《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
MOVE ON Part2


__ADS_3

Satu tahun pun berlalu masih dengan tanpa kabar dari Faiz. Alinka menjalani hidupnya dengan normal dan mengelola Yayasan miliknya.


 


Di samping itu, Alinka mendapat kabar dari Shema bahwa dia sudah mempunyai bisnisnya sendiri sekaligus memegang saham Wan Aziz sebagai pewaris tunggal sambil menyelesaikan study S2nya di sana dan sebentar lagi Shema akan melamar seseorang yang dia kagumi selama ini yang menurutnya patut di perjuangkan bahkan untuk meminang terlebih dahulu pun rela ia lakukan saking istimewanya laki-laki itu di mata Shema.


 


Dan Alinka juga mendapat kabar dari keluarga Faiz bahwa Abi dan ummi akan berusaha menjodohkan Faiz kembali dengan seorang anak sahabatnya Abi sendiri tentunya tanpa dengan sepengetahuan Faiz.


 


Pagi itu Alinka mendapat telepon dari ummi bahwa beliau memanggilnya untuk datang ke sana, entah untuk keperluan apa yang pasti Alinka dengan segera memenuhi perintah ummi.


 


“Assalamualaikum?” sahut Alinka ketika sampai di kediaman Ustad Fakhry.


 


“Wa’alaikumussalam... Alin itukah kamu nak?” jawab ummi dari dalam rumah sambil membuka kan pintu untuknya.


 


Alinka pun mencium tangan ummi begitu pun sebaliknya ummi menyambut hangat Alinka dengan pelukan dan ciuman di keningnya seperti biasa.


 


“Iya ummi, ini Alin. Ada apa kok ummi tiba-tiba memanggil Alin ke sini?” tanya Alinka bingung.


 


“Sini,, sini,, masuk dulu nak, ummi ada kabar bahagia untukmu.” Sahut ummi sangat antusias.


 


“Ummi mau minta pendapat soal rencana perjodohan Faiz, menurut kamu bagaimana?” Ucap ummi sambil membawa Alinka duduk di kursi ruang tamu.


 


“Kak Faiz mau di jodohkan lagi ummi? Memang kak Faiz setuju?” tanya Alinka.


 


“Kak Faiz belum tau, maka dari itu ummi merahasiakannya, kalo dia tau sebelum dia pulang yang ada dia bakal gak jadi pulang ke sini.” Jelas ummi.


 


Alinka pun seketika termenung dan langsung memikirkan ucapan ummi.


 


“Kalo kak Faiz nolak lagi bagaimana ummi?” tanya Alinka.


 


“Ummi yakin, Faiz anak yang penurut kok, setelah semua di rasa buntu dia akan menyerah dengan egonya sendiri.” Ucap ummi begitu yakin.


 


Alinka tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya memandang raut muka ummi yang sangat berseri karna bahagia dengan rencana perjodohannya.


 


“Oh iya, rencananya besok kak Faiz pulang maka dari itu ummi suruh Alin ke sini, pasti Faiz sudah sangat rindu sama adik kesayangannya. Karna Zainab sudah gak tinggal di sini karna dia memilih menjadi anak rantau, jadi otomatis adik kesayangannya sekarang adalah kamu lalu Salma dan Fitria.” Jelas ummi.


 


Hari pun mulai gelap, tepat pukul 19.00 seperti biasa semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan makan malam bersama.


 


“Sudah siap semua Alin?” tanya ummi sambil sibuk membereskan semua.


 


“Sudah ummi.” Jawab Alinka yang sedari tadi membantu pekerjaan ummi menyiapkan hidangan makan malam.


 


“Kalo gitu ummi tinggal memanggil semua untuk datang ke sini.” Sahut ummi segera memanggil Salma, Fitria dan Abi untuk segera datang ke ruang makan.


 


“Salma.. Fitria,, sini nak makan malam sudah siap!!!” sahut ummi.


 


Lalu ummi pun menjemput Abi yang masih berada di kamar untuk segera mengajaknya ke ruang makan.


 


“Abi.. makan malam sudah siap, yuk segera ke meja makan ummi punya kejutan untuk Abi.” Ucap ummi sambil tersenyum berseri-seri.


