《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
TAARUF Part1


__ADS_3

Keesokan harinya setelah semalaman Alinka mencoba membujuk Faiz akhirnya Faiz pun mau berubah pikiran dan mencoba menerima perjodohan ini.


 


“Assalamualaikum... pagi ummi?” sapa Faiz ketika dia menghampiri ummi di ruang makan.


 


“Wa’alaikumussalam... Faiz, kamu baik-baik aja kan?” jawab ummi.


 


“Alhamdulillah Faiz baik-baik saja ummi, maaf in Faiz telah egois pada ummi dan Abi.” Ucap Faiz meminta maaf pada ummi sambil memeluknya.


 


Alinka pun merasa bahagia kala melihat sikap Faiz yang kembali membaik.


 


“Setelah Faiz pikir-pikir kembali, InsyaAllah Faiz akan mencoba menerima lamaran ini Ummi, Faiz kasih kesempatan gadis itu dalam jangka waktu satu bulan, jika dia masih tidak bisa membuat hati Faiz nyaman maaf in Faiz, Faiz akan batalkan perjodohan ini.” Ucap Faiz memberi persyaratan.


 


“Alhamdulillah nak, Ummi senang mendengarnya, pasti nak, Marwah tidak akan mengecewakanmu, ummi yakin pilihan Abi tidak akan pernah salah.” Jawab ummi bahagia.


 


“Abi pasti akan bahagia mendengar pernyataan ini Faiz dan hari ini Marwah juga keluarganya akan datang ke sini.” Sahut ummi kembali.


 


Tepat pukul 09.00 bell rumah pun berbunyi, sepertinya rombongan keluarga si gadis pilihan Abi sudah sampai di depan rumah.


 


Ummi dan Alinka pun segera menyambutnya setelah mereka berjibaku di dapur berjam-jam untuk menghidangkan hidangan buat para tamu yang akan datang.


 


“Abi, sepertinya keluarga Kyai Sholeh sudah datang.” Sahut ummi sambil melangkah terburu-buru menuju depan pintu.


 


“Iya mi sepertinya itu mereka,” jawab Abi dari dalam kamar sambil bergegas mengikuti jejak ummi.


 


Dari belakang Alinka berjalan pelan mengiringi Abi dan ummi, tiba-tiba Faiz memanggilnya dengan nada berbisik.


 


“Ssstt... Ssstt... dek, sini...!!!” ucapnya.


 


Alinka pun melirik ke arah Faiz yang seperti bersembunyi di balik tirai pintu masuk dapur.


 


“Ngapain sih kakak malah di sini? Udah sana segera bersiap-siap, calon jodohmu sudah sampai.” Sahut Alinka sambil berjalan menghampirinya.


 


“Kakak masih ragu, apakah keputusan yang kakak ambil sudah benar?” ucapnya merasa bingung.


 


“Kak, apakah kakak tidak melihat raut wajah Ummi dan Abi ketika mendengar kakak bersedia menerima perjodohan ini? Mereka bahagia kak dan kakak sudah sangat benar mengambil keputusan demi membahagiakan mereka.” Jawab Alinka seakan memperjelas.


 


Faiz pun seketika termenung lalu...


 


“Bagaimana kalo Alin bantu kakak untuk bersiap?” sahut Alinka bersemangat.


 


“Hah...!!!” Seketika Faiz pun terkejut mendengar ucapan Alinka.


 


“Ayo kak, ke kamar tenang kita gak akan masuk kamar berdua kok Alin akan minta bi Minah untuk temani Alin di kamar kakak sambil menyiapkan pakaian kakak.” Jelas Alinka sembari melangkah menuju kamar Faiz di temani dengan bi Minah asisten rumah tangga di sana.


 


Faiz pun akhirnya mengikuti langkah Alin menuju kamar.


 


“Nih kak, kakak pake baju yang ini sepertinya cocok.” Sahut Alin sambil mengeluarkan baju-baju andalan Faiz.


