《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
TAARUF Part3


__ADS_3

Di samping itu Alinka menyelesaikan pekerjaan Marwah membuat waffle di dapur sambil merasa sedih karna merasa bersalah karna Marwah menjadi terluka gara-gara dia.


 


Setelah waffle selesai di buat, Alin segera menyajikannya untuk Faiz tak lupa dia segera menengok keadaan Marwah di kamar yang terlihat sedang asyik dengan handphone nya.


 


“Kak ini waffle nya sudah siap.” Ucap Alinka waktu mengantarkannya ke kamar Faiz.


 


“Simpan saja di meja.” Jawab Faiz dingin.


 


Melihat sikap Faiz Alinka pun bertambah sedih, karna dia pikir Faiz marah padanya atas kecerobohannya tadi.


 


Lalu Alinka pun segera menuju kamarnya dimana Marwah pun tidur di sana bersamanya.


 


“Kak Marwah gimana keadaannya?” tanya Alinka khawatir.


 


“Ngapain lo sok peduli.” Sahut Marwah dengan kasar.


 


“Bukan sok peduli kak, Alin memang benar-benar khawatir, jika masih sakit mari kakak Alin antar ke dokter.” Jawab Alinka dengan lembut.


 


“Ngapain lo mau bawa Gue ke dokter, periksa in otak lo yang oon itu ya.” Geram Marwah.


 


“Astagfirullah kak, kok bicaranya seperti itu.” Sahut Alinka tidak percaya.


 


“Denger ya, sebener nya gue udah  benci sama lo, karna Faiz lebih dekat dengan lo ketimbang gue.” Sahut Marwah.


 


Alinka sungguh sangat tersentak melihat sikap Marwah yang sebenarnya.


 


“Istigfar kak, kakak tidak boleh seperti itu, bukan kah kakak seorang yang berilmu, seharusnya kakak lebih tau sikap kakak ini sudah salah.” Jawab Alinka.


 


“Diam lo dasar munafik..!!! Gue tau lo juga hanya bersikap baik di depan Faiz dan keluarganya aja kan ayo ngaku aja lo sama gue, apa yang selama ini lo cari dari keluarga ini? Harta? Atau bahkan jabatan ya.” Teriak Marwah semakin menjadi.


 


Alinka hanya bisa terdiam saat Marwah mulai membentaknya dan menuduhnya dengan hal yang bukan-bukan.


 


“Denger ya, jangan sekali-kali lo ngadu sama siapa pun di keluarga ini, kalo gue udah bersikap kasar sama lo, kalo sampe lo ketauan ngadu sama orang lain, gue pastiin hidup lo tidak akan pernah tenang.” Ancam Marwah.


 


Alinka pun segera pergi meninggalkannya karna dia takut hal yang tidak dia inginkan terjadi padanya.


 


Alinka lari menuju dapur dan dia menangis di sana.


 


Bi Minah melihat Alinka sedang tersedu-sedu dengan deraian Air mata yang sangat deras.


 


“Neng kenapa?” tanya bi Minah ketika melihat Alinka menangis.


 


Alinka pun terkejut dan dia pun menjawab.


 


“Emh... tidak bi, tadi tangan Alin sempet terluka gara-gara lagi ngiris bawang gak hati-hati.” Jawab Alinka menutupi apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya.


 


“Oh begitu, bibi kira neng Alin kenapa, lain kali kalo ngiris bawang hati-hati ya neng.” Ucap bi Minah lalu dia pun berlaku dari hadapannya.


 


Setelah itu Marwah pun di pindahkan ke kamar tamu oleh Faiz karna memang Marwah sendiri yang bilang tidak mau sekamar lagi dengan Alinka.


 


Tapi pada malam hari Salma dan Fitria pun datang ke kamar Alinka dan menanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


 


“Assalamualaikum kak, boleh kah malam ini kami menginap di sini?” sahut Salma dan Fitria.


 


“Wa’alaikumussalam... tentu saja boleh sayang.” Jawab Alinka dan membiarkan mereka masuk lalu memeluk Alinka.


