《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
LUKA YANG SAMA Part6


__ADS_3

Setelah semuanya selesai Alinka, Shema beserta keluarga mereka pun kembali ke asrama dan berniat ingin beristirahat sejenak di sana.


"Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan lancar, sekarang waktunya kita pulang dan beristirahat setelah seharian kita berbahagia atas wisuda Alinka dan Shema." Ucap Ummah Rubya.


"Iya sekarang mari kita antarkan anak-anak kita ke asramanya lalu beristirahat." Jawab wan Aziz.


Lalu mereka pun berangkat menuju asrama dengan membawa sangat banyak bingkisan dari sanak saudara dan teman-teman Alinka dan Shema.


"Tapi ngomong-ngomong aku masih penasaran dengan buket ini Shema, kira-kira ini dari siapa ya?" Tanya Alinka sambil memeluk buket bunga tersebut saat di perjalanan.


"Mungkin dari seorang penggemar rahasia mu Alin." Jawab Shema sambil tersenyum.


"Mana ada aku penggemar rahasia." Ucap Alinka sambil merenung.


"Eh siapa tau Alin, kamu gak akan pernah tau, sebenarnya di luar sana banyak laki-laki yang mengagumi mu, tapi mereka sungkan untuk mendekat karna mereka sadar diri kamu wanita seperti apa." Jelas Shema.


"Maksud mu?" Tanya Alinka masih belum memahami perkataan Shema.


"Iya Alin, kamu adalah seorang wanita sholihah yang hanya pantas di miliki laki-laki sholeh pula, mereka tidak mau mendekati mu karna mereka sadar mereka tidak pantas untuk mu." Jelas Shema kembali memperjelas perkataannya.


"Kenapa harus begitu?" Ucap Alinka.


"Ya seharusnya kamu sangat bersyukur karna kamu bisa terlindungi oleh cadar mu." Sahut Shema.


"Terus kapan aku bertemu dengan jodohku?" Tanya Alinka menatap Shema.


"Akan ada satu hari bahagia untuk mu dan jodoh mu untuk saling bertemu." Jawab Shema sambil menggenggam tangan Sahabatnya itu.


Alinka pun hanya bisa menghela napas panjang.


"Lagi ngomongin apa ini putri-putri ummah yang cantik ini, kok kedengarannya teramat serius?" Tanya Ummah Rubya coba menggoda Alinka dan Shema.


"Eh enggak ummah, kita cuma gosip ringan saja." Sahut Shema sambil tersenyum.


"Dasar anak gadis anak gadis, gak lengkap rasanya kalo gak gosip ya." Ucap ummah Rubya sambil mengelus kepala Shema.


Tidak lama kemudian mereka pun tiba di depan gerbang asrama dan segera saja mereka masuk untuk beristirahat.


"Assalamu'alaikum.. Alhamdulillah akhirnya sampai juga kita di asrama ya, rasanya ibu pengen cepat baringan Lin badan ibu cape sekali." Sahut Ibu sambil membuka pintu asrama.


"Oyah ibu tiduran saja dulu nanti Alin siapin makan pasti ibu, abi, abang dan baba juga ummah sudah merasa lapar." Jawab Alinka sambil membereskan barang bawaannya.


"Gak usah repot-repot nak, ummah udah pesan makanan kok kayanya sebentar lagi pesanannya datang." Ucap ummah Rubya sambil duduk di lantai, maklum di asrama mana ada sebuah sofa, semuanya duduk lesehan di lantai sekali pun saat tidur.


"Setelah ini mari kita menginap barang sehari di rumah kami bu." Ucap ummah Rubya kepada ibu kandung Alinka.


"Kalo saya bagaimana izin suami saja," jawab ibu Halimatusa'diah.


"Iya jangan dulu pulang, tinggal disini dulu barang seminggu saja." Sambung Wan Aziz kepada orangtua Alinka.


"Sebelumnya saya minta maaf, bukannya tidak mau. Kebetulan bulan depan keluarga ustad Fakhry akan mengadakan acara pernikahan Faiz putra sulungnya." Jawab abi Hasan kepada Wan Aziz.


"Oyah benar sekali, saya dan keluarga juga turut di undang oleh ustad Fakhry." Ucap Wan Aziz.


"Makanya berhubung kami dan keluarga juga akan pergi ke indonesia alangkah baiknya kita bisa pergi bersama-sama." Ucap wan Aziz kembali.


