
Setelah keluarga Marwah beranjak dari kediaman Ustad Fakhry, perasaan Faiz justru semakin terbebani entah kenapa, rasa terpaksa dan tidak yakin akan langkah yang dia ambil sekarang, lalu Faiz pun mulai melibatkan semua masalahnya dengan sang pencipta, sang pemilik nyawa dan raga yang berhak berkuasa mengatur segalanya.
Di sepertiga malam Faiz pun meminta petunjuk akan masalahnya itu bahkan jika perlu Faiz meminta di beri kejelasan petunjuk siapa yang akan menjadi masa depannya kelak, tidak lupa Shalat istikharah pun dia jalankan agar ikhtiar dan usahanya menjadi lebih sempurna.
Di malam pertama Faiz bermimpi bahwa di rumahnya sendiri sudah tertanam bunga mawar merah yang sangat cantik, namun bunga itu terhalang oleh ilalang yang tumbuh memenuhi taman rumahnya yang membuat setangkai bunga mawar itu tidak terlihat.
Faiz pun tidak begitu menghiraukan tabir mimpi tersebut, karna sebenarnya Faiz tidak begitu percaya akan sebuah tabir mimpi.
Lalu di malam kedua dia Shalat istikharah Faiz pun bermimpi kembali bahwa dia mempunyai sebutir mutiara yang sangat indah dan berharga namun Faiz sendiri menyimpan dan menyembunyikannya di dalam lumpur agar tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya namun Faiz sendiri lupa bahwa dia mempunyai sebutir mutiara.
Entah apalah tabir kedua mimpi tersebut, namun Faiz pikirkan secara logika jika apa yang dia inginkan selama ini sudah berada di dekatnya namun Faiz belum mengetahui siapa sosok yang selama ini Faiz cari.
Lalu dia pun kembali menghiraukan mimpi-mimpi tersebut, dia lebih percaya terhadap ketentuan dan takdir dari Allah. Bukan semata dari tabir sebuah mimpi.
Satu minggu pun berlalu proses taaruf Faiz dan Marwah belum juga ada kemajuan, tetap berada di fase itu, karna Faiz tak kunjung menemukan sebuah keyakinan pada diri Marwah sendiri.
Dan di malam ke 3 dia Shalat istikharah dia bermimpi sosok Alinka lah yang datang pada mimpi Istikharah di malam ke 3 nya itu, dia pun teramat bingung kenapa sosok Alinka yang malah hadir dalam mimpinya bukan Marwah.
Barulah Faiz kepikiran oleh mimpinya tersebut dan berniat menanyakannya pada Ustad guru Faiz di Madinah.
Dan sang Ustad pun menjawab bahwa bisa jadi Alinka lah yang selama ini Faiz cari namun Faiz ragu akan perasaannya karna terkunci oleh ikatan persaudaraan.
Faiz pun meminta saran untuk permasalahannya tersebut, sang Ustad pun demikian memberikannya sebuah masukan terhadapnya apa saja langkah yang harus dia ambil.
Faiz pun masih berusaha menjalankan proses taarufnya dengan Marwah karna dia tidak ingin begitu saja menyerah dan membatalkan perjodohan ini lalu bisa membuat kecewa kedua orang tuanya.
Faiz pun meminta pertemuan antara Faiz dan Marwah di adakan kembali dengan senang hati Abi pun mengabulkannya dengan segera. Untuk apa Faiz meminta bertemu kembali dengannya, karna Faiz ingin meyakinkan hati untuk ke sekian kalinya terhadap diri Marwah.
2 minggu pun berlalu dan hari pertemuan antara Faiz dan Marwah pun telah tiba, tidak tanggung-tanggung Faiz pun meminta Marwah untuk beberapa saat tinggal di rumahnya dengan pantauan kedua orang tua mereka.
“Assalamualaikum.” Marwah dan kedua orang tuanya.
Ummi pun segera menyambut kedatangan tamu spesialnya itu lalu membukakan pintu untuknya.
“Wa’alaikumussalam.. MasyaAllah gadis cantik Ummi akhirnya datang kesini lagi.” Sahut Ummi sambil memeluk Marwah.
“Iya Ummi Marwah senang sekali bisa berkunjung lagi ke rumah Ummi.” Jawab Marwah sambil memeluk balik ummi.
“Iya nak, karna sebentar lagi Faiz akan kembali ke Madinah, maka dari itu dia menyuruhmu menginap di sini untuk beberapa waktu.” Ucap ummi sangat bahagia.
“Apa ummi Mas Faiz akan segera kembali ke Madinah?” tanya Marwah sedikit terkejut.
