《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
UJIAN DI AWAL KEBAHAGIAAN Part6


__ADS_3

Pagi pun menjelang begitu indah, di iringi oleh pancaran sinar mentari yang baru saja setengah naik yang menyajikan cantiknya warna jingga disertai merah muda yang sangat anggun terlihat.


 


“Selamat pagi sayang, doakan suami mu hari ini akan berangkat kerja ya, semoga selama kamu aku tinggal kamu baik-baik saja bidadari ku, cukup dengan melihat wajah teduh mu itu sudah menjadi penyemangat hidupku.” Ucap Faiz sambil mengelus wajah dan mengecup kening Alinka yang terbaring lemah.


 


Ummi dan ibu merasa sangat haru melihat pemandangan itu di setiap harinya.


 


Tak lama kemudian Shema pun datang untuk bergantian menjaga Alinka di sepanjang hari ini agar ibu dan ummi bisa pulang dan beristirahat.


 


“Assalamualaikum..” ucap Shema yang baru saja tiba.


 


“Sudah datang kamu nak, gimana istirahatnya cukup malam ini?” tanya ummi.


 


“Alhamdulillah lebih dari cukup ummi, oh iya Shema juga sudah bawakan sarapan untuk kita semua, ayo kak Faiz kita sarapan dulu sebelum berangkat kerja.” Sahut Shema bersemangat.


 


Lalu Shema pun menyajikan sarapan yang dia bawa dari apartemennya sendiri untuk di nikmati bersama keluarga besar Alinka di rumah sakit.


 


“Aku titip bidadari surgaku ya Shema, kalo ada apa-apa cepat hubungi aku.” Pesan Faiz sangat mewanti-wanti kepada Shema tentang perkembangan kondisi Alinka.


 


“Siap bos! Serahkan saja semuanya padaku.” Jawab Shema sambil tersenyum.


 


Lalu mereka pun menikmati sarapan pagi bersama dengan hangatnya rasa kekeluargaan.


 


Setelah sarapan pagi barulah ummi dan ibu pun pergi pulang ke apartemen sedangkan Faiz pergi ke kampus untuk bekerja.


 


8 jam pun berlalu, satu hari terlewati dengan kesibukan dan aktivitas Faiz yang cukup membuatnya lelah dan menguras otak dan pikiran.


 


Sepulang dari kampus seperti biasa Faiz pun menyempatkan diri untuk sekeder melepas rasa penatnya di taman kota sambil menikmati sang senja.


 


Tepat pukul 17.00 waktu setempat sinar senja sedang menampakkan keindahan akan ronanya pada alam semesta.


 


“Masih di sini..?” tanya seseorang dari belakang kursi taman dan Faiz sedang duduk di sana.


 


Lantas Faiz pun menoleh seketika.


 


“Marwah..? Kenapa kita harus selalu ketemu..?” kejut Faiz


 


“Jodoh kali.” Jawab Marwah sambil tersenyum.


 


“Tidak Marwah, aku mohon jangan ganggu aku lagi, karna sekarang...” ucapan Faiz pun terpotong karna Marwah menyela perkataannya terlebih dahulu.


 


“Kamu sudah menikah. Iya aku ngerti, aku gak bakal ganggu kamu kok, meski ya jujur masih ada rasa cinta di hati.” Ucap Marwah.


 


Seketika Faiz pun terdiam dan langsung memalingkan wajahnya dari pandangan Marwah.


 


“Lantas kamu mau apa selalu menghampiri ku?” tanya Faiz sambil berbalik badan membelakangi Marwah.


 


“Kebetulan saja, aku melihat kamu selalu murung dan aku khawatir melihat keadaanmu yang seperti itu.” Jawab Marwah


 


“Boleh kah aku sedikit care lagi padamu?” Tanya Marwah


 


“Tidak, tidak bisa Marwah aku harus menjaga perasaan istriku.” Jawab Faiz


 


“Lantas sudah dua hari ini aku melihat kamu selalu merenung sendiri di sini sosok istrimu di mana?” tanya Marwah.


 


“Dia ada di rumah.” Jawab Faiz


 


“Kalian sedang bertengkar?” tanya Marwah kembali


 


“Tidak, kami baik-baik saja.” Jawab Faiz


 


“Tidak mungkin mas, jika hubungan kalian aku tidak bisa melihat muka kusutmu ini sekarang.” Ucap Marwah mendesak.


 


“Aku stres gara-gara pekerjaan bukan urusan rumah tangga paham, sudah lah aku mau pulang saja, istriku sudah lama menungguku di rumah.” Sahut Faiz menegaskan.


