《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
LUKA YANG SAMA Part3


__ADS_3

Setelah Alinka selesai mandi dan bersiap-siap, barulah mereka menuju tempat makan yang sudah wan Aziz sama ummah Rubya sediakan untuk menikmati sarapan pagi bersama.


"Assalamu'alaikum wan Aziz sama ummah." Sapa Alinka dengan ramah.


"Pagi baba, pagi ummah." Ucap Shema.


"Wa'alaikumussalam pagi sayang, gimana tidur kalian malam ini, apakah nyenyak?" Jawab wan Aziz dan ummah Rubya.


"Alhamdulillah nyenyak ummah." Jawab Alinka sambil tersenyum.


"Syukurlah, semoga Alin betah ya liburan di sini, sambil baba menyelesaikan pekerjaannya di sini kalian bisa menikmati liburan panjang sesuka kalian." Sahut ummah Rubya.


"Iya ummah, tau gak katanya Alin baru pertama kali ke dubai." Cerita Shema.


"Betul itu Alin?" Tanya ummah Rubya sambil tersenyum.


"Benar ummah." Jawab Alinka tersipu malu.


"Yaudah nikmati saja masa liburan kalian di sini, Shema ajak Alin berkeliling kota ini, tunjukan tempat-tempat bagus padanya di kota ini, agar saat nanti Alin pulang ke indonesia punya kenangan terindah bersamamu di sini." Ucap ummah Rubya.


Seketika Shema tak bergeming setelah mendengar ucapan ummah.


"Kenapa nak?" Tanya ummah ketika melihat ekspresi wajah putrinya tersebut.


"Shema gak mau Alin pulang." Jawab Shema sedih.


"Loh gak boleh begitu nak, Alin juga punya negara sendiri, punya tempat tinggal sendiri bahkan keluarganya di sana telah menunggu kepulangan Alin selama 3th, kalo Shema gak mau Alin pulang Shema egois dong." Ucap ummah seakan menasehati Shema.


"Tapi Shema terlanjur sayang sama Alin ummah." Ucap Shema histeris sambil memeluk erat Alinka.


"Gak papa Shema, nanti kamu boleh nain ke indonesia ke rumah abi Fahkry, kebetulan wan Aziz kan sering berkunjung ke sana, nanti kita liburan di kampung halamanku." Bujuk Alinka sambil mengelus Shema.


Lantas Shema pun memandang wajah Alinka sambil menganggukan kepalanya.


"Yaudah jangan sedih lagi, mari kita segera menyantap sarapan ini, katanya kamu mau ajak Alinka jalan-jalan." Ucap ummah sambil mempersiapkan makanan ke piring masing-masing.


Sarapan pagi pun selesai, kini waktunya Shema dan Alinka refreshing dari semua lelahnya kesibukan kuliah.


"Hari ini kita kemana dulu Shema?" Tanya Alinka gak sabar.


"Udah ikuti aja aku oke." Jawab Shema sambil mempersiapkan mobil pribadinya yang masih terparkir di garasi.


"Wan Aziz sama ummah gak mau ikut?" Tanya Alinka kembali.


"Ngapain ikut, mereka harus kerja lagian ini urusan anak muda mana mau mereka ngikut ngintilin kita." Sahut Shema sambil sedikit tertawa.


"Lalu yang nyetir siapa?" Tanya Alinka bingung.


Shema pun menunjuk dirinya sendiri seraya berkata.


"Kamu gak percaya aku bisa nyetir?" Sahutnya sambil memanaskan mesin mobil.


"Aku ragu," ucap Alinka seraya menggoda Shema.


"Oke kalo begitu Alin, akan ku bawa kamu hari ini balapan, siap?" Sahutnya bersemangat sambil membuka pintu mobil dan masuk.


Alinka masih termangu melihat tingkah Shema.


"Ayo mau ikut gak? Katanya mau jalan-jalan, Goo...!!!" Sahut Shema kembali sangat bersemangat.


"Tapi hati-hati bawa mobilnya ya Shema." Pesan Alinka sambil masuk mobil dan duduk di kursi samping pengemudi.


"Tenang saja tuan putri, kita akan selamat sampai tujuan, Bismillah." Ucap Shema lalu bergegas menancap gas.

__ADS_1


Setelah mobil melaju dengan kecepatan sedang barulah Alinka pun menyadari kalo Shema pandai mengemudi,


"Ternyata kamu bisa nyetir Shema." Ucap Alinka sambil tersenyum lega.