“Iya nak, tapi tenang meski Faiz akan kembali ke Madinah perjodohanmu dengannya akan terus terikat.” Ucap ummi meyakinkan Marwah.
“Benar Ummi, karna Marwah tidak mau sampai kehilangan mas Faiz, Marwah sudah sangat suka sama dia.” Sahut Marwah dengan tingkah manjanya.
“Ya sudah kalo begitu kita masuk.” Ajak ummi sambil mengajak Marwah dan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.
“Faiz, iz... sini nak, ini Marwah sudah datang.
Faiz pun segera menghampirinya, di tengah dia berjalan menuju ruang tamu Faiz pun berpapasan dengan Alinka yang baru keluar dari dapur.
“Kak, mau Kemana?” tanya Alinka
“Itu ummi manggil, ada Marwah katanya.” Jawab Faiz sambil terhenti sejenak.
“Marwah kesini lagi?” tanya Alinka kembali.
“Kakak yang minta.” Jawab Faiz.
“MasyaAllah akhirnya kak Faiz sudah bisa menerima Marwah ya?” tanya Alinka pun terus menerus menginterogasinya.
Faiz hanya mengibaskan tangannya sambil menggelengkan kepala lalu berlalu dari hadapan Alinka.
Alinka hanya bisa memandanginya berlalu dari hadapannya.
“Nah ini dia anaknya.” Ucap Ummi sambil menarik tangan Faiz dan menyuruhnya duduk di samping Ummi.
“Assalamualaikum tante? Marwah bagaimana kabarnya?” ucap Faiz.
“Wa’alaikumussalam... alhamdulillah baik mas.” Jawab Marwah sambil tersipu malu.
“Syukurlah kalo begitu, saya senang mendengarnya.” Ucap Faiz kaku.
“Jadi benar mas, sebentar lagi mas akan kembali ke Madinah?” tanya Marwah.
“Begini sebelumnya, justru memang karna ini saya meminta Abi mengundang Tante, Om dan Marwah datang ke sini, Faiz ingin membicarakan soal keberangkatan Faiz ke Madinah dan keberlangsungan perjodohan ini selama Faiz di Madinah.” Jelas Faiz dengan perlahan.
“Oh iya jadi bagaimana jika hubungan kalian segera di resmikan saja.” Pinta ayah Marwah.
“Maaf sebelumnya Om, kalo untuk segera meresmikan hubungan Faiz belum bisa tapi bukannya Faiz tidak serius akan perjodohan ini tapi Faiz hanya ingin meyakinkan dulu hati Faiz terhadap Marwah.” Jawab Faiz dengan penuh hormat.
__ADS_1
“Jadi bagaimana saran dan keinginan kamu sekarang?” tanya ayah Marwah.
“Kalo Om berkenan, Faiz minta Marwah untuk bisa tinggal di sini beberapa saat, agar Faiz bisa mendekatkan hati Faiz pada Marwah tentunya dengan pantauan Om dan Tante tidak lepas dari itu.” Jelas Faiz.
“Kalo Om dan Tante sih setuju-setuju aja tapi Marwah sendiri mau tinggal untuk beberapa saat di sini?” tanya ayah Marwah.
“Mau Ayah.” Dengan segera Marwah menjawabnya dengan tanpa basa basi.
Selanjutnya ayah dan ibu Marwah mengizinkan Marwah tinggal di rumah Faiz untuk beberapa saat dan Marwah pun satu kamar dengan Alinka.
“Marwah gak papa kan sekamar dengan Alinka?” tanya Faiz.
“Gak papa kok mas, setidaknya aku bisa merasa dekat dengan adik kesayanganmu terlebih dulu.” Jawab Marwah.
“Syukurlah, semoga betah ya kamu tinggal di sini.” Ucap Faiz sambil mempersilahkan Marwah menyimpan barang bawaannya di kamar Alinka.
“Alin... nak, sini sayang!!!” sahut Ummi pada Alinka.
“Iya mi.. ada apa?” jawab Alinka dari arah dapur.
“Sekarang kamu satu kamar dengan Marwah calon kakak iparmu ya.” Ucap Ummi sambil mendekapnya.
“Iya ummi baik, semoga kakak betah ya tinggal di sini dan maaf kamar Alin sedikit agak berantakan.” Sahut Alinka pada Marwah.
Marwah hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
Malam hari pun tiba, ketika saat makan malam seperti biasa semua berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama, Marwah yang di persilahkan duduk di sebelah Faiz terlihat sangat senang dan bahagia, sedangkan Alinka duduk di hadapan Faiz yang membuat pandangan Faiz selalu tertuju padanya.
Abi berbincang terlebih dahulu sebelum hidangan siap untuk di nikmati, beliau mengucapkan rasa syukurnya atas kehadiran Marwah di tengah mereka.
