
Satu bulan berlalu, akhirnya berkas-berkas yang selama ini Alinka tunggu telah Alinka genggam dan saatnya Alinka berkemas pulang sekalian menghadiri acara pernikahan kak Faiz kakak angkatnya.
Di samping itu Alinka juga telah menyiapkan kado istimewa untuk kak Faiz 2 sekaligus, karna saat wisuda Alinka lupa memberinya sesuatu.
"Alin semua keperluan mu untuk pulang ke indonesia sudah baba urus, minggu depan kita go to indonesia!!!" Sahut Shema bersemangat.
"Makasih ya Shema, kamu dan keluarga mu selalu membantuku, dan ucapkan rasa terimakasihku juga pada wan Aziz sudah rela berkorban apa aja selama aku di sini." Ucap Alinka haru.
"Tak masalah sahabatku, untuk mu kami rela lakukan apa saja asal kau bahagia dan itu yang terbaik untuk mu." Jawab Shema sambil memeluk Alinka.
"Sebentar lagi aku akan bertemu bang Husna kembali." Ucap Shema kembali terlihat bahagia.
"Shema, kamu dan bang Husna?" Tanya Alin heran.
"Gak kok Alin, dulu kan kata bang Husna dia akan tunggu aku di indonesia.. emh jadi gak sabar rasanya!!!" Sahut Shema bahagia.
"Kamu suka ya sama bang Husna?" Tanya Alinka curiga.
"Apa sih Alin, enggak kok." Jawab Shema tersipu malu.
"Iya juga gak papa kok, aku senang kalo kamu mau jadi kakak ipar ku!!!" Sahut Alinka sambil memeluk erat Shema.
"Emh... Alin, kamu setuju kalo aku sama bang Husna?" Tanya Shema.
"Tentu saja...!!!" Teriak Alin bersemangat lalu memeluk Shema kembali.
"Makasih Alin!!!" Sahut Shema bahagia.
"Lusa kita tinggal di rumahku saja oke, karena semakin mendekati hari keberangkatan kita ke indonesia kita harus benar-benar packing di sana, supaya tidak ada yang kurang suatu apa pun." Ucap Shema memberiku saran.
"Baiklah Shema aku ikut kata kamu aja." Jawab Alinka.
"Menunggu satu minggu terasa lama ya, tak sabar rasanya pengen cepet terbang ke indonesia." Sahut Shema sambil berangan.
Alinka hanya tersenyum melihat gelagat sahabatnya itu.
***
Keesokan harinya Alinka dan Shema pun pergi dan tinggal di rumah wan Aziz, ya rumah orang tua Shema sendiri.
Saat pamit pada ibu asrama pu menjadi moment terharu bagi Alinka.
"Assalamu'alaikum.." ucap Alinka sambil mengetuk pintu rumah ibu asrama.
"Wa'alaikumussalam." Jawabnya sambil membuka kan pintu.
"Eh Alinka, jadi pulang hari ini?" Tanya ibu asrama ramah.
"Tidak bu, kebetulan saya mau ke rumah Shema dan berangkat pulang dari sana saja." Jawab Alinka
"Oh begitu, kalo gitu maafin ibu selama ini jika ada salah prilaku bahkan ucapan ya, dan semoga ilmu yang sudah kamu peroleh di sini bisa bermanfaat di negara mu sendiri, semoga kamu bisa menjalankan amanat orang tua mu menjadi penerus mereka, ibu yakin kamu akan menjadi ulama besar dan berpengaruh di tempat tinggalmu, selamat jalan jangan lupakan ibu, kapan-kapan main lagi ke sini setelah punya suami dan anak bawa ke sini, biar ibu mengenalnya juga." Ucap ibu asrama panjang lebar.
"InsyaAllah bu, makasih atas doa-doanya, semoga kita bisa berjumpa kembali." Jawab Alinka sambil memeluk ibu asrama dan tidak sadar air matanya pun hampir menetes.
"Hati-hati di jalan anak baik, sholihah, kamu pasti dapat suami yang lebih baik dari apa pun dan siapa pun." Sahut ibu asrama sambil mengusap wajah Alinka.
Setelah percakapan itu dengan memakai bahasa setempat, Alinka pun pamit dan berlalu pergi.
"Sedih ya ternyata mau tinggalin tempat ini, meski ini bukan tempat kelahiranku tapi berat rasanya untuk meninggalkan." Ucap Alinka sambil tertunduk merasakan kesedihan yang mendalam.