 


“Wah... kejutan apa itu ummi?” tanya Abi penasaran.


 


“Kalo ummi kasih tau sekarang bukan kejutan dong namanya Abi.” Jawab ummi sambil menggandeng Abi berjalan menuju ruang makan.


 


Setelah semua menuju ruang makan dan...


 


“Kak Alin..!!!” sahut Salma dan Fitria terbelalak melihat sosok Alinka yang sudah berada di ruang makan sedari tadi.


 


“Kapan datang?” lanjut tanya mereka.


 


“Tadi siang kakak datang dek, tapi kakak sibuk bantu ummi di dapur.” Jawab Alinka sambil memeluk adik-adiknya tersebut.


 


“Alin nak, kamu datang kesini.” Ucap Abi bahagia.


 


“Iya Abi.” Jawab Alinka sambil mencium tangan Abi Fakhry lalu Abi pun turut mengelus kepala putri kesayangannya.


 


“Syukurlah kamu datang kesini nak, besok kakakmu Faiz pulang setelah satu tahun dia bekerja di Madina, ummi pasti sudah menceritakan semua tentangnya padamu bukan?” Ucap Abi Fakhry kepada Alinka.


 


“Iya Abi tentu saja, ummi sudah menceritakan semuanya.” Jawab Alinka sambil tersenyum manis.


 


Lalu semua anggota keluarga pun duduk di kursinya masing-masing lalu mereka melanjutkan perbincangan mereka terlebih dulu sebelum mereka memulai makan malam.


 


“Oh iya, bagaimana perkembangan yayasanmu sekarang nak? Kapan-kapan Abi tengoki ke sana.” Tanya Abi.


 


“Alhamdulillah Abi sudah berjalan dengan lancar dan anak-anak santri pun sudah lumayan bertambah sedikit lebih banyak dari waktu ke waktu.” Jawab Alinka.


 


“Nanti Abi juga bantu cari donatur tetap untuk yayasanmu sekaligus promosi in pondokmu di setiap dakwah Abi.” Sahut Abi.


 


“Iya sebelumnya terima kasih Abi, Alin juga demikian mempromosikan pondok pesantren Alin dalam dakwah Alin.” Jawab Alinka.


 


Sedikit banyak mereka berbincang dan saling bertukar cerita mereka pun  segera melanjutkan makan malamnya.


 


Pada keesokan harinya tepat pukul 06.00 pagi Abi sudah bersiap untuk menjemput Faiz ke bandara.


 


“Abi sarapan dulu bi, nanti masuk angin.” Sahut ummi sambil menyodorkan segelas susu hangat dan sebuah roti isi bikinan ummi sendiri.


 


“Iya mi, Abi buru-buru.” Jawab Abi sambil terus mempersiapkan keberangkatannya.


 


“Tapi harus tetap sarapan dulu Abi, sini ummi suapin kalo Abi gak sempet.” Jawab ummi meladeni Abi dengan begitu lembut dan romantis.


 


“Gak usah ummi malu sama anak-anak.” Ucap Abi sambil sedikit berbisik pada telinga ummi.


 


Ummi pun hanya tersenyum kecil membalas ucapan Abi tersebut.


 


Setelah Abi menyempatkan sarapan pagi barulah Abi berangkat dengan di antar supir pribadinya.

__ADS_1


 


Tidak menghabiskan waktu yang sangat lama untuk Abi sampai di bandara, beliau langsung menunggu putra kesayangannya tiba.


 


1 jam pun berlalu, dari kejauhan terlihat sosok yang tidak asing lagi bagi Abi, seketika dia pun berdiri dan menanti sosok itu datang menghampirinya.


 


“Assalamualaikum Abi...” sahut Faiz yang baru saja tiba sambil memeluk hangat Abi.


 


“Wa’alaikumussalam nak, sampai juga kamu.” Jawab Abi sambil membalas pelukannya.


 


“Maaf Abi sudah menunggu lama ya?” tanya Faiz.


 


“Tidak lama kok, lumayan selama durasi dakwah Abi di satu majelis.” Jawab beliau dengan ciri khas candaanya yang membuat gelak tawa.


 


“Yaudah kalo begitu segera kita pulang, ummi dan adik-adikmu sudah menunggu di rumah.” Sahut Abi sambil mengajak Faiz berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di hadapan mereka.