“Alhamdulillah, pada saat ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa, sebelumnya Abi mau berterima kasih pada Marwah karna sudah bersedia tinggal untuk beberapa hari di rumah ini semoga ada keajaiban untuk Faiz agar bisa segera menerima kamu di hatinya.” Ucap Abi mengawali pembicaraan sebelum menikmati makan malam.
“Aamiin... Terima kasih Abi atas doanya, Marwah juga merasa senang sudah di akui sebagai calon anggota baru di keluarga ini.” Jawab Marwah sambil tersenyum dan terus curi-curi pandang pada Faiz.
Setelah beberapa saat berbincang barulah mereka menikmati makan malamnya bersama dan setelah itu semua anggota keluarga kembali ke kamarnya masing-masing untuk melaksanakan Shalat isya lalu beristirahat.
Kebiasaan Alinka setelah makan yaitu membantu ummi membereskan semua piring-piring dan alat makan lainnya yang kotor setelah itu baru dia bisa dengan tenang kembali ke kamar lalu beristirahat.
Tapi Marwah, Marwah seakan tidak peduli atas semua itu, melihat ummi yang sedang sibuk berjibaku di dapur pun Marwah tidak peduli dan berlalu begitu saja dari hadapan Alinka dan ummi, dari kejauhan Faiz pun mengamati hal tersebut.
“Marwah...!!!” sahut Faiz memanggilnya yang hendak pergi ke kamar.
“Iya mas.” Jawab Marwah sambil menoleh ke arah Faiz.
“Apa kamu tidak ada niatan untuk membantu ummi dan Alinka, lihat betapa sibuknya mereka setelah selesai makan malam.” Tegur Faiz.
“Maaf mas jika mas merasa aneh dengan kebiasaanku seperti ini, karna memang aku anak tunggal dan di rumah pun ada beberapa asisten rumah tangga jadi aku tidak biasa melakukan pekerjaan seperti itu.” Jawab Marwah dengan santainya.
Dan percakapan itu pun sampai terdengar oleh ummi lalu ummi pun berusaha melerai percekcokan tersebut.
“Sudah-sudah... Ummi tidak masalah kok Marwah tidak bisa bantu Ummi asalkan nanti jika kalian sudah berumah tangga Marwah harus bisa mengurusi suami, anak dan pekerjaan rumah tangga dengan baik.” Ucap ummi.
Marwah dan Faiz pun seketika terdiam tidak beradu argumen lagi.
“Ya sudah kamu boleh kembali ke kamar nak.” Sahut Ummi pada Marwah.
Dan Marwah pun lekas berlalu dari hadapan Faiz dan ummi.
“Tapi ummi, Faiz perhatikan bukan hanya setelah makan malam saja Marwah seperti itu, tapi jika pagi hari pun Marwah selalu bangun siang karna setelah Shalat subuhnya dia tidur kembali dan tidak sempat membantu ummi beres-beres rumah tidak seperti Alinka.” Adu Faiz kepada umminya.
“Tak apa nak, karna perubahan seseorang akan mengikuti seiring berjalannya waktu.” Jawab Ummi mencoba menenangkan Faiz.
“Tapi Faiz tidak suka jika dia hanya bisa ongkang-ongkang kaki sedangkan ummi dan Alinka sibuk berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga.” Ucap Faiz.
“Bukannya kita sudah terbiasa kan nak, ummi dan Alin memang terlihat sangat kompak dalam urusan rumah tangga tapi jangan kau anggap rendah Marwah juga gara-gara dia terlihat seperti anak manja.” Jawab ummi tetap dengan kelembutannya.
“Memang anak manja kok ummi.” Dumel Faiz sambil berlalu dari hadapan ummi.
Ummi pun hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil melihat sikap Faiz.
Keesokan harinya Faiz pun berniat mencoba Marwah menyuruh membuatkan makanan favorit untuknya.
“Pagi Marwah,” Sahut Faiz ketika Marwah lewat di hadapannya.
“Pagi mas, ayo kita ke meja makan bersama.” Jawab Marwah sambil mengajaknya dan Faiz pun mempersilahkan Marwah berjalan lebih dulu di depannya.
“Oh ya, aku mau dong sesekali di buat in apa gitu makanan penutup khas bikinanmu sendiri.” Ucap Faiz ketika mereka telah duduk di meja makan.
Raut muka Marwah pun seketika berubah menjadi gugup dan bingung.
__ADS_1
“Kenapa harus aku yang bikin deh mas kan ada bi Minah.” Jawab Marwah mengelak.
“Kan yang akan menjadi istriku nanti kamu bukan bi Minah.” Sahut Faiz menegaskan.