 


Faiz hanya memandanginya di pintu kamar.


 


“Ayo kak sini tunggu apalagi.” Sahut Alin terus berceloteh seperti anak kecil yang membuat Faiz tersenyum kecil melihat tingkahnya.


 


“Ayo, ayo pake!!!” sahut Alin sambil memberikan baju itu pada Faiz.


 


Faiz pun hanya bisa menuruti apa kata Alin adik tersayangnya saat ini.


 


Selang beberapa menit Faiz pun berganti pakaian dengan baju yang Alin rekomendasikan.


 


“Nah kan bagus... ya kan bi Minah? Kakakku sangat tampan hari ini.” Celetuk Alinka dengan kegirangan.


 


“Sekarang tinggal pake parfum, parfum kakak banyak banget punya Alin Cuma satu padahal kakak cowok kenapa banyak koleksi parfum?” tanya Alinka sambil melihat-lihat koleksi parfum Faiz yang berderet sangat banyak.


 


“Biar kakak bisa ganti-ganti setiap harinya dek jadi gak bosan.” Jawab Faiz sambil tersenyum kecil.


 


“Nah ini wangi nih, pake ini saja!” sahutnya bersemangat.


 


Lalu Alinka pun menyemprotkan parfum ke sekujur tubuh Faiz.


 

__ADS_1


“Bahkan dia tau selera parfum dan gaya pakaianku seperti apa, ya Allah apakah ini sebuah petunjuk atau hanya sebuah kebetulan saja, yang pasti apa yang aku rasa sekarang terhadapnya, aku sangat menyayanginya sebagai adik hamba ya Allah.” Ucap Faiz dalam hati.


 


Di saat Alinka sibuk mempersiapkan Faiz, suara ummi terdengar memanggil.


 


“Faiz,, Faiz,, sini nak...!!!”


 


“Ummi sudah memanggil kakak dik,” ucap Faiz pada Alinka yang masih sibuk mendandaninya.


 


“Bentar sedikit lagi tanggung.” Jawab Alinka.


 


Terakhir Alinka pun menyisirkan rambut Faiz dan memberinya sedikit minyak rambut khas cowok di rambut Faiz.


 


“Nah kalo sudah beginikan enak di pandang, Selesai deh kak!!!” sahutnya ketika selesai mendandani Faiz.


 


Faiz pun bercermin melihat sosok dirinya yang sudah di siapkan oleh Alinka.


 


“Ini memang style ku dan lagi-lagi Alin mengerti apa yang aku suka, ya Allah mengapa gadis satu ini begitu sungguh ajaib bagiku.” Ucap Faiz dalam hati kembali.


 


“Ayo, ayo biar aku iringi kakak keluar kamar.” Ucap Alinka.


 


“Gak sekalian di gandeng? Kakak biasa gandengan tangan sama Zainab.” Ucap Faiz sedikit menggoda Alinka.


 


“He he... itu beda lagi kakak, Zainab adik kandung dan aku hanya adik angkat tetap tidak boleh bukan muhrim.” Jawab Alinka tersipu malu.


 


“Tapi kamu adik kandungku, perasaan ku sama seperti ke Zainab.” Ucap Faiz meyakinkan Alinka.


 


Alinka hanya memandangi wajah Faiz yang sudah terlihat segar dan berbeda.


 


“Bukan pegang tangan kok, janji kakak tidak akan pernah sedikit pun menyentuh kulit anggota tubuhmu bagian mana pun, kakak hanya ingin menggandeng tanganmu.” Sambil menunjukkan gandengan tangannya berharap Alinka bersedia menyambutnya.


 


“Maaf kak, tapi Alin takut salah.” Jawab Alinka gugup.


 


Faiz pun menyerah dan mereka hanya berjalan beriringan keluar dari kamar Faiz.


 


Suasana di ruang tamu sudah sangat ramai, ke gugupan pun sudah mulai di rasakan Faiz, sedikit demi sedikit tangan dan kakinya seketika terasa dingin.


