
Seminggu setelah acara khitbah itu, barulah Faiz berangkat kembali ke Madinah untuk bekerja beberapa minggu dan sisanya dia akan meminta izin karna dia akan menikah. Setelah menikah rencana Faiz ingin memboyong Alinka ke Madinah agar Faiz dan Alinka tidak terhalang oleh jarak kembali dan tinggal bersama di sana sampai habis kerja kontrak Faiz. Semua rencana kehidupan setelah menikah telah tertata rapi di benak Faiz sendiri.
Pagi itu Alinka pun berangkat dari rumahnya menuju bandara berniat untuk mengantarkan Faiz yang akan kembali ke Madinah, sejujurnya dia begitu berat melepas kepergian Faiz tapi apa boleh buat itu semua harus mereka lewati terlebih dahulu demi berlangsungnya kebahagiaan setelah menikah kelak.
“Bi, ayo semuanya udah siap kan?” sahut Alinka sambil bersiap-siap memasuki mobil.
“Sudah-sudah nak, ayo, Bu cepetan Bu masuk anak kita buru-buru nih.” Panggil abi pada ibu Alinka.
“Iya ini ibu sudah siap kok,” jawab ibu keluar dari rumah lalu mengunci pintu. Secara semua anggota keluarga ikut mengantarkan kepergian Faiz ke Madinah kecuali abang yang sibuk bekerja dan para santri Alinka titipkan pada orang kepercayaannya Ustad Amar untuk mengurus semua.
“Maaf ya Bu kalo kak Faiz berangkatnya bukan jam 09.00 Alin tidak akan terburu-buru seperti ini.” Ucap Alinka.
“Iya gak papa nak, ayo Bi berangkat saja nanti kita malah kesiangan.” Sahut ibu pada abi Hasan lalu supir pun mulai menjalankan mobilnya menuju bandara.
Beberapa jam perjalanan, Alinka dan keluarga barulah sampai di bandara, karna jarak dari kampung Alinka sendiri sangat jauh beda dengan jarak dari rumah Faiz ke bandara cukup dekat.
“Assalamualaikum... Ummi, Abi maaf Alin terlambat ya.” Sahut Alinka ketika baru saja sampai di sana.
“Gak terlambat kok, masih lama sayang.” Jawab Ummi Fatimah.
“Kak Faiz mana Mi?” tanya Alinka penasaran yang sedari tadi tidak melihat sosok Faiz.
“Faiz sedang ke toilet nak, kenapa kangen ya?” tanya ummi sambil menggoda Alinka.
“Bukan begitu ummi soalnya dari tadi kak Faiz gak kelihatan.” Jawab Alinka tersipu malu.
“Siapa yang nanyain kak Faiz nih? Dari tadi nama kak Faiz di sebut-sebut mulu sampe panas ni kuping kakak.” Sahut Faiz yang tiba-tiba ada di belakang Alinka.
“Astagfirullah... kakak, bikin orang kaget saja.” Kejut Alinka sampai salah tingkah.
“Bikin kaget apa bikin kangen nih?” goda Faiz.
“Gak tau ah,” Jawab Alinka sambil menunduk.
“Maaf ya, dari semenjak saat ini kamu kakak tinggal dulu, ini semua demi 3 bulan ke depan kok, kamu janji ya selalu jaga ikatan yang telah melingkar di jari manis kita.” Ucap Faiz dengan begitu lembut pada Alinka sampai-sampai Alinka tidak sanggup untuk menatap matanya.
“InsyaAllah kak, Alin akan jaga ikatan ini sampai kakak pulang kembali dan berucap “Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha bil Mahril Madzkur Haalan…” Jawab Alinka tersipu malu.
“InsyaAllah tunggu kakak sampai kakak pulang kembali ya.” Ucap Faiz sambil tersenyum kepada Alinka yang terus menundukkan kepalanya.
Alinka pun hanya mengangguk dan tersenyum tipis pula.
“Kak..?” sahut Alinka.
“Iya ada apa?” jawab Faiz.
