《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
TAARUF Part5


__ADS_3

Setelah permasalahan dengan keluarga Marwah terselesaikan, Faiz pun segera menyiapkan acara khitbahnya dengan Alinka segera terlaksana, Alinka pun Faiz suruh pulang terlebih dahulu karna acara akan di adakan di kediaman Alinka di kampung halamannya sendiri. Sekaligus meminta izin dan doa restu pada kedua orang tuanya atas niat Faiz tersebut.


 


Setelah Alinka sampai di rumahnya dengan di antar Faiz dan Abi Fakhry, Faiz pun berusaha mengutarakan niat baiknya itu pada Abi Hasan Abi kandung Alinka.


 


“Assalamualaikum.” Sahut Alinka, Faiz dan Abi Fakhry ketika memasuki rumahnya.


 


“Wa’alaikumussalam,, wah ternyata kalian yang datang, Ana kira Siapa Ry.” Jawab Abi Hasan sambil memeluk Abi Fakhry sahabat karibnya tersebut.


 


“Gimana Hasan kabar antum sekeluarga? Maaf ya putrimu terlalu lama ana pinjam.” Sahut Abi Fakhry pada Abi Hasan.


 


“Alhamdulillah Baik-baik, tidak masalah toh kamu pernah berkata anakku adalah anakmu juga kan Fahry, jadi intinya Alinka milik kita bersama.” Jawab Abi Hasan dengan guyonannya.


 


Faiz hanya tersenyum melihat adegan pembicaraan tersebut.


 


“Bagaimana-bagaimana? Jadi kah Faiz di jodohkan dengan anak kenalanmu seorang anak Kyai besar itu?” tanya Abi Hasan dengan mimik yang sangat bahagia.


 


Abi Fakhry hanya terlihat merenung ketika Abi Hasan melontarkan pertanyaan itu.


 


“Maaf Abi Hasan, masalah perjodohan tentu saja berjalan dengan lancar dan akan segera di adakan acara khitbah dalam jarak waktu dekat ini.” Sahut Faiz membantu menjawab pertanyaan dari Abi Hasan.


 


“Alhamdulillah, Abi sangat senang mendengarnya nak Faiz.” Jawab Abi Hasan dengan gulir senyum bahagia di bibirnya.


 


“Akan tetapi jodohku kali ini sangat- sangat istimewa karna perempuan itu merupakan putri dari Abi sendiri.” Ucap Faiz sambil tersipu malu.


 


“Maaf nak Faiz gimana-gimana, abi kurang paham?” tanya Abi Hasan menegaskan.


 


“Iya bi, Faiz akan segera melamar Alinka putri bungsu abi Hasan.” Jelas Faiz sambil tersenyum.


 


Abi Hasan hanya bisa tercengang seakan masih tak percaya kalo putrinya akan di lamar seorang laki-laki Sholeh dari kalangan orang Sholeh pula.


 


“MasyaAllah,, MasyaAllah.. sebentar abi belum percaya kalo ini semua bukan sebuah mimpi indah kan Alin.” Sahut Abi Hasan sangat terkejut dan meminta Alinka menyadarkannya.


 


Alinka hanya tersipu malu lalu tertunduk tak sanggup rasanya kali ini Alinka memandang kedua bola mata Faiz.


 


“Wah ternyata ada tamu, kapan datang Ustad?” sahut Ibu Halimatussadiah ketika melihat Faiz dan Ustad Fakhry berada di rumahnya.


 


“Iya Bu dan mereka datang dengan membawa kabar bahagia.” Jawab Abi Hasan.


 


“Wah pasti tentang perjodohan Faiz kan nak? “ tanya ibu kepada Faiz.


 


Faiz hanya mengangguk dan tersipu malu.


 


“MasyaAllah siapa, siapa dia orangnya nak ibu pengen tau?” tanya ibu sangat penasaran.


 


Faiz, Abi Hasan dan Alinka pun tak bergeming seakan ingin memberikan sebuah kejutan padanya.