 


Faiz pun menjawabnya dengan anggukan kepala lalu mereka pun segera berlalu dari tempat itu.


 


Sesampainya di rumah, ummi langsung menyambut hangat kedatangan anak kesayangannya itu.


 


“Assalamualaikum.” Sahut Faiz sambil merangkul ummi terkasihnya.


 


“Wa’alaikumussalam nak, bagaimana keadaanmu sehat? Ummi sangat rindu.” Jawab ummi sambil mencium dan memeluk putra kesayangannya.


 


“Alhamdulillah sehat ummi, ummi sendiri gimana keadaannya sehat?” ucap Faiz.


 


“Alhamdulillah ummi juga sehat nak, ayo masuk di dalam ada kejutan untukmu.” Sahut ummi sambil menuntunnya ke dalam rumah.


 


Di dalam rumah Salma dan Fitria sudah menunggu kedatangan kakak terkasihnya.


 


“Assalamualaikum kak Faiz...!!!” sahut mereka sambil berlari ke pelukan Faiz.


 


“Wa’alaikumussalam,, gimana kabar kalian?” Tanya Faiz sambil memeluk kedua adik perempuannya.


 


“Alhamdulillah keadaan kita baik kak, kakak kapan berangkat dari Madinah?” tanya Fitria dengan celotehnya.


 


“Kemarin malam kakak berangkat dari Madinah.” Jawab Faiz sambil terus memeluk mereka.


 


“Kakak tau siapa yang datang ke sini kemarin?” tanya Fitria.


 


“Siapa memang?” jawab Faiz penasaran.


 


“Tunggu ya..!!!” sahut Fitria.


 


“Kakak...!!!” sahut Fitria memanggil sosok yang akan menjadi kejutan untuk Faiz.


 


Setelah itu muncullah sosok Alinka dari arah kamar.


 


“Alin...!!!” sahut Faiz sedikit berbisik.


 


 


“Wa’alaikumussalam Alin.” Sorot mata Faiz terus terpaut padanya yang terus menundukkan kepala.


 


“Kirain kamu sudah lupa akan rumah ini dek,” lanjut ucapan Faiz.


 


“Mana mungkin Alin lupa pada orang yang sudah banyak berjasa pada Alin kak.” Jawabnya dengan penuh kelembutan.


 


“Oyah kak, Kak Alin sudah mempunyai yayasan sendiri loh sekarang.” Sahut Salma.


 


“Benarkah begitu Alin?” tanya Faiz.


 


Alinka pun hanya menganggukkan kepalanya.


 


“Syukur Alhamdulillah kalo begitu, kakak senang mendengarnya.” Ucap Faiz sambil tersenyum.


 


Lalu Faiz pun istirahat untuk beberapa saat sebelum mereka kumpul dan saling melepas rindu.


 


Saat makan malam pun tiba, semua berkumpul di meja makan hendak menunggu semua hidangan di sajikan di meja makan.


 


Seperti biasa ummi dengan di bantu Alinka yang menyiapkan semua makanan untuk makan malam kali ini.


 


Setelah semua siap, Abi pun mengutarakan rencana perjodohan Faiz esok hari.


 


“Faiz, besok akan ada seseorang yang berkunjung ke rumah ini, Abi harap kamu bisa menyambutnya dengan baik.” Sepenggal ucapan yang pertama kali Abi utarakan pada Faiz.


 


“Memangnya siapa Abi?” tanya Faiz terheran.


 


“Jauh-jauh hari Abi dan Ummi sudah merencanakan ini semua, Abi harap kamu bisa terima.” Lanjut ucap Abi yang semakin membuat Faiz bingung.


 


“Apa? Rencana apa Bi?” Tanya Faiz bingung.


 


“Ummi dan Abi berencana menjodohkanmu dengan anak teman Abi sesama pendakwah Kyai besar dari luar kota, gadis itu bernama Sofa Marwah tapi dia sering di panggil dengan panggilan Marwah, anak lulusan institut ternama di kotanya dan dia jebolan pesantren ternama juga di tanah Jawa.” Jelas Abi dengan perlahan.


