
***
Singkat cerita, tepat pukul 06.00 Alinka dan Shema sudah bangun dan bersiap-siap, semua keperluan jangan sampai ada yang terlupakan, Shema dan Alinka pun mengecek kembali satu persatu barang-barang keperluannya dan tepat pukul 07.00 mereka pun berangkat menuju bandara.
Tidak berapalama di perjalanan, sesampainya di bandara, wan Aziz segera mengurus keberangkatan mereka ke indonesia dan tinggal nunggu waktu take of saja.
"Deg-degan ya, ada rasa sedih, bahagia bercampur menjadi satu." Sahut Alinka saat duduk di ruang tunggu.
Shema pun menggenggam tangannya berusaha membuat hati Alinka tenang.
"Sebentar lagi kamu akan berkumpul dengan keluargamu kembali bukan, seharusnya kamu bahagia." Ucap Shema.
Dan Alinka pun menatap dalam bola mata Shema sambil tersenyum.
Tiba saatnya tepat pukul 09.00 akhirnya Alinka, Shema dan keluarga pun take of menuju Indonesia.
***
Tidak terasa, selama beberapa jam perjalanan, Alinka, Shema dan keluarga pun sampai di Indonesia, bahagia rasanya bisa menginjakan kaki di tanah air kembali.
Tapi perjalanan belum berakhir dari kota ke kampung halaman Alinka butuh beberapa jam perjalanan kembali jadi cukup memakan waktu yang sangat lama untuk waktu yang tersita di perjalanan saja.
Hampir beberapa hari mereka di perjalanan, akhirnya barulah mereka sampai juga di kampung halaman Alinka.
Keluarga Alinka sudah mempersiapkan dan menyambut meriah kedatangan mereka di rumah.
"Assalamu'alaikum?" Sahut Alinka bersemangat.
"Wa'alaikumussalam nak, akhirnya kamu sampai juga di rumah." Jawab ibu sambil memeluk dan menciumnya.
Lalu Shema dan keluarga pun demikian bersalaman lalu ibu dan abi segera mempersilahkan mereka masuk untuk beristirahat.
"Gimana wan jauh ya perjalanan menuju rumah kami?" Tanya abi kepada wan Aziz yang baru pertama kali mendatangi kampung halaman Alinka.
"Lumayan cukup bikin pegel ya ustad, sampe bosen saya kok gak sampe-sampe." Jawab wan Aziz sembari bercanda.
"Ya beginilah keadaan kampung halaman kami, ummah, wan, di pedesaan dan jauh dari hikuk- pikuk suasana perkotaan." Sahut ibu sambil menyuguhkan beberapa cangkir teh hangat dan sedikit makanan ringan.
"Shema ayo kita langsung ke kamar saja, koper dan barang bawaanya biar di simpan di kamarku saja." Ucap Alinka pada Shema.
Shema pun hanya mengangguk.
"Bang, bang Husna.. tolong bawakan koper Shema ke kamar Alin dong!" Sahut Alinka pada bang Husna yang masih ada di kamar.
"Alin, kamu sudah sampai dek?" Jawab bang Husna sambil keluar kamar.
Dan bang Husna pun salam terlebih dahulu kepada orang tua Shema.
"Akhirnya kamu datang juga ke sini." Bisik bang Husna pada Shema.
Lantas Shema pun hanya tersipu malu di buatnya.
Tak lama kemudian bang Husna pun membawakan koper Shema ke kamar Alinka lalu ikut bergabung dengan pembicaraan orang tua mereka.
"Aku gak kuat pengen tiduran di kamar, rasanya lelah sangat." Ucap Alinka.
"Iya sama aku juga." Jawab Shema.
"Tapi maaf ya Shema kamar ku kecil dan sederhana tidak seperti kamar yang kamu punya." Ucap Alinka pada Shema.
"Tidak apa-apa Alin, kita kan terbiasa hidup di asrama yang serba kekurangan, jadi aku udah biasa." Jawab Shema sambil memasuki kamar Alinka dan mulai tiduran di kasur sederhana milik Alinka.
