《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
MOVE ON Part1


__ADS_3

MOVE ON


 


Sepulangnya dari acara yang hancur berantakan tersebut, keluarga dan sanak saudara Ustad Fakhry pun berangsur pamit dan pulang, tinggallah beberapa di antaranya yakni keluarga Alinka, calon suami Zainab dan keluarga Shema sebagai sahabat dari Alinka.


 


Tepat di ruang tamu Abi Fakhry, umi Fatimah, Faiz, Zainab dan calon suami serta Alinka beserta keluarganya ikut berkumpul menemani keluarga Abi Fakhry yang sedang di rundung duka.


 


Semua terlihat pucat pasi dan tidak bersemangat, semburat wajah lelah tampak jelas di raut wajah mereka.


 


Abi Fakhry pun seakan melampiaskan kekecewaannya pada Faiz karna masih terbawa emosi.


 


“Jadi sekarang kamu masih mau menuruti kehendakmu sendiri Faiz? Setelah apa yang sudah terjadi padamu sekarang?” sahut Abi Fakhry dengan emosi.


 


“masih mau kamu menolak kehendak yang orang tuamu beri hanya untuk kebaikan dirimu?” sambung tegurannya pada Faiz.


 


“Bukan apa-apa, Abi berniat menjodohkanmu dengan orang pilihan Abi agar kamu terhindar dari yang namanya kekecewaan Faiz, apa kamu tidak mengerti?” lanjut bentak Abi.


 


“Sudah, sudah Abi, Abi sabar dulu. Abi jangan malah terbawa emosi.” Sahut Zainab terlihat mencoba menenangkan Abi.


 


Faiz pun hanya terdiam, terlihat raut muka yang amat kusut nan suram. Terbayang banyaknya gelayut pikiran yang sedang dia pendam.


 


Dan umi hanya terlihat meneteskan air mata meratapi nasib anak sulungnya.


 


“Maaf sebelumnya Abi saya ikut angkat bicara, bukan bermaksud untuk ikut campur, tapi hanya sekedar untuk masukan saja. Ada baiknya Abi dan seluruh anggota keluarga menenangkan pikiran terlebih dahulu, beri waktu untuk Faiz buat hatinya merasa tenang dan setelah keadaan kondusif seperti sediakala, barulah Abi bisa kasih nasihat kembali untuk Faiz dan masukan demi masa depannya.” Ucap Ustad Farid dengan sangat sopan.


 


“Iya Abi karna percuma sekarang Abi melampiaskan kekecewaan Abi pada kak Faiz itu hanya bisa membuat kak Faiz menjadi lebih down.” Sahut Zainab menyambung ucapan calon suaminya.


 


Abi pun hanya menatap Faiz yang terlihat murung dan lesu.


 


Lalu Faiz pun terlihat pergi menuju kamarnya dan menutup rapat pintu dan menguncinya.


 


Raut muka Abi terlihat seakan marah, tapi Zainab dan Ustad Farid merendamnya dengan segera agar kegaduhan tidak terjadi di tengah anggota keluarga.


 


“Sabar Kyai, biarkan Faiz menenangkan dirinya terlebih dahulu dengan menyendiri, mungkin dengan cara itu kepribadiannya akan kembali seperti semula dan baru kita bisa lagi mengambil hatinya.” Ucap Abi Hasan ayah kandung Alinka.


 


Akhirnya kemarahan Abi pun terlihat mereda setelah mendengar kata-kata Abi hasan dan Zainab juga calon suaminya.


 


Alinka terlihat hanya mendekap umi Fatimah yang terkulai lemas di kursi sambil terus menerus meneteskan air matanya.


 


Setelah perdebatan itu, barulah semua kembali ke rumah masing-masing termasuk Alinka dan keluarga.


 


Di sepanjang jalan Alinka teringat akan keadaan kakak angkatnya yang membuat dia terlihat melamun dalam waktu yang sangat lama.


 


“Lin,, Alin!!!” kejut Shema menyadarkan lamunannya.


 


“Eh iya udah sampai ya?” jawab Alinka sambil terkejut.


 


“Perjalanan masih jauh, aku liat dari tadi kamu melamun terus, lagi mikirin Faiz ya?” tanya Shema.


 


“Kamu jangan terbawa suasana Lin, yang ada kita semua bisa ikutan down kalo semua ikut kepikiran dan merasa sakit.” Ucap Shema.


 


Alinka pun hanya terlihat menghela napas yang sangat panjang.