 

__ADS_1


“Bolehkah aku ikut, untuk sekedar bersilaturahmi dengan istrimu?” tanya Marwah.


 


“Maaf Marwah tapi tak bisa.” Jawab Faiz


 


“kenapa?” tanya Marwah.


 


Faiz pun hanya terdiam


 


“Apa karna kesalahanku dulu pada kalian yang sampai saat ini kalian tidak bisa memaafkan kesalahanku?” tanya Marwah


 


Lalu Faiz pun mencoba menatap wajah Marwah yang terlihat berkaca-kaca.


 


“Maaf Marwah karna itu konsekuensi untuk mu sendiri, apa yang sudah kamu tanam itulah yang akan kamu tuai.” Jawab Faiz tegas.


 


Lalu Faiz pun segera meninggalkan tempat tersebut.


 


“Tapi aku sudah berubah percayalah..!!!” teriak Marwah.


 


Faiz pun lantas menoleh sebentar ke arah Marwah lalu melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan apa yang telah dia ucapkan.


 


Sesampainya di rumah sakit, Faiz masih selalu teringat pada ucapan Marwah tadi dan membuatnya banyak merenung.


 


“Apa benar dia sudah berubah?” gumamnya dalam hati


 


“Sebenarnya aku kasihan melihatnya tapi aku masih belum bisa melupakan apa yang telah dia perbuat dulu terhadap keluargaku terutama pada Alinka.” Gerutu nya dalam hati.


 


Lalu Faiz pun menghampiri Alinka seakan mengajaknya bercerita tentang apa yang telah dia alami hari ini.


 


“Yang, tadi Aa ketemu Marwah kembali, Aa masih merasa kesal padanya terhadap apa yang sudah dia lakukan padamu dulu, Yang apa kamu percaya dia sekarang sudah berubah?” cerita Faiz pada Alinka sambil menggenggam tangannya.


 


“Aa bingung Yang, Aa takut terjebak perangkap dia kembali, karna kamu juga tau dia wanita seperti apa, dia wanita berdarah dingin yang tidak segan membunuh musuhnya kapan pun dia mau.” Ucap Faiz pada Alinka


 


“Yang, Aa bingung Aa harus bagaimana?” lanjut cerita Faiz.


 


 


“Maaf tadi Alin aku tinggal sebentar untuk mandi.” Ucap Shema.


 


“Iya gak papa Shema, Makasih loh hari ini udah nemenin Alinka seharian.


 


“Biasa aja Kakak, kan setiap hari juga Alin aku yang jaga dan malam ini aku tidak akan pulang biar aku yang jaga malam ini, biar ummi dan ibu gak bergadang terus setiap malam.” Jawab Shema panjang lebar.


 


“Baiklah nanti aku akan sampaikan pada ibu dan ummi.” Ucap Faiz.


 


“Yaudah kakak udah makan belum, tuh aku udah order makanan, makan dulu gih, biar nanti pas dateng ke apartemen tinggal bersih-bersih aja.” Ucap Shema.


 


“Iya baiklah kalo begitu.” Jawab Faiz menuruti apa yang di bilang Shema.


 


Setelah makan Faiz pun langsung bergegas pulang dan pamit pada Alinka istri tercintanya terlebih dahulu.


 


“Yang, Aa tinggal pulang dulu ya, nanti malam Aa kembali ke sini buat nemenin tidur kamu.” Ucap Faiz sambil mengecup kening istrinya.


 


Lalu dia pun pergi meninggalkan rumah sakit menuju apartemen.


 


“Apa yang akan terjadi jika Marwah selalu hadir dalam kehidupan ku?” tanya Faiz dalam benaknya selalu menghantui.


 


“Nak, ada apa? Sudah 2 hari ini ummi perhatikan kamu seperti orang yang sedang bingung dan khawatir, ada apa sayang coba cerita sama ummi?” Tegur ummi ketika melihat Faiz lagi-lagi melamun.


 


“Tidak ummi Faiz lagi cape saja dengan pekerjaan.” Jawab Faiz mencoba menutupi semuanya.


 


“Jangan berbohong sama ummi nak!” Ucap ummi.


 


“Beneran Ummi Faiz baik-baik saja kok.” Jawab Faiz sambil tersenyum hangat pada umminya.


 


Lalu ummi pun memeluk dan mengelus kepala putranya tersebut.

__ADS_1


 


Tepat pukul 19.00 waktu setempat Faiz pun kembali ke rumah sakit untuk menemani istrinya tercinta.


 


“Assalamualaikum.” Ucap Faiz saat tiba di kamar tempat Alinka di rawat.