"Di sinilah pertama aku bermimpi ingin pergi kuliah ke mesir, di sini juga aku sering berkeluh kesah bersama ibu, dan kamar ini menjadi saksi bisu bagaimana pengorbananku untuk meraih cita-cita ku." Jelas Alinka sambil flashback ke masa lampau.
"Dan insyaAllah sekarang kamu akan menjadi orang besar ya Alin, kamu akan menjadi generasi penerus abi mu, membangunkan pondok pesantren buat beliau." Sahut Shema.
"Iyah, dan yang aku butuhkan pertama-tama adalah sang donatur untuk membantu pembangunan pondok pesantren ku." Ucap Alinka.
"Baba siap jadi donatur tetap untuk pembangunan pondok pesantren mu lin, nanti aku bicarakan padanya." Sahut Shema bersemangat.
"Terimakasih Shema, kamu dan keluarga mu sudah cukup banyak membantu ku, sekarang aku mau mencoba berdiri sendiri dengan perjuanganku sekuat tenaga ku." Jawab Alinka.
"Loh kenapa? Gak papa, kamu jangan menolak rezeki, baba pasti bersedia membantu kamu." Ucap Shema.
"Maaf Shema bukan maksud aku ingin menolak bantuan dan rezeki dari mu, cuma aku ingin belajar mandiri." Jawab Alinka.
Shema pun seketika merenung dan memahami apa yang di maksud oleh sahabatnya tersebut.
"Yaudah kalo begitu aku akan selalu mendoakan apa yang terbaik untuk mu, dan jika butuh bantuan, kamu jangan sungkan untuk memberi tahu ku." Pesan Shema.
"Iya pasti itu Shema doakan saja semoga semuanya berjalan dengan lancar." Ucap Alinka, lalu mereka pun saling berpelukan.
Malam pun semakin larut, setelah keluarga Alinka menjamu makan keluarga Shema akhirnya mereka semua pun bisa beristirahat dengan tenang.
***
Satu saat di pagi hari, Alinka mengajak Shema untuk berkeliling kampung menikmati asrinya pemandangan alam sekitar rumahnya dan merasakan sejuknya embun pagi yang terlihat berkilau di antara rumput dan tumbuhan lainya bak hamparan mutiara.
"Ini tanaman apa?" Tanya Shema yang terlihat sangat bingung ketika melihat area pesawahan.
"Inilah yang namanya pohon padi," jawab Alinka.
"Padi? Yang sering di buat nasi buat kamu makan?" Tanya Shema masih penuh dengan kebingungan.
"Yaaa.."jawab Alinka sambil tersenyum.
"Oh ternyata begini bentuk pohon padi, kecil tapi berumpun ya." Sahut Shema sangat senang ketika melihat area pesawahan.
Selanjutnya Alinka bawa Shema ke area kebun yang banyak di tanami berbagai macam sayuran.
"Lihat Shema ini kebun sayuran ku, agar bahan makanan gak harus semuanya beli kami bisa menanamnya sendiri." Sahut Alinka sambil menunjukan satu petak tanah yang penuh di tumbuhi berbagai macam sayuran.
"Wah... baru pertama kali aku melihat sayuran masih segar di pohonnya Alin, rasanya juga pasti sangat berbeda dengan yang biasa kita beli di market kan?" Tanya Shema.
"Pastinya dong karna ini sayuran segar kita mendadak metik sayuran dari kebunnya." Jelas Alinka.
"Di mesir gak bakal tumbuh nih sayuran kaya gini, cuacanya hanya cocok buat tanaman kaktus saja." Sahut Shema sambil tertawa.
Setelah berjalan-jalan mengelilingi kebun dan sawah, baru lah Shema dan keluarga di hidangkan oleh hidangan sederhana ala desa, yaitu nasi liwet, lauk asin, lalapan tak ketinggalan sambal menu wajib dalam makanan khas sunda.
"Sudah puas berjalan-jalannya neng?" Tanya ibu ketika mereka baru saja pulang dari kebun.