 


“Oyah lusa aku kembali ke Kairo, sekarang baba udah mengurus kepulangan kita.” Sahut Shema.


 


“Lusa? Gak bisa nambah satu minggu lagi kah Shema?” tanya Alinka merasa sedih.


 


“Maaf gak bisa Alin, kerajaan baba udah menunggu di sana.” Jawab Shema sambil terus fokus mengemudi.


 


“Aku masih mau bareng kamu.” Ucap Alinka dengan mata yang berkaca-kaca.


 


“Nanti kita ketemu lagi kan di titik terbaik menurut Allah.” Jawab Shema sambil tersenyum manis.


 


Lalu mereka pun saling berpelukan.


 


Sesampainya di rumah Alinka, mereka pun segera beristirahat karna besok mungkin hari terakhir Alinka bisa bersama Shema.


 


Di malam yang begitu sunyi Alinka menatap wajah Shema yang sudah terlelap, seakan enggan untuk berpisah hatinya sangat berat melepas dia pulang.


 


“Selamat tidur Shema, beristirahatlah, mimpi indah, kelak kita akan berkumpul kembali di titik terbaik menurut Allah.” Bisik Alinka sambil mengecup keningnya.


 


Embun pagi menyebar di setiap penjuru alam semesta kesejukannya kini mulai terasa, kilauannya mbak intan permata terkena sinar mentari yang memancar keindahan cahayanya.


 


“Selamat pagi Shema, gimana tidurmu malam ini?” Tanya Alinka yang biasa terbangun lebih dulu untuk membantu ibu menyiapkan hidangan di pagi hari.


 


“Nyenyak sekali Alin, mungkin efek kemarin perjalanan terlalu lelah sampai menguras semua tenaga.” Jawab Shema sambil sesekali masih terlihat menguap dan menggeliat kan badannya.


 


“Iya aku juga liat kamu semalam begitu pulas, sampai tak tega aku untuk berniat menjahilimu dulu.” Sahut Alinka sambil menahan senyumnya.


 


“Dasar ratu jahil kau, kalo udah kumat gak ada yang lebih jahil di banding kamu Alin.” Jawab Shema membalas candaanya.


 


“Oyah.. Hari ini kamu mau aku antar ke mana?” Tanya Alinka sambil sibuk merapikan semua hidangan di meja makan.


 


“Ke mana saja kita cari tempat foto yang aesthetic seperti biasa.” Jawab Shema bersemangat.


 

__ADS_1


“Oh.. ya sudah nanti aku ajak kamu ke suatu tempat.” Ucap Alinka.


 


Tepat pukul 07.00 pagi, keluarga Alinka beserta keluarga Shema pun menikmati sarapan pagi bersama sebelum mereka melakukan aktivitas masing-masing di hari ini.


 


Alinka dan Shema bermaksud mencari spot foto yang bagus di kampung halaman Alinka, sedangkan wan Aziz ikut Abi untuk menengok kebun dan sawah, di samping itu pula Ummah Rubya belajar masak masakan Khas sunda. Begitulah aktivitas mereka sebelum kepulangan Shema dan keluarga esok hari untuk kembali ke negaranya.


 


“Ayo Alin, aku sudah tidak sabar menyusuri tempat baru di daerahmu ini.” Sahut Shema sambil bersiap di depan rumah.


 


“Tunggu Shema, kamu yakin kamu kuat, kita jalan lumayan jauh melewati perkampungan dan bukit.” Jawab Alinka.


 


“Alin, bukankah kita di asrama terbiasa berangkat kuliah jalan kaki, itu sama aja dengan sekarang.” Ucap Shema dengan begitu yakinnya sambil menggandeng tangan Alinka dan menyeretnya untuk melangkah.


 


“Tap.. tapi Shema...!!!” ucapan Alinka pun terputus karna Shema terburu mengajaknya berjalan.


 


“Nanti kalo cape bilang yah!” ucap Alinka setelah mereka memulai perjalanan.


 


“Oke!” jawab Shema yang terus fokus pada titik jalan yang akan dia pijak.


 


“Ngomong-ngomong kita mau cari tempat foto di mana?” tanya Shema penasaran.


 


“Bukit..!!!” jawab Alinka dengan begitu semangatnya.


 


“Hah... bukit? Gak sekalian gunung aja?” sahut Shema.


 


“Ayok kalo mau!” jawab Alinka makin bersemangat.


 


“Memang ada?” tanya Shema ragu.