 


“Ayo dong Alin ibu penasaran, orang mana? Dan siapa orangnya? Kamu pasti sudah tau kan.” Desak ibu pada Alinka.


 


Lalu Abi Fakhry pun angkat bicara tentang semua itu.


 


“Begini Bu, jadi pada akhirnya Qodarullah Faiz anak saya akan melamar Alinka putri kandung ibu.” Jawab abi Fakhry.


 


Betapa sangat terkejutnya ibu saat mendengar penjelasan tersebut lalu ibu pun sampai menitikkan air mata dan memeluk Alinka.


 


“MasyaAllah tabarakallah nak, ibu kata apa, dari dulu sering menasihati kamu, Allah tidak akan pernah salah memberi apa yang kamu butuh kan bukan apa yang kamu inginkan.” Ucap ibu sambil memeluk putri bungsunya.


 


“Iya Bu, terima kasih selama ini ibu dan abi tidak pernah mendesak Alinka untuk segera mendapatkan jodoh, karna Alinka hanya ingin mengikuti Kemana takdir Alin akan mengalir dan Alhamdulillah pada Kak Faiz lah Allah melabuhkan hati Alin begitu pula sebaliknya, kali ini cinta Alin tidak bertepuk sebelah tangan atau pun putus di tengah jalan karna fisik dan keadaan sosial yang berbeda.” Jawab Alinka sambil meneteskan air mata harunya.


 


Setelah ibu dan Alinka saling meluapkan rasa haru dan bahagianya Faiz pun mengatakan waktu untuk berlangsungnya acara khitbah.


 


“Dan InsyaAllah waktu yang akan Faiz gelar seminggu sebelum keberangkatan Faiz ke Madinah InsyaAllah Faiz dan keluarga akan kembali lagi untuk mengkhitbah Alinka putri bungsu Abi dan ibu.” Sahut Faiz dengan penuh kesopanan.


 


“Baik, baik lah nak, abi tunggu kedatangannya minggu depan ya, semoga Allah merestui akan niat baik kita semua.” Jawab abi Hasan.


 


“Aamiin.. kalo gitu Faiz dan Abi tidak bisa berlama-lama di sini karna masih banyak yang harus Faiz mulai urus saat ini juga dan sanak saudara pun pasti sangat menunggu kabar baik dari Faiz maka dari itu Faiz mohon pamit untuk pulang terlebih dahulu dan mengurus semua keperluan acara ini dan mengabarkan pada semua sanak saudara.” Ucap Faiz berpamitan pada abi Hasan.


 


“Oh iya silakan kalo begitu nak,” jawab abi Hasan.


 


“Fakhry, Syukron selama ini antum telah menganggap putri ana sebagai putri kandung antum sendiri sampai-sampai antum rela berkorban menyekolahkannya sampai dia jadi sarjana dan jadi lulusan terbaik di tempat yang terbaik pula dan sekarang tali persaudaraan kita akan lebih erat lagi oleh tali pernikahan anak-anak kita InsyaAllah.” Sahut abi Hasan sangat berterima kasih pada Abi Fakhry yang sudah mengangkat Alinka menjadi putrinya hingga Alinka mengenal Faiz dan saling suka.


 


“Iya sama-sama Hasan, ana juga punya niat dari dulu pengen menjodohkan anak kita, tapi ana takut mereka tidak setuju tapi nyatanya Allah lah yang menjodohkan mereka, akhirnya perasaan ana saat ini sangat lega, berkali-kali berusaha menjodohkan Faiz dengan orang lain tapi tetap mendapatkan kegagalan, ternyata ini rencana Allah yang sebenarnya.” Jawab Abi Fakhry.


 


Lalu mereka pun saling peluk dan pamit untuk segera kembali ke kediamannya di kota.


 


Setelah Faiz dan abi Fakhry pulang, tidak lupa Alinka pun memberi tahukan kabar bahagia itu pada sahabatnya Shema yang ada di Mesir, karna dia tau kalo Shema sudah dia anggap seperti salah satu dari anggota keluarganya sendiri.