"Iya bu, pemandangannya begitu indah, di mesir saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini, yang saya tau alam sekitar hanya gurun pasir yang tandus, tapi di sini hawanya pun sejuk bahkan dingin, banyak tumbuhan hijau, bahkan ummah aku baru pertama kali lihat pohon padi." Cerita Shema panjang lebar.
"Wah... sayang ummah gak ikut, ummah juga mau lihat pohon padi belum pernah lihat rasanya, yang kita tau padi hanya sudah menjadi beras dan siap di masak." Ucap ummah Rubya.
"Tenang nanti saya tunjukan pesawahan di sekitar sini ummah, nanti sesudah kita makan ya." Ucap ibu kepada ummah Rubya.
Lalu mereka pun menikmati makanan khas pedesaan bersama-sama.
***
Tidak terasa, sudah beberapa hari Shema dan keluarga menginap di rumah Alinka dan hari-hari pun semakin mendekati moment bahagia Faiz, tepat pada esok hari Faiz akan melangsungkan janji sucinya pada wanita yang selama ini dia cinta dan orang tua Alinka sudah dari jauh-jauh hari bolak-balik ikut membantu persiapan acara bahagia tersebut.
Karna orang tua Alinka lebih dulu pergi ke rumah ustad Fakhry untuk membantu berlangsungnya acara, tinggal Alinka, Shema dan keluarga lah yang belum mendatangi kediaman ustad Fakhry sekaligus Faiz sendiri, Alinka belum sempat untuk menemuinya.
Hanya ada kesempatan pada hari H saja Alinka bisa menghadiri acara tersebut.
"Lin, orang tua mu sudah pergi ke rumah Faiz ya untuk bantu-bantu di sana?" Tanya Shema sesaat sebelum mereka tidur pada malam itu.
"Iya, mereka menginap di sana sudah beberapa hari yang lalu, maaf ya kalian jadi gak sempat ibu sama abi menjamu kalian dengan baik." Alin pun mewakili permintaan maaf untuk kedua orang tuanya.
"Gak papa kok Alin kita maklumin saja, karna memang lagi sama-sama sibuk kan." Jawab Shema.
__ADS_1
"Yaudah jadi besok kita dateng ke rumah Faiz?" Tanya Shema.
"Iya." Jawab Alinka lesu.
"Apakah kamu siap?" Tanya Shema kembali.
Alinka hanya menghela napas yang sangat dalam.
"Sabar ya, Allah sedang mempersiapkan jodoh terbaik untuk mu." Sahut Shema sambil mengelus kepalanya.
"Besok kamu mau aku bantu make up gak?" Tanya Shema kembali mencoba mencairkan keadaan.
"Boleh." Jawab Alinka.
"Oke, besok aku jadi MUA mu ya, serahkan saja pada ku, aku akan buat kamu cantik melebihi pengantin wanitanya." Sahut Shema bersemangat lalu tertawa.
"Eh.." ucap Alinka.
Setelah itu barulah mereka terlelap dalam mimpinya.
***
Jam 06.00 pagi, sejuknya hawa pedesaan terasa sangat menusuk setiap ruas-ruas tulang di dalam tubuh, embun terlihat kerlap-kerlip terpancar sinar sang fajar dan riuhnya kokok ayam menambah kemerduan suasana di pedesaan.
"Alin ayo cepat kita make up!!!" Sahut Shema sangat semangat.
"Bentar Shema, baru saja aku selesai mandi, hawa dingin hampir saja mengalahkan ku untuk pergi mandi." Ucap Alinka sambil tertawa.
"Yaudah, yaudah, terserah kamu mau mandi atau enggak, yang penting hari ini kamu harus berpenampilan luar biasa." Sahut Shema sambil menarik-narik Alinka yang masih berselimut handuk.
"Kamu sendiri gak mandi?" Tanya Alinka sambil duduk di hadapan Shema.
"Soal itu nanti gampang lah, yang penting sekarang kamu dulu." Jawab Shema sambil memulai atraksinya.