 


“Tadi siang ada kejadian apa sih kak?” tanya Salma sambil memeluknya.


 


“Tidak ada apa-apa sayang.” Jawab Alinka sambil tersenyum.


 


“Tapi kok kak Faiz terlihat berbeda sama kakak, kak Marwah juga jadi terlihat tidak suka pada kakak.” Itu perasaanmu saja mungkin, semuanya baik-baik saja.” Jawab Alinka berusaha menyembunyikan semua.


 


“Tapi ummi gak cerita apa-apa juga sih kak.” Sahut Fitria.


 


“Ya memang benar-benar tidak apa-apa adik-adikku semua baik-baik saja.” Jawab Alinka sambil memeluk dan mengelus mereka.


 


“Tapi kami lihat kakak terlihat sedang bingung, kenapa kak?” tanya Salma


 


“Sebenarnya kakak pengen pulang dek, udah lama kakak di sini dan di kampung pondok pesantren kakak hanya abi yang urus kasian beliau cape dan mungkin merasa repot.” Jelas Alinka.


 


“Yah, bentar lagi aja kak, tunggu sampe kak Faiz berangkat lagi ke Madinah.” Ucap Salma dan Fitria.


 


“Maunya kakak juga begitu, tapi apa gak terlalu lama, sedangkan kak Faiz di sini masih seminggu lebih lagi.” Jawab Alinka.


 


Mereka pun seketika termenung, Yaudah kalo kakak tetep mau pulang, bilang aja sama kak Faiz dia boleh in kakak pulang enggak.” Ucap Salma dan Fitria.


 


Alinka pun hanya menghela napas yang sangat panjang.


 


Pagi harinya Alinka berniat minta izin pulang kepada ummi, tapi sayang ummi pun tidak bisa memberi izin Alinka pulang kecuali Faiz sendiri, karna Faiz sangat amat ingin selalu ada di samping Alin sampai waktu dia kembali ke Madinah.


 


“Ummi, Alin boleh gak pulang sementara, karna di kampung Abi mengurus pondok pesantren sendiri.” Ucap Alinka sewaktu dia membantu ummi di dapur.


 


“Maaf sayang, ummi juga tidak bisa memberimu keputusan kecuali Faiz sendiri, bicaralah pada kakakmu semoga dia mengerti ya nak.” Jawab ummi dengan lembut.


 


Alinka pun hanya bisa terdiam dan terus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa dapat izin pulang.


 


Satu hari Alin pun memberanikan diri meminta izin pada Faiz langsung tentang izin pulangnya itu,


 


“Kak,” sahut Alinka ketika Faiz duduk di teras belakang sambil mengerjakan tugas kampusnya melalui Online.


 


“Iya kenapa Lin?” jawab Faiz sambil terus fokus pada layar laptop.


 


“Alin boleh minta izin pulang?” sahut Alinka perlahan.


 


Faiz pun mengalihkan pandangannya menatap wajah Alinka.


 


“Kenapa harus pulang?


     Kamu tau seminggu lagi kakak akan kembali ke Madinah?


Dan kakak ingin kamu ada di samping kakak saat itu juga.” Jawab Faiz tegas dengan tatapannya yang tajam.


 


“Untuk sementara aja kak, nanti Alin kembali lagi ke sini jika kakak sudah mau berangkat.” Jelas dan bujuk Alin.


 


“Enggak, kakak tidak mengizinkan!” jawab Faiz tegas.


 


Seketika Alinka pun tak bergeming mendengar keputusan Faiz.


 


“Ini bukan karna kamu ada masalah dengan Marwah kemarin kan Alin?” tanya Faiz.


 


Lalu Alinka pun menatap wajah Faiz begitu dalam.


 


“Tidak kak, sama sekali Alin tidak terpikirkan sampe situ, Alin hanya ingin pulang karna Alin inget Abi sendirian mengurus santri-santri di sana.” Jawab Alin dengan jelas.


 

__ADS_1


“Emh... oke kalo begitu, berarti kamu bisa menunggu sampai kakak berangkat ke Madinah kan? Sebentar lagi Alin.” Ucap Faiz memohon.