 


“Apa bi? Perjodohan? Maaf bi, Faiz kan sudah bilang, Faiz tidak ingin di jodohkan, cukup kegagalan kemarin yang membuat Faiz trauma untuk memulai kembali kisah itu, Faiz ingin fokus dulu dengan kerjaan Faiz bi, Faiz mohon.” Jawab Faiz dengan memohon.


 


“Tapi adikmu Zainab ingin segera di halalkan oleh calon suaminya Ustad Farid nak, sedangkan Zainab tidak ingin melangkahimu.” Sahut Abi.


 


“Sudah lebih baik langkahi saja Faiz bi, katakan pada Zainab  daripada Faiz harus menerima perjodohan ini.” Jawab Faiz jelas-jelas menolak perjodohannya.


 


“Setidaknya kamu lihat dulu calon yang sudah kami pilih nak, taaruf dulu, kalo memang cocok ya lanjut kalo tidak ya gak usah.” Ucap ummi berusaha membujuk Faiz.


 


“Tapi Faiz tidak mau memberi harapan pada gadis itu Ummi, jika sampai terjadi pertemuan Faiz dan dia, Faiz takut dia sudah berharap lebih tentang Faiz.” Jawab penolakan Faiz.


 


“Tidak akan nak, ummi tau siapa dia, dia wanita yang sangat Sholihah sama seperti adikmu Alinka Cuma bedanya dia tidak bercadar saja.” Ucap ummi.

__ADS_1


 


“Faiz tetap tidak mau Ummi, Faiz tidak ingin membuat kesalahan kembali.” Jawab Faiz ngotot menolak perjodohannya lalu dia pun pergi dan masuk kamar.


 


“Faiz, Faiz dengerin ummi dulu nak...!!!” Sahut Ummi sedikit berteriak.


 


“Faiz dengarkan kata Abi, jika kamu menolak perjodohan ini kamu sudah menjadi anak durhaka.” Tegas Abi sedikit marah.


 


“Abi,, Abi,, Alin mohon jangan bilang seperti itu bi, karna ucapan orang tua bisa menjadi doa untuk anaknya, jadi semarah apa pun kita, kita tidak di perbolehkan berucap tidak baik pada anak kita bi.” Sahut Alinka berusaha melerai ketegangan ini.


 


“Ummi, Abi, biarkan Alin yang bujuk kakak untuk bisa menerima perjodohan ini, Alin janji kakak akan setuju setelah Alin kasih pendapat.” Usulan Alinka agar kakak dan orang tua angkatnya tidak terlibat dalam percekcokan kembali.


 


“Ya sudah kalo begitu, Abi dan Ummi serahkan padamu ya nak.” Ucap Abi dan ummi lalu mereka pun mulai makan malam.


 


Setelah semua makan malam lalu waktu isya pun tiba dan mereka segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam terlebih dahulu.


 


Lalu Alinka pun berusaha membujuk Faiz yang masih mengurung diri di kamar.


 


“Assalamualaikum kak.. kakak ini Alin, kakak belum makan, makan malam dulu yuk kak biar Alin yang temenin.” Sahut Alinka dengan sangat lembut di depan pintu kamar Faiz.


 


Namun tidak ada jawaban sedikit pun dari Faiz.


 


“Kak, Alin mohon kakak jangan menyiksa diri kakak dengan cara seperti ini, nanti Abi dan Ummi pun akan merasa khawatir akan sikap kakak yang seperti ini.” Sahut Alinka kembali masih membujuknya.


 


“Ngapain sih dek kamu repot-repot dukung Ummi Abi buat jodoh in kakak, percuma dek, itu semua tidak akan merubah pikiran dan keputusan kakak, sudah kamu sana lebih baik pergi tidur.” Jawab Faiz terdengar dengan nada kesal.


 


“Kak, Alin gak bermaksud memihak pada siapa pun, karna Alin sadar di sini Alin siapa, Alin Cuma khawatir dengan keadaan kakak yang dari tadi belum makan kan kak sepulang kakak dari bandara kakak langsung tertidur pulas dan sekarang saat makan malam malah ada kejadian tidak mengenakan seperti ini.” Sahut Alinka sedikit menjelaskan pada Faiz.


 


Faiz pun tidak menjawab ucapan Alinka kembali.