"Kataku juga apa, aku belajar mengemudi dari semenjak duduk di bangku SMA, hanya aku jarang saja bawa mobil sendiri di tambah aku kan sekarang tinggal di asrama dan baba gak membolehkanku bawa mobil ke asrama, mungkin dia khawatir anaknya akan banyak main ketimbang belajar." Jawab Shema sambil fokus mengemudi.


"Justru bagus didikan orang tua mu itu Shema, mereka tegas dan bijak." Sahut Alinka.


"Ya aku sih gak begitu mempermasalahkannya, toh tanpa mobil kita juga masih bisa jalan-jalan bahagia kan meski hanya jalan kaki, kalo bareng terus dengan sahabat itu semua akan terus terasa menyenangkan." Jawab Shema bahagia.


"Hem... kamu sangat menjungjung tinggi arti persahabatan ya Shema, makanya kamu bisa sesayang ini padaku." Ucap Alinka haru.


"Inilah aku." Jawab Shema simple.


"Makasih ya." Ucap Alinka sambil menatapnya denga mata yang terlihat berkaca-kaca.


Shema hanya tersenyum dan sesekali memandang wajah Alinka.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun telah tiba di tempat wisata yang mereka tuju.


Dari kejauhan Alinka melihat bangunan-bangunan yang sangat indah dan tinggi.


"Aku kira gedung-gedung pencakar langit hanya ada di indonesia Shema." Sahut Alinka sambil terus memandang takjub keadaan di sekelilingnya.


"Eh jangan salah Alin, justru di sinilah gedung pencakar langit tertinggi di dunia berdiri di tempat ini." Jawab Shema sambil membanggakan kota itu.


"Iya Shema dan gedung apakah itu yang tepat berada di depan kita?" Tanya Alinka heran melihat gedung yang begitu tinggi yang baru pertamakali dia lihat di sepanjang hidupnya.


"Itulah yang dinamakan Bruj Khalifah, gedung tertinggi di dunia, icon kota ini." Jawab Shema sambil memandangi gedung tersebut.


"Mau photo?" Tawar Shema.


Alinka pun mengangguk dan tersenyum bahagia.


"Setelah ini kita masuk ke dalam yuk!!!" Ajak Shema.


"Apa boleh?" Tanya Alinka bingung.


"Tentu saja boleh dong, karna gedung ini di buat untuk di kunjungi oleh turis-turis mancanegara." Jelas Shema.


Alinka pun menganggukan kepalanya seakan mengerti akan ucapan Shema.


"Akanku tunjukan keistimewaan gedung yang satu ini." Ucap Shema sambil menggenggam erat tangan Alinka dan menggandengnya masuk.


Saat mereka hendak masuk lift, ternyata ada suatu hal yang tak terduka oleh mereka.


"Amer??" Sahut Alinka terkejut.


Dan Amer pun terlihat sama terkejutnya dengan Alinka.


"Lin.. kamu di sini?" Tanya Amer terlihat sangat bahagia bisa bertemu dengan Alinka kembali.


"Kebetulan aku dan Shema lagi berlibur di sini." Jawab Alinka.


"Oyah, kuliah mu sudah mendekati semester akhir kan? Dan sebentar lagi kamu wisuda?" Tanya Amer kembali.


"InsyaAllah Amer minta doanya saja." Jawab Alinka simple.


"Oh iya Alin, semoga setelah wisuda nanti kamu bisa semakin sukses ya dan semoga ilmunya bisa bermanfaat." Ucap Amer mendoakan Alinka.


"Aamiin... terimakasih banyak atas doanya ya." Sahut Alinka.


"Iya sama-sama, oyah kenalin ini istriku namanya Zahra." Ucap Amer sambil memperkenalkan perempuan cantik yang dia gandeng.

__ADS_1


"Oyah, perkenalkan nama saya Alinka." Sahut Alinka memperkenalkan diri.


Dan perempuan itu pun menyalami Alinka sambil tersenyum.


"Alin, sudah yuk berbincangnya, katanya mau ke atas." Bisik Shema berusaha memutus obrolan mereka.


"Oh iya maaf Shema tentu saja." Jawab Alinka sambil menatap wajah Shema sambil tersenyum.


"Kalo gitu aku ke atas dulu Amer." Ucap Alinka seakan berpamitan.


"Oh iya silahkan." Jawab Amer sambil tersenyum.


Lalu Alinka dan Shema pun segera masuk ke dalam lift, tapi tiba-tiba...


