《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
UJIAN DI AWAL KEBAHAGIAAN Part5


__ADS_3

3 bulan berjalan dengan cepat, sedangkan keadaan Alinka masih belum ada perubahan, di samping itu ke gelisahan pun mendera hati Faiz yang nyaris saja merasa goyah.


 


Di saat rapuh seperti ini Faiz menjadi sangat rentan akan bujuk rayu hal yang negatif dari dunia luar yang mengakibatkan bumerang untuk hubungan suami istrinya yang belum saja dia mengecap manisnya pacaran setelah menikah.


 


Saat itu pula, masa lalu pun menghampiri dan berusaha menggoda Faiz yang tengah rapuh di tengah ke tidak berdayaan Alinka saat ini.


 


Marwah, ya Marwah satu nama yang pernah membuat kehidupan Alinka dan Faiz berantakan kembali datang dalam kehidupan mereka dan siap menggoda Faiz kembali di saat keadaan Alinka yang seperti ini.


 


Akankah Faiz sanggup menahan semua godaan tersebut hanya demi Alinka?


 


Satu hari di taman, ketika Faiz sedang menenangkan pikirannya seorang diri.


 


“Assalamualaikum...” ucap salah seorang dari belakang badannya sambil memegangi pundak Faiz.


 


Seketika Faiz pun terkejut dan otomatis menoleh ke belakang.


 


“Marwah..??” sahut Faiz terkejut.


 


“Hai... Apa kabar?” sapa Marwah.


 


“Ke..ke..Kenapa kamu bisa ada di sini?”  tanya Faiz terbata.


 


“Aku memang tinggal di sini, aku kan lagi ngambil gelar S2 di sini mas kamu lupa ya?” jawab Marwah dengan santai.


 


“Kok bisa...?” tanya Faiz


 


“Ya bisa lah, memangnya kenapa? Kita bisa di pertemukan kembali?” sahut Marwah.


 


“Mungkin karna kita berjodoh kali mas.” Bisik Marwah pada telinga kanan Faiz.


 


“Astagfirullah jangan lakukan seperti itu Marwah maaf saya sudah menikah.” Jawab Faiz terkejut dan seketika menjauhi Marwah.


 


“Menikah? Menikah sama siapa? Alinka? Lalu Kemana dia sekarang kok tidak bersamamu?” tanya Marwah dengan penuh penasaran.


 


Faiz hanya memalingkan muka lalu duduk kembali di kursi taman.


 


“Kenapa kok tiba-tiba murung?” tanya Marwah.


 


“Tidak akan ku ceritakan setelah apa yang telah kamu lakukan terhadap Alinka dan keluarga ku dulu.” Jawab Faiz tegas.


 


“Percayalah mas aku sudah berubah.” Bujuk Marwah.


 


Faiz tetap menjaga rahasia tentang sakitnya Alinka kepada Marwah, karna Faiz sadar itu akan menjadi sebuah keuntungan bagi Marwah.


 


“Oh ya sudah kalo kamu gak mau bicara padaku mas, Selamat ya untuk pernikahannya bersama Alinka.” Ucap Marwah.


 

__ADS_1


“Tumben gak ada pemaksaan dari seorang Marwah, biasanya dia selalu memaksakan apa yang dia mau sampai dia dapat.” Gumam Faiz dari dalam hatinya.


 


Lalu Marwah pun hendak pergi meninggalkan Faiz.


 


Faiz hanya melihat dia berlalu dari hadapannya sampai dia pun tak terlihat.


 


“Astagfirullah ujian apalagi yang akan menimpaku ya Allah semoga dengan hadirnya Marwah tidak ada pengaruh buruk yang dia akan bawa terhadap kehidupanku dan Alinka.” Ucap Faiz dalam benaknya.


 


Lalu hari pun menjelang petang, saatnya Faiz kembali ke rumah sakit untuk menemani istri terkasihnya Alinka.


 


“Assalamualaikum.” Ucap Faiz ketika membuka pintu ruang ICU tersebut.


 


“Udah pulang kak?” tanya Shema yang dengan setia selalu menemani Alinka sepanjang hari.


 


“Dari taman biasa, habis menenangkan diri.” Jawab Faiz sambil menjatuhkan dirinya di sofa.


 


“Gimana Alinka hari ini?” tanya Faiz menanyakan perkembangan istrinya.


 


“Masih belum ada perkembangan sih, tapi tenang aku akan selalu ada kok buat mu Lin, meski suami mu sudah merasa agak jenuh atas keadaanmu sekarang.” Ucap Shema sedikit menyindir Faiz.


 


“Apaan sih kamu, aku juga akan tetap setia kok ada di samping Alin iya kan istriku.” Jawab Faiz sambil menghampiri pembaringan Alinka dan mencium keningnya.


 


“Cepat sadar sayang, aku sudah lama merindukanmu.” Bisik Faiz pada Alinka yang sama sekali tidak bergeming.


 


 


“Hem... Ya.. makanya doakan kita agar sanggup melewati cobaan ini ya.” Jawab Faiz sambil berbalik ke arah Shema.