 


“Ada banyaaakk,,!!!” Sahut Alinka sambil membentangkan tangannya.


 


“Hem... lain kali deh Alin besok kan aku segera pulang jadi gak akan ada waktu lagi.” Jawab Shema murung.


 


“Iya... tapi janji ya, kapan-kapan main kesini lagi, nginep yang lebih lamaaa..!!!” sahut Alinka lalu memeluk Shema.


 


“InsyaAllah ya Alin.” Jawab Shema memeluk balik Alinka.


 


Sesampainya di tempat tujuan,,


 


“MasyaAllah.. Alin..!!!” sahut Shema dengan pandangan yang terpaku.


 


“Indah kan Shema?” tanya Alinka sambil menunjukkan suasana di sekitarnya.


 


Hamparan lembah yang tertutup rumput nan hijau persis terlihat seperti sebuah lapangan dengan di tutupi oleh rumput-rumput kecil nan halus, tak lupa pula terlihat kabut putih yang menyerupai kapas nan halus dengan di sempurnakan pancaran sinar matahari pagi.


 


 


“Tidak sia-sia kita tadi melewati medan yang agak nanjak-nanjak, sedikit terjal tapi terbayarkan oleh semua keindahan ini.” Sahut Alinka.


 


“Iya benar.” Jawab Shema.


 


“Kamu sering ke sini Lin?” tanya Shema?


 


“Jujur aku juga baru pertama kali sih datang ke sini.” Jawab Alinka sambil membungkam mulutnya.


 


“Lah kenapa?” tanya Shema.


 


“Aku anak rumahan Shema yang sangat jarang keluar rumah meski hanya sekedar cuci mata.” Jawab Alinka sedikit geli.


 


“Sekarang jadi anak petualang yah bersamaku.” Sahut Shema.


 


Lalu mereka pun tersenyum lalu memulai pemotretannya.


 


Setelah puas mengambil gambar mereka pun segera kembali ke rumah lalu melihat hasil tangkapan gambarnya tersebut.


 


“Pandai juga kamu mengambil gambar ya Lin, cocok nih buat jadi photografer.” Sahut Shema setelah mereka tiba di rumah.


 


“Mungkin hanya kebetulan saja Shema.” Jawab Alinka merendah.


 


“Tapi ini asli bagus.” Ucap Shema sambil terus menatap layar kamera kesayangannya.


 


“Karna mungkin kamu juga pandai dalam berpose Shema jadi paduan yang sangat cocok.” Jawab Alinka sambil ikutan melihat layar kameranya.


 


“Kemana-mana kita memang cocok Lin, maka dari itu, kita jangan sampai terpisahkan.” Sahut Shema lalu memeluk erat Alinka.


 


Satu hari pun berlalu, tiba saatnya kunjungan Shema ke tempat Alinka berakhir, kini dia harus kembali pulang untuk melanjutkan kehidupannya di sana.


 


Alinka pun turut serta mengantar kepulangan Shema sampai bandara, betapa beratnya hati Alinka saat dia harus melepas seorang sahabatnya pergi jauh dari sisinya.


 


Suasana haru pun sudah tidak bisa terbendung kembali, kala Alinka melihat sahabatnya berlalu pergi meninggalkan dirinya. Tapi Shema berjanji, jika suatu saat nanti mereka akan di persatukan kembali.


 


Shema telah kembali ke negeri asalnya, kini saatnya Alinka menata kehidupan baru di kampung halamannya, dia berniat akan membangun sebuah yayasan kecil serta melanjutkan dakwahnya yang dahulu sempat tertunda.


 


Setelah perjuangan dan proses dia tempuh seorang diri akhirnya Alinka pun bisa mewujudkan cita-citanya untuk membangunkan sebuah pondok pesantren untuk Abi kandung tercinta. Meski terbilang masih sangat kecil dan sederhana tapi Alhamdulillah Alinka sudah mempunyai santri yang dia didik sendiri, memang sesekali Abinya ikut turun tangan untuk sekedar membantu menjadi pendidik tambahan.


 


Di samping keberhasilan Alinka membangun sebuah pondok pesantren untuk Abinya, di sisi lain Faiz sudah tidak terdengar kabarnya, bahkan Alinka dan Faiz sudah tidak saling menghubungi karena kesibukan barunya masing-masing.

