《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
LUKA YANG SAMA Part2


__ADS_3

Setelah beberapa hari Faiz melangsungkan lamaran, barulah Alinka menghubungi Faiz dan mengutarakan permintaan maafnya atas waktu itu.


"Assalamu'alaikum...?" Sahut Alinka dalam sebuah panggilan video bersama Faiz.


"Wa'alaikumussalam..." Jawab Faiz masih memperlihatkan wajah betenya.


"Loh kakak kenapa kok mukanya di tekut begitu?" Tanya Alinka sambil tersenyum.


"Tanya aja pada dirimu sendiri." Jawab Faiz ketus.


"Oh jadi kakak marah sama aku, maaf kak, waktu itu Alin kebetulan lagi ngerjain satu projek kuliah jadi beberapa hari Alin gak aktivin handphone." Jelas Alinka.


Faiz pun hanya terdiam dan cemberut.


"Selamat ya kak, sekarang udah punya calon istri nih, awas jangan sampe lupa aku ya...!!!" Sahut Alinka sedikit menggodanya.


"Jelas-jelas kakak gak bakalan lupa kamu, tapi kamunya yang nakal." Ucap Faiz sedikit berteriak.


"Loh kok nakal, Alin kan adik kakak yang paling baik kan, mana umi coba, Alin mau tanyanya sama umi aja, abis kak Faiz ngambekan orangnya," jawab Alinka sedikit meledek Faiz.


"Miii... nih anak nakal baru telpon," sahut Faiz pada umi.


"Siapa Iz anak nakal yang kamu maksud?" Jawab umi dari arah dapur.


"Alin... hai.. apakabar nak, baru bisa menghubungi sekarang yak? Pasti kamu sibuk kuliah ya sayang?" Sahut umi bahagia.


"Iya umi, maafkan Alin, bukan maksud Alin sengaja menonaktivkan handphone pada saat itu, tapi emang Alin gak ada waktu buat pegang handphone umi, tapi kak Faiz lebih dulu uring-uringan sama Alin." Jawab Alinka sedikit mengadu pada uminya.


"Biasa Alin, orang yang bentar lagi menikah emang emosinya sering naik turun, malah sama calon istrinya sendiri aja sering ngajak ribut," sahut umi.


"Masa sih mi, oyah mi Alin mau tau dong calon kakak siapa namanya?" Tanya Alinka.


"Namanya Kanaya sayang, orangnya seumuran dengan Zainab dan sekarang dia masih kuliah baru semester 3." Jelas umi.


"Oh jadi namanya Kanaya ya mi, mi nanti kirim fotonya ke Wathsappnya Alin ya mi." Pinta Alin.


" Ngapain nakal, kepo aja pasti mau stalking calon istri kakak ya...??" Sahut Faiz sewot.


"Ih apaan sih kok kak Faiz ngamok...!!!" Sahut Alinka sambil tertawa.


"Udah, udah jangan pada berantem, nanti kalo gak ada kabar kangen lagi, giliran ada kabar di sinisin kaya gini, nanti ujung-ujungnya Alinka pergi jauh ninggalin kamu iz emangnya mau...?" Ucap umi melerai keributan mereka.


"Ya gak mau mi..." jawab Faiz.


"Tuh kan jadi sebenernya kak Faiz tuh sayang Alin kan kak tapi kak Faiz gengsi." Sahut Alinka sambil tertawa.


"Apaan...?" Jawab Faiz ngelak.


"Jujur aja kak, kak Faiz rindukan sama Alin." Goda Alinka sama Faiz.


"Iya Faiz rindu sama Alin." Ucap Faiz keceplosan.


"Up's ada yang keceplosan, umi gak ikut-ikut deh kalo begitu." Sahut umi sambil menutup mulutnya.


"Yaudah ya nak, kalo gitu umi tinggal ke dapur dulu, kerjaan umi belum selesai, kapan-kapan di lanjut lagi ceritanya." Ucap umi sambil berpamitan.


"Yaudah umi, salam sama abi ya, jaga kesehatan mi, Alin sayang umi sama abi." Jawab Alinka.


"Iya nak, nanti di sampaikan sama abi, umi juga sayang Alin." Sahut umi seraya mencium Alinka dari layar handphone Faiz.


"Kalo sama kakak Alin sayang gak?" Tanya Faiz.


"Gak.. kakak nyebelin, ngajak ribut mulu bete." Jawab Alin menggodanya kembali.


"Awas ya, nanti kakak samperin kamu ke asrama," sahut Faiz sambil terus bercanda.


"Bodo... wleee..." jawab Alinka sambil meledek kakaknya tersebut.


"Minggu depan kakak kembali ke madinah, kakak pengen ketemu, nanti sempatkan waktu ya." Sahut Faiz.


"Insyaallah kakak." Jawab Alinka sambil tersenyum.


"Awas kalo sampe ilang-ilang lagi, kakak marah." Ucap Faiz.

__ADS_1


"Heee... Mau sambil bawa Kanaya ke Madinah juga?" Tanya Alinka.