"Masalahnya kami di minta untuk bisa menjadi panitia berlangsung nya acara di pernikahan itu wan, saya mohon maaf sekali." Jawab abi Hasan.


"Oh yasudah kalo keputusannya tetap seperti itu kami pun tidak bisa memaksa." Jawab wan Aziz.


"Ibu apakah benar kak Faiz akan menikah setelah satu bulan dia di wisuda?" Tanya Alinka.


"Benar sekali sayang." Jawab ibu.


Seketika Alinka langsung terdiam dan terlihat sedih.


"Kenapa nak? Kok malah terlihat sedih setelah mendengar Faiz akan menikah?" Tanya ibu.


"Emh... enggak bu, Alin hanya ingat diri Alin sendiri apakah Alin akan mendapatkan jodoh Alin? Atau bahkan jodoh Alin adalah kematian bu?" Jawab Alinka sendu.


"Jodoh, maut, rezeki hanya Allah yang mengaturnya nak, selalu lah berprasangka baik kepadanya, karna Allah akan ada bersama prasangka setiap hambanya." Nasehat ibu sambil mengelus kepala putrinya tersebut.


Tak lama kemudian pesanan makanan yang telah ummah pesan pun tiba, lalu mereka menikmati hidangan makan siangnya yang terlambat.


Setelah malam tiba, abi, ibu, abang, ummah dan wan Aziz pun kembali ke penginapan dan rumahnya masing-masing.


"Aku tau, kamu pasti merasa sedih ketika mendengar kak Faiz akan menghalalkan wanitanya itu, iya kan Alin?" Tanya Shema sambil menepuk pundak Alinka yang sedang berdoa setelah melaksanakan sholat.


Lantas Alin pun menengok ke arah Shema lalu memeluknya.


"Apakah aku berdosa jika aku tidak ingin kak Faiz menikah dengan yang lain?" Ucapnya sendu dan akhirnya meneteskan airmata.


"Aku tau mungkin ini cinta terlarang, tapi lagi-lagi rasa ini mengalahkan ketegaran hatiku." Sambung ucapan Alinka sambil memeluk erat Shema dan menangis.


"Ini bukan cinta terlarang Alin, tapi hanya cinta salah tempat saja, dengar lihat aku! Tenang lah masih ada aku di sini, buat apa adanya diriku kalo kamu rapuh seperti ini." Sahut Shema sambil mengangkat wajah Alinka dan menatap matanya dalam.


"Aku siap carikan kamu calon suami yang terbaik buat mu, bahkan aku rela jika aku terlambat menikah hanya untuk mencarikan jodoh untuk mu." Ucap dan janji Shema.


Alinka pun lalu memeluk erat Shema.


"Aku mencintai kakak angkatku Shema, aku berdosa aku telah menyukai calon suami orang lain." Teriak Alinka menyesal.


"Ini jelas bukan salah mu Alin, kamu tak harus selalu merasa bersalah, karna cinta hadir tanpa kita minta." Sahut Shema sambil mengusap air mata Alinka.


"Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku bisa menyaksikan mereka akad tepat di depan kedua bola mataku, aku takut tak sanggup Shema." Teriak Alinka kembali.


"Bisa,, kamu pasti bisa Alin, kamu perempuan hebat, kamu bukan perempuan lemah." Jawab Shema meyakin kan Alinka.


"Ayo kita hadapi ini semua sama-sama, pegang erat genggaman tanganku, aku akan selalu bersama mu, membuat mu kuat dan tidak akan membiarkan kamu terjatuh." Sahut Shema memberi sebuah semangat pada Alinka.


Lalu tiba-tiba handphone Alinka pun bergetar pertanda masuk satu buah pesan baru.


Drt..drt..drt..!!!


Dan Alinka pun membukanya ternyata..


"Assalamu'alaikum...??


CONGRATULATION adik kesayanganku, semoga pencapaian gelar sarjananya bermanfaat dan kamu bisa mengemban amanah dan tanggung jawab yang besar ini sekarang, kakak juga tau, adikku ini pasti mendapatkan gelar CUMLAUDE kan? Karna kakak tau, adik kesayanganku orang yang sangat pintar dan jenius,, maka dari itu kakak kirimkan satu buah buket bunga mawar putih kesukaan mu, kakak juga tau warna kesukaan mu adalah hitam atau abu, tapi mana ada mawar yang berwarna hitam, sekali pun ada mistis sekali kelihatannya ya, jadi kakak inisiatif saja menggantinya dengan warna putih yang artinya suci sesuci hati mu. sekali lagi kakak ucap kan selamat untuk adik ku tersayang ALINKA...!!!