__ADS_1


 


Setelah kegagalan yang pernah Faiz alami dan keterpurukan yang Faiz rasakan, akhirnya Faiz bisa bangkit kembali dan sempat di beri amanat untuk mengambil alih tugas utamanya sebagai pewaris tunggal atas pondok pesantren milik Abinya. Faiz sempat memegang kewajiban di yayasan tersebut sebagai pemilik utama tapi hanya bertahan sampai beberapa bulan saja, setelah Faiz mendapat panggilan kerja sebagai dosen di salah satu universitas yang berada di Madinah, Faiz pun lantas menjalankan tugasnya dan pergi lalu menetap untuk sementara waktu di sana. Lama waktu pengabdian Faiz di Madinah selama 3 tahun dan selama itu pula Abi Fakhry selalu berusaha menawarkan masa depan untuk Faiz yakni dengan selalu menjodoh kan Faiz dengan anak-anak kenalan Abi sendiri yang telah Abi percayai dengan sepenuh hati. Namun lagi-lagi Faiz pun menolak dengan Alasan ingin fokus mengabdikan dirinya di tempat kerjanya tersebut. Sampai-sampai Abi dan umi pun khawatir dan umi jatuh sakit.


 


Mendengar kabar bahwa umi jatuh sakit pun sampai ke telinga Alinka dan segera lah dia menengok keadaan ibu angkatnya tersebut.


 


Dengan di antar oleh bang Hasan dengan mengendarai sepeda motor sederhananya, Alinka pun sampai di kediaman Ustad Fakhry yang saat itu terlihat amat sepi.


 


Saat Alinka memasuki gerbang rumah dan mencoba mengucapkan salam, tidak ada satu orang pun yang menjawab salamnya tersebut.


 


Perasaan Alinka semakin di hantui rasa takut dan khawatir akan keadaan ibu angkatnya, tiba-tiba ada seorang anak santri yang menghampiri dirinya lalu bertanya,


 


“Assalamualaikum... Kak Alin yah?” tanya anak santri tersebut.


 


“Wa’alaikumussalam... iya, ngomong-ngomong keadaan kok sangat sepi, Abi dan umi sedang tidak berada di rumah?” jawab Alinka lalu balik bertanya kembali pada anak santri tersebut.


 


“Maaf kak, kalo Abi seperti biasa beliau sedang berdakwah keluar kota, di rumah hanya ada umi tapi beliau sedang tidak enak badan.” Jawab anak itu.


 


“Oh seperti itu, tapi keadaan umi tidak kenapa-napa kan?” lanjut tanya Alinka.


 


“Sebaiknya kakak lihat saja sendiri keadaan umi, sebentar saya buka kan pintunya dulu.” Sahut anak itu lalu dia pun pergi menuju pintu belakang rumah dan pintu depan pun terbuka lebar. Akhirnya Alinka dan bang Husna di perbolehkan masuk oleh santri itu.


 


Tidak ingin buang waktu lama, Alinka pun segera menuju kamar umi dan memanggilnya dari luar.


 


“Assalamualaikum... umi, umi, ini Alin...!!!” sahut Alinka sambil tergesa.


 


Lalu Alinka pun membuka pintu kamar umi dan terlihat umi sedang berbaring di atas kasur. Segera lah Alinka menghampiri umi yang sedang terbaring di atas kasurnya.


 


“Umi...!!!” sahut Alinka.


 


Lalu umi pun menengok ke arah Alinka dan,


 


“Alin... itu kamu nak? Umi sangat rindu...!!!” sahut umi sambil membentangkan tangannya.


 


Segera lah Alin merangkul dan memeluk umi.


 


“Alin juga rindu umi, maaf Alin baru sempat nengokin umi kesini.” Jawab Alinka sambil meneteskan air mata.


 


“Selama ini kamu Kemana saja nak? Setelah kegagalan pernikahan Faiz seakan semua hilang tanpa kabar.” Ucap umi sambil mengelus kepala Alinka.


 


“Alinka sibuk dengan urusan pembangunan yayasan Alinka umi dan sekarang Alhamdulillah yayasan itu telah berdiri meski terbilang masih sangat sederhana.” Jawab Alinka.


 


“MasyaAllah.. Alhamdulillah nak, sekarang kamu telah mempunyai yayasan sendiri?” tanya umi terkejut mendengar semua cerita Alinka.


 


“Iya umi Alhamdulillah, oh iya umi, Zainab dan adik-adik yang lain pada Kemana? Tumben kok rumah sepi, lalu kak Faiz?” tanya Alinka penasaran.