 


“Assalamualaikum... Shema apa kabar? ini Alin, kamu pasti lagi sibuk di kantor ya? Shema maksud Alin menulis pesan ini Alin hanya ingin memberi tahu kabar bahagia Alin jika minggu depan Alin akan di khitbah oleh Faiz, Alin mohon doanya ya semoga acaranya berjalan dengan lancar dan penuh dengan keberkahan dari Allah swt.” Isi pesan Alin melalu kontak WhatsApp nya.


 


Lalu Alin pun memberi kabar ke sahabat-sahabatnya terdahulu yakni Aisyah, Khadijah dan Alfi pun tak luput dia bagi kebahagiaannya pada mereka.


 


Di saat Aisyah yang sudah mempunyai anak perempuan pertamanya, Khadijah juga demikian dengan jagoan kecilnya dan Alfi yang sedang menunggu lamaran dari sang calon imam sangat bahagia ketika mendengar akhirnya Alinka akan di khitbah seorang pangeran juga.


 


Mereka sangat bahagia dan haru ketika mendengar kabar tersebut dan berjanji akan menghadiri acara tersebut.


 


Pada malam harinya Shema pun baru sempat membalas pesan Alinka dan dia menjawab.


 


“Wa’alaikumussalam sahabatku.. MasyaAllah tabarakallah, aku ikut senang mendengarkan sudah aku kira dari saat kamu masih kuliah di sini kalo jodoh mu adalah Faiz tapi kalian hanya sama-sama gengsi untuk mengakuinya jadi pada akhirnya hanya saling pendam perasaan kan? Ya sudah aku doakan semoga acaranya lancar sampai hari H nanti kalo nikah pasti aku usahakan datang tapi kalo buat minggu depan aku minta maaf ya Alin, kerajaanku gak bisa di tinggal secara mendadak.” Jawab isi pesan Shema.

__ADS_1


 


Lantas Alin pun membalas kembali.


 


“Iya tidak apa-apa Shema untuk hari khitbah kamu aku izinkan absen dulu tapi nanti di saat walimah kamu wajib hadir ya.” Jawab pesan Alinka.


 


Lalu mereka pun lanjut chatingan hanya sekedar saling melepas rindu.


 


Keesokan harinya Alinka dan ibu pun segera mempersiapkan semua perlengkapan acara, karna untuk waktu satu minggu itu akan sangat tidak terasa beberapa hari lagi hari yang di tunggu-tunggu itu pun sampai di depan mata jadi Alinka dan ibu harus cepat mempersiapkan semuanya.


 


Di bantu oleh semua keluarga, Abi, abang semua keperluan dan hajat Alinka pun akan segera terlaksana di tambah iringan doa dari para santri yang Alinka asuh sendiri menjadi kekuatan besar akan kelancaran acara tersebut.


 


 


Sebelumnya Alinka pun meminta izin untuk bisa melangkahi abang yang sampai saat ini masih sendiri karna niatnya yang tidak ingin menikah terlebih dahulu sebelum melihat Alinka adik satu-satunya meraih gelar sarjana dan meraih kesuksesan.


 


“Abang sebelumnya Alin mau minta maaf sama abang, sekaligus Alin mau izin melangkahi abang apakah abang setuju?” ucap Alinka saat setelah mereka sibuk mempersiapkan perlengkapan acara dan beristirahat sejenak.


 


“Dek, dengerin abang, abang ikhlas abang Ridho kalo kamu mau dulu in abang,  setidaknya abang sudah tepati janji abang yang tidak ingin terlebih dulu menikah sebelum melihat kamu sukses meraih gelar sarjana, abang ingin fokus menjaga abi dan ibu juga kamu, dan sekarang di saat kamu sudah ada seseorang yang meminta untuk menanggung jawabi mu kenapa abang harus tidak merestui, melangkah lah dek abang restui hubungan dan niat baik kalian, InsyaAllah Allah telah mempersiapkan jodoh terbaik untuk abang juga.” Jawab Bang Husna dengan sangat bijak dan dewasa.