Peluk dan cium untukmu.🤗😘🥰"


Itulah isi dari pesan kak Faiz, ternyata buket bunga itu kiriman dari kak Faiz khusus di pesankan hanya untuk Alinka adik kesayangannya.


Dan tanpa Alin sadar airmatanya pun malah mengalir deras sesaat setelah membaca pesan tersebut.


"Ada apa Alin, pesan apa itu, dari siapa? Kok kamu malah nangis?" Tanya Shema khawatir.


Lalu Shema pun mengambil handphone Alinka dari tangannya lalu membaca pesan tersebut.


Lantas Shema pun memeluk Alinka yang sedang terisak menangis.


"Jangan bawa perasaan ya, rasa ini tidak lebih sebatas rasa sayang kakak kepada adiknya, ingat kak Faiz akan segera menikah, tapi kamu juga jangan malah putus harapan, masih banyak di luar sana yang sudah lama menunggu cintamu." Ucap Shema memberi nasehat kepada Alinka.


Pagi pun menyongsong dengan indah, hari ini waktunya Alinka mengajak ibu, abi dan bang Husna berkeliling kota mesir sebelum mereka pulang ke indonesia, tidak lupa Shema selalu ikut bersamanya.


"Lin, mobilku udah dateng tuh sopirku yang antar, sekarang kita langsung jemput keluargamu saja ke penginapan?" Sahut Shema sambil membukakan gorden jendela kamar asramanya.


"Iya boleh, tapi gak papa nih Shema yang nyetir?" Tanya Alinka.


"Aku akan sangat senang sekali kalo bisa nyetir kembali, sudah lama rasanya tidak berpetualang dengan mobil kesayanganku itu." Jawab Shema sambil bersemangat mengambil tas dan barang bawaannya.


"Yasudah kalo begitu, langsung aja kita jalan." Sahut Alinka sambil bergegas pergi dan mengunci pintu asrama.


***


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di penginapan orang tua Alinka.


"Assalamu'alaikum...?


Bu.. ini Alin...!!!" Sahut Alinka dari depan pintu.


"Wa'alaikumussalam nak, cepat sekali kamu jemput kami." Jawab ibu.


"Alin udah gak sabar ingin segera jalan-jalan bersama ibu dan abi juga abang." Sahut Alinka bersemangat.


"Yasudah, mari masuk dulu." Ucap ibu

__ADS_1


"Ngomong-ngomong udah siap semua kan bu?" Tanya Alinka sambil masuk ke dalam kamar.


"Sudah kok, tinggal nunggu abang mu saja belum selesai siap-siap." Jawab ibu.


"Kebiasaan deh abang kaya cewe kalo dandan." Gerutu Alinka.


"Oyah kamu bareng neng Shema juga kan?" Tanya ibu.


"Selalu kalo itu bu, itu dia anaknya." Jawab Alinka sambil nunjuk ke arah Shema yang baru saja masuk ke dalam.


"Eh neng Shema, jadi repot ya harus anterin kita jalan-jalan." Sahut ibu sambil mengiringi Shema untuk duduk sejenak.


"Gak repot kok ibu, karna memang Shema juga suka jalan-jalan." Jawab Shema sambil tersenyum manis.


"Kalo gitu mau sarapan dulu ya di sini, ibu sudah siapin bubur ayam khas indonesia." Ucap ibu sambil menunjukan ke meja makan.


"Bubur ayam? Kebetulan kita sudah sarapan roti dan susu ya Lin?" Jawab Shema sambil melirik ke arah Alinka.


"Coba aja dulu, kamu belum pernahkan nyicipi bubur ayam?" Tanya Alinka sambil tersenyum.


Dan Shema pun menggelengkan kepalanya.


"Makanya cobain deh, enak kok." Ucap Alinka.


Lalu ibu pun memberikan Shema semangkuk bubur ayam tersebut.


Saat Shema coba mencicipi...


"Emh... ternyata enak, gurih, lembut." Sahut Shema sangat menikmati makanan tersebut.


"Inikah yang selalu orang indonesia makan saat pagi hari?" Tanya Shema.


"Ya begitulah, tapi tidak selalu menu itu, ada banyak sekali menu sarapan pagi di indonesia." Jawab Alinka sambil tersenyum melihat ekspresi Shema pertama kali makan bubur ayam.