 


Alinka pun hanya terlihat menghela napas yang sangat dalam mendengar ucapan Faiz.


 


Tapi di sisi lain, Marwah diam-diam menguping pembicaraan mereka dan mencoba menyelidiki semua.


 


“Heh Lu... Jangan coba Lu bisa lari dari gua ya!” Ancam Marwah ketika Alinka melintas di hadapannya sambil menarik tangan Alinka dengan begitu keras.


 


“Aw... apa maksudnya ini Marwah? Kamu mengancamku?” tanya Alinka sedikit meringis kesakitan karna tangannya di tarik oleh Marwah.


 


“Jelas... maka dari itu Lu gak bisa macem-macem sama gua, paham...!!!” teriak Marwah sambil melepaskan tangan Alinka.


 


“Sebenarnya mau itu apa sih Marwah? Kamu terus memusuhi dan menyakitiku?” tanya Alinka dengan sedikit berteriak.


 


“Gua ingin miliki Faiz seutuhnya dan gua ingin elu pergi dari kehidupan gua dan Faiz ngerti!!!” Teriak Marwah sambil menekan tangan Alinka kembali dengan begitu keras.


 


“Astagfirullah... istigfar Marwah, kamu anak Kyai besar tidak sepantasnya kamu bersikap seperti ini.” Ucap Alinka berusaha mengingatkan Marwah.


 


“Diam lo, jangan pernah coba-coba bawa nama orang tua gue, jika keinginan gue tidak gue dapatkan gue akan lakukan cara apa saja buat dapat in yang gue mau meski cara itu licik.” Jelas Marwah sedikit mencekik leher Alinka dan mendorongnya ke tembok.


 


“Astagfirullah sadar Marwah sadar, jangan turuti nafsu setan yang ada di hatimu dan lepaskan aku, aku tidak bisa bernapas.” Teriak Alinka yang merasa sangat sesak karna cekikan Marwah.


 


“Diam lo munafik, elo setannya dan gue akan berusaha musnahin lo dari sini.” Jawab Marwah tertawa jahat


 


Lalu Alinka pun berusaha melepas cekikan tangan Marwah dan segera lari dan masuk ke kamar.


 


“Ya Allah tolong Alin ya Allah,, Alin takut...!!!” ucap Alinka menangis sambil ketakutan di dalam kamar.


 


Terdengar Marwah pun menggedor-gedor pintu kamar Alinka dan terus berteriak.


 


Seakan di rumah itu tidak ada satu orang pun karna tidak ada yang menyadari sikap asli Marwah beserta niat busuknya.


 


Alinka terus berdoa meminta pertolongan pada Allah agar dia selamat dari ancaman Marwah.


 


Tidak lama kemudian sudah tak terdengar suara pintu di gedor lagi dan Alinka pun mulai tenang lalu dia mengintipnya dari lubang kunci.


 


“Sudah tidak ada siapa-siapa Alhamdulillah, malam ini aku harus minta Salma dan Fitria untuk tidur di sini lagi, karna aku khawatir Marwah akan mencoba masuk ke dalam kamarku pada saat aku tertidur.” Gumam Alinka sangat begitu khawatir dan ketakutan.


 


Pada waktu sore hari ketika Alinka menghampiri ummi di dapur, Alin mencoba memberi kode pada Ummi kalo dirinya sedang merasa terancam.


 


“Ummi...!!!” sahut Alin dengan mata yang berkaca-kaca.


 


“Kenapa sayang?” tanya ummi sambil menatap matanya yang berkaca-kaca.


 


“Alin takut.” Ucap Alinka.


 


“Takut kenapa nak, ada apa?” tanya Ummi sambil menatap wajahnya yang memang terlihat sangat tertekan.


 


Lalu Alinka hanya memeluk ummi sambil menangis.


 


“Bicara pada ummi ada apa?” sahut ummi sambil memeluk dan mengelusnya.


 


Alinka tidak bisa berkata apa-apa selain menangis.


 


Ketika ummi memegang pergelangan tangannya Alinka sedikit meringis kesakitan lalu ummi pun bertanya padanya.