Lalu Marwah pun seketika terdiam dia pun langsung mendekati Alinka untuk bertanya apa makanan penutup kesukaan Faiz.
“Gimana Lin, Faiz memintaku membuatkan sesuatu untuknya? Memang apa makanan penutup favorit Faiz?” tanya dia pada Alinka.
“Simpel kok kak, kak Faiz sangat suka waffle yang hanya di guyur madu dan gula halus di atasnya.” Jawab Alinka sambil tersenyum.
“Gimana cara bikinnya?” tanya Marwah kembali.
“Nanti aku kasih tau resepnya ya kak.” Jawab Alinka ramah.
Setelah makan pagi Marwah pun bersiap untuk membuat waffle tersebut.
Setelah Alinka menyiapkan bahan-bahannya Marwah hanya tinggal mencampurkan semua bahan tersebut untuk menjadi adonan.
“Tapi aku jijik buat adonannya nanti tangan aku lengket kena gula dan telur.” Sahutnya sambil terlihat sangat terpaksa.
“Ya gak papa kak nanti kan bisa cuci tangan,” jawab Alinka.
“Tapi kan telur baunya amis gak akan hilang kalo kena tangan.” Sahut Marwah rewel.
“Ada sabun cuci tangan kak tenang saja.” Jawab Alinka.
“Gak mau pokoknya kamu yang harus membuatkan adonannya nanti aku tinggal masak waffle nya saja.” Ucap Marwah ngeyel.
“Ya sudah Alin buatkan dulu adonannya ya.” Jawab Alinka.
Lalu Alinka pun membuat adonan waffle nya dengan baik.
“Nih kak, tinggal masukin adonannya ke cetakan lalu tunggu sampe matang jangan lupa di bolak-balik ya nanti gosong. “ Sahut Alinka sambil memberikan hasil adonannya.
“Oke.” Jawab Marwah.
Ketika dia memegang gagang cetakannya dengan tidak hati-hati lalu..
“Aw... Panas...!!! Tanganku melepuh.” Teriaknya ke sakitan.
Alinka pun dengan sigap memeriksa tangan Marwah yang terlihat baik-baik saja Cuma hanya terlihat sedikit merah gara-gara kena panas.
“Gak papa kak, ini Cuma merah nanti aku kasih salep pereda panasnya ya.” Ucap Alinka sambil memegang tangannya.
“Gak papa gimana orang tangan aku melepuh.” Teriak Marwah kesal.
Dan kegaduhan itu pun sampai terdengar oleh ummi dan Faiz.
“Ada apa ini, sedang apa kalian berdua?” tanya Ummi yang terlihat panik mendengar kegaduhan tersebut.
“Ada apa Lin, kenapa Marwah?” tanya Faiz.
“Mas, mas ini tangan aku melepuh, tadi Alin suruh aku pegang cetakannya dan ternyata itu panas.” Adu Marwah pada Faiz.
“Mana ummi lihat tangannya nak,” ucap ummi sambil memegang tangan Marwah.
“Enggak kok mi, kak, Alin pegang gagang cetakannya udah biasa jadi gak terasa panas bagi Alin, gak tau kalo kak Marwah akan merasa kepanasan sekali ketika dia memegang cetakan itu.” Jelas Alinka.
“Kamu tau aku gak pernah sama sekali masuk dapur kan.” Teriak Marwah pada Alinka.
“Seharusnya kamu kasih sarung tangan anti panas dong Lin buat Marwah.” Tegur Faiz pada Alinka.
“Iya kak maaf karna Alin gak tau kejadiannya akan jadi seperti ini.” Ucap Alin merasa bersalah.
“Ya sudah kamu kembali ke kamar biar ummi yang akan mengobati tangan kamu.” Ucap Faiz pada Marwah.
“Makasih mas.” Jawab Marwah.
“Dan buat kamu Alin, selesaikan waffle nya.” Perintah Faiz pada Alinka.
“Iya baik kak.” Jawab Alin terlihat sedih.
Di kamar ummi pun mengobati tangan Marwah yang hanya Cuma merah saja,
“Ini Cuma merah kok sayang gak sampe melepuh, tapi mungkin buatmu ini sangat sakit ya?” ucap ummi memanjakan Marwah.
“Iya ummi, soalnya Marwah belum pernah sama sekali ke dapur dan mami pun tidak pernah menyuruh apa-apa pada Marwah karna di rumah kami sudah banyak asisten rumah tangga.” Jawab Marwah merasa jadi anak kesayangan ummi karna perlakuan ummi padanya.
Ummi pun hanya tersenyum kecil mendengar penjelasannya sambil menggosokkan salep anti luka bakar.
__ADS_1