《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
TAARUF Part4


__ADS_3

Sekembalinya Faiz dari mengecek keadaan pesantren, semuanya terlihat baik-baik saja dan dia tidak curiga sedikit pun pada keadaan orang rumah.


 


Ketika jam makan malam akan tiba, sedari sore ummi dan Alinka sudah sibuk mempersiapkan makanan di dapur dan saat ummi meminta tolong Alin untuk memotong sayuran yang akan di masak, lalu ummi dengan tidak sengaja memegang tangan yang terluka akibat peristiwa tadi.


 


Tiba-tiba Alinka sedikit meringis kesakitan ketika ummi memegang tangannya.


 


“Aw...!!!” teriaknya


 


“Kenapa sayang, ada apa dengan tanganmu?” tanya ummi panik.


 


Lalu ummi pun segera membukakan lengan baju Alin yang panjang itu.


 


Alangkah terkejutnya ummi ketika melihat goresan luka di tangan Alin yang terlihat memerah dan sedikit masih berdarah.


 


“Alin kenapa dengan tanganmu?” tanya ummi dengan panik, lalu ummi pun segera meminta bi Minah untuk membawa kotak P3K.


 


“Tidak apa-apa ummi tadi Alin terjatuh lalu tangan Alin tidak sengaja menyenggol tempat sendok dan garpu sampe semua itu jatuh berhamburan dan ketika badan Alin terjatuh ke lantai tangan Alin tidak sengaja tergores garpu yang bergeletakan di lantai.” Jelas Alinka dengan berbohong agar ummi tidak curiga dan Syok.


 


“Ya Allah makanya lain kali hati-hati Alin kalo lagi di dapur, ummi gak mau Alin sampe kaya gini nak.” Sahut ummi sambil mengobati luka Alin dan berusaha memeluknya untuk memberinya kenyamanan.


 


“Iya ummi baik, Terima kasih ummi sudah obati luka Alin.” Jawab Alinka sambil tersenyum.


 


Dan beberapa saat pun berlalu, sampai ummi sempat menceritakan peristiwa di dapur tadi pada Faiz.


 


“Iz, tadi saat di dapur ummi minta tolong Alin potongkan sayur buat di masak lalu tangan ummi refleks sambil megang tangan Alin, lalu tiba-tiba Alin merasa kesakitan saat ummi pegang tangannya, saat ummi cek ternyata tangannya terluka Iz sebuah goresan lumayan cukup dalam.” Cerita ummi pada Faiz.


 


“Lalu apa kata Alin mi?” tanya Faiz khawatir.


 


“Alin hanya mengatakan kalo dia terjatuh tadi di dapur dan luka itu akibat goresan garpu yang tak sengaja dia senggol lalu berhamburan jatuh ke lantai, ketika badan Alin terjatuh ke lantai pula lalu mengenai garpu itu dan membuat luka goresan di tangannya.” Jelas ummi.


 


Faiz pun seketika merenung berusaha mencerna penjelasan dari ummi.


 


“Dan ummi percaya?” tanya Faiz.


 


“Wallahualam Faiz ummi juga tidak tau apa yang sebenarnya.” Jawab ummi.


 


Malam pun semakin larut, keadaan rumah sudah terasa sunyi dan heningnya malam pun turut menghiasi, Faiz hendak bersiap tidur tapi ada satu hal yang baru Faiz ingat.


 


Dia langsung mengecek kamera pengintainya lewat laptop apa saja yang telah terjadi di rumah hari ini.


 


Betapa tercengangnya Faiz ketika melihat hasil rekaman kameranya itu, terlihat satu peristiwa yang sama sekali tidak di sangka-sangka oleh Faiz.


 


Dia sangat fokus melihat adegan demi adegan saat penganiayaan terhadap Alinka oleh Marwah, rasa marah, kecewa dan sedih pun berkecamuk dalam diri Faiz.


 


“Dasar perempuan licik, bisa-bisanya dia menyakiti orang yang selama ini aku sayang!” sahut Faiz sedikit marah sambil mengepalkan tangannya dan sedikit menghantamkannya ke meja, lalu dia pun mengamankan rekaman tersebut untuk barang bukti.


 


Semalaman Faiz pun tidak bisa memejamkan mata sedikit pun ingin rasanya pagi segera datang agar Faiz bisa cepat memproses kejadian ini pada yang berwajib.