"Ngapain? kan belum syah." Jawab Faiz.


"Ya kali aja mau langsung di bawa ke sini gitu." Ucap Alinka sedikit berbisik.


"Apa? Kamu bilang apa?" Sahut Faiz.


"Eh... enggak, enggak kok kak, yaudah Alinka tutup dulu ya telponnya, tugas kuliah masih numpuk." Jawab Alinka.


"Yaudah belajar yang rajin sana." Ucap Faiz.


"Iya kak, Assalamu'alaikum.." ucap Alinka.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Faiz dan panggilan pun berakhir.


Setelah berbulan-bulan Faiz menjalani hubungannya dengan Kanaya, lantas Alinka pun sibuk dengan perkuliahannya yang hampir selesai, tidak terasa satu tahun lagi dia akan meraih gelar sarjana di negri mesir. Lalu dia akan kembali pulang ke tanah air dan mukim juga melanjutkan pondok pesantren milik abi kandungnya sendiri di kampung, itulah rencana masa depan Alinka yang selama ini dia perjuangkan.


6 bulan pun berlalu, semakin dimana hari semakin dekat dengan saat-saat akhir perjuangannya berkuliah di sana.


"Alin... setelah pulang ke tanah air nanti kamu jangan lupain aku ya." Sahut Shema sambil merenung.


Di sore hari, memang Alinka dan Shema selalu habiskan dengan bersantai setelah aktivitasnya yang padat pada pagi sampai siang hari, saat-saat itulah mereka bisa menikmati waktu senggang sambil menikmati secangkir coklat hangat dan sedikit cemilan.


Alinka pun memandang wajah Shema yang terlihat gelisah.


"Tenang sahabatku, aku tidak akan pernah melupakanmu, jasamu dan keluargamu terlalu berharga untuk aku lupakan begitu saja." Jawab Alinka sambil tersenyum dan memeluk Shema yang terlihat agak murung.


"Sisa bulat satu tahun kamu tinggal di sini, setelah ini kita akan menjalani tugas akhir kuliah, lalu skripsi dan menunggu kelulusan. Itu semua tidak akan terasa kita lewati Alin." Sahut Shema.


"Perasaan baru kemarin kamu datang ke asrama ini dengan belum mengenal apapun tentang kota ini, bahasanya, makanannya, budayanya dan sekarang sebentar lagi kita akan berpisah?" Sambung ucap Shema.


"Sudah-sudah jangan terlalu di pikirkan ah, nanti sedih sebelum waktunya lagi, lebih baik kita nikmati saja waktu yang tersisa saat ini dengan gembira tanpa ada rasa galau, gelisah bahkan sedih." Jawab Alinka sambil menepis kesedihan Shema dan berusaha menghiburnya.


"Libur panjang nanti bagaimana kalo kita liburan keluar kota, buat pengalaman aja sebelum kamu pulang ke indonesia." Usul Shema.


"Setuju, buat kenang-kenangan juga, tapi kita liburan ke mana?" Tanya Alinka.


"Kita ke Dubai, minta baba yang biayain semua dananya, kebetulan baba punya hotel di sana." Jawab Shema bersemangat.


"Yap's.. kali aja di sana kamu nanti nemuin pengganti Amer." Ucap Shema sambil tertawa.


"Emh... mulai deh mulai..." sahut Alinka sambil menampakan wajah betenya.


"Iya maaf, maaf, ampun jangan di klitikin lagi aku geli." Ucap Shema sambil tertawa.


Mereka pun asyik bercengkrama sampai lupa waktu dan melupakan semua kegelisan dan kesedihannya.


Setelah menjalani ujian semester akhirnya mereka pun menikmati masa-masa libur panjangnya dan benar saja Shema dan keluarga benar-benar mengajak Alinka liburan ke Dubai.


"Udah siap semua Lin?" Tanya Shema sambil membereskan kopernya.


"Udah nih, rapih semua." Jawab Alinka sambil menunjukan kopernya yang sudah siap.


"Bentar lagi baba pasti sampai jemput kita ke sini." Ucap Shema sambil sesekali menengok ke jendela asrama dan,


Tok,, tok,, tok,,


"Assalamu'alaikum?" Terdengar seperti suara ummah Rubya mengucapkan salam dari depan pintu.


Shema pun denga sumbringah membukakan pintu sambil menjawab salamnya itu.


"Wa'alaikumussalam ummah." Jawab Shema sambil mencium tangan ummahnya tersebut.


"Apakah sudah pada siap?" Tanya ummah.


"Sudah dong ummah liat saja." Jawab Shema sambil menjejerkan barisan koper mereka.


"Yasudah baba bantu bawa koper kalian yak." Sahut wan Aziz sambil membawa koper Shema dan Shema membawakan koperku.


Setelah menata rapih koper ke dalam mobil, lantas tidak menunggu waktu lama mereka pun segera pergi menuju tempat tujuan.


"Kalian udah pada makan belum?" Tanya ummah Rubya.

__ADS_1


"Belum ummah." Jawab Shema.


