
Setelah 3 bulan berlalu sesudah perkenalan keluarga itu, barulah hari dimana pengkhitbahan Alinka berlangsung, semua keluarga yang dari indonesia mengusahakan hadir untuk menyaksikan hari bahagia tersebut.
"Alhamdulillah akhirnya setelah penantian panjang kamu di khitbah juga nak," ucap bahagia ibu kandung Alinka sambil mempercantik penampilan anak gadisnya itu.
"Tapi Alin malah takut bu," jawabnya pada ibu.
"Gak usah takut, toh calon suami mu bisa menerima mu apa adanya bukan?" Ucap ibu kembali.
"Amer memang bisa menerima aku apadanya, tapi uminya..." sahut Alinka sambil terlihat gelisah.
"Yasudah kalo begitu, berpikir positif aja ya, semoga semuanya berjalan dengan lancar sampai hari H." Pungkas ibu meyakinkan hati anaknya.
Setelah semuanya selesai, barulah rombongan keluarga besar Amer terlihat baru saja sampai di kediaman orang tua Shema, karena memang sebenarnya keluarga Shema banyak membantu atas keberlangsungan acara tersebut, termasuk masalah tempat di adakannya acara, Wan Aziz yang mengizinkan acara khitbah itu di adakan di kediamannya sendiri.
"Assalamu'alaikum..." Ucap Amer dan rombongan keluarga kyai Maher yang sangat terhormat itu pun tiba.
"Wa'alaikumussalam..." Jawab keluarga besar Alinka dan keluarga wan Aziz selaku pendukung keberlangsungan acara tersebut.
Kedua belah pihak keluarga saling bercengkrama dan saling berkenalan terlebih dahulu secara pribadi sebelum acara inti akan di mulai.
Di samping itu Alinka masih di persiapkan oleh beberapa orang MUA handal yang sengaja di pesan oleh wan Aziz untuk hari bahagia nya tersebut.
"Cantik sekali ternyata customer kita malam ini ya, meski wajahnya sedikit berbeda dengan orang pada umumnya tapi mungkin akhlaknya lah yang membuat inner beautynya sangat kuat terpancar." Sahut salah satu pegawai MUA itu.
"Dia juga sangat pendiam dan anggun ya orangnya." Sahut salah seorang pegawai MUA itu kembali.
"Iya sangat beruntung dia dengan keterbatasan fisiknya tapi dia mampu meluluhkan hati seorang pangeran tampan dan mapan." Sambungnya kembali.
Lalu abi pun datang untuk menjemput Alinka ke kamar, lalu memberitahukan bahwa acara akan segera di mulai.
Alinka pun di bawa keluar kamar dan di gandeng abi kandungnya dengan perlahan.
Setelah sampai di ruangan utama Alinka pun duduk di tengah-tengah abi dan umi kandung nya, lalu Alinka melihat di sekelilingnya tapi tak nampak kak Faiz di situ.
Lantas Alinka pun berbisik pada umi Fatimah yang duduk berdekatan dengan umi kandung nya.
"Umi, kak Faiz tidak ikut ke sini..?" Bisik Alinka.
"Maafkan kakak mu nak, dia sedang sibuk mengurus kuliah S2 nya di Madinah." Jawab umi Fatimah.
Barulah setelah mendengar penjelasan umi Alinka pun dengan hidmat mengikuti proses acara tersebut.
Detik-detik sebelum kata khitbah terucap dari mulut Amer sendiri, ada syarat yang mewajibkan cadar Alinka di buka terlebih dahulu agar semua anggota keluarga bisa tau Alinka yang sebenarnya dan tidak merasa di bohongi pada akhirnya.
Saat-saat itulah yang membuat hati Alinka takut akan adanya penolakan dari pihak keluarga Amer.
"Sebelum nak Amer mengutara kan niat dan itikad baiknya, ada baiknya kami selaku dari pihak keluarga besar Alinka ingin berterus terang akan wujud Alinka yang sebenarnya, agar tidak ada rasa kecewa dan merasa terbohongi atas pengkhitbahan ini." Jelas abi Fakhry.
Lalu abi pun menyuruhku membukakan cadar yang aku kenakan di bantu oleh kedua umi kandung dan umi angkatnya pula.
Saat cadar terangkat dan seluruh wajah Alinka terlihat dengan sempurna yang pertama memperlihatkan ekspresi kaget adalah umi Amer sendiri, beliau terlihat tersentak dan kaget ketika melihat wajah Alinka yang sebenarnya.
__ADS_1
Lalu...
"Amer... apa kau yakin kau akan menikahi gadis buruk rupa ini?" Bisik ustadzah Jamilah.
"Umi.. umi tidak boleh berkata seperti itu, dimata Amer Alinka adalah wanita tercantik dan sempurna karna akhlaknya." Jawab Amer menenangkan uminya yang mulai gelisah.