"Aku jadi mau main ke rumah mu Lin, sepertinya akan banyak hal baru yang akan aku ketahui di sana." Ucap Shema.


"Yuk mau?" Ajak Alinka.


"Sangat ingin." Jawab Shema.


"Oke fix nanti kita pergi bareng ke sana." Sahut Alinka sambil tertawa.


Setelah Shema selesai menghabiskan makanannya dan bang Husna pun selesai bersiap-siap, baru lah mereka memulai perjalanan.


"Bang Husna duduk di depan aja temenin Shema nyetir ya, aku mau sama ibu sama abi terus, sebelum mereka pulang, bolehkan Shema?" Ucap Alinka pada bang Husna dan Shema.


"Tentu boleh dong Alin." Jawab Shema.


"Gimana bang?" Tanya Alinka kembali.


"Abang gimana neng Shema aja." Sahut bang Husna terlihat grogi.


Di sepanjang jalan, bang Husna terlihat gugup duduk di dekat Shema, entah apa yang dia rasakan.


"Diem aja bang, ayo cerita dong, bang Husna di kampung sudah kerja apa masih kuliah?" Tanya Shema memecah keheningan.


"Alhamdulillah sudah kerja neng, sebagai guru SD dan SMP di kampung tempat tinggal abang." Jawab bang Husna terlihat malu-malu.


Bang Husna memang tipe cowok yang pemalu terhadap wanita, itu sebabnya dia masih jomblo sampai saat ini, karna dia tidak berani mendekati seorang wanita.


"Oh seperti itu, baguslah bang tinggal cari calon istrinya ya." Sahut Shema sambil tertawa.


Bang Husna malah terlihat tersipu malu, pipinya memerah dan kepalanya seketika tertunduk.


"Oyah neng, bantu cariin jodoh buat abangnya Alin tuh, kasian dia jomblo terus." Sahut ibu kepada Shema.


"Haha... gimana ya bu, emang bang Husna mau sama cewe mesir?" Ucap Shema.


"Ya tentu mau lah yah bang ya...!!!" Sahut ibu sambil menepuk-nepuk pundak bang Husna.


"Ibu apaan sih malu tau." Bisik bang Husna.


"Haha... tuh lihat neng, anaknya emang begini kebanyakan malu." Ucap ibu Alinka.


"Bang Husna gak usah malu, abang cakep, udah kerja pula, abang udah cocok cari calon istri." Sahut Shema sambil fokus nyetir.


"Abang belum mau nikah sebelum abang lihat adik bungsu abang sukses dulu neng." Jawab bang Husna dewasa.


"Iya makanya aku sangat sayang keluargaku Shema dari dulu." Jawab Alinka.


"Ternyata Sweet juga ya keluarga kalian, gak kaya aku gak punya sodara." Ucap Shema.


"Memangnya?" Sahut ibu.


"Iya bu, Shema anak tunggal dari ummah Rubya dan wan Aziz." Jawab Alinka.


Ibu pun menganggukan kepalanya.


"Semoga neng Shema segera cepat dapat pasangan ya biar gak kesepian lagi." Ucap ibu mendoakan Shema.


"Aamiin... bu makasih doanya." Jawab Shema.


Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai juga di tempat yang mereka tuju.


Dan mereka pun bersenang-senang selama seharian penuh di tempat wisata itu.


***


Tepat pukul 20.00 waktu setempat, mereka pun akhirnya pulang dan sampai di tempat mereka masing-masing orang tua Alinka kembali ke penginapan dan Alinka juga Shema kembali ke asrama.


"Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga membawa kedua orangtua ku jalan-jalan di mesir, makasih ya Shema sudah mau mengantarkan ku dan keluarga ke tempat-tempat yang seru tadi." Ucap Alinka bersyukur.


"Oke tak masalah Alin, kalo untuk mu apa sih yang enggak." Jawab Shema sambil memeluknya.


"Besok jadwal kemana lagi nih?" Tanya Shema.


"Belum ada jadwal sih," jawab Alinka.


"Gimana kalo main ke rumahku saja, biar keluarga mu tau tempat tinggalku." Usul Shema.


"Boleh-boleh kalo ummah dan wan Aziz gak keberatan." Jawab Alinka.


"Apaan sih, yang ada mereka bakalan seneng akan kedatangan tamu yang istimewa." Ucap Shema.


"Yasudah kebetulan besok hari terakhir keluarga ku di sini, jadi sebelum pulang aku ajakin mereka ke rumah kamu dulu." Sahut Alinka.


