
Setelah ummi dan ibu membujuk Shema untuk bercerita, apa yang sebenarnya sudah terjadi sampai membuat Shema sesedih itu, lalu Shema pun mengatakan yang sejujurnya pada ibu dan ummi.
“Ummi... ibu... sebenarnya...” kalimat Shema pun terputus karna tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya pada dua malaikat tanpa sayap Alinka dan Faiz, dia memikirkan gimana perasaan mereka setelah Shema cerita yang sebenarnya.
Lalu Shema pun tak kuat menahan air matanya kembali lalu menangis tersedu-sedu kembali di pangkuan ummi.
“Ada apa nak, MasyaAllah kalo kamu seperti ini terus kami bingung kami harus bantu kamu seperti apa.” Ucap ummi sambil mengelus-elus kepala Shema lembut.
“Kak Faiz ummi,, kak Faiz...” ucap Shema terbata.
“Kenapa dengan Faiz?” tanya ummi dan ibu.
“Kak Faiz jahat ummi, jahat...” ucap Shema kembali.
“Jahat kenapa Shema, memang Faiz sudah berbuat apa terhadap mu.” Tanya ummi pun semakin panik dan merasa bingung.
“Bukan sama Shema, tapi kak Faiz sudah berbuat jahat pada Alin.” Jawab Shema sambil berderai air mata.
“Kenapa memang? Apa sudah dia lakukan terhadap Alinka.” Tanya ummi semakin panik.
“Jadi begini...” ucap Shema dan Akhirnya Shema pun bersedia menceritakan semua yang sedang terjadi pada Faiz.
Setelah mendengar cerita Shema ummi pun seakan tertegun mendengar semua itu tidak percaya ternyata putra kebanggaannya sudah melakukan kesalahan besar.
“Tenang ummi, sebaiknya kita bicarakan bersama abi juga, agar mereka sebagai para kepala keluarga memutuskan apa tindakan yang akan mereka ambil untuk masalah Faiz.” Ucap ibu Alinka berusaha menenangkan ummi yang sudah terlihat syok.
Lalu ummi pun segera menelepon abi Fakhry yang berada di Indonesia untuk segera datang ke Kairo untuk menyelesaikan masalah ini.
Seminggu kemudian Abi Fakhry dan Abi Hasan pun tiba di Kairo untuk menyelesaikan masalah Faiz.
“Assalamualaikum... Bi, untung abi segera datang, kita harus segera menyelesaikan masalah Faiz yang sudah keliru bi.” Sahut ummi Fatimah sambil menyambut hangat kedatangan abi.
“Sekarang Faiz ada di mana?” Tanya Abi Fakhry.
__ADS_1
“Jam segini Faiz masih di kampus bi, biasanya dia pulang setelah lewat waktu magrib.” Jawab ummi Fatimah.
“Keterlaluan Faiz, dia sendiri yang sudah memilih Alin dan memutuskan untuk memperjuangkan sampai mana pun tapi baru di titik ini dia mulai goyah.” Ucap abi terlihat sedikit kesal.
“Maaf Ustad, kalo boleh saya kasih saran, nanti Ustad jangan dulu tersulut emosi pada Faiz, karna menasihati seseorang yang sedang gelap mata karna cinta harus dengan kepala dingin jangan dengan emosi.” Ucap ibu Halimatussadiah ibu kandung Alinka.
“Iya InsyaAllah terima kasih atas sarannya Bu.” Jawab abi sambil menghela napas.
Sementara menunggu waktu yang tepat untuk berbicara pada Faiz abi pun beristirahat terlebih dahulu.
Sementara itu, di luar sana Faiz seakan bersenang-senang dengan Marwah dan sempat membicarakan hal serius tentang masa depan mereka.
“Mas bagaimana nasib hubungan kita ke depannya? Aku gak mau ya mas hubungan kita tanpa kepastian.” Ucap Marwah sedikit mendesak Faiz.
“Pasti Marwah, aku kan sudah cerita pada mu, bagaimana kondisi Alinka saat ini, bukan aku tidak sayang dan cinta padanya tapi masa depan ku masih panjang, aku juga ingin berumah tangga lalu mempunyai keturunan untuk melanjutkan generasi keluarga ku, jika aku hanya menunggu kesembuhan Alinka yang belum pasti mau sampai kapan aku akan punya keturunan darinya dan hidup bahagia bersamanya.” Jawab Faiz panjang lebar.