 


Lalu Alinka pun memeluk abangnya tersebut dengan erat sampai menitikkan air mata.


 


Ibu dan Abi pun ikut serta haru melihat kerukunan kakak beradik tersebut.


 


“MasyaAllah, Alhamdulillah abi dan ibu di karuniai putra putri nan Sholeh Sholihah seperti kalian, abi dan ibu bangga pada kerukunan kalian nak.” Ucap ibu dan abi sambil memeluk dan mencium mereka.


 


 


Satu minggu pun berlalu tanpa terasanya waktu, semua sanak saudara telah berkumpul di rumah Alinka tak luput 3 sahabat Alinka sedari kecil yakni Aisyah, Khadijah dan Alfi.


 


“Tidak sabar rasanya menunggu hari esok tiba.” Sahut Aisyah.


 


“Aku penasaran seperti apa sih calon suami teteh?” lanjut Aisyah yang terlihat sangat kepo.


 


“Maaf sebelumnya aku belum pernah bercerita tentang kak Faiz pada kalian yah?” tanya Alinka.


 


Dan mereka bertiga pun hanya menggelengkan kepalanya.


 


“Maaf aku lupa, karna aku juga jarang pulang di tambah aku lama kuliah di Kairo kan jadi mana sempat aku cerita tentang dia pada kalian, tapi tenang besok rasa penasaran kalian akan terjawabkan.” Ucap Alinka yang lupa akan mengenalkan sosok Faiz pada 3 sahabatnya tersebut.


 


Dan hari yang di tunggu pun datang, tepat hari ahad pukul 18.00 rombongan keluarga Ustad Fakhry pun tiba di kediaman Alinka dan orang tuanya.


 


Dengan keadaan ruang tamu rumah Alinka yang sudah berhiaskan dekoran HAPPY ENGAGEMENT dan hiasan lampu yang kelap kelip membuat ruangan terlihat indah sederhana namun manis seperti orang yang akan di khitbah saat ini juga.


 


“Assalamualaikum.” Sahut rombongan keluarga Ustad Fakhry ketika memasuki depan pintu.


 


Dan keluarga Alinka pun menyambutnya dengan hangat.


 


 


Alinka yang masih berada di kamar masih di persiapkan seorang Make Up profesional agar tampilannya bisa maksimal dan mempesona.


 


“Mereka sudah datang,” bisik Aisyah ketika dia mengintip ke ruang tamu dan melihat rombongan itu datang.


 


“Siapa?” sahut Khadijah.


 


“Calonnya.” Jawab Aisyah.


 


“Gimana-gimana?” tanya Alfi penasaran.


 


“Orangnya tinggi putih, memakai baju gamis khas pakaian ustad-ustad muda masa kini, senyumnya manis dan...” jelas Aisyah yang kalimatnya hampir terputus.


 


“Dan apa Aisyah?” tanya Khadijah dan Alfi.


 


“Dan...” sahut Aisyah yang membuat mereka penasaran.


 


“Ih.. nyebelin kamu, awas biar aku aja yang ngintip.” Sahut Alfi dan menggeser posisi Aisyah yang sedang mengintip di balik pintu kamar Alinka.


 


“MasyaAllah...” decak kagum Alfi.


 


“Kenapa Fi..?” tanya Khadijah.


 


“Calon suami teh Alin ternyata ganteng.” Jawab Alfi sambil terkagum-kagum.


 


“Apaan sih kalian dari tadi berisik mulu.” Ucap Alinka yang masih berMake Up.


 


“Udah diam deh teteh Make Up an aja, dandan biar cantik teh, biar semua orang terperangah melihat teteh dan pasangan nanti.” Jawab Alfi sambil terus fokus melihat ke luar kamar.


 


“Apaan sih Alfi.” Gumam Alinka sambil tersenyum kecil.


 


“Bukti in sama semua orang yang sering hina teteh dulu, kalo Allah tidak akan menjodohkan orang jelek dengan orang jelek juga tapi Allah akan memberi kita sesuai porsi kita masing-masing.” Sahut Aisyah.