 


 


Setelah itu duduk lah Faiz di samping Marwah gadis yang akan di jodohkan kepadanya.


 


Faiz seketika melihat sosok Marwah beda dengan sosok wanita lain, ada yang berbeda darinya tapi entah apa.


 


Begitu pula sebaliknya Marwah sesekali mencuri-curi pandangan ke arah Faiz, dia terlihat sangat tersipu malu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena sosok Faiz adalah seorang laki-laki idaman para wanita, ketampanannya, ke sholehannya, ke lembutannya terhadap wanita karna Faiz sendiri adalah seorang anak yang sangat menyayangi seorang ibu dan kedua orang tuanya.


 


Gadis mana pun akan merasa sangat beruntung jika bisa di jodohkan dengannya.


 


Faiz berusaha membuka hatinya membuat hatinya nyaman pada Marwah, tapi tetap pandangan Faiz tidak bisa berpaling jauh pada sosok Alinka yang selalu membuat hatinya terasa teduh dan damai.


 


Setiap Faiz melihat ke arah Alinka barulah rasa gugup itu hilang, tetapi jika dia melihat sosok Marwah hatinya terasa gundah gulana kembali seperti ada satu hal yang ganjil tapi dia pun tidak mengerti apa itu.


 


“Akhy, kenapa akhy selalu melihat ke arah sana?” tanya Marwah yang merasa bingung pada sikap Faiz.


 


“Memang itu siapa akhy?” tanya Marwah kembali.


 


“Itu adikku namanya Alinka.” Jawab Faiz pada Marwah.


 


“Hubungan kalian terlihat sangat dekat ya? Semenjak akhy keluar dari kamar, selalu dia yang berada di samping Akhy.” Tanya Marwah panjang lebar.


 


“Memangnya kenapa? Wajar saja kan jika hubungan seorang kakak adik terlihat sangat dekat?” sahut Faiz merasa sedikit jengkel, sepertinya Marwah seorang gadis pencemburu bahkan hal seperti itu pun dia pertanyakan.


 


“Tidak akhy saya merasa kagum saja melihat kedekatan akhy dengan adik perempuan akhy.” Jawab Marwah berusaha menyembunyikan sikapnya yang sebenarnya.


 


“Sepertinya kamu harus kenal dengan Alinka, dia orangnya sangat baik dan lembut selalu ramah pada setiap orang dan orangnya pemaaf.” Jelas Faiz.


 


Marwah pun hanya bisa tersenyum kecil mendengar penjelasan Faiz.


 


“Jadi kesibukan akhy sekarang apa saja akhy?” tanya Marwah mencoba mengalihkan pembicaraan.


 


“Alhamdulillah sekarang saya bekerja di Madinah sebagai dosen dan beberapa bulan ke depan saya harus segera kembali lagi ke sana, karna aktivitas perkuliahan sudah mulai aktif kembali.

__ADS_1


 


“Emh... sibuk ternyata akhy ya,” sahut Marwah.


 


“Ya begitulah.” Jawab Faiz simpel


 


“Lalu apa kesibukanmu sendiri Ukhty?” tanya balik Faiz kepadanya.


 


“Jangan panggil Ukhty akhy, panggil saja Marwah biar berasa dekat.” Jawab Marwah sambil tersipu malu.


 


“Oh ya sudah.”  Sahut Faiz.


 


“Kesibukan saya saat ini Alhamdulillah karna saya putri tunggal abi dan umi sekarang saya memegang kendali pondok pesantren milik abi, sambil sesekali mengajar di universitas ternama di kota itu.” Jawab Marwah kembali merasa bangga.


 


“Emh... seperti itu, hebat dong ya masih muda sudah bisa menjadi seorang ustazah.” Jawab Faiz sesekali berusaha memuji Marwah biar tidak terlalu tegang.


 


“Bukankah akhy sendiri pun seorang Ustad? Jadi kita cocok Ustad pasangannya ustazah.” Ucap Marwah percaya diri.