 


Tapi Faiz pun meredam dulu rasa marahnya dan berniat untuk memancing agar sipat asli Marwah terbongkar di hadapan semua.


 


Dan pagi pun tiba, tepat pada saat sarapan pagi, tiba-tiba Faiz mengganti posisi duduk Alinka dengan Marwah dan mengucapkan hal yang tidak semua orang sangka.


 


Saat semua anggota keluarga sudah berkumpul di hadapan meja makan Faiz pun memanggil Alinka untuk duduk tepat di sampingnya.


 


“Alin.. kamu duduk sini dek!” sahut Faiz sambil mempersilahkan kursi yang telah di duduki Marwah di sampingnya.


 


“Maaf Marwah kamu harus pindah dan duduk di dekat kedua adikku Salma dan Fitria.” Jelas Faiz sambil menyuruh Marwah pergi dari kursi itu.


 


“Loh kenapa mas? Calon istrimu kan aku, kenapa harus Alin yang duduk di sini?” tanya Marwah heran.


 


“Jangan banyak tanya, ayo pindah!” sahut Faiz.


 


Lalu Alin dan Marwah pun bertukar tempat dengan kehendak Faiz.


 


“Ada apa nak, sepertinya kamu sedang ada masalah dengan calon istrimu Marwah?” tanya Abi yang selama ini memang tidak tau apa-apa tentang perkembangan perjodohan Marwah dan Faiz, Abi sangka Faiz dan Marwah sudah saling suka dan setuju untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius tapi nyatanya..


 


“Maaf Abi, sebelumnya Faiz tidak bermaksud untuk membuat Abi dan Ummi kecewa, tapi Faiz harus katakan ini semua.” Ucap Faiz dengan dewasa.


 


“Kenapa sayang ada apa?” tanya Ummi.


 


“Abi, ummi, dari dulu Faiz memendam ini semua dan sekarang Faiz sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi.” Sahut Faiz membuat semua penasaran.


 


Termasuk Marwah yang perasaannya semakin bercampur aduk, panik, gelisah dan sedikit rasa takut pun di rasakannya.


 


“Ada apa Faiz? Apa yang selama ini kamu pendam?” tanya Abi dengan penasaran.


 


“Faiz ingin melamar Alinka sebagai calon istri Faiz Bi.” Dengan tegas Faiz pun mengucapkan kalimat itu dengan lantang.


 


Seketika semua tersentak dan tak percaya akan ucapan dan niat Faiz.


 


“Cukup mas, lantas aku kamu anggap apa?” sahut Marwah dengan nada tinggi.


 

__ADS_1


“Selama ini aku tidak menemukan apa-apa pada diri kamu, yang ada keraguan dan keraguan yang selalu terus menerus muncul, sebenarnya niatmu ingin bersanding denganku apa Marwah?” ucap Faiz.


 


“Aku benar-benar sangat mencintaimu mas saat pertama kali aku melihatmu.” Jawab Marwah.


 


“Bohong!!! Lantas apakah dengan hanya berdasarkan cinta kamu harus bersaing dengan tidak terhormat untuk mendapatkanku Marwah?” ucap Faiz mendesak Marwah.


 


“Apa yang mas bicarakan, maksud bersaing dengan tidak terhormat dengan siapa Mas? Apa selain aku ada perempuan lain lagi yang sedang kamu inginkan?” sahut Marwah dengan berderai air mata.


 


“Hapus air mata buayamu Marwah, sebenarnya kamu adalah tipe perempuan yang kuat bukan, jelas aku sedang menyukai seseorang sedari lama dan tiba-tiba kamu muncul dalam kehidupanku dan membuat semua keraguan itu selalu menghantuiku.” Jelas Faiz.


 


“Oh jadi selama ini memang benar Alin lah yang sedang kamu incar bukan? Lalu kenapa orang tuamu meminta ku untuk bertaaruf denganmu? Asal kamu tau Faiz, Alin suka padamu hanya karna dia ingin harta dan jabatan dari keluargamu.” Sahut Marwah.


 


“Tutup mulutmu Marwah, jelas keluarga ku lebih dulu mengenal Alinka di banding kamu, dia sudah tinggal lebih lama dengan keluargaku dan kami sudah tau baik buruknya dari Alinka sendiri, kamu tidak berhak memfitnah dia seperti itu kamu belum mengenal Alinka dengan lebih dalam.” Jelas Faiz dengan amarahnya yang mulai memuncak.