 


“Biar pun fisik teteh berbeda dengan yang lain, tapi akhlak teteh jauh mulia di banding manusia biasa.” Sahut Khadijah.


 


“Apaan sih dek jangan berlebihan, aku masih manusia biasa seorang pendosa sama seperti mereka.” Jawab Alinka.


 


“Teteh mah kebiasaan suka merendah untuk meroket.” Jawab Alfi sambil tersenyum.


 


Dan saat yang di tunggu-tunggu telah tiba, Alinka pun telah di panggil oleh sang pembawa acara untuk acaranya tersebut.


 


“Tuh teteh udah mulai di panggil, ayo kita antar teteh sampe pelaminan.” Sahut Aisyah Heboh.

__ADS_1


 


“Hah... Pelaminan?” tanya Alfi.


 


“Iya anggap saja ini pelaminan pemula untuk teh Alin.” Jawab Aisyah sambil tertawa.


 


Lalu Khadijah, Aisyah dan Alfi pun mengantarkan Alinka sampai ruang tamu dan duduk bergabung dengan dua keluarga tersebut.


 


“Gimana Ukhty Alin, apakah benar ini calonnya?” tanya sang pembawa acara.


 


Alin pun hanya tersenyum dan tertunduk malu.


 


“Ya Bener kali lah pak, kalo salah gak bakalan suruh masuk.” Celetuk Aisyah yang membuat gelak tawa semua pecah.


 


“Ssstt... Aisyah jangan bikin semua pada heboh,” bisik Khadijah.


 


“Habis aku gemes pengen cepat lihat teh Alin di pasangkan cincin.” Jawab Aisyah.


 


“Ya sabar.” Sahut Alfi.


 


Lalu kembali lagi ke dalam acara khitbah.


 


“Nah Gimana Ukhty, kata akhy Faiz maksud dan tujuan beliau ke sini adalah untuk mengkhitbah Ukhty Alin, apakah Ukhty akan menerimanya?” tanya seorang pembawa acara.


 


“InsyaAllah diterima.” Jawab Alinka dengan malu-malu.


 


“Alhamdulillah akhirnya lamaran akhy Faiz telah Ukhty Alin terima sekarang saatnya penyematan cincin oleh calon ibu mertua.” Sahut pembawa acara tersebut.


 


Lalu ummi Fatimah pun memasangkan satu set perhiasan pada Alinka lalu Alinka pun mencium tangan ummi dan memeluknya.


 


“Terima kasih ummi, selama ini ummi sudah menganggap Alin seperti putri ummi sendiri, sekarang Alin akan menjadi menantu ummi.” Ucap Alinka sambil memeluk ummi Fatimah dan meneteskan air mata.


 


“Dengar sayang anak tetap lah akan menjadi anak, sekali pun kamu sudah menikah dengan Faiz tapi ummi akan menganggap mu seperti putri kandung ummi sendiri akhirnya kamu jadi anak sungguhan ummi nak, terima kasih sudah mau menerima lamaran putra semata wayang ummi yang berkali-kali dia gagal dalam membangun kebahagiaan.”  Jawab ummi sambil mencium Alinka dengan penuh kasih sayang.


 


“Iya sama-sama ummi, Alin janji, Alin tidak akan mengecewakan kak Faiz dan ummi sekeluarga.” Sahut Alinka.


 


Lalu giliran ibu Alinka yang menyematkan cincin di jari manis Faiz tanda ikatan atas hubungan mereka dan dua keluarga tersebut.


 


“Jadilah anak laki-laki ibu yang bertanggung jawab nak, ibu titip Alinka pada mu, jaga dia jangan sakiti dia, karna kami pun merawatnya sedari kecil dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan.” Ucap ibu Alinka pada Faiz.


 


“InsyaAllah Bu, Faiz akan pegang amanah ini dengan sekuat tenaga doakan Faiz agar bisa menjadi pembimbing Alinka yang baik serta ada dalam Ridho Allah.”  Jawab Faiz.