“Ini bawalah bersama kakak, agar kakak selalu ingat Allah, aku dan ikatan kita.” Ucap Alinka sambil memberikan sebuah bingkisan kecil di tangannya.
“Apa ini?” tanya Faiz.
“Nanti juga di sana kakak tau, jangan lupa di pake ya kak.” Pesan Alinka.
“Syukron.” Jawab Faiz sambil menerima barang tersebut dan tersenyum bahagia.
Alinka pun menjawab rasa terima kasih Faiz dengan sebuah senyuman.
Tidak lama kemudian saatnya Faiz pun lepas landas dari Indonesia menuju Madinah dan Alinka pun sedikit meneteskan air mata ketika ia berlalu dari hadapannya.
“Ayo nak sekarang kita pulang.” Sahut ibu menyadarkannya dari lamunan.
“Iya ayo Bu, lagian kerjaan Alin di pondok sudah sangat menumpuk, akhir-akhir ini Alin sibuk pada acara khitbah Alin dan anak-anak santri hanya di pegang oleh Ustad Amar.” Jawab Alinka.
“Kamu gak mau tinggal di rumah ummi untuk sementara waktu nak?” tanya Ummi Fatimah seraya mengajak Alin untuk tinggal di rumahnya kembali.
“Tidak dulu Ummi terima kasih, Alin mau urus anak-anak santri dulu sampai yayasan Alin cukup berkembang pesat.” Jawab Alinka dengan begitu lembut.
“InsyaAllah setelah menikah nanti, yayasan mu akan menjadi yayasan besar Faiz akan mengurus semua.” Ucap ummi Fatimah.
Alinka pun hanya tersenyum tipis pada ummi.
Lalu setelah itu mereka pun berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.
Sekembalinya dari bandara, Alinka pun langsung di sibukkan dengan pekerjaan-pekerjaannya yang tertunda dan keesokan harinya Alin pun harus mengisi acara safari dakwahnya yang sudah Alin setujui sebelumnya.
Setiap hari berlangsung seperti itu sampai-sampai menyita waktu istirahat Alinka sendiri.
Pada suatu hari saat Alinka sedang mengajar santri-santrinya di pondok tiba-tiba Alinka merasa pusing dan Alinka pun sempat terhenti sejenak ketika ia sedang memberikan sebuah materi pada santri-santrinya.
“Astagfirullah.” Sahut Alinka sambil memegangi kepalanya.
“Ustadzah kenapa?” tanya para santri putri.
“Gak papa kok Cuma pusing sedikit.” Jawab Alinka sambil tersenyum lalu melanjutkan lagi materinya pada mereka.
Tidak lama kemudian tanpa Alinka sadari terasa ada yang menetes dari hidungnya lalu Alinka pun mengecek dengan meraba dengan tangannya sendiri, ternyata itu adalah tetesan darah yang keluar dari hidungnya.
Alinka pun berusaha tidak panik dan bersikap tenang, dia hanya mengambil tisu untuk membersihkan darah tersebut dan jam pelajaran pun kembali berlangsung sampai akhirnya Alinka pulang ke rumah dan beristirahat sejenak lalu kemudian pergi berdakwah.
“Kenapa ya tadi aku mimisan?” gumam Alinka dalam hati.
__ADS_1
“Apa karna akhir-akhir ini aku merasa kecapean?” tanya hati kecilnya dengan penuh penasaran.
Dan Alinka pun tidak menghiraukan itu semua, ketika waktu dzuhur tiba ia segera bersiap untuk berangkat mengisi acara dakwahnya di desa sebrang.
Setelah Shalat dan bersiap-siap, Alinka pun pamit pada ibunya untuk berangkat dakwah karna mobil penjemput pun sudah tiba di halaman rumahnya.
“Bu Alin ngisi acara dulu ya.” Sahut Alinka sambil mencium tangan ibunya.
“Makan dulu nak, kamu belum makan siang!” jawab ibu padanya.
“Nanti aja di sana Bu, sekarang Alin buru-buru kasian yang udah jemput nunggu lama.” Ucap Alinka sambil berjalan menuju mobil jemputan.