 


“Kenapa sayang, sepertinya kamu merasa kesakitan?” tanya ummi.


 


 


“Bekas apa ini?” tanya ummi penasaran.


 


“Tidak ummi kemarin Alin ke pentok pintu kulkas.” Jawab Alinka mencoba menyembunyikan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


 


“Benar? Kamu tidak sedang berbohong kan nak?” tanya Ummi.


 


Alin pun hanya mengangguk dengan mata yang sendu.


 


Lalu pada malam harinya Alinka pun meminta Salma dan Fitria menemaninya tidur, dengan senang hati Salma dan Fitria pun selalu menginap di kamar Alinka, setidaknya hal itu merasa Alinka sedikit lebih aman.


 


Selama berhari-hari Alinka mendapat ancaman itu tanpa semua orang sadari dan di samping itu Marwah terus mencari tau apa penyebab Alinka dan Faiz begitu dekat di banding dari adik-adiknya yang lain.


 


Suatu hari ketika Faiz meminta pendapat tentang Marwah padanya tanpa Alinka dan Faiz sadari bahwa Marwah bersembunyi dan mencoba menguping semua pembicaraan antara Faiz dan Alinka.


 


“Dek, Marwah kan sudah hampir 2 minggu di rumah ini tapi kakak merasa belum mendapatkan Feeling juga terhadapnya, nah menurutmu Marwah itu orangnya bagaimana sih?” ucap Faiz pada Alinka.


 


Alinka hanya diam tanpa kata wajahnya terlihat ragu dan tertekan ketika dia mendengar nama Marwah.


 


“Loh kok malah diam kenapa?” tanya Faiz.


 


“Kakak beri tugas kamu menyelidiki sikap asli Marwah dan katakan apa saja yang sudah kamu ketahui terhadapnya.” Lanjut ucapan Faiz.


 


“Maaf kak, tapi Alin gak bisa.” Jawab Alinka menolak.


 


“Loh kenapa?


   Lin, kakak udah memberikan kepercayaan padamu sepenuhnya tentang masa depan kakak, karna kamu adik kesayangan kakak, ya meski memang kamu bukan adik kandung kak Faiz.” Sahut Faiz sedikit membujuk Alinka.


 


Dan betapa terkejutnya Marwah ketika mendengar kata-kata itu dari mulut Faiz sendiri.


 


“Apa..? Ternyata Alinka bukan anak kandung dari Ustad Fakhry, jadi dia hanya anak pungut di keluarga ini, sialan kecurigaanku selama ini benar, cewek munafik itu hanya ingin mengincar harta dan jabatan dari keluarga ini saja.” Gumam Marwah dari tempat persembunyiannya.


 


“Iya kak, tapi kalo tentang kak Marwah Alin tidak bisa,” jawab Alinka dengan terbata.


 


“Kenapa ada apa dengan Marwah?” desak Faiz.


 


“Maaf kak, Alin harus pergi.” Jawab Alinka lalu dia pun pergi meninggalkan Faiz sendiri.


 


“Ada apa dengan Alinka, sepertinya setiap dia mendengar nama Marwah dia selalu terlihat ketakutan, apa yang sebenarnya sudah terjadi?” gumam Faiz dalam hati.


 


“Ummi lihat gak sih tingkah aneh pada Alinka?” tanya Faiz ketika sedang berada di dapur.


 


“Memangnya kenapa dengan Alinka?” ummi pun malah bertanya balik pada Faiz.


 


“Faiz lihat setiap Alinka berhadapan dengan Marwah Alinka seperti terlihat tertekan dan ketakutan.” Jelas Faiz.


 


“Iya nak, ummi baru ingat, tempo hari Alinka bilang takut pada ummi tapi entah apa yang dia takutkan dia gak cerita semuanya pada ummi dan dia hanya terlihat menahan air matanya.” Jawab ummi sambil sedikit bercerita.


 


“Tadi juga Alin minta pulang mi sama Faiz, apa karna kejadian waktu itu Alin menjadi seperti ini?” ucap Faiz.