"Baiklah, sekarang aku kabarin dulu ummah dan baba ya." Ucap Shema.


Alinka pun mengangguk dan tersenyum pada Shema.


Malam semakin larut saatnya mereka mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah terasa lelah.


***


Tepat pukul 03.00


Alinka pun terbangun untung melaksanakan sholat malam seperti biasa, tiba-tiba saat Alinka berjalan menuju kamar mandi dia melihat buket bunga mawar Faiz terlihat masih segar dan cantik, karna Alin telah memindahkan semua isi bunga tersebut kedalam fash yang berisi air.


Lalu dia pun sesekali mencium dan teringat akan sosok Faiz tapi..


"Astaghfirulloh,, apa-apaan aku ini, aku tidak boleh membayangkan dia lagi." Sahutnya sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Dan Alinka pun melaksanakan sholat tahajud.


***


Pagi pun menyongsong begitu cepat, matahari pun mulai menampakan sinarnya dan semua makhluk hidup pun terlihat memulai aktivitas.


"Ayo Alin jadikan hari ini kita ajak keluargamu ke rumahku?" Tanya Shema setelah selesai sarapan.


"Jadi dong, nanti dulu aku siap-siap." Jawab Alinka.


"Aku tunggu di depan sambil manasin mesin mobil." Sahut Shema.


"Iya." Jawab Alinka.


Setelah selesai Alinka pun menghampiri Shema yang sudah ada di depan dan memanaskan mesin mobil.

__ADS_1


"Ayo, aku sudah siap." Sahut Alinka.


"Siap kita berangkat." Ucap Shema sambil masuk mobil dan bersiap mengemudi.


Tidak lama kemudian sampailah mereka di penginapan.


"Assalamu'alaikum." Ucap Alinka di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam." Jawab ibu sambil membuka kan pintu tersebut.


"Bu hari ini siap-siap kita akan pergi ke suatu tempat." Sahut Alinka sambil duduk di sofa.


"Lagi? Kemarin kan baru aja jalan-jalan." Ucap ibu terkejut.


"Ya gak papa, mumpung ibu, abi dan abang lagi ada di sini, Alin mau senengin kalian semua." Jawab Alinka sambil tersenyum.


"Yasudah ibu bilang abi dulu." Sahut ibu sambil menghampiri abi yang sedang berada di kamar.


"Bang ikut ya!" Sahut Shema ketika melihat bang Husna keluar dari kamarnya.


"Kemana?" Tanya bang Husna.


"Ada deh." Jawab Shema sambil melirik ke arah Alinka dan tersenyum.


"Yasudah siap-siap gih, tau dandan udah kaya cewe aja lamaaaa...!!!" Sahut Alinka menggoda kakaknya.


"Apaan gak seperti itu kok." Jawab bang Husna sambil masuk lagi ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


Setelah semua selesai barulah mereka pergi ke rumah Shema.


"Ini rumah siapa Alin?" Tanya ibu setelah sampai di rumah Shema.


Alinka dan Shema hanya saling pandang dan tersenyum.


"Rumahnya sangat megah dan mewah seperti istana kerajaan." Ucap abi.


"Rumah siapa ini?" Tanya bang Husna pada Shema.


"Mari masuk, anggap saja rumah sendiri." Ucap Shema sambil membuka kan pintu rumahnya.


"Jadi ini rumah neng Shema." Sahut ibu, abi dan bang Husna.


Shema hanya tersenyum melihat ekspresi mereka.


"Sudah datang ya tamunya sayang." Tanya ummah Rubya yang baru saja menghampiri mereka.


"MasyaAllah ummah, saya tidak tau kalo saya akan di bawa ke sini." Ucap ibu kepada ummah Rubya.


"Gak papa bu, sebelumnya Shema sudah cerita dan minta izin pada saya dan babanya, dengan senang hati kami menerima kehadiran ibu dan keluarga." Jawab ummah Rubya.


"Iya sebetulnya saya malu ummah," ucap ibu kandung Alinka.


"Tidak usahlah begitu anggap kita saudara." Jawab ummah Rubya sambil memeluk ibu.


"Kenapa gak bilang, ternyata ini rumah mu." Bisik bang Husna kepada Shema.


Dan Shema pun hanya tersenyum.


Pertemuan keluarga Alinka dan Shema pun berlangsung hangat dengan saling mengobrol dan bercerita.