 


“Zainab sekarang sudah kerja di salah satu kantor yang dia idam-idam kan dari dulu, sedangkan adik-adikmu yang lain mereka masih pada sekolah pulangnya pasti selalu sore menjelang magrib.” Jawab umi.


 


“Lalu kak Faiz, dia sudah tidak tinggal di sini.” Sambung cerita umi.


 


“Maksud umi?” tanya Alinka penasaran.


 


“Kak Faiz sekarang kerja di Madinah sebagai dosen, dia berangkat setelah satu bulan peristiwa itu, Faiz juga malah sempat megang yayasan milik Abi ini untuk dia kelola sendiri, tapi mungkin jika Faiz selalu ada di sini, dia akan selalu teringat akan kenangan buruk itu. Maka dari itu Faiz memutuskan tinggal di Madinah sambil menenangkan diri.” Jelas umi panjang lebar.


 


“Terus kenapa umi bisa sampe jatuh sakit seperti ini? Pasti lagi ada suatu hal yang lagi umi pikirkan?” tanya Alinka khawatir.


 


“Umi khawatir akan masa depan Faiz, berkali-kali Abinya berusaha menjodohkannya dengan orang pilihan Abi tapi Faiz selalu menolak, Faiz juga tak kunjung terlihat dekat dengan akhwat mana pun, sedangkan keinginan umi dan Abi Faiz segera menikah karna Ustad Farid mau segera menikahi Zainab dekat-dekat waktu ini. Meski Faiz telah ikhlas kalo Zainab melangkahi dia tapi Zainab tetap tidak mau melangkahinya jadi ini yang membuat umi dan Abi bingung.” Cerita umi dengan terisak.


 


Alinka pun turut merenung dan memikirkan jalan keluar.


 


 “Lalu kak Faiz sampe kapan kerja di Madinah umi?” tanya Alinka.


 


“Masa pengabdian yang Faiz ambil adalah 3 tahun setelah itu baru dia bisa kembali ke tanah air, tapi jika cara kerjanya di sukai sang pemilik yayasan bisa jadi Faiz di minta menetap di sana untuk selamanya.” Jawab umi.


 


Alinka tambah pusing memikirkannya gimana caranya dia bantu Faiz mendapatkan jodoh sedangkan dia sekarang sudah tidak berhubungan satu sama lain.


 


“Ya sudah umi sekarang tenang, jodoh, maut dan rezeki seseorang sudah di atur oleh Allah, tugas kita hanya mengikuti skenario kehidupannya saja. Umi jangan ambil pusing nanti umi tambah sakit.” Ucap Alinka berusaha membuat tenang umi.


 


“Kalo kamu bisa tinggal lagi di sini umi pasti tidak akan seperti ini.” Sahut umi.


 


“Tapi maaf umi, sekarang Alin sudah mempunyai tanggung jawab baru atas pondok pesantren yang baru saja Alin bangun. Tapi Alin janji Alin akan sering-sering nengokin umi ya.” Ucap Alinka berusaha menghibur hati umi.


 


“Oyah, nanti umi bicara in tentang yayasan baru kamu pada Abi, barangkali ada teman-teman Abi yang bisa menjadi donatur tetap untuk yayasanmu itu.” Sahut umi


 


“Iya terima kasih umi sebelumnya.” Jawab Alinka.


 


Setelah beberapa saat saling melepas rindu, tiba saatnya Alinka harus kembali pulang. Karna jarak antara rumah Alinka dan kediaman Ustad Fakhry sangat lah jauh butuh waktu seharian untuk menempuh perjalanan kembali pulang. Maka dari itu Alinka tidak bisa menunggu sampe Abi pulang berdakwah, karna biasanya Abi pulang berdakwah bisa sampe malam hari baru sampe rumah. Jadi Alinka memutuskan untuk pulang lebih awal.


 


“Umi.. Alin gak bisa nunggu Abi sampe pulang, Alin harus cepat kembali ke rumah, karna mungkin anak-anak santri sudah menunggu Alin di sana jadi sekarang Alin mau pamit izin pulang.” Sahut Alinka dengan berat hati.


 


“Umi masih sangat rindu nak.” Ucap umi sambil mencium Alinka.


 


“Alin juga umi, tapi mau bagaimana lagi.” Sahut Alinka lalu mereka pun berpelukan.


 


Pada akhirnya umi pun mengizinkan Alinka pulang dan sampai di rumah dengan selamat.

__ADS_1


 


 


__ADS_2