《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
LONG DISTANCE RELATIONSHIP Part2


__ADS_3

2 bulan pun berlalu dan kondisi kesehatan Alinka semakin memburuk, ia tidak kuat lagi untuk berjalan bahkan untuk sekedar ke kamar mandi pun Alinka harus di bantu dengan kursi roda, warna kulitnya pun mulai memucat dan kurus, nafsu makan yang sudah hilang sejak satu bulan terakhir dan mungkin berat badannya pun telah menurun drastis.


 


Aktivitas dakwah dan mengajar pun Alinka sudah tidak sanggup memenuhinya lagi, sehari-harinya dia hanya bisa berbaring di kamar dan sesekali merasakan sakit yang teramat di bagian perut atas sebelah kanan.


 


Ibu pun semakin khawatir melihat penurunan kesehatan Alinka yang membuat ibu berniat untuk memberi tahukannya pada ummi Fatimah dan Abi Fakhry sebagai orang tua angkat sekaligus calon mertuanya nanti.


 


“Assalamualaikum... ummi maaf ini ibu Halimatussadiah ibu kandung dari Alinka, begini ummi, saya hanya ingin memberitahukan kabar dan keadaan Alinka saat ini bahwa dia jatuh sakit dari semenjak 2 bulan lalu, kondisinya sudah sangat memprihatinkan, saya berharap ummi dan abi bisa menjenguk Alinka agar dia bisa mendapatkan semangat hidup kembali setelah bertemu dengan orang tua angkat sekaligus calon mertuanya.”  Itulah isi dari pesan ibu pada ummi Fatimah melalui pesan singkat.


 


Tidak lama kemudian ada balasan dari ummi yang menunjukkan betapa syoknya mereka saat mendengar kabar tersebut dan berjanji akan menjenguk Alinka hari ini juga.


 


Betapa leganya ibu ketika mendapat pesan tersebut dan menunggu kedatangan keluarga Ustad Fakhry untuk datang menjenguk putri kesayangannya itu.


 


Tepat pukul 18.00 petang ini tibalah keluarga Ustad Fakhry di kediaman orang tua Alinka dan ummi pun segera meminta di antarkan ke dalam kamar Alinka dimana Alinka hanya bisa berbaring lemas di sana.


 


“Assalamualaikum... nak ini ummi..!!!” sahut ummi Fatimah ketika membuka pintu kamar Alinka dan segera menghampirinya lalu mendekapnya erat.


 


“Kenapa kamu bisa seperti ini?” tanya ummi sambil menangis di pelukan Alinka.


 


“Gak papa kok ummi Alin Cuma kecapean saja, kebetulan akhir-akhir ini jadwal aktivitas Alin sangat padat lagi pula salah Alin sendiri Alin sering lupa makan yang mengakibatkan Alin kena penyakit lambung saja ummi.” Jawab Alinka berusaha menenangkan ummi Fatimah yang menangis pilu.


 


“Besok kita ke dokter spesialis nak, agar kita tau penyakit apa yang sedang kamu derita.” Ucap ummi sambil mengelus Alinka.


 


“Alin juga sudah ke dokter kok ummi malah setiap seminggu sekali Alin harus cek up ke rumah sakit, tapi tetap saja Allah belum memberi kesembuhan untuk Alin, tapi Alin pasrah ummi akan jalani ujian ini dengan sabar, mungkin saat ini di mata manusia Alin terlihat sakit dan menderita tapi di mata Allah sekarang Alin sedang ada dalam dekapannya, Allah sayang Alin mi makanya Allah kasih cobaan seperti ini untuk Alin.” Jawab Alinka lagi-lagi mengundang haru setiap orang yang mendengarnya.


 


Lantas ummi pun hanya bisa memeluk dan menciumnya penuh kasih sayang.


 


“Faiz sudah tau kondisi kamu saat ini nak?” tanya ummi.


 


Alin hanya menggelengkan kepalanya.


 


“Ya Allah nak, Faiz harus tau kondisi kamu saat ini, dia pasti akan khawatir jika kita menutupi semua ini darinya.” Sahut ummi.


 


“Justru Alin gak mau bikin kak Faiz khawatir mi, yang akan membuat kak Faiz selalu kepikiran dan akan mengganggu pada pekerjaannya, Alin mau kak Faiz tetap tenang dan baik-baik saja di sana.” Jawab Alinka.