"Nanti kita makan di Bandara saja, sekarang kalian nyemil aja dulu, ini ummah udah bawakan cemilan buat kalian berdua." Ucap ummah.


"Makasih ummah." Sahut Shema dan Alinka.


Setelah beberapa saat perjalanan, mereka pun baru sampai bandara dan segera menunggu keberangkatannya.


"Penerbangan kita memangnya kapan Ba?" Tanya Shema kepada wan Aziz,


"Seharusnya siang ini kita lepas landas nak, sekitar pukul 11.00 (waktu setempat.)" Jawab wan Aziz.


"Sudah tunggu aja sambil makan yuk, kebetulan ini baru jam 09.00." Sahut ummah Rubya.


Merekapun langsung bergegas menuju Resto terdekat di bandara.


Selang beberapa saat barulah mereka bisa lepas landas menuju Dubai.


"Ini kali pertama aku pergi ke Dubai." Sahut Alinka yang duduk persis samping jendela dan satu kursi dengan Shema.


"Oyah, dulu juga pas kamu datang ke Kairo bukankah kali pertama Lin?" Tanya Shema.


"Iya." Jawab Alinka sambil tersenyum.


"Baguslah, berarti ini semua bisa jadi pengalaman buatmu nanti yak." Ucap Shema sambil tersenyum dan memandang Alinka.


Alinka pun mengangguk dan mereka pun menikmati perjalanannya di dalam pesawat.


Lamanya perjalanan membuat Alinka pun tertidur pulas sampai pesawat mendarat dengan selamat di tempat tujuan.


"Alin... Bangun, kita sudah sampai." Bisik Shema sambil membangunkan Alinka dengan perlahan.


Alinka mencoba membukakan matanya lalu baru dia bangun dan tersadar dari tidur nyenyaknya.


"Pulas ya tidurnya?" Sahut Shema sambil tersenyum.


Dan Alinka pun membalasnya dengan senyuman pula.


Lalu mereka pun segera turun dari pesawat dan segera menuju hotel kepunyaan wan Aziz.


"Nah... di sinilah hotel kami berdiri Lin." Sahut Shema setelah sampai di hotelnya tersebut.


"MasyaAllah besar juga ya." Jawab Alinka sambil terkagum melihat bangunan mewah hotel itu.


"Alhamdulillah, hotel kami gak kalah ramai dengan hotel bintang lima yang lain, Baba memang sesekali datang ke sini untuk mengelola langsung, tapi sebenarnya udah ada orang kepercayaan Baba yang sudah mengurus ini semua jadi Baba tinggal menerima hasilnya saja." Jelas Shema.


Lalu Alinka dan Shema pun menuju ruang kamar hotel khusus yaitu kamar hotel pribadinya Shema kalo dia sedang berkunjung ke sini.


"Nah ini kamarnya, ini kamar pribadiku kalo lagi berkunjung ke sini dan kamar ini tidak pernah di sewakan untuk orang lain." Jelas Shema kembali.


"MasyaAllah kamarnya luas dan juga megah ya Shema?" Ucap Alinka sangat takjub dengan keadaan kamar itu.


"Ya beginilah keadaan kamar hotelku, kamu sukakan, semoga kamu bisa betah di sini, kita liburan lumayan agak lama loh." Sahut Shema sangat bersemangat.


"Nanti malam kita jalan, kamu mau lihat pertunjukan spektakuler gak di kota ini?" Tanya Shema.


"Apa itu Shema?" Tanya Alinka.


"Makanya, nanti kamu ikut saja dan di sana kamu akan mengetahuinya." Jawab Shema.


Alinka pun tersenyum dan langsung membenahi barang-barang yang dia bawa.


Pada pagi harinya setelah semalam mereka beristirahat dari lelahnya perjalanan, wan Aziz pun mengajak Alinka sarapan di resto hotel yang mereka miliki.


"Selamat pagi Alin? Gimana tidurnya nyenyakkan?" Sahut Shema sambil membangunkan Alinka yang masih berselimut tebal.


"Eh Shema, tumben sudah bangun sepagi ini," jawab Alinka sambil membuka matanya dan menggosok-gosok kedua mata dengan tangannya.


"Sekarang kan hari pertama kita di Dubai, jadi aku sangat bersemangat ingin mengajakmu ke beberapa tempat wisata." Ucap Shema ceria.


"Makasih ya, kamu sudah mau mengajakku liburan seperti ini, jujur ini baru yang pertama kalinya untukku." Jawab Alinka sambil memandang wajah Shema.


"Tidak masalah Alin, meskipun kamu meminta untuk berkeliling dunia pun, aku dan baba pasti bisa bantu." Sahut Shema sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tidak perlu, ini semua sudah lebih dari cukup untukku." Jawab Alinka membalas senyum Shema.


"Yaudah, cepet mandi sana, kita sarapan di resto hotel, baba dan ummah pasti sudah lama menunggu." Ucap Shema sambil menyuruh Alinka untuk segera ke kamar mandi.


__ADS_2