《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
UJIAN DI AWAL KEBAHAGIAAN Part4


__ADS_3

Saat malam tiba dan Alinka pun sudah berganti pakaian dengan pakaian bedahnya semua mengantar Alinka sampai depan kamar operasi.


 


Dengan menggenggam tangan Faiz dengan erat, ternyata Alinka tidak ingin masuk kamar operasi seorang diri, dia minta pada dokter agar suaminya bisa menemani dirinya di sana.


 


“Dok, saya takut masuk ruang operasi seorang diri, bolehkah suami saya ikut menemani saya sepanjang operasi berlangsung agar perasaan saya juga bisa tenang.” Pinta Alinka pada dokter ketika dia hendak masuk kamar operasi.


 


Dokter pun menyetujui permintaannya itu karena untuk keberlangsungan proses operasinya tersebut.


 


Semua anggota keluarga mengecup kening Alinka terlebih dahulu sebagai penyemangat untuk dirinya.


 


“Kamu pasti bisa nak, kamu perempuan hebat, kuat, kamu pasti bisa jalani operasi ini dengan lancar.” Ucap ummi menguatkan.


 


“Masuklah nak, ibu doakan keselamatanmu, semoga kamu bisa secepatnya kembali sembuh.” Ucap ibu kandungnya.


 


“Putri hebat abi, kebanggaan abi, pergilah nak, kalahkan semua rasa sakitmu dan kembali dengan kondisi sehat.” Ucap abi Hasan.


 


“Putriku, permata hati abi, tiada putri yang lebih abi sayang melainkan dirimu nak, pergilah jemput kesehatan itu untuk dirimu, untuk masa depanmu dengan suami mu kelak, Iz abi titip Alinka padamu, kamu harus kuat ya temani Alinka di dalam sana.” Sahut abi Fakhri.


 


“Baik InsyaAllah abi.” Jawab Faiz dengan penuh ketegaran.


 


Lalu mereka pun mulai masuk ruang operasi dan anggota keluarga yang lain menunggunya di luar.


 


Pada saat itu Shema sedang izin pulang terlebih dahulu karna ada kerjaan mendadak untuknya jadi hanya dirinya yang tidak menemani Alinka saat operasi berlangsung.


 


Setelah itu operasi pun berjalan selama 8 jam, Faiz pun dengan setia menemani Alinka di dalam kamar operasi sambil memberikannya semangat dan kekuatan untuk dia.


 


“A, jangan lepas in genggaman tangan Alin selama operasi ya, karna Alin terlalu takut.” Ucap Alinka sambil menggenggam erat tangan Faiz.


 


“Iya sayang, Aa janji gak akan lepas in tangan kamu, kamu yang tenang ya yakin Allah selalu ada bersama kita.” Jawab Faiz sambil mengelus kepala Alinka dengan lembut.


 


Setelah dokter menyuntikan obat bius padanya, Alinka pun tertidur dengan perlahan dan pada saat itu jujur Faiz pun merasa cemas tapi dia berusaha kuatkan dirinya untuk percaya kalo ini semua bisa dia lalui.


 


Selama waktu operasi berjalan Faiz pun tidak pernah berhenti mengelus kepala Alinka sambil memegang tasbih di tangan kanannya berdzikir untuk mendoakan kelancaran operasi Alinka.


 


Tak kuat rasanya ketika Faiz tau badan seorang yang dia cintai di sayat oleh benda tajam tapi dia berusaha ikhlas karena itu demi kesembuhan Alinka sendiri.


 


8 jam pun berlalu dengan operasi yang berjalan lancar, Faiz pun merasa lega saat Alinka sudah bisa di pindahkan ke kamar rawat inap dan menemui keluarganya yang menunggu di luar sana.


 


“Gimana operasinya?” tanya Ibu kandung Alinka juga ummi Fatimah.


 


“Alhamdulillah Bu, Ummi, operasinya berjalan dengan lancar.” Jawab Faiz sambil menghela napasnya.


 


“Syukur Alhamdulillah kalo begitu, kita semua lega mendengarnya.” Ucap Abi Hasan dan Abi Fakhry.


 


Melihat Alinka yang di bawa oleh para perawat ibu dan ummi pun menghentikannya sejenak untuk melihat keadaan putri kesayangannya tersebut.