 


“Sudah-sudah kenapa kalian jadi saling bertengkar seperti ini?” ucap Abi yang mulai bingung akan kemarahan Faiz kepada Marwah.


 


“Abi asal Abi tau, Marwah yang selama ini Abi kenal tidak lebih baik dengan perempuan nakal di luar sana.” Sahut Faiz.


 


“Faiz...!!!” Sahut Abi meminta Faiz menjaga pembicaraannya di hadapan Marwah.


 


“Lihat Bi, lihat! Luka ini Marwah yang buat, hanya saja Marwah beruntung karna Alin tidak akan pernah bicara pada siapa pun bukan karna dia takut, tapi dia hanya tidak ingin membuat orang lain panik dan repot karenanya.” Ucap Faiz sambil menunjukkan tangan Alin yang terluka pada Abi.


 


“Astagfirullah Alin kenapa dengan tanganmu nak?” Abi pun kaget melihat luka yang menganga di bagian tangan sebelah atas Alin yang selama ini tertutupi baju dan kerudung syar’inya.


 


“Faiz punya barang bukti yang kuat Bi untuk membuktikan tuduhan Faiz ini.” Jelas Faiz sambil membuka laptopnya lalu memutar video rekaman yang terekam pada hari kemarin.


 


Semua mata tertuju pada layar laptop tersebut dengan perasaan yang masih tidak percaya, lalu..


 


“Oke mas, aku ngaku semua itu aku lakukan karna aku cemburu pada Alin, kamu hanya bisa bersikap lembut dan sangat dekat pada Alin, sedangkan aku? kamu cuek sekali kala saat bersamaku, oleh karna itu aku benci Alin.” Jelas Marwah.


 


Lalu semua pun melihat pada diri Marwah, membuat suasana semakin panas.


 


“Kamu itu anak seorang Kyai besar Marwah, tapi kenapa sikapmu tidak sama sekali mencerminkan sikap seorang anak Kyai yang berilmu dan Sholihah.” Jelas Faiz.


 


“Kenapa kamu harus tega menyakiti orang lain hanya demi egomu sendiri.” Sambung Faiz.


 


“Aku tidak ingin kehilangan kamu mas dan aku mau kamu jadi milikku seutuhnya.” Jawab Marwah dengan nada tinggi.


 


“Dan aku tidak ingin punya seorang istri sepertimu paham!!!” jelas Faiz dengan tegas.


 


“Kenapa harus Alin seorang adikmu sendiri mas?” tanya Marwah.


 


“Asal kamu tau, Alin adik angkatku dan aku boleh jika ingin menikahinya.” Jawab Faiz.


 


 


“Setidaknya aku tidak sampai tega melukai orang lain.” Jelas Faiz.


 


“Sudah cukup!!!” teriak Ummi syok lalu ummi pun jatuh pingsan.


 


Ketika semua terfokus pada ummi lalu dengan tanpa sepengetahuan semua orang Marwah pun kabur dan pergi dari rumah.


 


“Mas Faiz mbak Marwah kabur.” Sahut bi Minah yang melihat Marwah lari.


 


Lantas Faiz pun mengejar Marwah berharap dia bisa menangkapnya, tapi sayang Faiz telat mengejar Marwah dia terlanjur menaiki angkot dan pergi entah Kemana.


 


“Aaah... Sial, perempuan itu lari entah Kemana.” Teriak Faiz dengan rasa marah dan kesal.


 


“Yaudah gak papa Iz kita urus Ummi kamu dulu.” Sahut Abi sambil mengangkat Ummi untuk membaringkannya di kamar.


 


Setelah memindahkan ummi ke dalam kamar akhirnya ummi pun sadar.


 


“Iz,, Faiz,,!!!” sahut ummi sambil meraba tangan Faiz.


 


“Iya mi Faiz di sini?” jawab Faiz dan menggenggam tangan ummi.


 


“Apakah ini semua mimpi buruk Iz?” tanya ummi sambil masih terlihat sedih,


 


“Gak papa ummi serahkan ini semua pada Faiz, biar Faiz yang memberi pelajaran pada perempuan itu.