***
Setelah beberapa menit Shema menyulap penampilan Alinka, barulah Alin di suruh memakai gaun yang serba hitam ciri khas pakaian wanita bercadar.
"Ayo, ayo lihat hasil karya ku Alin!!!" Sahut Shema tidak sabar.
"Awas ya kalo jelek," ucap Alinka.
"Gak bakalan di jamin oke." Jawab Shema.
Saat Alinka melihat penampilannya di cermin, yang Alin lihat bukanlah dirinya, tapi wanita mesir dengan polesan make up khas timur tengah yang terlihat tajam di bagian mata.
"Ini aku?" Tanya Alinka.
"Iya, siapa lagi?" Jawab Shema.
"Ini kamu kali versi make up an ya?" Ucap Alinka masih tidak percaya.
"Yeee... di bilangin masih aja gak percaya, udah ah aku mandi dulu." Sahut Shema sambil mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
"Air hangatnya udah aku siapkan di sana ya!!!" Sahut Alinka.
"Iya.. terimaksih." Jawab Shema dari dalam kamar mandi.
***
Beberapa jam kemudian, barulah mereka siap untuk pergi ke acara pernikahan Faiz.
"Gimana penampilan ku?" Tanya Shema di dalam mobil saat perjalanan menuju rumah Faiz.
"Aman, cantik kok gak kalah cantiknya sama ummah." Jawab Alinka sedikit memuji ummah.
"Loh kok ummah di bawa-bawa." Sahut ummah dari kursi depan, karna ummah duduk di samping baba yang mengemudikan mobil.
"Ya kan ummah ibu ratu dari Shema, jadi Shema ini adalah titisan dari ummah sendiri." Ucap Alinka mencoba menggoda ummah Rubya.
"Kado pernikahan?" Tanya Shema.
"Aman, udah ada di bagasi tadi abang yang memasukannya.
"Kado wisuda?" Tanya Shema kembali.
"Aman juga." Jawab Alinka.
"Kalo bang Husna?" Tanya Shema malu-malu.
"Ada noh di belakang." Jawab Alinka sambil tertawa.
"Ngapain nanyain abang?" Tanya Alinka.
"Takut ketinggalan tadi di rumah." Ucap Shema tersipu malu.
"Yaelah abang ketinggalan pun dia pasti nyusul pake motor." Jawab Alinka sambil tersenyum.
Dan bang Husna hanya tersenyum di kursi mobil paling belakang.
Sesampainya di kediaman ustad Fakhry, semua anggota keluarga yang akan ikut mengantar Faiz sudah bersiap di depan gerbang rumah.
Ada Zainab dan ustad Farid.
Umi, abi, Salma dan Fitria.
Dan semua kerabat dekat maupun jauh sudah berkumpul di sana.
Alinka pun turun sejenak untuk menemui keluarga abi Fakhry terlebih dahulu.
"Umi... abi...!!!" Sahut Alinka setelah turun dari mobil dan berlari menuju umi dan abi Fakhry.
"Alinka sayang...!!!" Sahut umi langsung merangkul putri kesayangannya tersebut.
"Alin kangen mi, maaf Alin baru sempat datang ke sini." Ucap Alinka meminta maaf.
"Sama umi juga sangat merindukan mu nak, maaf saat kamu wisuda umi tidak sempat datang, karna kakak mu Faiz ada keperluan mendadak." Jawab umi smabil memeluk dan menciumnya.
"Abi...!!!" Sahut Alinka sambil memeluk abi Fakhry.
"Jagoan abi, sudah kembali ke tanah air dengan membawa segudang prestasi dan kebanggaan, sehat kamu nak?" Ucap abi Fakhry sambil memeluknya.
"Alhamdulillah sehat abi, keadaan abi sendiri bagaimana?" Jawab Alinka.
"Alhamdulillah abi sehat juga." Sahut abi Fakhry sambil mengelus kepalanya.
Lalu Zainab, Salma dan Fitria pun berteriak histeris ketika melihat sosok kakaknya yang selama ini terpisah dari mereka.
"Kak Alin...!!!" Sahut mereka sambil memeluk erat Alin.