 


“Sebentar sus, ibu hanya ingin mengelus wajah anak ibu saja sambil menciumnya.” Sahut ibu kandung Alinka sambil menghentikan langkah para perawat tersebut.


 


“Anak kuat, anak sabar, putri ibu bidadari dunia ibu, kamu pasti bisa melewati masa² ini, sembuh ya sayang.” Ucap ibu kandung Alinka sambil mengelus wajah Alinka yang terlihat masih pucat lalu ibu pun mencium keningnya dan Alinka pun segera di bawa kembali oleh para perawat itu menuju kamar rawat inap.


 


Setelah semua alat terpasang di badan Alinka barulah dokter memeriksa ke stabilan kondisinya lalu dokter pun bisa memberikan kabar baik untuk semua anggota keluarganya.


 


“Untuk keluarga nyonya Alinka!” sahut dokter tersebut.


 


“Iya kami dok!” jawab abi Hasan, Abi Fakhry, ummi, dan ibu juga Faiz.


 


“Alhamdulillah, sekarang keadaan Alinka dalam kondisi baik-baik saja, kita hanya menunggu dia sadar.” Ucap dokter.


 


“Alhamdulillah terima kasih dok!” jawab semua.


 


“Iya sama-sama.” Ucap dokter lalu dia pun berlalu meninggalkan keluarga Alinka.


 


Faiz hanya bisa menatapnya dari kejauhan, harapnya semoga istri tercintanya agar segera sadar dan pulih kembali seperti sediakala.


 


“Sudah Iz, semuanya akan baik-baik saja.” Ucap abi Fakhry sambil menepuk pundak Faiz.


 


Hari-hari pun berlalu begitu cepat, sehingga tak terasa seminggu setelah tindakan operasi tersebut Alinka pun tak kunjung sadarkan diri dan terbangun dari mimpi panjangnya.

__ADS_1


 


“Dok, gimana ini sudah seminggu berlalu setelah tindakan operasi tapi istri saya tak kunjung sadarkan diri?” komplain Faiz pada sang dokter.


 


“Tenang dulu mas Faiz, saya juga heran biasanya 3 hari setelah operasi pun pasien sudah bisa sadarkan diri tapi ini...” kata-kata dokter pun terputus seakan ada hal yang mengganjal.


 


“Tolong dok, bagaimana pun caranya usahakan agar istri saya bisa sembuh.” Mohon Faiz pada sang dokter.


 


“Mas, sesungguhnya kami hanya berusaha dan yang menyembuhkan adalah Allah swt. sebagai sang maha penyembuh.” Jawab dokter tersebut.


 


“Lalu istri saya...???” tanya Faiz.


 


“Berdoalah semoga ada keajaiban untuk pasien.” Jawab Dokter.


 


Faiz pun seakan merasa kurang puas atas jawaban dokter saat itu lalu dia pun merasa prustasi dan down.


 


“Tenangkan hati mu iz, serahkan semuanya pada sang maha pencipta ikhlaskan kamu menjalani cobaan ini.” Ucap abi Fakhry selagi ayah dan panutan Faiz semenjak kecil.


 


Faiz hanya terlihat sedikit meneteskan air matanya di pelukan abi Fakhry.


 


“Kamu kuat, seorang imam dan pemimpin keluarga harus selalu terlihat tegar dan kuat meski jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia merasa lelah dan ingin menyerah.” Nasehat abi Fakhry.


 


“Dia orang yang selama ini Faiz cintai dalam diam bi, lantas Faiz harus rela jika suatu saat Faiz harus melepasnya, Faiz belum sanggup atas semua itu bi, Faiz masih sayang pada Alinka.” Ucap Faiz dengan berlinang air mata.


 


Seminggu pun berlalu begitu cepat dan saat itu pula Shema baru sempat kembali dari tempat asalnya untuk terus menjaga Alinka selama di rumah sakit.


 


“Maaf Iz aku terlambat ya nemenin Alin operasi, sudah bisa di tengok kah sahabatku iz?” sahut dan tanya Shema pada Faiz saat dia sampai di rumah sakit.


 


“Sudah seminggu Alin belum sadarkan diri juga,” jawab Faiz sambil terlihat begitu sedih.


 


“Kenapa, apa operasinya tidak berjalan lancar?” tanya Shema penasaran.