 


“Ummi rasa Alin tidak seperti itu, di saat dulu dia punya masalah besar pun dia tidak akan pergi meninggalkan masalah begitu saja sebelum dia menyelesaikannya sendiri.” Jelas ummi.


 


“Hem... lalu apa yang sebenarnya sedang terjadi?” gumam Faiz sambil merenung.


 

__ADS_1


“Yaudah ummi Faiz izin mau pergi keluar sebentar ya.” Sahut Faiz sambil berlalu pergi meninggalkan ummi.


 


“Mau Kemana nak?” tanya ummi sambil berteriak.


 


“Nanti Faiz cerita.” Sahut Faiz.


 


Lalu Faiz pun diam-diam membeli kamera pengintai yang dia akan pasang di rumahnya untuk keperluan penyelidikan masalah ini.


 


Sekembalinya dia dari toko elektronik, Faiz langsung memasang kamera pengintai di setiap sudut rumah tanpa semua orang tau. Lalu dia selalu awasi dari kamar pribadinya.


 


Satu sampai dua hari belum ada yang terlihat aneh dari tangkapan kamera pengintainya itu, semua keadaan rumah baik-baik saja termasuk Alinka orang yang selalu dia Khawatirkan.


 


Dan keesokan harinya pun Alinka sedang berada di dapur dalam keadaan sendiri, dia dengan sangat fokus merapikan dapur kesayangan ummi karna Alinka tau ummi sangat suka jika dapurnya selalu terlihat rapi dan bersih.


 


Tiba-tiba Marwah pun muncul dari belakang dan langsung menyergap Alinka, dia mendorong badannya ke tembok dengan keras.


 


“Astagfirullah ada apa ini?” dengan terkejutnya Alinka saat kejadian itu terjadi.


 


“Heh putri cantik, sekarang belangmu sudah gue ketahui, ternyata selama ini elu Cuma anak angkat yang berusaha mengincar Faiz dan menjauhkannya dari gue iya kan cepat katakan...!!!” teriak Marwah dengan liarnya.


 


“Sabar Marwah, istigfar!!! Biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu.” Jawab Alinka begitu sangat ketakutan.


 


“Apa yang akan lo jelaskan Hah perempuan munafik? Elu akan mengarang cerita apalagi buat bodohi semua orang?” Teriak Marwah dan langsung mengambil sebuah pisau yang dia ambil dari dalam kantong bajunya.


 


“Astagfirullah sadar Marwah sadar...!!!” teriak Alinka begitu panik saat dia melihat sebilah pisau di tangan Marwah.


 


Dia berusaha teriak meminta tolong pada orang lain namun naas rumah dalam keadaan sepi, ketika ummi dan bi Minah pergi ke pasar dan Abi pun sudah berangkat dakwah Salma dan Fitria pergi sekolah bahkan Faiz sendiri sedang pergi mengontrol pondok pesantren yang berada di samping rumahnya.


 


“Tolong...!!!” teriak Alinka.


 


“Percuma Alin orang seisi rumah ini sedang pergi dan sekarang di sini hanya ada kita berdua.” Ucap licik Marwah.


 


“Aku mohon Marwah jangan bertindak yang akan merugikan dirimu dan bisa mencelakakan orang lain.” Ucap Alinka memohon sambil menangis dengan kaki dan seluruh badan sangat gemetar ketakutan.


 


“Gue gak akan bunuh Elo kalo Lo menuruti apa yang gue mau,” jawab Marwah sambil mengusap-usapkan pisau ke area wajah Alinka yang tertutup cadar.


 


“Katakan apa yang kamu mau?” sahut Alinka sambil menangis.


 


“Simpel saja, gue hanya ingin Lo jauhi Faiz dan menghilanglah dalam kehidupan keluarganya.” Jawab Marwah sambil membentak Alinka.


 


“Baik jika itu yang kamu inginkan, aku akan menjauhi keluarga kak Faiz.” Ucap Alinka.