 


“Maaf in ummi dan Abi telah salah memilih calon istri untukmu.” Sahut Ummi dengan nada sendu.


 


Faiz pun mencium tangan ummi saat ummi meraba wajah Faiz.


 


“Lalu bagaimana langkah selanjutnya yang akan kamu ambil Iz?” tanya Abi.


 


“Kita laporkan ini semua pada keluarganya terlebih dahulu bi, bahwa anak kesayangan mereka tidak seperti yang mereka lihat selama ini, bahkan hampir mencelakakan nyawa orang lain.” Jawab Faiz.


 


“Yaudah Abi ikut gimana baiknya menurut kamu saja, karna Abi takut salah langkah lagi.” Ucap Abi.


 


“Baik bi, terima kasih sudah mempercayakan ini semua pada Faiz.” Sahut Faiz.


 


“Tapi Iz, ada satu pertanyaan lagi untuk kamu dari ummi, apa benar perkataanmu itu tentang kamu ingin melamar Alinka.

__ADS_1


 


Sejenak Faiz terdiam lalu mengambil napas cukup dalam dan menjawabnya.


 


“Benar Mi, InsyaAllah jika urusan masalah sudah Faiz selesaikan Faiz akan segera melamar Alinka, karna semakin lama Faiz pendam rasa ini Faiz semakin tidak sanggup Mi.” Jelas Faiz sambil tertunduk tersipu malu.


 


“Tapi Alin kan adikmu nak,” ucap ummi.


 


“Gak papa mi, toh Alin hanya sebatas anak angkat bagi kita tidak ada sangkutan darah sedikit pun di badannya jadi Faiz syah jika ingin menikahi Alinka.” Jawab Abi


 


Sedangkan Alinka hanya bisa tertunduk dan diam mendengar pengakuan Faiz, seakan tak percaya selama ini perasaan cinta itu sebentar lagi akan menjadi nyata.


 


Keesokan harinya pun Faiz berniat mendatangi keluarga Marwah dan membawa rekaman barang bukti kelakuan Marwah selama di rumah Faiz pada Alinka dia ingin memperlihatkan semua kejadian tersebut sekaligus memberitahukan bahwa saat ini Marwah sudah pergi melarikan diri untuk menghindari masalahnya tersebut.


 


“Assalamualaikum.” Sahut Faiz dan Abi Fakhry dari depan pintu rumah orang tua Marwah saat mereka tiba di sana.


 


“Wa’alaikumussalam, MasyaAllah ternyata calon besan toh.” Jawab ibu Marwah dengan bahagia melihat kedatangan Faiz dan Abi Fakhry.


 


“Kok nak Faiz datang sendiri ke sini Marwah nya mana nak?” tanya ibu Marwah kembali.


 


Faiz dan Abi hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.


 


“Siapa yang datang Mih?” sahut pak Kyai Sholeh dari dalam.


 


“Ini nak Faiz Pih beserta Ustad Fakhry.” Jawab ibu Marwah kepada suaminya.


 


“Suruh cepat masuk Mih kok malah di ajak ngobrol di luar sih.” Ucap Kyai Sholeh.


 


“Oh iya silakan masuk Ustad,  nak Faiz!” sahut ibu Marwah.


 


Lalu Abi dan Faiz pun segera masuk ke dalam rumah.


 


“Gimana kabar keluarga di sana?” tanya Kyai Sholeh.


 


“Alhamdulillah baik Kyai.” Jawab Abi


 


“Syukurlah kalo begitu, ana senang mendengarnya,” sahut Kyai Sholeh.


 


“Tapi kok kalian hanya datang berdua, memangnya Marwah gak di ajak nak Faiz?” tanya Kyai Sholeh yang aneh melihat sosok anaknya tidak ikut hadir berkunjung saat Faiz datang ke rumahnya.


 


Faiz hanya tertunduk diam.


 


“Kenapa, ada apa? Apakah Marwah baik-baik saja di sana? Kami sudah sangat merindukannya.” Tanya Kyai Sholeh menegaskan.


 


“Justru kedatangan kami kesini ada berita penting tentang Marwah putri pak Kyai Sholeh sendiri,” ucap Abi Fakhry.


 


“Kenapa ada apa dengan putri kami?” tanya ibu Marwah setelah membawakan 3 cangkir minuman dan sedikit makanan untuk hidangan tamunya hari ini.