 


“Operasinya berjalan dengan lancar, tapi entah lah aku juga tidak tau, entah apalagi rencana Allah untukku dan istriku.” Jawab Faiz terlihat sangat prustasi.


 


“Sabar, Alin pasti bisa lewati masa koma nya aku yakin itu.” Ucap Shema sambil menguatkan Faiz yang terlihat sangat terpuruk.


 


 


Pada saat pagi hari menjelang, tiba-tiba saja kondisi Alinka menurun dan dokter pun segera menanganinya.


 


“Detak jantungnya melemah oleh karena itu Alinka sekarang harus di bantu dengan alat-alat medis yang cukup lengkap agar tidak memperburuk keadaan, sekarang pasien dalam keadaan koma.” Ucap dokter pada Faiz.


 


Betapa hancurnya hati Faiz saat mendengar pernyataan itu.


 


Lalu Faiz pun meminta izin dokter untuk bisa menjenguk istrinya itu setidaknya hanya untuk memberinya semangat hidup agar bisa bertahan sampai keadaannya membaik kembali.


 


Dan dokter pun mengizinkan asal tidak mengganggu pasien.


 


“Sayang, istriku, bidadari surga dunia ku, Aa yakin kamu pasti bisa bertahan, kamu sayang Aa kan, kamu harus janji akan menemani Aa sampai mau memisahkan, Aa akan ikhlas jika usaha dan ikhtiar Aa sudah maksimal untuk dirimu, InsyaAllah Aa akan ikhlas melepas kepergianmu, tapi Aa minta untuk saat ini, kamu bisa bertahan sekejap saja hanya untuk Aa.” Sahut Faiz dengan begitu sendu sambil membelai kepala Alinka yang lemah tak berdaya.


 


“Aku sayang kamu dek, Aa mohon sadar dan sembuhlah.” Faiz pun tak kuasa dan meneteskan air matanya.


 


Lalu Shema pun datang menghampiri seraya menepuk pundak Faiz.


 


“Sabar Kak, kakak jangan malah terlihat hancur di depan Alin, karna kekuatan kakak adalah kekuatan Alin juga kak.” Sahut Shema.


 


Faiz hanya tertunduk sambil sesekali menyeka air matanya yang membasahi pipi.


 


“Kamu temani Alin dulu, kakak izin keluar sebentar.” Ucap Faiz seraya menitipkan Alinka pada Shema.


 


Shema pun menganggukkan kepalanya lalu menjaga Alinka sepanjang hari.


 


Setelah menitipkan Alinka pada Shema, lantas Faiz pun pergi ke suatu tempat untuk sekedar menenangkan hati dan pikirannya.


 


Dia berlama-lama di tempat itu karna memang suasananya begitu sunyi menenangkan hati.


 


Setelah beberapa bulan berlalu, Faiz pun berkegiatan seperti biasa karna jatah cuti dia pun telah habis maka mau tidak mau dia harus meninggalkan Alinka untuk beberapa saat ketika dia bekerja lalu sepulang dia bekerja barulah Faiz bisa menemani Alinka sepanjang waktu.


 


Orang tua Alinka dan Faiz pun sampai menyewa sebuah rumah karna saking lamanya mereka harus menunggu Alinka sadar sampai memakan waktu berbulan-bulan namun Alinka belum kunjung sadar.

__ADS_1


 


Kehidupan rumah tangga Faiz pun berjalan normal dan terasa hampa karna tidak ada sosok Alinka di sepanjang waktu ia melakukan aktivitas.


 


Hanya raganya saja yang masih bisa dia lihat tanpa bisa melihat riang dan cerianya Alinka bahkan manis nya senyuman itu sudah lama Faiz rindukan dari sosok Alinka.


 


“Dek, Aa kangen senyuman mu, Aa kangen canda tawamu, Aa juga kangen melihat riangnya sikap mu menjalani hari-hari, sekarang Aa hanya sendiri menjalani hari tanpa adanya dirimu, ayo lah dek bangun Aa sangat rindu.” Ucap Faiz di setiap malam ketika dia menjaga Alinka di ruang ICU


 


“Kamu sabar ya kak, meski 2 bulan sudah berlalu dan kondisi Alinka masih sama seperti ini tapi kamu jangan menyerah untuk semangati dia.” Sahut Shema.


 


“Entah lah, rasanya aku sudah sangat menyerah.” Jawab Faiz sambil tertunduk.