"Tunggu Alin....!!!" Sahut Amer sambil menahan pintu lift yang hampir tertutup.


"Ada apa lagi Amer?" Tanya Alinka gugup.


"Maafkan aku, jujur semua ini ku jalani dengan dasar keterpaksaan, aku harus menyakitimu dan aku pun harus menikahi dia," ucap Amer sambil menatap mata Alinka dalam dan sesekali melirik ke arah istrinya yang ada jauh di belakang dia.


"Jujur aku masih sayang dan cinta kepadamu, tapi aku sudah menikahi gadis pilihan ummi dan pada akhirnya aku harus berpura-pura mencintai dia." Jelas Amer.


"Bagaimana pun hatiku tetap untuk mu Alin, aku tidak bisa melupakan mu."


"Cukup Amer, jangan sesekali kamu menggoda Alinka kembali, kamu itu sekarang harus sadar, kamu sudah beristri, tak pantas rasanya semua kata-kata itu kamu ucapkan pada wanita lain, bagaimana hati dan perasaan dia sebagai seorang istri mu yang baru saja kamu nikahi." Bantah Shema mencoba menghalangi maksud dan tujuan Amer.


"Shema benar Amer, kamu sudah mempunyai kehidupan yang baru, tak pantas rasanya kamu masih bersikap seperti ini padaku, dimana harga diriku jika aku tetap memberi harapan pada mu dan terutama aku adalah seorang wanita sama seperti dia, aku tidak ingin sampai menyakiti hati wanita lain, karna aku tau itu rasanya akan sangat sakit, kembali lah pada istri mu dan lupakan aku, sang takdir tidak merestui kita untuk bersama Amer." Jelas Alinka.


"Tapi sampai saat ini kamu masih sendiri kan?" Tanya Amer.


"Kesendirianku jelas bukan hanya tentang mu, tapi aku ingin fokus dalam menggapai cita-citaku, aku harus segera menyelesaikan kuliahku ini dan lekas pulang ke indonesia untuk segera memanfaatkan ilmu yang sudah aku dapat dari sini." Jelas Alinka.


"Oh..aku kira selama ini kamu..." kalimat Amer pun terputus ketika istrinya memanggil dia dengan panggilan sayangnya.


"By...!!!" Sahut Zahra.


Lantas Amer pun menengok ke arahnya lalu segera menyelesaikan perasaannya yang masih tersisa untuk Alinka.


"Kalau begitu aku tidak bisa memaksa, jika kamu menginginkan ku untuk melupakan mu, baiklah akan ku coba meski akan terasa sulit." Ucap Amer sambil terlihat sangat sedih dan kecewa.


"Ikhlaskan lah dan pergilah, bahagiakan istrimu yang sudah menunggu kamu untuk membalas cintanya, jangan hiraukan aku, karna aku masih ingin mengejar semua anganku." Ucap Alinka terdengar sangat bijak.


Amer pun seakan menghela napasnya dan berjalan melangkah menuju arah istrinya sambil sesekali menengok ke arah Alinka.


Alinka pun berlalu dengan memberikan senyuman terakhir untuknya.


"Gila ya tu cowok, tau udah married juga masih aja ngejar kamu, mana istrinya cantik lagi." Gerutu Shema merasa sangat kesal atas sikap Amer barusan.


"Sudahlah Shema, karna dia juga hanya manusia biasa bukan malaikat yang selalu benar." Ucap Alinka sambil tersenyum.


"Aku cuma gedek aja melihat sikapnya, kaya yang gak punya pendidikan tinggi, gak bisa bersikap bijak." Sahut Shema.


"Itulah yang namanya cinta, cinta bisa membuat orang lain menjadi buta." Jawab Alinka.


Shema pun menghela napasnya seakan merasa lega.


"Tapi syukurlah, sekarang dia mau kembali pada istrinya, kalo enggak kita bisa dapat masalah besar sama ustadzah Laila." Ucap Shema.


"Tidak apa Shema, aku yakin Amer orang yang akan mengerti atas semua ini, dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk mengejar hal yang belum pasti untuknya." Jawab Alinka.


"Sedangkan di depan matanya telah ada masadepan yang menanti untuk bisa membahagiakannya." Lanjut ucap Alinka.


"Yasudahlah, sekarang kita lupakan peristiwa barusan dan kita lanjut nikmati hari-hari liburan pertama kita di sini." Ucap Shema sambil bersemangat menyiapkan kamera kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2