"Kemana aja kak Alin kok baru ke sini?" Tanya mereka.
"Maafin kakak, kebetulan kakak pulang ke indonesia sambil bawa temen kakak dari mesir ini dia orangnya, jadi gak mungkin kan kakak tinggal sendiri di rumah." Jelas Alinka kepada mereka.
"Oh ini temen kakak?" Tanya mereka.
"Iya, ayo berkenalan." Sahut Alinka.
"Kenalin kak, namaku Zainab, Salma dan Fitria. "Ucap mereka dengan bergantian.
"Salam kenal juga, nama saya Shema." Jawab Shema lembut.
"Kakak udah ketemu kak Faiz belum?" Tanya Zainab.
__ADS_1
"Belum, eh kamu awet juga sama ustad Farid ya." Sahut Alinka.
"Alhamdulillah kak, kan sambil nunggu kakak nikah di awali dengan pernikahan kak Faiz sekarang lalu nanti kakak yang menyusul ya, setelah itu baru aku dengan ustad Farid." Jawab Zainab.
"Kalo kakak gak tau kapan, Zainab dulu aja yang nikah kakak ikhlas kok." Ucap Alinka sambil tersenyum.
"Eh gak boleh gitu kak, siapa tau habis ini ada ikhwan yang melamar kakak ke rumah." Sahut Zainab.
Alinka pun hanya tersenyum mendengar kata-kata dari Zainab.
"Yaudah kalo gitu kakak temui kak Faiz dulu ya." Ucap Alinka.
"Oh iya boleh kak." Jawab Zainab.
Lalu Alinka pun berjalan ke arah Faiz di temani denga Shema di belakangnya sambil membawakan satu kado dan yang satu lagi di bawa oleh Alinka sendiri.
"Kak!!!" Sapa Alinka pada Faiz yang sedang asyik mengobrol dengan kerabat jauhnya.
"Eh Alin!!! Kapan pulang, kenapa baru kesini sekarang? Kenapa gak dari kemarin bareng sama ibu dan abi?" Ucap Faiz saat menengok ke arah Alinka dan langsung di hujani beberapa macam pertanyaan.
"Ssstt.... kakak kebiasaan deh, baru juga dateng udah di hujani dengan berbagai macam pertanyaan." Ucap Alinka sambil menutup mulut Faiz dari kejauhan.
"Iya maaf, Alin baru sempat datang sekarang, karna Alin pulang bersama Shema, Alin pulang udah 2 minggu yang lalu." Jawab Alinka perlahan.
"Oh begitu, yaudah kalo begitu alasan mu kakak terima." Jawab Faiz dengan sedikit bercanda.
"Udah kaya laporan komandan aja pake alasan di terima." Gerutu Alinka mengkritik sikap posesif kakaknya tersebut.
"Ini Alin juga bawain kakak sesuatu, yang pertama karna Alin gak sempet hadir di acara wisuda kakak, karna acara kita barengan jadi ini kado wisuda dari ku, dan makasih juga atas kiriman buket bunganya cantik aku suka, dan untuk yang kedua, ini kado pernikahan kakak, di bukanya nanti aja kalo acara udah selesai ya, jangan penasaran sebelum syah." Ucap Alinka panjang lebar sambil menyerahkan dua kado tersebut.
"Oke oke bosku." Jawab Faiz dengan gaya nyelenehnya.
"Gimana-gimana kak Faiz ganteng gak jadi manten?" Tanya Faiz mencari perhatian.
"Pecinya agak miring kak, sini aku benerin." Jawab Alinka.
Lalu Faiz pun merundukan kepalanya meminta Alinka untuk membetulkan posisi pecinya tersebut.
"Sweet banget jika mereka di takdirkan berjodoh." Gumam Shema yang melihat ke akraban mereka.
"Makasih adikku." Ucap Faiz yang sudah merasa penampilannya tidak kurang satu apapun.
"Sama-sama kak." Jawab Alinka sambil tersenyum.
"Oyah Alin ikut kan anter kakak ke rumah calon istri kakak? "Tanya Faiz kembali.