 


“Makasih juga loh, sudah dengan setia selalu mengurus istriku kala aku tidak bisa ada di sampingnya.” Ucap Faiz


 


“Gak masalah, itu adalah janji ku ketika salah satu dari kita tertimpa kesusahan makanya yang satunya lagi harus bisa selalu ada di sampingnya.” Jawab Shema sambil tersenyum memandangi wajah Alinka.


 


“Eh ngomong-ngomong istriku meski pun sedang terbaring sakit tetapi wajahnya selalu memancarkan kecantikannya ya sadar gak sih.” Ucap Faiz sedikit mencairkan suasana dengan memuji Alinka.


 


“Jelas dong, sahabatku adalah bidadari dunia satu-satunya yang wujud nya bisa di lihat oleh mata manusia biasa.” Jawab Shema sambil perlahan mengelus wajah Alinka dengan lembut.


 


“Begitu sayangnya kamu pada sahabatmu ya?” Tanya Faiz.


 


“Jangan di tanya lagi.” Jawab Shema


 


“Kalo begitu aku pamit pulang ke apartemen dulu ya, nanti malam ibu sama ummi yang gantian jaga in Alinka di sini agar kamu bisa istirahat terlebih dahulu.” Pesan Faiz.


 


“Baiklah.” Jawab Shema


 


Lalu Faiz pun meninggalkannya pulang menuju apartemen pribadinya.


 


Setelah malam tiba, Faiz pun kembali ke rumah sakit bersama dengan ibu dan ummi untuk bergantian menemani Alinka sedangkan Shema di suruh pulang untuk beristirahat.

__ADS_1


 


Semua bahu-membahu membantu mengurus dan menemani Alinka selama koma.


 


“Assalamualaikum.” Ucap Faiz ummi dan ibu.


 


“Wa’alaikumussalam,,” jawab Shema yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya sambil mengurusi Alinka.


 


“Sekarang kamu boleh pulang Shema dan beristirahat lah, jaga kesehatan kita semua di sini harus bisa menjaga satu sama lain jangan sampai tumbang.” Ucap Faiz dengan berpesan padanya.


 


Shema pun mengerti akan pesan Faiz dan menganggukkan kepalanya, lalu berkemas untuk pulang.


 


“Malam ini kita yang akan menemani Alin kamu tenang saja, ummi dan ibu sudah membawakan bekal yang banyak untuk malam ini.” Sahut ummi sambil mengelus-elus punggung Shema.


 


“Kalo gitu Shema pamit pulang ke apartemen dulu ya ummi, ibu, kak Faiz.” Jawab Shema sambil mencium tangan ummi dan ibu.


 


“Hati-hati di jalan nak.” Ucap ibu.


 


“Baik ibu,, Assalamualaikum.” Sahut Shema.


 


“Wa’alaikumussalam.” Jawab ummi, ibu dan Faiz.


 


Sementara itu seketika suasana menjadi hening setelah kepergian Shema, lantas Faiz menatap keluar jendela yang terlihat sangat indah dengan hiasan kelap kelip nya gemerlap lampu jalanan kota sembari sedikit melamun.


 


Masih teringat pada siang hari tadi yang dirinya telah di hampiri oleh seseorang dari masa lalunya sekaligus orang yang pernah menyakitinya bersama Alinka.


 


Faiz khawatir akan ada malapetaka yang dia bawa dalam kehidupan barunya.


 


“Iz,, Faiz,, ayo makan malam dulu nak!” suara ummi menyadarkan lamunannya.


 


“Oh iya ummi.” Jawab Faiz lalu menghampiri ummi yang sudah menyiapkan makanannya di meja.


 


“Kamu kenapa sih, dari sepulang kerja ummi lihat murung saja, ada apa ayo cerita sama ummi.” Tanya ummi khawatir melihat keadaan Faiz yang seperti sedang banyak beban.


 


“Tidak umi, tidak ada apa-apa kok!” jawab Faiz berusaha menutupi semua.


 


“Bicara nak, jika ada masalah jangan di pendam sendiri.” Ucap ibu kandung Alinka membujuknya.


 


“Tidak Bu, sungguh Faiz tidak apa-apa!” jawab Faiz sambil tersenyum lalu mengambil piring makanannya.


 


Malam pun semakin larut, ibu dan ummi terlihat sudah terlelap dalam mimpi lalu Faiz pun memandangi wajah teduh istrinya yang sudah 3 bulan tidak sadarkan diri, begitu banyak cerita yang terpendam dalam benaknya yang sangat ingin dia bagi dengan Alinka sebagai seorang istri, betapa Faiz merasakan rindu yang teramat pada sosok Alinka yang jasadnya masih ada di depan mata namun itu semua tidak berarti apa-apa.


 


Entah harus bagaimana lagi Faiz berjuang untuk kesembuhan Alinka, otaknya pun dalam kebuntuan, tidak ada yang bisa dia pikirkan dengan jernih.


 


Sepanjang malam Faiz menjaga dan hanya bisa memandangi wajah cantiknya Alinka sambil mengenang masa-masa indahnya sewaktu Alinka masih sehat.


 


Tak terasa air matanya pun jatuh dan rasa rindu itu pun semakin menyiksa dan pada akhirnya Faiz pun jatuh di pelukan Alinka lalu menangis mengeluarkan isi hatinya yang sudah tidak bisa ia ungkapkan lagi.

__ADS_1


__ADS_2