Lalu Alinka pun berangkat dan tidak lama kemudian Alinka pun sampai di tempat acara.
Kedatangannya pun langsung di sambut panitia acara dan langsung mengajaknya masuk ke dalam majelis yang sudah ramai dan penuh oleh jemaah.
“Assalamualaikum ustadzah.” Sahut seorang panitia acara.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Alinka sambil mengangkatkan kedua tangan dan merangkapkannya ciri khas salam akhwat kepada ikhwan.
“Mari silakan masuk.” Ajak panitia itu.
Dan Alinka pun memulai dakwahnya sampai waktu Ashar tiba.
Setelah selesai acara pun Alinka di antarkan pulang kembali oleh pihak panitia acara karna memang itu termasuk syarat dan tanggung jawab sebuah panitia acara, karna berhubung Alinka belum punya kendaraan sendiri maka dari itu dia harus di antar dan di jemput oleh pihak panitia acara.
Setelah malam tiba, ketika Alinka hendak makan malam rasa pusing itu pun kembali terasa.
“Astagfirullah.” Sahutnya sambil memegangi kepalanya kembali.
“Dalam sehari kenapa rasa pusing ini terus datang, apa sebenarnya dari rasa pusing ini?” gumam Alinka ketika ia di dalam kamar seorang diri.
Alinka pun duduk sejenak karna menahan rasa pusing itu lalu dia pun kembali mengalami mimisan.
“Astagfirullah, mimisan lagi?” tanyanya.
Alinka pun segera membawa kotak tisu lalu segera membersihkan darah itu.
“Subhanalah darahnya banyak banget dan gak mau berhenti keluar.” Gumamnya.
Sampai-sampai tisu di kotaknya itu hampir habis karna Alinka pakai untuk membersihkan darah itu.
Tidak lama kemudian, darah mimisan itu pun berhenti juga lalu Alinka pun membersihkan bekas-bekas darah di wajahnya lalu keluar kamar untuk makan malam.
“Lin, tadi kamu makan siang gak?” tanya ibu sambil memberikannya sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.
“Astagfirullah nak, Ashar kamu bilang? Jangan di biasa in nunda makan deh, jadwal aktivitas kamu padat perut kamu jangan di biarkan kosong lama-lama.” Omel ibu padanya.
“Sekali aja kok Bu, abis tadi Alin baru datang langsung di mulai acaranya.” Jawab Alinka membela diri.
“Ya tetap saja, kalo tadi kamu bawa bekal kamu bisa sambil makan di perjalanan, besok-besok kamu bawa bekal ibu siap in jangan nolak.” Ucap ibu khawatir.
“Iya deh Bu.” Jawab Alinka dengan sedikit cemberut.
Lalu dia pun makan dengan lahapnya.
Setelah makan malam Alinka pun segera menuju pondok dan di sana anak-anak santri telah menunggu kedatangannya untuk memberikan beberapa materi pada malam hari ini.
Saat di tengah-tengah waktu pembahasan materi tiba-tiba rasa pusing itu datang kembali dan terasa sangat dahsyat sampai Alinka jatuh pingsan.
“Astagfirullah.” Sahutnya sambil memegangi kepala lalu terjatuh ke lantai.
“Ustadzah, ustadzah!!!” teriak anak-anak santri,
Lalu salah satu dari mereka pun melaporkan kejadian tersebut pada Abi Hasan.
“Assalamualaikum.. Kyai, Kyai..!!!” sahut santri tersebut.
“Iya nak ada apa?” jawab abi ketika membuka kan pintu rumah.
“Ustadzah Kyai, Ustadzah.” Sahut anak itu dengan panik.
“Kenapa dengan Ustadzah?” tanya Abi.
Lalu santri itu pun tiba-tiba lari dan abi pun segera mengikutinya.
Di aula pondok Alinka sudah di kelilingi oleh semua anak santri sambil menangis dan berusaha menyadarkannya.