 


“Kamu jangan bilang seperti itu, aku yakin sahabatku akan kembali sembuh kamu harus bisa bertahan demi dia.” Sahut Shema sedikit membentak.


 


“Iz coba bayangkan, Alin sangat butuh sosok dirimu penyemangat baginya dan mungkin yang membuatnya bisa bertahan sampai sekarang adalah kamu alasannya tapi kamu, apakah kamu mau membalas sebaliknya kamu akan nyerah? Justru di sinilah titik perjuangan kalian Iz kalian harus bisa saling menguatkan meski Alinka hanya terbaring lemah dan tak berdaya tapi hati dan perasaannya tetap hidup, dia bisa merasakan apa yang sedang terjadi di sekelilingnya karna apa Iz? Karna hati lebih sensitif dari insting-insting tubuh yang lain.” Jelas Shema menegaskan.


 


Faiz hanya diam dan tertunduk tidak sedikit pun Faiz membalas kata-kata yang telah Shema jelaskan.


 


“Iz kamu harus janji demi sahabatku, kamu akan bertahan kan? Kamu kuat iz kamu mampu aku yakin itu.” Desak Shema.


 


Faiz pun segera menghindar dari hadapan Shema lalu pulang ke apartemen tempat dia tinggal.


 


“Aku khawatir, hubungan Faiz dan Alin akan hancur gara-gara kondisi Alin yang seperti ini.” Gumam Shema dalam hati sambil memandang Faiz yang pergi berlalu dari hadapannya.


 


“Lin, kamu tenang ya, meski Faiz mulai berubah aku akan selalu ada di samping kamu selamanya.” Bisik Shema pada Alinka sambil berlinang air mata.


 


Keesokan harinya, seperti biasa sebelum berangkat kerja Faiz menjenguk Alin terlebih dahulu.


 


“Aku berangkat kerja dulu ya sayang.” Ucap Faiz sambil mengecup keningnya.


 


“Ummi, Faiz titip Alin hari ini ya, karna Faiz gak akan sempat pulang jadwal Faiz hari ini padat.” Sahut Faiz menitipkan Alinka pada ummi Fatimah.


 


“Loh kok tumben nak, biasanya sesibuk apa pun kamu, kamu tetap bisa memberi waktu luang untuk Alinka.” Tanya ummi.


 


Faiz pun tak menjawab sedikit pun pertanyaan dari ummi seakan dia menghindarinya.


 


“Faiz,, Faiz,, nak ada apa? Tolong bicarakan dulu sama ummi nak!” sahut ummi sambil mengejar Faiz yang segera berlalu dari rumah sakit.


 


“Ummi,, ummi,, maaf jangan di kejar lagi Faiz nya, memang saat ini Faiz butuh waktu sendiri untuk dia menenangkan hati dan pikirannya.” Ucap Shema.


 


“Ada apa ini nak, ada apa?” tanya ummi sambil merasa bingung


 


Shema hanya menggenggam tangan ummi sambil menatap kedua bola matanya.


 


“Kenapa ummi ada apa ini neng kok ummi terlihat cemas.” Tanya ibu kandung Alinka saat dia baru sampai di rumah sakit.


 


“Emh... gak ada apa-apa kok Bu, ummi Cuma kelilipan ya kan mi?” sahut Shema pada ummi berusaha menutupi apa yang sedang terjadi.


 


“Oh... ya sudah kalo begitu mari kita sarapan, kebetulan ibu udah bawa in hidangan untuk bekal hari ini.” Ucap ibu kandung Alinka sambil menyiapkan semua makanan yang sudah di bawanya.


 


Setelah itu mereka pun menyantap sarapan pagi bersama.


 


“Faiz sudah berangkat kerja ummi?” tanya ibu Alinka


 


“Iya Bu, tadi Faiz pamit sama Alinka terlebih dahulu sebelum dia berangkat kerja.” Jawab ummi Fatimah.


 


“Syukurlah, betapa sabarnya hati Faiz bisa menunggu putri ku selama ini.” Jawab ibu Alinka.


 


Shema dan ummi pun seakan merenung karna ibu belum mengetahui apa yang sedang terjadi pada Faiz saat ini.


 


“Semoga bisa selamanya Faiz bisa menjaga kesetiaannya untuk Alinka.” Ucap ibu


 


“Aamiin.” Jawab ummi dan Shema.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2