"Tapi Amer, nama baik keluarga kita akan tercoreng dengan kehadirannya." Sambung ustadzah Jamilah.
"Kenapa tercoreng umi?" Tanya Amer.
"Karna dia buruk rupa." Jawab ustadzah Jamilah menegaskan.
"Begini saja, mulai dari saat ini umi berubah pikiran, umi tidak merestui hubungan kalian dan umi akan menjodohkan mu dengan anak rekan umi sendiri yang jelas asal usul dan keturunannya jika kamu menolak, kamu akan umi coret dari ahli waris keluarga." Jelas ustadzah Jamilah sambil terlihat marah.
Setelah beberapa menit pihak keluarga Alinka menunggu Amer dan umi nya yang terlihat sibuk berunding, abi Fakhry pun lantas bertanya,
"Bagaimana ini keputusannya dari pihak keluarga Amer? Apakah anda semua bisa menerima dengan baik semua kekurangan dari fisik anak saya?"
"Menurut saya, cantik atau tidak itu relatif asal dia mempunyai akhlak yang baik dan good attitude." Jawab ustad Maher.
"Maaf... tunggu, tunggu, tapi saya selaku uminya merasa tidak setuju. Maaf mulai dari saat ini saya berubah pikiran atas lamaran anak saya, karna anak saya sudah saya jodohkan dengan anak rekan kerja saya yang jauh lebih baik dan lebih terhormat." Bantah ustadzah Jamilah.
"Umi...!!! Kok ngomongnya gitu..." sahut ustad Maher.
"Ya habis abi, umi tidak setuju dalam keluarga besar kita ada salah satu anggota keluarga yang mempunyai kekurangan fisik, akan di taruh dimana muka kita bi? Dan nama baik keluarga kita pun akan turut tercoreng olehnya." Jawab ustadzah Jamilah sambil marah-marah.
Betapa tersentaknya ketika Alinka mendengar penjelasan ustadzah Jamilah, hancur berkeping-keping harapan yang sedari dulu dia berusaha membentuknya kembali, seketika di hancurkan dengan perkataan tidak layak di ucapkan seorang yang berilmu seperti ustadzah Jamilah dosen sekaligus ustadzah Alinka sendiri di kampusnya.
Ustad Maher pun meminta maaf dengan sangat atas perilaku istrinya yang tidak pantas, beliau merasa sangat bersalah namun beliau juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti keinginannya, lalu ustad Maher pun seraya meminta maaf kepada Alinka mewakili Amer dan istrinya.
"Nak... Maafkan istri ustad ya, yang mungkin telah menorehkan luka di hati kecilmu, maafkan anak ustad juga, ini bukan kehendak dan keinginannya, sesungguhnya Amer sangat mencintai dan menyayangi mu tulus, tapi sikap keras kepala uminya lah yang membuat kita selalu kalah dan tidak bisa berkutik, Semoga kamu akan mendapat pengganti Amer yang lebih baik, lebih sholeh dan memiliki keluarga yang tentunya bisa menerima kamu apa adanya, jujur kamu cantik lahir batin nak, kamu tidak lah buruk di mata tuhan mu, justru kamu adalah berlian yang sangat berkilau, tapi tidak semua orang bisa melihat akan kilauan sinar mu, maafkan ustad dan keluarga ustad, semoga kamu bisa memaafkannya dengan lapang dada ya nak." Ucap ustad Maher panjang lebar.
Alinka pun tidak bisa berkata apa-apa kecuali meneteskan air mata untuk yang kesekian kalinya gara-gara fisik.
kenapa fisik selalu menjadi hambatan kebahagianku, kenapa semua orang tidak bisa menerima keadaan fisikku yang sebenarnya, sejujurnya aku sudah bosan bersembunyi di balik cadar dan aku ingin hidup dengan bebas dan apa adanya tanpa ada yang harus aku tutupi dan aku sembunyikan. ( Jeritan hati Alinka yang tidak bisa dia utarakan pada siapa pun. )
Lalu Alinka pun berlari masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Shema sahabat sejatinya.
Di dalam kamar Alinka menangis sejadi-jadi nya sambil mengapus semua hasil riasan MUA terkenal yang sudah di pesan khusus oleh wan Aziz.
"Semua nya sia-sia..!!!" Teriak Alinka sambil menangis.
Lalu Shema pun memeluknya berniat untuk menenangkan hati Alinka yang sedang terluka.
"Maafkan aku Alin.. maafkan aku yang sudah mengenalkan mu pada Amer." Sahut Shema sambil memeluk erat dirinya.
Alinka terus menangis dan menangis tanpa memberikan sepatah kata pun untuk Shema.
"Alin jika kamu mau membenci, benci saja aku, karna dibalik semua ini aku adalah jalan dari perkenalan mu dengan Amer." Sahut Shema kembali.