“Alin, Alin, kamu kenapa nak, ini abi sayang sadarlah!” sahut Abi Hasan ketika melihat putri kesayangannya sudah terkulai lemas di lantai.
Lalu Abi pun memangku putrinya tersebut menuju rumah.
“Bu,, Ibu,, Alin pingsan Bu..!!!” teriak abi dari depan pintu.
“Astagfirullah abi, Alin kenapa..?” tanya ibu dengan panik.
“Gak tau Bu, kata anak-anak tiba-tiba Alin jatuh pingsan.” Jawab Abi.
__ADS_1
Lalu ibu pun membuka cadar Alinka agar udara segar masuk dan bisa dia hirup dengan bebas, betapa terkejutnya ibu ketika melihat dari hidung Alinka mengalir darah segar yang sangat banyak.
“Abi Alin juga mimisan bi,” sahut ibu panik.
“Mungkin anak kita kecapean Bu jadi membuatnya seperti ini, besok-besok biar abi yang pergi dakwah dulu menggantikan Alin selama Alin sakit.” Ucap abi Hasan.
Lalu Ibu pun membersihkan darah yang keluar dari hidung Alinka dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Tidak lama kemudian Alinka pun sadar lalu,
“Ibu Alin dimana? Bukannya tadi Alin lagi ngajar ya?” tanya Alinka kebingungan.
“Kamu jatuh pingsan tadi di aula pondok, anak-anak yang memberitahukan Abi kalo kamu pingsan nak dan Alhamdulillah sekarang kamu udah sadar.” Jawab ibu.
Alinka pun seraya termenung setelah mendengar penjelasan ibu.
“Kata abi mulai besok kamu gak usah pergi dakwah, biar abi yang ganti in posisi kamu dulu, lebih baik kamu sekarang banyak istirahat, akhir-akhir ini kamu selalu sibuk saat kamu akan di khitbah kamu sendiri yang mempersiapkan belum lagi di sela-sela waktu senggang kamu tetep menyempatkan diri untuk ngajar anak-anak di pondok, gak ada capenya kamu.” Ucap ibu.
“Itu semua kan tanggung jawab Alin Bu, sudah seharusnya Alin sanggup jalani itu semua.” Jawab Alinka.
“Iya tapi tubuh kamu juga perlu istirahat dia cape kamu paksa terus kerja, kerja dan kerja.” Omel ibu.
“Ya sudah besok Alin ikut kata ibu, Alin akan istirahat saja.” Jawab Alinka sambil memeluk ibunya dan tersenyum manis padanya.
“Bukan apa-apa ibu Cuma khawatir takut ada apa-apa denganmu, mana sebentar lagi kamu akan menikah, pasti kamu sibuk sendiri lagi untuk mempersiapkannya.” Sahut ibu sambil memeluk kembali Alinka dan mencium keningnya.
“Enggak kok Bu, nanti Ada WO yang mengurus semua untuk persiapan menikah.” Jawab Alinka lembut.
“Lebih baik seperti itu, jangan kamu sendiri yang urus semuanya nanti kamu jatuh sakit lagi.” Ucap ibu sambil terlihat berkaca-kaca.
“Sekarang Alin gak papa kok Alin Cuma kecapean saja.” Sahut Alinka berusaha membuat ibunya tenang.
Lalu ibu dan anak itu pun saling berpelukan.
“Sudah kamu istirahat yang cukup ya, ibu mau melanjutkan pekerjaan ibu.” Sahut ibu.
“Iya Bu.” Jawab Alinka sambil berbaring di atas tempat tidurnya. Lalu Alinka pun berusaha tidur awal waktu untuk mengembalikan stamina tubuhnya.
Dan kejadian itu terus berulang sampai satu bulan lamanya, karna Alin selalu menghiraukan kejadian itu dia tidak sadar apa yang sedang dia derita sampai kondisi tubuhnya semakin lama semakin memburuk dan tubuhnya pun mulai mengurus.
“Alin, ibu mau tanya semenjak kapan Alin terus terjadi mimisan disertai rasa pusing?” tanya ibu saat mengurus dirinya yang sedang terbaring lemah.