 


“Kak...!!! Kakak...!!! Kakak mau keluar kamar dan makan atau Alin pulang sekarang juga.” Ucap Alinka dengan sedikit mendesaknya.


 


Lalu suara kunci pun terdengar dan pintu kamar pun terlihat terbuka saat Alinka ingin beranjak pergi.


 


“Dek,, Maaf in kakak sudah membuatmu jengkel.” Sahut Faiz saat keluar kamar. Mukanya sangat terlihat kusut memanglah Faiz sedang di buat pusing dengan masalah ini.


 


“Alhamdulillah akhirnya kakak mau keluar kamar juga, kalo gitu ayo kak makan malam dulu, biar Alin siap in makanannya dulu ya.” Ucap Alinka merasa sangat lega.


 


Setelah Alinka menyiapkan semua hidangan makan malamnya, Faiz pun berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi dengan begitu lesunya.


 


Alinka menyiapkan makanan untuk Faiz dan duduk di sebelahnya.


 


“Ini kak nasinya segini cukup?” tanya Alinka sambil memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.


 


“Sudah cukup dek, kakak rasa malam ini kakak tidak selera makan.” Jawab Faiz sambil memandangi makanan yang ada di hadapannya.


 


“Kakak... kalo boleh Alin tau kakak kenapa menjadi seperti ini? Awalnya kakak adalah anak yang sangat penurut pada kedua orang tua bukan?” tanya Alinka.


 


Faiz pun memandang Alinka dengan begitu dalam.


 


“Kenapa kak?” sahut Alinka mengejutkan lamunan Faiz.


 


“Sebetulnya kakak sedang menghukum diri kakak sendiri atas kesalahan yang sudah kakak perbuat.” Jawab Faiz.


 


“Dengan cara kakak harus membantah keinginan orang tua?” tanya Alinka.


 


“Ini bukan keinginan kakak Lin, kakak Cuma mau menghindari kegagalan lagi.” Jawab Faiz.


 


“Tapi belum tentu juga perjodohan ini gagal kan kak? Justru kalo kakak seperti ini kakak sendiri lah yang akan menggagalkannya.” Sahut Alinka perlahan.


 


Lalu Faiz pun kembali menatap Alinka.


 


“Kenapa harus kamu yang menjadi adikku Lin, jika kamu orang lain bagiku sudah dari sekian lama aku ingin mengutarakan isi hatiku.” Ucap Faiz dalam hati.


 


“Kak, kakak...!!!” lagi-lagi sahutan Alinka mengejutkan lamunan Faiz.


 


“Jadi mau kamu apa dek, kakak harus bagaimana?” tanya Faiz pada Alinka.


 


“Kalo menurut Alin sih kakak terima aja perjodohan ini, siapa tau Marwah adalah jodoh kakak.” Jawab Alinka sambil tersenyum manis menenangkan hati Faiz yang sedang gundah gulana.


 


“Jika dia adalah orang yang salah kembali kamu mau tanggung jawab dek?” tanya Faiz


 


“Lah kenapa jadi Alin yang harus tanggung jawab sih kak, kita kan niatnya juga ikhtiar kalo hasilnya tidak sama seperti yang kita inginkan ya kita tinggal sabar dan tawakal.” Jawab Alinka gugup.


 


“Yaudah deh, begini saja Alin akan berusaha terus berdoa di sepertiga malam Alin semoga Marwah adalah gadis baik yang Allah kirimkan buat kakak, dan kakak bisa menemukan masa depan yang selama ini kakak cari.” Sahut Alinka mengalihkan pembicaraan.


 


“Masadepanku aku mau kamu dek.” Ucap Faiz dalam hati.


 


Tapi...


 


“Astagfirullah...!!!” tiba-tiba Faiz tersadar kalo perasaannya itu terlarang.


 


“Kenapa kak?” tanya Alinka sambil menatap mata Faiz.


 


“Emh... e,,e,,enggak apa-apa dek.” Jawab Faiz gugup.


 


“Yaudah lebih baik sekarang kakak mulai makan daripada nanti makanannya keburu dingin.” Sahut Alinka sambil menyodorkan piring yang berisi nasi dan lauk pauknya tadi.


 


Lalu Faiz pun mulai makan dan Alinka dengan setia menunggunya sampai dia selesai makan.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2