 


“Aamiin..” ucap ibu lalu ibu pun mengelus pundak Faiz dengan penuh kasih sayang.


 


 


“Dan acara pernikahan akan di gelar 3 bulan setelah acara khitbah, jadi kami mohon doa dan dukungannya untuk keberlangsungan acara tersebut.” Sahut abi Fakhry mengumumkan waktu pernikahan Faiz dan Alinka.


 


 


Lalu berakhirlah acara lamaran tersebut dengan penuh kekhidmatan dan rasa haru, secara Alinka menjalani status singlenya selama 25tahun, dan selama itu pula Alinka tidak goyah dalam memegang prinsipnya tidak akan berpacaran sebelum halal.


 


“MasyaAllah begitu harunya melihat teh Alin akhirnya khitbahan juga ya.”  Sahut Aisyah, Khadijah dan Alfi.


 


“Iya kita jadi lega melihatnya, seakan teh Alin orang yang paling lama dalam menemukan jodohnya.” Jawab Alfi.


 


“Dan nanti giliran mu Fi.” Sahut Khadijah.


 


 


“Siap OTW.” Jawab Alfi bersemangat.


 


Setelah semua selesai 3 sahabat Alinka pun menghampirinya dan memberikan selamat.


 


“MasyaAllah calon pengantin...!!! Selamat ya, lancar sampai hari H.” Sahut Aisyah sambil memeluk Alinka yang terlihat cantik dengan gaun khitbahan nya itu.


 


“Makasih ya kalian sudah mau nemenin aku sampai detik ini, susah senang kalian tetap ada di sampingku, aku bangga kenal dan mempunyai orang-orang seperti kalian.” Jawab Alinka sambil memeluk ketiga sahabatnya tersebut.


 


“Siapa mereka dek?” tanya Faiz.


 


“Oh iya kak, kenal in mereka sahabat sedari kecilku, mereka yang selalu ada temani aku saat susah maupun senang.” Jelas Alinka pada Faiz.


 


“Oh iya, salam kenal ya saya Faiz.” Sahut Faiz pada mereka.


 


“Iya salam kenal Ustad ganteng.” Sahut Aisyah.


 


“Ish... kebiasaan deh kamu.”  Bisik Alfi dan Khadijah.


 


“Lucu ya Aisyah orangnya.” Ucap Faiz sambil tersenyum melihat kekonyolan Aisyah meski sekarang dia sudah mempunyai putri kecil tapi sifat heboh dan kocaknya tidak akan pernah berubah.


 


“Kami titip sahabat kami ya A, awas jaga in jangan sampe ada yang bully, apalagi sampe nyakitin dia.” Sahut Khadijah dan Alfi.


 


“InsyaAllah doa in ya semoga saya bisa menjadi pembimbing sekaligus pelindung untuk Alinka.


 


“Kami sayang teh Alin, kami tau teh Alin dari titik 0 sampe sekarang, dimana saat dia di bully sama orang, di hina di tertawakan sama orang bahkan di fitnah kami menyaksikan itu semua, dan kami hanya bisa menghibur dia saat dia merasa sedih.” Cerita Alfi dan Khadijah.


 


“Maka dari itu kami sangat sayang teh Alin kami tau perjuangannya dari awal sampai cita-citanya ingin menjadi seorang ustadzah dan ingin membangunkan pondok pesantren milik abi nya kembali, kami tau itu semua, maka dari itu tolong jaga baik-baik teteh kami ya A.” Sahut Aisyah, Alfi dan Khadijah dengan mata yang berkaca-kaca.


 


Lalu Faiz pun memandang Alinka yang berdiri di sampingnya lalu berkata.


 


“Calon istriku memang bukan wanita biasa, kamu wanita tangguh yang pernah aku temukan, tetaplah berada di sampingku dan aku janji akan memberikan kebahagiaan kelak pada hidup mu.” Sahut Faiz dengan penuh ke romantisan.

__ADS_1


 


Alinka pun hanya bisa memandangnya karna dia sadar mereka belum sempat ter halalkan oleh ikatan pernikahan.


__ADS_2