 


“Tapi dia pasti marah jika suatu saat dia tau dan kita menyembunyikan semua ini darinya sejak lama.” Ucap ummi.


 


“Kak Faiz gak akan marah kok ummi, Alin yakin, kak Faiz orang yang sabar, suatu saat jika waktunya sudah tiba kak Faiz akan tau semua dengan sendirinya.” Jawab Alinka sambil tersenyum.


 


Ummi hanya bisa meneteskan air mata mendengar jawaban Alinka lalu memeluknya kembali.


 


Selama beberapa hari ummi pun tinggal di rumah Alinka untuk membantu ibu mengurus Alinka dan hanya abi yang pulang ke rumah karna jadwal dakwahnya yang tidak bisa di tinggalkan.


 


Pada malam hari pun ibu berusaha bercerita dengan ummi tentang penyakit yang di derita Alinka, betapa terkejutnya ummi saat mengetahui penyakit Alinka begitu berat dan butuh perawatan khusus, jadi ummi pun berinisiatif membawa Alinka ke rumah sakit untuk menjalani perawatan yang maksimal di sana.


 


Keesokan harinya.


 


“Bu Alin mau di bawa ke mana?” tanya Alinka saat dirinya di bawa ke dalam mobil.


 


Abi Fakhry sendiri yang menjemput dan mengantarkannya ke rumah sakit.


 


“Kita berobat sayang, kamu harus di rawat dengan intensif di rumah sakit, karna penyakitmu ini sangat serius.” Jawab ummi Fatimah sambil membantu ibu mendorong kursi roda Alinka.


 


“Tapi Alin Cuma kena penyakit lambung kan Bu?” tanya Alinka pada ibu.


 


Ibu hanya terdiam dan terlihat sedih.


 


Lalu Alinka pun pasrah di bawa ke rumah sakit dan di rawat di sana.


 


Sesampainya di Rumah sakit besar yang berada di kota cukup dekat dengan rumah abi Fakhry.


 


Alinka pun segera di masukan ke ruang periksa untuk segera di periksakan oleh dokter.


 


“Kenapa gak dari dulu Bu?” keluh dokter saat setelah memeriksanya.

__ADS_1


 


“Karna kami gak tau gejalanya dari awal, anak saya sehat-sehat saja bahkan dia sempat berkuliah di Kairo selama 3 tahun dan dia di sana sehat-sehat saja.” Jawab ibu pada dokter itu.


 


“Penyakit seperti ini pada awalnya memang sering tanpa gejala tapi dia akan tiba-tiba memburuk dan membuat si penderita drop dan saat ini anak ibu menderita penyakit Hepatosplenomegali.”


 Jelas dokter pada ibu yang membuat hatinya sedikit hancur.


 


“Tapi masih ada harapan sembuh kan dok?” tanya ummi Fatimah dengan khawatir.


 


“Entah lah Bu, kita hanya menunggu sebuah keajaiban saja, karna penyakit Hepatosplenomegali adalah sebuah penyakit pembengkakan hati dan limpa, Ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan pembengkakan limpa dan hati, di antaranya penyakit hati kronis (seperti hepatitis, liver sirosis, dan kanker hati), leukemia, penyakit metabolik (seperti sindrom Hurler), osteoporosis, lupus, amiloidosis, dan defisiensi sulfatase ganda (kekurangan enzim yang langka). Jelas dokter.


 


Ibu dan ummi pun hanya bisa menangis dan saling menguatkan.


 


“Gimana kata dokter?” tanya abi saat ummi dan ibu keluar dari ruangan dokter.


 


“Hepatosplenomegali bi, sebuah penyakit yang menyebabkan hati dan Limpa Alinka membengkak.” Jawab ummi sendu.


 


“Lalu bagaimana cara pengobatannya?” tanya abi kembali.


 


“Jika penyebabnya kanker, pengobatan yang bisa dilakukan berupa kemoterapi, radioterapi, dan operasi pengangkatan tumor. tergantung dari penyebabnya.” Jawab ummi.


 


Semuanya merasa sedih saat mendengar penyakit yang Alinka derita saat ini, semuanya takut akan kehilangan Alinka karna mereka sangat menyayanginya terlebih selama hidup Alinka dia merupakan anak yang sangat istimewa bagi semua.


 


Setelah beberapa minggu Alinka mendapatkan perawatan dokter kondisinya agak membaik dan dokter pun membolehkan Alinka pulang.