 


“Tapi Faiz mohon Bu Kyai sama pak Kyai tenang dulu saat mendengar kabar buruk ini.” Pinta Faiz pada kedua orang tua Marwah.


 


Lalu Faiz pun mulai memutar rekaman video itu dalam laptopnya.


 


“Ini adalah hasil rekaman kamera pengintai di rumah kami, dan beginilah sikap putri bapak dan ibu selama di rumah kami, dia hampir saja membuat nyawa orang lain celaka.” Jelas Faiz.


 


Kedua orang tua Marwah pun seakan tidak percaya kalo itu putrinya tapi bukti itu sangat kuat di tambah dengan kepergian Marwah sekarang lebih menguatkan dugaan ke bersalahan terhadap dirinya.


 


“Tidak, tidak mungkin, ini pasti bukan Marwah putri kami, dia anak yang sangatlah Sholihah, kami memasukkannya ke pondok pesantren yang amat sangat terkenal dan dia pun menimba ilmu di sana dengan waktu yang sangat lama, tidak mungkin perilakunya seperti ini seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan.” Sahut ibu Marwah dengan bersikeras.


 


“Tapi memanglah ini kebenarannya Bu, saya tidak mungkin mengsabotase rekaman video ini.” Jawab Faiz.


 


“Lalu dimana sekarang keberadaan putri kami?” tanya Kyai Sholeh.


 


“Justru itu, pembongkaran sikap Marwah selama di rumah kami dia pada awalnya bersikeras tidak mengakuinya dan setelah saya desak terus menerus akhirnya dia mengakui semua dengan alasan dia cemburu dengan adik angkat saya Alinka, lalu Ummi pun syok dan jatuh pingsan di saat kepanikan itu dia memanfaatkannya untuk kabur dan melarikan diri dari rumah kami, saya sudah berusaha mengejarnya tapi sayang Marwah sudah lebih dulu menaiki angkutan umum yang entah Kemana tujuannya.” Jelas Faiz.


 


Pak Kyai Sholeh terlihat sangat syok dan tersentak ketika mendengar semua itu, tapi apa boleh buat semua itu memang sudah terjadi dan itu semua sikap dan perilaku anaknya sendiri.


 


“Pih, gimana nasib putri kita?” sahut ibu Marwah sambil menangis.


 


“Ini sebabnya Mamih terlalu  memanjakan anak itu, jadi sikapnya tidak bisa terkontrol seperti ini.” Ucap Kyai Sholeh pada istrinya dengan nada yang terdengar sangat sendu.


 


“Jika memang semua ini benar, saya sebagai ayahnya Marwah mewakili permintaan maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga Ustad Fakhry terutama pada nak Faiz pribadi, maaf putri kami sudah mengecewakan kalian dan bila memang Ustad ingin menghukum Marwah atas kesalahannya, maka hukumlah saya sebagai ayahnya yang sudah teledor dalam mendidiknya, dan jika masalah ini nak Faiz akan menyerahkannya ke pihak yang berwajib saya ikhlas, karna memang sikap dan perilaku Marwah sudah di luar batas dan ini termasuk dalam kriminal maka bawalah saya ke kantor polisi saya siap dan ikhlas.” Ucap Kyai Sholeh panjang lebar.


 


“Tidak, tidak usah sejauh itu Kyai, kami sudah sangat memaafkannya meski kami berat tapi kami ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan saja, jika memang pihak keluarga Kyai sudah ikhlas menyadari kesalahan Marwah saya sangat berterima kasih dan permintaan maaf tentu saja kami sudah lebih jauh sebelum Kyai mengucapkannya kami sudah memaafkan kesalahan Marwah, tapi saya hanya minta satu hal, didik kembali putri Kyai hingga menjadi putri yang benar-benar Sholihah dan saya mohon jangan ganggu dan meneror lagi Alinka anak angkat kami, dan mohon maaf masalah perjodohan Faiz dan Marwah harus di batalkan.” Jelas Abi Fakhry.


 


Kyai Sholeh pun menyetujui semua syarat dan permintaan yang di ajukan Abi lalu kedua belah pihak keluarga pun berdamai dan saling memaafkan.


 


Meski belum jelas tentang keberadaan Marwah Faiz harap dia sudah tidak akan berani mengganggu hubungan Faiz dan Alinka kembali.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2