 


“Tapi tidak semudah itu cantik,” sahut Marwah sambil mengayunkan tangannya yang memegang pisau ke arah Alinka, beruntungnya Alinka bisa menangkis tangannya lalu terlepaslah pisau itu ke lantai dan Alinka pun berusaha berlari menjauhi Marwah.


 


Tapi Marwah tidak berhenti sampai di situ saja, ketika dia buru-buru mengejar Alinka dan pisau yang terlempar jauh dia hanya bisa menggapai sebuah garpu yang berada di meja makan lalu dia pun mengejar Alinka dan berusaha melukainya dengan garpu tersebut.


 


“Berhenti kau perempuan munafik, selamanya elo tidak akan bisa miliki Faiz dan menjadi tuan putri di rumah ini.” Teriak Marwah.


 


“Tolong...!!!” teriak Alinka sambil terus menghindarinya.


 


 


Tapi sayangnya Marwah berhasil menggapai tangan Alinka dan langsung menggoreskan luka pada tangannya dengan garpu yang dia bawa.


 


“Aw... Astagfirullah... Marwah sakit...!!!” jerit Alinka ketika tangannya berhasil tergores garpu dan terluka cukup parah.


 


“Haha... baguslah karna itu yang selama ini gue mau, membuat Lo sakit dan terluka dalam kehidupan Lo.” Jawab Marwah sambil tertawa terbahak-bahak.


 


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan pintu gerbang rumah terbuka tandanya ummi dan bi Minah sudah kembali pulang.


 


“Assalamualaikum...” ucap Ummi dan bi Minah dari depan pintu.


 


Marwah pun langsung membungkam mulut Alinka lalu mengancamnya.


 


“Awas kalo sampe Lo ngadu atas kejadian tadi, gue gak akan segan-segan menghabisi Lo...!!!” ancam Marwah.


 


Lalu dia pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan Alinka pun segera membersihkan luka di tangannya dan mengganti bajunya yang sempat robek kena goresan garpu tersebut.


 


“Kemana anak-anak ya bi, kok pintu rumah gak di kunci berarti Faiz belum pulang dari pondok.” Sahut ummi pada bi Minah. Lalu pun memanggil Alinka dan Marwah.


 


“Alin,, Marwah,, kalian berada di rumah...?” panggil ummi.


 


“Iya ummi, ummi sudah pulang?” sahut Marwah ketika dia keluar dari kamarnya dan bersikap manis pada ummi.


 


“Sayang, ummi kira kamu ikut Faiz.” Ucap ummi.


 


“Tidak Ummi, mas Faiz ninggalin aku jadi aku gak sempet ikut sama dia.” Jawab Marwah sambil menggandeng ummi.


 


“Ya sudah nanti kapan-kapan kamu ikut melihat pondok pesantren kami ya agar semua santri tau kalo kamu calon istri Faiz.” Ucap ummi.


 


“Baik ummi.” Jawab Marwah sambil tersenyum manja.


 


“Ngomong-ngomong adikmu Alinka Kemana sayang?” tanya ummi.


 


“Tidak tau ummi.” Jawab Marwah


 


Lalu ummi pun turut memanggil Alinka.


 


“Alin, nak...!!!” panggil ummi.


 


Dan Alinka pun keluar kamar dengan mata yang sembab dan dia pun sudah berganti pakaian yang rapi dengan baju yang semula robek dan berlumuran darah.


 


“Dari tadi kamu di kamar nak?” tanya ummi.


 


“Iya ummi, “ jawab Alinka.


 


“Sedang apa sayang?” tanya ummi kembali.


 


“Lagi nulis novel yang belum selesai ummi.” Jawab Alinka dengan seperlunya.


 


“Kamu masih nulis sayang?” sahut ummi sambil memeluknya.


 


Alin pun hanya tersenyum menjawab pertanyaan ummi.


 


Di tempat lain, bi Minah melihat keadaan dapur yang sedikit agak berantakan, lalu dia pun menemukan sebilah pisau yang tidak dia kenal tergeletak di lantai dapur, lalu bi Minah pun menyimpannya dan membereskan barang-barang yang sedikit agak berantakan karna dia tidak sama sekali curiga pada hal-hal ganjil tersebut.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2