Shema pun memeluknya bermaksud agar perasaan Alinka sedikit lebih nyaman.
"Dan sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan kota sekaligus negara ini, CAIRO MESIR sampai jumpa di kemudian hari, sungguh kenangan di sini akan menjadi kenangan terindah pada masa-masa aku meraih cita-cita ku." Sahut Alinka kembali sembari memandangi tempat di sekelilingnya.
__ADS_1
Lalu mereka pun pergi menuju rumah Shema.
Sesampainya di rumah Shema, Alinka pun menaruh koper dan semua barang bawaannya di kamar Shema yang sengaja di sediakan untuknya.
"Gak papa nih aku taruh semua barang-barang ku di sini?" Tanya Alinka gak enak.
"Yaelah Alin masih aja canggung, anggap aja kamar sendiri, rumah sendiri, gak usah gitu ah." Jawab Shema sambil membantu membawakan barang-barang Alinka.
"Makasih ya Shema." Ucap Alinka.
"Iya sahabat ku." Jawab Shema sambil mencubit pipi Alinka.
"Eh besok kita ke kampus yuk!" Ajak Shema.
"Ngapain?" Tanya Alin merasa bingung.
"Kita pamit sama semua dosen dan adik-adik tingkat kita, kamu kan mau pulang kampung masa gak pamitan dulu." Jelas Shema sambil merapikan barang-barang Alin.
"Sebenarnya aku udah pamit pada dosen pas aku menyelesaikan dan mengambil dokumen dan berkas-berkas penting waktu itu." Ucap Alinka.
"Tapi hanya sebagiankan?" Sahut Shema.
"Iya sih..." jawab Alinka.
"Aku maunya kita keliling kampus untuk berpamitan dan berharu-haru ria lagi, seperti pas kamu pamit sama ibu asrama." Ucap Shema.
"Kalo itu mau mu, yaudah aku setuju." Jawab Alinka.
"Oke besok kita langsung gas ke sana!!!" Sahut Shema bersemangat.
***
Keesokan harinya, Shema pun mewujudkan apa yang dia ucapkan, dia membawa Alinka ke kampus untuk berpamitan pada semua dosen terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum...?" Ucap Shema tepat depan pintu ruang dosen.
"Ya, karna di sinilah tempat semua dosen pasti berkumpul." Jawab Shema.
"Wa'alaikumussalam.. iya silahkan masuk!" Jawab salah seorang dari dalam ruangan.
"Pagi ustadzah?" Sapa Shema.
"Shema? Ada keperluan apa kalian di sini?" Tanya salah satu dosen yang mengajar di kelas mereka.
"Bukan kah kalian sudah lulus?" Tanya dosen lainya.
"Begini, maksud kedatangan saya ke sini, saya hanya mau berpamitan kepada semua dosen di universitas ini, terimakasih selama ini sudah membimbing kami dengan penuh kesabaran, kebetulan teman saya Alinka besok akan kembali ke tanah airnya Indonesia, jadi sebelum dia pulang alangkah baiknya kami ingin perpisahan dulu pada ustadzah semua." Ucap Shema.
Dan Alinka hanya bisa tertunduk malu.
"MasyaAllah, sini peluk kami!" Sahut para ustadzah yang berada di ruangan itu.
Akhirnya mereka pun saling berpelukan dan memberikan sepatah dua patah kata.
"Sebelum kamu pulang, kami tidak bisa memberi kamu apa-apa selain doa dan nasehat, semoga ilmu yang telah kami berikan pada mu bermanfaat di kampung halamanmu kelak jadilah guru yang bijaksana bahkan ustadzah yang bisa menjadi teladan untuk semua, pergilah kami di sini akan selalu mendoakan untuk kebaikanmu dan ingat jangan pernah lupakan kami, kelak kamu punya anak bisa menimba ilmu di sini lagi maka garis keturunan mu tidak akan pernah putus dari tempat ini." Ucap para ustadzah yang sangat mengasihi Alinka termasuk ustadzah Laila yang sempat merasa tidak suka padanya.
"Maafkan ustadzah yang sempat merasa tidak suka pada mu, ini ada sebuah cindra mata untuk mu dan bisa menjadi kenang-kenangan bagimu dari ku." Ucap ustadzah Laila sambil memberikan sebuah bingkisan kepada Alinka.
"Syukron katsiron ustadzah." Sahut Alinka sambil mencium tangannya.
Ustadzah Laila pun mengelus kepala Alinka dengan penuh kelembutan.