 


Faiz hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya.


 


Lalu sesekali matanya selalu tertuju pada Alinka yang sedang asyik dengan pembicaraannya dengan para tamu lain.


 


“Memang abi akhy mempunyai berapa putra putri?” tanya Marwah karna melihat tatapan Faiz selalu tertuju ke arah Alinka.


 


“Aku anak pertama cowok satu-satunya dan kedua Alinka seorang putri Abi dan Ummi yang begitu lembut dan Sholihah lalu selanjutnya Zainab anak ke3 dan Salma anak ke4 lalu Fitria si bungsu yang manja dan menggemaskan.” Jelas Faiz menata satu persatu adiknya termasuk Alinka yang sebenarnya hanya adik angkatnya.


 


“Oh begitu, tapi akhy lebih dekat dengan Alinka seorang?” tanya Marwah.


 


“Sama semua aku dekat tapi Alinka adik terspesialku.” Jawab Faiz


 


Marwah pun hanya bisa menghela napas melihat sikapnya yang begitu dingin kepadanya.


 


Di saat jamuan makan siang, Marwah berusaha mendekati Alinka yang terlihat sedang sibuk mempersiapkan hidangan di meja makan, ketika dia akan menghampirinya terlihat pemandangan yang cukup tidak mengenakan untuk dirinya.


 


“Dek, ambil in kakak nasi lengkap sama lauk pauknya ya?” Sahut Faiz sambil memberikan sebuah piring kepada Alinka.


 


Alinka pun mengambilkan makanan layaknya suami dan istri terlihat sangat harmonis dan serasi.


 


Tapi Marwah tidak menyukai itu semua, dia memperhatikan dari kejauhan.


 


Ketika tangan Faiz tidak sengaja menyentuh tangan Alinka, seketika Alinka terkejut dan langsung menjauhkan tangannya dari tangan Faiz.


 


“Maaf kakak tidak sengaja.” Sahut Faiz merasa bersalah.


 


Lalu Alinka pun berlalu pergi meninggalkannya.


 


“Ada apa dengan mereka, seharusnya sepasang kakak adik terlihat biasa untuk saling bersentuhan tapi mereka??” tanda tanya besar pun muncul di benak Marwah dan dia berniat menelusurinya.


 


Marwah menghampiri Faiz yang terlihat masih mengambil makanan untuk santap siangnya.


 


“Kenapa adikmu Akhy, aku lihat dia tiba-tiba pergi menjauhimu setelah kulihat tanganmu tidak sengaja menyentuh tangannya?” tanya Marwah penasaran.


 


“Oh itu tadi, iya aku tidak sengaja menyenggol tangannya dan tangan Alinka jadi kena panci sup yang masih panas jadi dia terkejut dan pergi untuk mendinginkan tangannya dengan air di dapur.” Jawab Faiz berusaha menutupi kalo Alinka bukan adik kandungnya.


 


“Oh begitu.” Sahut Marwah sambil belum puas atas jawaban Faiz.


 


Lalu dia pun berniat menghampiri Alinka yang sedang berada di dapur.


 


“Kenapa Ukhty tangannya?” tanya Marwah sambil melihat tangan Alinka yang terlihat baik-baik saja.


 


“Oh enggak apa-apa kok, itu tadi bibi tiba-tiba memanggilku buat minta pertolongan.” Jawab Alinka gugup.


 


“Oh begitu ya.” Jawab Marwah,


 


“Kok jawaban mereka berdua berbeda ya, apa yang sedang mereka sembunyikan terhadap semua?” Ucap Marwah dalam hati.


 


Lalu jam makan siang pun berlalu dan waktu pertemuan antar dua keluarga pun berjalan dengan lancar, Faiz tinggal menjalani sesi taaruf bersama Marwah selama satu bulan dengan pantauan kedua orang tua dari kedua belah pihak dan saat itu pula keluarga Marwah pun izin pamit lalu kembali pulang.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2