“Maka dari itu, cepat-cepat lah halalkan aku mas, aku pasti akan segera memberi mu keturunan.” Bujuk Marwah.
“Tak bisa kah kamu membujuk mereka mas?” tanya Marwah
“Atau kita nikah secara diam-diam saja, kamu kan seorang lelaki tidak jadi masalah jika orang tua mu tidak tau akan pernikahan kita.” Hasut Marwah selanjutnya.
“Tapi izin dan restu harus tetap aku dapatkan dari mereka Marwah agar pernikahan kita berkah dan langgeng.” Jawab Faiz
“Yaelah mas, dari awal saja cara kita berhubungan sudah salah, apa mungkin hubungan kita selama ini dapat keberkahan dari Allah swt.? Tidak mas, kita terlanjut melanggar larangannya jadi jalani saja langkah selanjutnya.” Bujuk rayu Marwah.
“Jadi kamu mengajak ku untuk bermaksiat dengan cara nikah siri gitu?” tanya Faiz
“Lantas selama ini hubungan kita apa kalo bukan maksiat mas, mas juga tetap menikmatinya toh.” Ucap Marwah dengan sekuat tenaga membujuk Faiz agar mau segera menikahinya meski nikah siri.
Seketika Faiz pun merenungi semua ucapan Marwah dan akhirnya Faiz termakan bujuk dan rayuannya yang membuat dia menyetujui semua permintaan Marwah.
“Ya sudah, bulan depan kita langsungkan pernikahan ya.” Jawab Faiz sambil mengelus kepala Marwah dengan lembut.
__ADS_1
“Terima kasih Mas, makin sayang mas deh.” Jawab Marwah manja sambil bersandar di pelukan Faiz.
Tepat pukul 18.00 waktu setempat, akhirnya mereka pun memutuskan berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.
Seperti biasa Shema melihat ke ganjalan di setiap Faiz pulang kerja, entah yang pakaiannya tercium aroma parfum perempuan lah, ada bekas lipstik di baju dia lah, sampai suatu hari Shema menemukan struk belanjaan yang membuktikan bahwa Faiz telah membelikan Marwah sebuah cincin perhiasan yang entah untuk apa maksudnya dia memberikan hal itu.
“Baru pulang kak?” sapa Shema sambil melihat gerak gerik Faiz yang terlihat aneh.
“Iya seperti yang kamu lihat kan.” Jawab Faiz ketus.
“Hari ini gak nyapa Alin tumben?” ledek Shema.
“Aku cape nanti saja, orang dia juga gak bakalan inget kok aku sapa.” Jawaban Faiz yang membuat hati Shema sedikit tergores karna perkataan Faiz terhadap sahabatnya.
Shema pun lantas segera pergi meninggalkan Faiz yang terlihat amat kusut dengan wajah capenya.
Saat itu juga tiba-tiba handphone Faiz berdering keras.
“Assalamualaikum..” ucap Faiz
“Oh iya kalo begitu Faiz segera pulang.” Ucapnya kembali.
Shema menguping pembicaraan Faiz di belakang ruangan rawat Alin.
“Siapa kira-kira yang menelepon Faiz ya, kok tiba-tiba dia segera pulang?” tanya Shema dalam benaknya.
Tanpa membuang waktu Faiz pun langsung bergegas meninggalkan Alinka sendiri tanpa berpesan menitipkannya pada Shema seperti biasanya.
“Dia sudah tidak peduli akan Alin, biasanya kalo dia akan pergi dia suka menitipkan Alin padaku tapi ini?” gerutu Shema dalam hati lalu seketika air matanya pun menetes.
Lalu Shema pun segera menghampiri Alinka seakan mengadu padanya.
“Sabar ya Alin, Faiz akan baik-baik saja kok tenang saja, dia tidak akan jatuh ke tangan perempuan jahat itu kembali, aku akan pastikan itu.” Ucap Shema pada Alinka sambil mengelus kening lalu menciumnya.
__ADS_1