"Ikut dong," jawab Alinka
"Alin ikut mobil siapa, Alin ikut mobil kakak aja!" Pinta Faiz.
"Makasih kak, Alin bawa mobil sendiri tapi baba Shema yang nyetirin." Jawab Alinka.
"Oh, begitu, yasudah kalo begitu hati-hati di jalan ya, jangan jauh-jauh dari belakang mobil kakak." Ucap Faiz.
"Iya-iya kak tenang saja." Jawab Alinka.
Lalu tiba lah saatnya semua rombongan bergerak maju dan mulai perjalanan menuju rumah calon mempelai wanita.
Tidak perlu memakan waktu lama, Faiz dan rombongan pun sampai di kediaman calon mempelai wanita.
Barisan rombongan mempelai pria pun terlihat mengantri panjang dan ramai, karna terdiri dari keluarga besar pesantren abi Fakhry.
Acara demi acara pun mulai di buka dan tiba saatnya waktu akad, ada peristiwa yang tidak pernah mereka sangka bahkan Faiz pun tidak pernah mengetahuinya.
Saat Faiz akan mengucap ijab qobul semua terasa sangat tegang dan mendebarkan, karna ini kali pertama pengalaman ustad Fakhry menyaksikan hari pernikahan putra sulungnya dengan di saksikan begitu banyak pasang mata termasuk Alinka yang duduk paling depan diantara keluarga ini ustad Fakhry.
Saat mempelai wanita di persilahkan bersanding di meja akad tiba-tiba...
"Kepada calon mempelai wanita di persilahkan duduk di kursi akad." Ucap seorang MC yang sudah di beri tugas oleh yang punya hajat.
"Kembali di beritahukan kepada calon mempelai wanita dibpersilahkan duduk di kursi akad!" Sahut MC itu berkali-kali.
Semua orang mulai berbisik mempertanyakan keberadaan sang mempelai wanita.
Faiz pun mulai terlihat gelisah ketika mendengar calon pengantin wanita setelah di panggil berkali-kali tapi tak kunjung tiba.
Lalu orang tua calon mempelai wanita pun mengecek sendiri keberadaanya di kamar.
Di ikuti oleh kecurigaan Shema dia pun berlari mengikuti orang tua calon pengantin wanita masuk ke dalam rumah dan mendengar ke gaduhan yang ada di sana.
"Bagaimana ini, calon pengantin wanitanya kabur entah kemana!" Sahut para pegawai MUA yang sudah di beri tugas make over pengantin dengan sempurna.
"Gimana ceritanya pengantin wanitanya bisa kabur?" Tanya salah seorang.
"Gak tau tiba-tiba saja, ketika saya pamit izin ke kamar mandi pengantin itu masih duduk di meja rias tapi pas saya kembali, sang pengantin sudah tidak ada dengan keadaan jendela kamar terbuka lebar dan ada juntaian kain sepertinya untuk membantu dia turun dari sini." Jelas MUA tersebut, kebetulan posisi kamar si pengantin ada di lantai dua yang memang cukup agak tinggi.
"Kira-kira dia kabur sendiri atau ada yang mengajaknya?" Tanya lagi seseorang.
"Saya tidak tau karna setelah saya kembali sudah tidak ada jejak apapun kecuali juntaian kain ini." Jawab sang MUA.
"Memangnya ada masalah apa ini bisa sampai seperti ini?" Tanya saudara dari pihak pengantin wanita.
"Sebetulnya seminggu sebelum hari H, anak kami Kanaya meminta pembatalan pernikahannya dengan Faiz karna dia masih menyimpan rasa cinta pada mantannya dulu, dan sekarang mantannya itu meminta Kanaya untuk kembali padanya dan bisa menikah dengannya, tapi kami menolaknya karna kami tau seperti apa laki-laki mantan Kanaya itu, menurut pandangan kami laki-laki itu tidak pantas untuk Kanaya, maka dari itu kami tetap memaksakan Kanaya untuk menikah dengan Faiz." Jelas ibu dari pengantin wanita.