“Awalnya semenjak kak Faiz kembali ke Madinah dan Alin kira itu hanya kecapean biasa Bu, karna Alin mengurus semua keperluan acara khitbah sendiri.” Jawab Alin sambil meminum obatnya ketika ibu memberikan beberapa jenis obat-obatan padanya.
“Kamu juga selalu tidak mau jika ibu ajak kamu ke dokter untuk di periksa, sebetulnya apa yang sedang terjadi pada dirimu nak, ibu khawatir, setiap saat ibu dengar kamu menjadi sering jatuh pingsan gara-gara mimisan, di pondok, di tempat dakwah, di majelis, sesering itukah akhir-akhir ini kamu drop nak, ibu yakin ini bukan sekedar kecapean saja, maka dari itu mau ya besok ibu ajak kamu periksa ke dokter.” Ucap ibu sedikit menceritakan kejadian-kejadian yang menimpa Alin akhir-akhir ini.
Alin pun mengangguk dan menyetujui permintaan ibunya tersebut tapi dengan satu syarat.
“Tapi Alin minta, ibu jangan cerita lebih dulu kondisi Alin pada ummi Fatimah dan abi Fakhry ya Bu, apalagi sampai kak Faiz tau, Alin tidak mau membuat mereka khawatir.” Pesan Alinka.
Ibu pun menganggukkan kepalanya tandanya ibu menyetujui perjanjian tersebut.
Lalu keesokan harinya Alin pun di bawa ke salah satu dokter yang berada di kota tempat tinggal Alin, dokter menanyakan keluhan yang di rasakan Alinka akhir-akhir ini.
“Jadi gimana apa yang Anda rasakan?” tanya dokter saat akan memeriksa Alinka.
“Akhir-akhir ini saya sering merasakan pusing disertai mimisan dok, lalu perut sering terasa sakit, meskipun di isi apalagi tidak di isi sama sekali, makan ini salah makan itu pun salah.” Jelas Alinka.
Lalu dokter pun seraya termenung dan memeriksa keadaan Alinka.
Setelah memeriksa Alinka, dokter sedikit bercerita pada ibu bahwa Alinka menderita penyakit kanker, betapa syoknya ibu ketika mendengar penjelasan tersebut.
“Tapi InsyaAllah masih ada sedikit harapan untuk Alinka sembuh asalkan Alinka rutin untuk berobat.” Jelas dokter.
Ibu pun hanya bisa menghela napas dan berharap Alinka putrinya bisa sembuh kembali.
Setelah mereka kembali ke rumah, ibu selalu terlihat murung sambil mengurusi Alinka yang sedang sakit, ibu selalu rajin memberikannya obat setiap hari dan membawanya cek up ke dokter.
Suatu saat Alinka pun bingung melihat perubahan ibunya setelah membawanya ke dokter dan berusaha untuk menanyakan penyakit apa yang Alinka derita selama ini.
“Bu, Alin perhatiin sepulang kita dari dokter ibu terlihat selalu murung, memang apa yang dokter katakan tentang penyakit Alin Bu?” tanya Alinka dengan penuh penasaran.
Ibu hanya menghela napas lalu mengelus kepala Alinka dengan lembut.
“Suatu saat ummi dan abi Fakhry harus tau akan kondisimu saat ini nak, kamu jangan selalu berusaha menutupi ini semua, terutama pada calon suami mu Faiz.” Ucap ibu sedikit menasihati Alinka.
“Gimana komunikasimu dengan Faiz selama ini?” tanya ibu pada Alinka.
“Baik-baik saja kok Bu, kak Faiz selalu hubungi Alinka setiap dia ada waktu.” Jawab Alinka.
“Syukurlah kalo begitu, tapi lain kali kamu harus jujur atas kondisimu saat ini padanya.” Ucap ibu.
“Baik Bu nanti di waktu yang tepat Alin akan jujur atas sakitnya Alin pada kak Faiz.” Jawab Alinka kembali.
Ibu pun terdiam dan lekas meninggalkannya karna harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang lain.
__ADS_1