selama ini, yakni melamar gadis pujaannya Kanaya.


"Sudah siap nak...?" Tanya abi dan umi.


"Insyaallah siap abi, umi." Jawab Faiz yang sudah terlihat rapi dan gagah dengan jas berwarna hitamnya di padu padankan dengan style sarungan ala santrinya tetap tidak dia hilangkan.


Dengan di antar semua anggota keluarganya, Faiz segera menuju kediaman rumah Kanaya yang berada di luar kota.


Saat di perjalanan beberapa kali Faiz mencoba menghubungi Alinka, namun tak kunjung ada jawaban darinya.


"Kenapa Alin tidak menjawab panggilan Faiz ya mi?" Tanya Faiz gelisah.


"Mungkin adikmu sedang sibuk nak, biarkan saja dulu, jika nanti acaranya sudah selesai, baru kita hubungi Alin kembali." Ucap umi berusaha menenangkan hati Faiz.


"Begitu sayangnya Faiz sama Alinka bi, sampai-sampai saat mereka dewasa dan menuju kebahagiaannya masing-masing pun Faiz masih sempat mengkhawatirkan Alin, padahal pada adik perempuan yang lainnya pun Faiz tidak seposesif ini hanya sama Alin saja Faiz bisa seperti ini, kenapa ya bi?" Bisik umi Fatimah pada abi Fakhry.


"Mungkin, karna mungkin mereka belum sempat terlalu dekat terus saja terhalang jarak dan waktu jadi Faiz selalu merasa rindu pada adiknya Alin mi, kalo sama Zainab, Salma dan Fitria kan mereka tumbuh bersama-sama, kalo sama Alin mereka ketemu saat mereka sudah besar aja, jadi mungkin kaya gitu alasan perhatian Faiz pada Alinka." Jelas abi.


"Mungkin saja ya bi." Sahut umi sambil terus melihat gerak gerik Faiz yang sedari tadi mencoba menghubungi Alinka namun tak kunjung ada jawaban darinya.


Tidak lama mereka pun sampai di kediaman Kanaya, semua pun turun dan langsung menuju rumah Kanaya yang sudah terlihat ramai.


Lantas keluarga Faiz pun di sambut dengan ramah oleh keluarga Kanaya dan di persilahkan masuk ke dalam rumahnya yang sudah terlihat di tata rapi oleh parnak pernik berbagai macam hiasan.


"Assalamu'alaikum..." sahut keluarga Faiz.


"Wa'alaikumussalam... mari, mari silahkan masuk." Tetua rumahpun mempersilahkan duduk pada semua anggota keluarga Faiz.


Dan beberapa saat mereka pun saling berbincang sebelum acara inti akan di mulai.


Lalu proses lamaran pun mulai berlangsung khidmat dengan di awali bacaan basmallah lalu pertanyaan apakah gadis yang akan di lamar bersedia menerima lamaran atau tidak, dan di lanjutkan dengan penyematan cincin oleh umi Fatimah kepada sang calon menantu pun berjalan dengan tertib dan lancar. Pada akhirnya Faiz pun selesai melamar wanita yang ia inginkan menjadi calon pendamping hidupnya kelak.


Setelah selesai acara Faiz pun bermaksud mengenalkan Kanaya pada Alinka, namun lagi-lagi Alinka tidak bisa di hubungi sampai saat Faiz dan keluarga besarpun undur diri dari kediaman Kanaya dan kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2