 


“Wa’alaikumussalam, eh kak sudah kembali.” Jawab Shema yang sedang menemani Alinka.


 


“Iya, Shema boleh aku bercerita padamu?” tanya Faiz.


 


“Ada apa kak?” jawab Shema


 


“Kamu kan sahabat baiknya Alinka, tentunya kamu tidak ingin terjadi apa-apa kan pada Alinka? Bukan aku gak sanggup dalam menjaganya tapi aku juga butuh bantuan.” Jelas Faiz panjang lebar.


 


“Iya emang bagaimana maksud kakak? Aku belum mengerti.” Tanya Shema.


 


“Jadi udah 2 hari ini aku selalu ketemu dengan Marwah.” Jawab Faiz


 


“Marwah? Perempuan yang mau mencoba bunuh Alinka dulu kan?” tanya Shema emosi.


 


Faiz pun menjawabnya dengan anggukan kepala.


 


“Terus dimana dia sekarang, biar aku seret ke kantor polisi sekarang juga.” Tanya Shema sambil terlihat marah.


 


“Masalah nya sudah lama Shema percuma kamu menggugatnya kembali ke kantor polisi.” Jawab Faiz


 


“Lantas kakak mau berbuat apa sama dia sekarang?” tanya Shema


 


“Dia sudah berubah Shema.” Jawab Faiz.


 


“Aku tidak percaya padanya kak dan kakak jangan termakan omong kosongnya.” Ucap Shema.


 


“Aku juga bingung, sekarang aku harus Ngapain buat jaga in Alinka.” Sahut Faiz murung


 


“Sebisa mungkin kakak jangan kasih tau keberadaan Alin sekarang apalagi kondisinya yang seperti saat ini, ini bakal jadi keuntungan besar untuk dia.” Jelas Shema


 


“Baiklah Shema, nanti kalo aku ketemu dia lagi aku akan ceritakan padamu.” Ucap Faiz.


 


“Pesan aku, kakak harus selalu berhati-hati terhadapnya jangan sampai tergoda bujuk rayunya ya, ingat masih ada Alin, Alin masih hidup kak dan besar kemungkinannya dia akan sembuh.” Pesan Shema.


 


Faiz pun mengangguk mengerti.


 


Malam pun semakin larut, Faiz berusaha menyandarkan kepalanya di dekat kepala Alinka lalu dia pun seakan mengajak Alinka bercerita meski Alinka sendiri tidak akan pernah bergeming menanggapi setiap ucapan Faiz.


 


Dari kejauhan Shema pun memperhatikan pemandangan tersebut sampai tak sadar Faiz pun terlelap di samping Alinka sambil memeluknya.


 


Sungguh sangat terenyuh ketika Shema melihat pemandangan seperti itu, hampir setiap malam Faiz melakukannya karna mungkin hatinya telah lama sepi tidak ada sosok istri yang menghiasi hari-harinya.


 


“Semoga kamu bisa bertahan sampai sahabatku pulih kembali ya.” Ucap Shema sambil berbisik dan menyelimuti Faiz yang tertidur dengan posisi duduk di pembaringan Alinka.


 


Sang fajar menyongsong begitu cepat, tidak terasa Faiz sangat nyaman terlelap berada di dekapan Alinka, meski dia tidak sadarkan diri tapi Alinka masih mengalirkan rasa nyamannya ketika Faiz berada di sampingnya.


 


Besar kemungkinan cinta Alinka masih sangat begitu besar untuk Faiz dan ada secercah harapan untuk dia bisa pulih kembali seperti sedia kala.


 


Pukul 06.00 pun Faiz bersiap pergi ke kampus untuk bekerja, tidak lupa Shema yang menyediakan dia sarapan lalu Shema pun bersiap untuk kembali ke apartemen untuk beristirahat setelah semalaman dia bergadang menemani Alinka sahabatnya.


 


Setelah ummi dan ibu sampai di rumah sakit, Faiz dan Shema pun izin ke tempat tujuan masing-masing.


 


“Nanti sore aku kesini lagi ya, kamu jangan khawatir.” Bisik Shema pada Alinka.


 


Lalu dia pun pergi meninggalkannya.


 


Begitu pula dengan Faiz sudah menjadi rutinitasnya pamit pada Alinka sebelum berangkat kerja dengan begitu romantisnya.


 


“Yang, Aa pergi kerja dulu, kamu baik-baik sama ummi sama ibu ya, nanti sore Aa pulang dan temani mu kembali sepanjang malam.” Sahut Faiz sambil mengecup kening istrinya.

__ADS_1


 


Lalu Faiz pun beranjak pergi menuju kampus tempat dia bekerja.


__ADS_2