Lantas Alinka malah memeluk Shema dengan erat.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, aku tidak mungkin membenci kamu hanya karna orang yang baru aku kenal, ini bukan salahmu, ini juga bukan salah Amer tapi ini salahku, kenapa aku terlahir cacat...!!!" Ucap Alinka di luar kendalinya.
"Apakah semua orang cacat itu hina? Apakah semua orang cacat itu buruk di mata orang lain, bukankah orang cacat juga mempunyai sebuah hati sama seperti mereka, kita bukan sebuah batu yang tidak akan merasakan sakit hati, kita juga bukan robot yang seenaknya saja mereka bisa permainkan kita, di saat tau kita rusak mereka malah membuang dan mencampakan kita..." teriak Alinka yang masih menangis dan belum bisa mengendalikan emosinya.
Lalu umi Fatimah dan umi kandungnya pun menghampiri anak gadisnya tersebut lalu berusaha menenangkannya dengan memeluk hangat dirinya.
"Umi...!!!" Sahut Alinka sambil menangis di pangkuan kedua uminya.
"Alin tidak minta di lahirkan kedunia ini kan mi?
Alin juga tidak minta lahir kedunia dengan keadaan cacat kan mi?
Tapi kenapa semua orang seakan membenci kekurangan Alin?
Ini semua bukan kehendak Alin mi...?" Sahut Alin sambil terus menangis.
Lalu umi pun memeluk dan mengelus sambil mencium putrinya tersebut.
"Sabar nak, kalo kamu mau sekarang kamu ikut umi pulang ke indonesia, kita tenangkan diri dulu di sana, umi tidak ingin Alin sakit di sini." Ucap umi sambil berlinang air mata.
"Alin sakit mi, sudah cukup dari semenjak Alin kecil Alin selalu di bully sama orang-orang dan sampai sekarang pun kekurangan fisik Alin masih di permasalahkan sama orang lain mi, Alin cape mi Alin cape..." sahut Alin
Umi pun semakin tidak tega melihat keadaan putrinya tersebut, sambil terus meneteskan air mata dan memeluk erat tubuh putrinya umi tidak bisa berkata-kata selain berdoa yang terbaik untuk Alinka di dalam hatinya.
Dan abi pun menghampiri Alinka ke dalam kamar, melihat keadaan Alin yang sangat terpuruk, abi Fakhry bermaksud untuk membawa pulang Alinka sementara waktu pulang ke indonesia, karna di khawatirkan keadaannya akan drop atas kejadian ini, tapi Alinka sendiri yang menolak untuk pulang dan berniat terus berjuang di sini sampai dia meraih gelar sarjana meski dengan keadaan luka menganga di hatinya.
3 hari setelah kejadian itu, keluarga Alinka pun pamit untuk kembali ke indonesia.
"Nak... kamu yakin gak mau ikut abi sama umi pulang?" Tanya abi Fakhry.
"Alin yakin kok bi, Alin sudah merasa baik-baik saja." Dengan senyum manis di bibirnya Alinka berusaha meyakinkan keluarganya agar sedikit lebih tegar atas apa yang telah terjadi padanya.
"Kalo begitu, abi sama umi pamit pulang dulu, Alin baik-baik di sini." Sahut abi Fakhry.
"Baik bi, tenang saja, Alin pulang setelah Alin meraih gelar sarjana di sini, tinggal 2 tahun lagi kok bi.." jawab Alinka dengan semangat.
"Anak hebat, perempuan tangguhnya abi, abi bangga mempunyai kamu nak, meski kamu bukan anak kandung abi." Ucap abi Fakhry sambil mengelus kepalanya.
Lalu setelah perbincangan itu mereka pun berangkat menuju bandara dan Alinka pun ikut serta mengantarkannya beserta keluarga Wan Aziz yang selalu setia mendampingi.
Sesampainya di bandara..
"Sampai sini aja gak papa, setelah ini kamu sama wan Aziz cepet kembali ke asrama, istirahat dan jangan lupa belajar, bukankah sebentar lagi kamu akan ujian..?" Sahut abi Fakhry.
"Baiklah abi,," jawab Alinka sambil tersenyum.
Setelah detik-detik perpisahan mereka, barulah keluarga besar Alinka pun menuju kedalam bandara dan Alinka pun bergegas kembali ke asrama dengan Shema yang selalu setia ada di sisinya.
Sekembalinya mengantar abi ke bandaran, Alinka pun berusaha menata hidupnya kembali dan tidak ingin berlarut dalam kesedihan, dia menjadi lebih semangat belajar dan mengejar apa yang di cita-citakannya semenjak awal datang ke negri piramid ini.
Dan dia juga mencoba melupakan apa yang sudah terjadi padanya juga mencoba melangkah move on dari Amer meski sulit.
__ADS_1