 


Karna sudah merasa lebih baik, semuanya merasa lega melihat Alinka pun yang awalnya terlihat pucat sekarang wajahnya berseri kembali, mungkin kondisi itu tinggal pemulihan buat Alin dari sakitnya.


 


Setelah melihat Alinka baikkan ummi Fatimah pun izin pulang karna beliau juga sudah lumayan lama ikut mengurus Alinka yang sedang sakit.


 


Akhirnya Alinka pun bisa beraktivitas kembali seperti biasa selama 1 bulan.


 


Dan pada satu bulan terakhir menuju kepulangan Faiz tiba-tiba kondisi Alinka pun menurun kembali dan harus di larikan ke rumah sakit.


 


Mungkin karna Alin yang terlalu aktif dan tidak mau untuk hanya berdiam diri saja di rumah, semua aktivitas di lakukannya sendiri, mulai dari mengurus para santri, pergi dakwah dan keperluan perkembangan yayasan pun hampir setiap hari Alinka urus dengan sendirinya, karna dia tipe orang yang tidak suka untuk merepotkan orang lain.


 


 


Selama di rumah sakit, kondisinya semakin hari semakin memburuk karna penyakitnya sudah lumayan cukup parah dan pada Akhirnya Faiz pun di minta pulang lebih awal dari jadwal kepulangannya.


 


Sesampainya Faiz di Indonesia, dia tidak ingin berlama-lama untuk segera menemui Alinka.


 


Di depan kamar ICU sudah terlihat banyak sekali orang yang menjaga Alinka, terlihat abi Hasan, abi Fakhry ummi serta ibu Halimatussadiah selaku ibu kandungnya Alinka.


 


“Assalamualaikum.” Sahut Faiz ketika sampai di sana dengan napas yang terengah-engah.


 


“Gimana keadaan Alin Bi?” tanya Faiz kepada abi Fakhry.


 


“Wa’alaikumussalam nak, seperti yang kamu lihat saat ini, Alinka kritis.” Jawab abi Fakhry sambil memperlihatkan Alinka dari balik jendela Rumah Sakit.


 


Faiz pun merasa lemah tak berdaya air matanya pun tidak bisa terbendung lagi melihat orang yang di cintainya selama ini terbaring lemah di kasur rumah sakit.


 


“Akankah ada harapan?” tanya Faiz sambil berkaca-kaca.


 


“Itu sebabnya, abi menyuruh mu pulang lebih cepat, kami takut jika Alinka tidak bisa bertahan alangkah baiknya jika niat pernikahan ini kita batalkan dan kamu bisa bebas mencari pengganti Alinka karna masa depanmu masih panjang nak, jangan kau tunggu Alinka yang entah bisa atau tidak dia untuk bertahan jika dengan melihat kondisinya saat ini.” Jelas abi Hasan selaku ayah kandung Alinka.


 


 


“Tidak!!! Tidak bi, bagaimana pun kondisi Alinka saat ini, Faiz tidak akan meninggalkannya, justru Alinka saat ini sangat perlu genggaman dari tangan Faiz bi.” Tolak Faiz dengan begitu tegas.


 


“Tapi nak, kami tidak mau membebani mu dengan kondisi Alin saat ini,” ucap Abi Hasan.


 


“Alinka bukan sebuah beban untukku bi, mau sehat atau pun sakit kondisinya saat ini, Alinka akan tetap jadi ratu dan calon pendampingku.” Jawab Faiz dengan tegas.


 


“Lantas sekarang mau mu apa?” tanya abi Hasan.


 


“Faiz akan sekuat tenaga mengobati Alinka, jika perlu sampai luar Negeri Faiz akan bawa Alin untuk berobat bi.” Jawab Faiz.

__ADS_1


 


Abi Hasan pun seketika merenungkan ucapan Faiz.


 


“Abi setuju dengan rencanamu nak, lebih baik seperti itu daripada kamu menyerah sebelum berusaha.” Sahut Abi Fakhry memberi dukungan putra nya.


 


“Tapi sebelumnya, Faiz minta nikahkan Faiz dengan Alinka saat ini juga bi.” Pinta Faiz.


 


“Di rumah sakit? Dengan kondisi Alin yang masih kritis?” tanya Abi Hasan.


 


“Tidak apa bi, semoga ada keajaiban untuk Faiz dan Alin ke depannya nanti.” Jawab Faiz dengan sangat yakin.