Sampai tidak terasa sore pun sudah tiba, setelah menjamu dan puas saling bertukar cerita, barulah keluarga Alinka kembali ke penginapan dan pada esok hari mereka harus segera pulang ke indonesia.


"Sampai ketemu di lain hari ya ummah saya tunggu kedatangannya di indonesia." Ucap ibu saat sebelum mereka berpisah.


"InsyaAllah ya bu, semoga ada umur panjang kita bisa bertemu kembali." Jawab ummah Rubya.


"Besok kami antar ke bandara." Ucap wan Aziz.


"Terimakasih banyak sebelumnya." Jawab abi Hasan.


Dan mereka pun kembali ke penginapan.


***


Keesokan harinya, dari pukul 06.00 Alinka sudah bersiap mengantar orang tuanya ke bandara.


"Shema bangun, kamu jadi ikut kan anterin ibu sama abi ke bandara." Sahut Alinka sambil membangunkan Shema yang masih terlelap.


"Jadi dong Lin, bentar tunggu aku mandi dulu ya." Jawab Shema baru sadar dari mimpi indahnya.


Jam sudah menunjukan pukul 07.00 pagi.


"Shema cepetan..!!!" Sahut Alinka yang sudah tidak sabar ingin menjemput orang tuanya.


"Bentar, bentar ini sudah siap kok." Jawab Shema sambil berlari dan masih terlihat merapikan pakaiannya sambil berjalan.


"Ayo kitq jalan." Ucap Shema sambil menghidupkan mobil.


Lalu mereka pun siap menjemput orang tua Alinka ke penginapan.


"Assalamu'alaikum..?" Sahut Alinka ketika sampai di depan pintu penginapan.


"Wa'alaikumussalam." Jawab ibu.


"Gimana, apakah ibu dan abi sudah siap?" Tanya Alinka.


"Sudah nih..." jawab ibu sambil menunjukan semua barang bawaannya.


"Yasudah, bang tolong masukin semua koper ke dalam mobil ya." Pinta Alinka pada kakaknya.


"Siap bos!" Ucap bang Husna.


Lalu dia pun mengangkat koper satu persatu dan menatanya rapi di dalam bagasi mobil Shema.


"Kalo gitu ayo segera kita ke mobil saja." Ucap Alinka pada kedua orang tuanya.


Dan mereka pun menghampiri Shema yang terlihat sedang membantu bang Husna menata koper dalam bagasi mobil.


"Sudah bang?" Tanya Alinka.


"Sudah siap!" Jawab bang Husna sambil sesekali mengusap keningnya yang berkeringat, lalu Shema pun memberikan beberapa helai tisu.


"Cie cie... perhatian banget ya Shema sama bang Husna." Sahut Alinka mencoba menggoda Shema dan bang Husna yang terlihat kompak.


"Apasi Alin, kan kasian bang Husna cape abis angkatin koper." Jawab Shema tersipu malu.


"Yaudah gak papa, makasih ya Shema." Ucap Alinka.


Lalu mereka pun segera berangkat menuju bandara.


***


30 menit kemudian, mereka telah sampai di bandara dan segera lah orang tua Alinka mengurus keberangkatannya ke indonesia.


Sambil menunggu kedatangan wan Aziz dan ummah Rubya yang belum terlihat, mereka semua pun menunggu di ruang tunggu penumpang.


Beberapa saat kemudian.


"Itu dia baba dan ummah!" Sahut Shema sambil menunjuk ke arah kedua orangtuanya.


"Oh iya" sahut Alinka.


"Maaf kami terlambat," ucap ummah Rubya dan wan Aziz.


"Hati-hati di jalan ya dan semoga selamat sampai tujuan." Ucap wan Aziz sambil memeluk abi Hasan.


Begitu pula dengan ibu dan ummah Rubya.


"Aku tunggu di indonesia ya." Bisik bang Husna kepada Shema saat sebelum masuk ruang take of.


Shema pun mengangguk dan tersenyum kepada bang Husna.


Lalu mereka pun berpisah.


"Nanti Alin menyusul satu bulan kemudian ya bu, salam pada umi dan abi juga bang Faiz." Ucap Alinka sambil memeluk ibunya.


"Cepet pulang, kami tunggu di rumah." Jawab ibu dan abi sambil mengelus kepala putri bungsunya.

__ADS_1


"Alin segera pulang setelah berkas-berkas Alin selesai." Sahut Alinka.


Dan mereka pun berlalu dari hadapan Alinka dengan penuh haru.


__ADS_2