"Shema mau ikut juga ke indonesia?" Tanya salah satu ustadzah.
__ADS_1
"InsyaAllah ikut, kebetulan kakak Alinka akan menikah minggu depan dan kebetulan juga saya di undang." Jawab Shema.
"Oh.. yasudah semoga kalian selamat sampai tujuan ya, salam pada kedua orang tua mu di indonesia." Ucap para ustadzah pada Shema dan Alinka.
"InsyaAllah ustadzah akan saya sampaikan, kalo gitu kami pamit dulu." Jawab Shema dan Alinka.
Lalu mereka pun pergi dan melanjutkan langakahnya ke kelas yang sedang ramai para mahasiswi.
"Assalamu'alaikum?" Sahut Shema memecah keramaian mereka.
"Kak Shema, kak Alin...!!!" Sahut para adik tingkat mereka.
"Kak Alin bukannya yang kemarin dapat gelar cumlaude ya?" Bisik salah satu dari mereka.
"Iya." Jawab temannya.
"Ternyata orangnya sama-sama cantik pas waktu make up an sama berpenampilan natural." Lanjut dia.
"Lah emang dia cantik, kemana aja lo selama ini." Jawab temannya lagi.
"Kakak ada keperluan apa kesini, bukannya kakak udah lulus ya?" Tanya salah satu adik tingkat mereka.
"Kakak kesini cuma mau pamit sama kalian, besok kakak pulang ke indonesia dan kak Shema juga ikut bareng kak Alin." Ucap Shema.
"Wah kakak, mau ke indonesia? Kalo begitu, selamat jalan ya kak, semoga selamat sampai tujuan." Jawab mereka sambil mengerubuti dan memeluk Shema dan Alinka.
"Kakak gak akan lama, kalo gitu kakak pamit ya, masih banyak urusan yang harus di selesaikan hari ini juga." Ucap Shema kembali.
"Iya kak, hati-hati di jalan ya." Jawab mereka.
Dan sebelum Shema dan Alinka beranjak pergi mereka pun meminta foto bersama untuk sebuah kenangan.
"Seru ya perpisahan hari ini, aku kira bakal mengharu biru ternyata fun fun saja." Sahut Shema sambil fokus mengemudi.
"Karna memang momentnya gak di buat mengharu biru kali makanya suasananya jadi have fun." Jawab Alinka sambil tersenyum.
"Setelah ini kita kemana?" Tanya Shema.
"Pulang aja kamu kan belum packing." Ucap Alinka.
"Oh iya, yaudah cus kita pulang!!!" Sahut Shema bersemangat.
Sesampainya mereka di rumah.
"Sayang semua keperluan keberangkatan kita ke indonesia sudah beres kalian tinggal packing koper masing-masing aja." Sahut ummah Rubya kepada Shema dan Alinka.
"Oh iya umah makasih." Jawab Shema dan Alinka sambil berjalan menuju kamar.
"Oyah ummah, besok kita berangkat jam berapa?" Tanya Shema.
"Oh iya kalian harus siap-siap dari sekarang karna kita akan berangkat pagi dan take of jam 09.00." Jawab ummah Rubya.
"Baiklah ummah." Jawab Shema sambil masuk ke dalam kamar dan segera packing barang bawaannya.
"Shema, aku tak lagi bermimpi kan? Besok aku sudah mau pulang dan gak akan ke sini lagi?" Ucap Alinka berkaca-kaca.
"Kesini dong, kan masih ada aku buat kamu sambangi." Jawab Shema sambil duduk di sebelahnya.
"Kelak jika kamu sudah berkeluarga dan aku pun demikian, nanti keluarga kita akan jalan-jalan bareng lagi macam kita sekarang terus bersama." Ucap Shema sambil menggenggam tangan Alinka.
"Aku serasa belum percaya, kalo tugas ku di sini sudah selesai." Sahut Alinka sendu.
"Meski pun nanti kita akan di pisahkan oleh jarak dan waktu tapi kita akan tetap menjadi sodara kan?" Ucap Shema sambil memeluk Alinka.
__ADS_1
Alinka pun menganggukan kepalanya sambil meneteskan airmata dan Shema pun tidak lantas membiarkan airmata Alinka terjatuh begitu saja, dia mengusap airmata Alinka yang hampir terjatuh.
Malam hari pun tiba, saatnya Alinka dan Shema beristirahat menabung tenaga untuk perjalanan panjang esok hari.