"Oh jadi seperti itu, kalo begitu tinggal jelaskan saja pada keluarga calon pengantin pria apa yang sudah terjadi sekarang, di usahakan jangan ada hal yang di tutup-tutupi lagi, kasian mereka sedang khawatir menunggu penjelasan dari pihak calon pengantin wanita." Ucap saudara dari pihak calon pengantin wanita.
Setelah itu orang tua pengantin wanita pun menghampiri Faiz dan keluarga besarnya untuk menjelaskan semua kejadian buruk ini.
"Maaf jadi lama menunggu, jadi begini nak Faiz, ustad sama umi, sebelumnya kami mau meminta maaf yang sebesar-besarnya atas ke kacauan dalam acara hari ini," sahut ayah pengantin wanita.
"Iya jadi bagaimana, kemana calon pengantin wanitanya pak, kok tak kunjung hadir, apa dia tiba-tiba sakit atau bagaimana? jujur kami sangat merasa khawatir, takut terjadi apa-apa pada calon menantu kami." Jawab abi dan umi Faiz.
"Maaf sebelumnya, anak kami baik-baik saja tapi dia sudah pergi bersama mantan pacarnya yang entah di bawa kemana putri kami olehnya, sebelumnya putri kami sudah meminta izin atas pembatalan pernikahan ini, tapi ini memang salah kami, kami memaksakan kehendak atas putri kami yang akhirnya berujung seperti ini." Jelas ayah sang pengantin wanita.
"Apa!!!" Sahut umi lalu kondisinya tiba-tiba drop dan jatuh pingsan.
"Umi...!!!" Teriak semua Faiz, abi, Zainab, Salma dan Fitria membopong tubuh umi yang tiba-tiba ambruk.
"Alin umi Fatimah jatuh pingsan." Ucap Shema kepada Alinka yang kebetulan Alinka sedang berada jauh di kerumunan itu.
"Pingsan kenapa Shema? ada apa? kenapa umi?" Tanya Alinka panik.
"Tadi aku sengaja membuntuti keluarga pengantin wanita saat dia beberapa kali di panggil oleh MC untuk duduk di kursi akad tak kunjung datang, ternyata calon pengantin wanitanya kabur bersama mantan pacarnya dulu." Jelas Shema memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
"Astaghfirullah..!!! Kak Faiz, umi, kasian acaranya jadi hancur berantakan." Sahut Alinka meneteskan airmata lalu segera menghampiri kerumunan keluarga ustad Fakhry yang sedang panik karna umi Fatimah tiba-tiba jatuh pingsan karna Shock.
"Umi.. umi.. kenapa? Umi bangun ini Alin mi...!!!" Sambil menangis Alin pun memposisikan kepala umi di pangkuannya.
"Abi,, abi segera bawa umi kedalaman ruangan bi, kasian umi kepanasan." Sahut Alinka panik kepada abi Fakhry.
Lalu abi dan Faiz pun mengangkat umi ke dalam rumah warga sekitar sana,,
Alinka pun berusaha membuat umi sadar dan siuman, dengan bermodalkan minyak angin, Alin menggosok-gosokannya ke kening umi lalu menciumkannya ke hidung umi.
"Umi, ayo umi sadar kita pulang kalo umi gak kuat." Sahut Alin sambil terus berusaha membuat umi sadar.
Tak lama kemudian umi pun siuman dan berkata.
"Faiz, ayo kita pulang, tak ada lagi yang bisa di pertahankan nak semuanya sudah berakhir." Ucap umi masih setengah sadar.
"Iya mi, iya ayo kita pulang." Jawab Faiz.
Setelah kedua belah pihak menyelesaikan permasalahan ini, barulah rombongan Faiz pun kembali pulang dan semuanya gagal.
__ADS_1
Akhirnya Faiz pun merasakan rasa yang sama saat Alinka gagal di khitbah oleh laki-laki yang mengaguminya.
Faiz dan Alinka pun merasakan luka yang sama, entah apa yang Allah rencana kan pada mereka hingga semuanya terjadi menjadi seperti ini.