 


“Baiklah kalau mau mu seperti itu nak, akan abi kabulkan saat ini juga.” Ucap Abi Hasan.


 


 


Lalu semuanya pun bersiap mempersiapkan pernikahan Alinka di rumah sakit itu tepatnya di kamar ICU dengan dekorasi dan perlengkapan ala kadarnya, karna semua ini begitu tiba-tiba dan dadakan, jadi Faiz pun menyanggupinya sebelum dia terlambat memperjuangkan hidup Alinka.


 


Begitu besarnya cinta Faiz pada Alinka, sampai-sampai dia rela menikahi Alinka dalam kondisi apa pun, para tamu undangan hanya keluarga inti dan sanak saudara terdekat saja juga para saksi Faiz jadikan dari sebagian pegawai kesehatan di rumah sakit itu sendiri untuk sedikit memeriahkan hari bahagianya tersebut.


 


Pada malam harinya, keajaiban pun datang, Alinka tiba-tiba siuman dari kondisi kritisnya saat itu dan dia pun sangat merasa terkejut ketika dia bangun dia telah berada di ruangan yang sangat indah berhiaskan bunga-bunga cantik dan wangi.


 


“Apa aku sudah ada di surga.” Ucap pelan Alinka ketika dia siuman dan melihat tempat di sekelilingnya.


 


Perawat yang bertugas menjaga Alinka pun menyadari itu lalu dia segera memanggil semua untuk melihatnya.


 


“MasyaAllah kakak cantik sudah siuman.” Sahutnya sambil melihat ke arah Alinka.


 


“Sus saya ada di mana?” tanya Alinka.


 


“Kakak cantik masih ada di rumah sakit di kamar ICU dan ini semua kejutan untuk kakak cantik dari calon suaminya.” Jawab perawat tersebut.


 


“Kak Faiz, kak Faiz sudah pulang?” tanya Alinka.


 


“Iya kak, sekarang dia sedang berada di luar, dia selalu menjaga kakak di sini tanpa kenal letih meski dia baru pulang dari tempat kerjanya yang berada jauh di luar negeri sana.” Jawab perawat itu kembali.


 


Lalu dokter, Faiz abi dan umi juga ibu kandung Alinka pun datang untuk menengok keadaan Alinka.


 


“Bu... Mau ada acara apa ini, kok tempatnya bisa di hias sebagus ini?” tanya Alinka kepada ibunya.


 


Ibu hanya memeluk erat Alinka sambil tersenyum.


 


Setelah dokter memeriksa keadaan Alinka abi pun memberi tau apa yang sebenarnya akan terjadi padanya hari ini.


 


“Alin, saat ini Faiz sudah ada di depan kamu, dia bersedia menikahimu saat ini juga apakah kamu siap nak?” tanya abi Hasan.


 


“Nikah, sekarang?” tanya Alinka terkejut.


 


“Bi boleh kasih waktu Alin bicara sama kak Faiz dulu gak untuk sebentar saja.” Pinta Alinka pada abi Hasan.


 


“Boleh nak, boleh sekali.” Jawab abi Hasan.


 


“Kak kenapa sekarang? Kenapa terburu-buru seperti ini? Kakak tau kan sekarang kondisi Alin bagaimana? Bagaimana kalo nanti Alin tidak bisa membahagiakan kakak? Atau bahkan Alin takut Alin tidak bisa bertahan untuk kakak,” ucap Alinka.


 


“Ssstt... dengarkan kakak ya, kakak tidak peduli mau bagaimana pun kondisi Alin sekarang, Alin akan tetap jadi calon istri kak Faiz, soal kondisi Alin saat ini kakak sanggup memperjuangkannya bahkan kalo perlu kita berobat di luar negeri InsyaAllah kamu akan tertolong dengan ikhtiar dan doa yang maksimal InsyaAllah Allah akan bantu per mudahkan.” Jawab Faiz seakan menutup mulut Alinka dengan jari telunjuknya.


 


Alinka pun hanya bisa menatap Faiz dan menghela napas cukup dalam.


 


“Jadi mau kita berjuang bersama-sama?” tanya Faiz kembali pada Alinka.


 


“InsyaAllah.” Jawab Alinka sambil menatap mata Faiz begitu dalam.


 


“Bismillah ya.” Ucap Faiz


 


Lalu Alinka pun tersenyum manis mendengar kata penguat dari Faiz.

__ADS_1


 


 


__ADS_2