
Setelah beberapa saat mempersiapkan Alinka akad nikah pun berlangsung dengan penuh khidmat dan haru biru.
“Semuanya sudah siap?” tanya seorang penghulu.
“Sudah pak penghulu.” Jawab Abi Fakhry.
Dengan masih Terpasang beberapa peralatan rumah sakit, Alinka berpakaian sederhana dan berjilbab kan kerudung putih berhiaskan sedikit bunga-bunga dan mahkota kecil di kepalanya.
Lalu saatnya Faiz pun mengucapkan kalimat ijab kabul yang sangat begitu sakral di setiap telinga umat manusia dengan berbahasa arab.
“أنكحتك وزوجتك مخطوبتك الينك بنتي حسن علىالمهرمجموعة من أدوات الصلاة و قرائة السورة الرحمن
حالا
Arab-latin: Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Alinka binti Hasan alal mahri majmu’at min ‘adawaatissholat hallan
Artinya: "Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Alinka binti Hasan dengan mahar seperangkat alat sholat dan pembacaan surah Ar Rahman dibayar tunai." Ucap abi Hasan ayah kandung Alinka sebagai wali nikahnya.
“قبلت نكا حها وتز ويجها الينك بنت حسن بالمهر المذكور حا لا.
Qobiltu Nikaa haHaa wataz wiijaHaa Alinka binti Hasan bilmahri almadkuri Haalan.
Artinya: saya terima nikah dan kawinnya Alinka binti Hasan dengan mahar yang telah di sebutkan.” Jawab Faiz dengan jelas dan lantang.
Setelah semua saksi berkata sah, suasana pun mengharu biru lalu di lanjutkan dengan lantunan surah Ar Rahman dari Faiz dengan suara yang begitu indah.
Air mata Alinka pun tak hentinya menetes saat ayat demi ayat di lantunkan oleh Faiz sebagai mahar pernikahannya, bahagia, haru, sedih menjadi satu, terutama Alinka mengingat di malam pertamanya setelah dia menikah dia tidak akan bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri untuk yang pertama kalinya, di samping itu pula Alinka pasrah dengan takdir ya Allah berikan kepadanya andaikan setelah mereka di persatukan lalu Alinka di panggil oleh sang maha kuasa dia sudah merasa ikhlas, asalkan dia sudah sepenuhnya memiliki Faiz orang yang dia kagumi sejak lama.
Setelah semua berlangsung dengan khidmat acara pun selesai lalu orang-orang mengucapkan selamat pada Faiz dan Alinka para perawat dan dokter memberikan kado pernikahan untuk Alinka ada juga yang memberinya seikat rangkaian bunga indah untuknya.
Tak lupa para anggota keluarga pun seperti abang, ibu, abi, ummi dan adik-adik Faiz turut serta memberikan ucapan selamat untuk mereka.
“Selamat ya adikku atas halalnya kamu, sudah resmi menjadi seorang istri dari Ustad muda yang selalu kau idamkan.” Ucap abang penuh keharuan dan sesekali mengecup kening Alinka yang tak hentinya meneteskan air mata bahagia.
“Makasih abang, Alin sayang abang, semoga abang cepat menyusul.” Jawab Alinka sambil memeluk erat kakak laki-lakinya itu.
“Jangan khawatirkan abang mu ini, kamu fokus dengan kesembuhan mu dulu ya, janji sama abang kamu pasti bisa bertahan dan kembali sembuh seperti semula.” Ucap abang Husna yang sangat menyayanginya.
Lalu ibu, umi dan abi Hasan juga abi Fakhry pun ikut serta mengucapkan selamat pada Faiz dan Alinka.
“Selamat menjadi menantu abi ya nak Faiz, abi titipkan sepenuhnya Alinka pada mu, abi yakin Alin akan bersemangat hidup dengan di dampingi kamu.” Ucap abi Hasan sambil mengelus-ngelus punggung menantu barunya.
“Selamat ya nak, ummi ucapkan semoga pernikahanmu langgeng sampai surganya Allah, kamu bisa mempunyai keturunan yang Sholeh juga Sholihah ahli Quran dan calon Hafidz Hafidzoh masa depan.” Ucap ummi Fatimah sambil memeluk dan menciumnya.
“Makasih ummi.” Jawab Alinka sambil tersenyum bahagia.
“Selamat mengemban amanah anakku, sekarang kamu sudah punya tanggung jawab yang harus benar-benar kau jaga dan kau bimbing di jalan Allah, Alinka sebagai istri mu jaga dia, cintai dia jangan pernah kau berniat berpaling darinya, belajarlah menjadi laki-laki sejati yang hanya mempunyai satu wanita sampai kau mati, meski agama membolehkan laki-laki beristri lebih dari satu tapi abi tidak mengizinkan kamu berpoligami, karna hal itu tetap akan menyakiti hati kecil istrimu nak meski dia mengatakan kalo dirinya ikhlas tapi tetap jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia akan menangis tanpa kita tau.” Ucap nasehat abi Fakhry pada putra sulungnya.
“Baik abi, akan selalu Faiz ingat pesan dan nasehat abi, doakan Faiz agar bisa mengemban amanah paling berharga ini.” Jawab Faiz sambil mencium tangan Abinya.
Lalu Zainab, Salma dan Fitria turut memeluk Alinka sambil berkata.
“Selamat menempuh hidup baru ya kakak baru kita, selamat datang dan selamat menjadi kakak perempuan baru untuk kita, mulai dari saat ini akhirnya kakak jadi kakak perempuan kami seutuhnya, cepat sembuh juga agar kak Faiz bisa bawa kak Alin jalan-jalan ke Madinah.” Ucap mereka sambil sedikit menghibur Alinka.
“Terima kasih ya adik-adikku sayang, Aamiin semoga doa kalian di kabul oleh Allah swt.” Jawab Alinka sambil mencium mereka satu persatu.
“Selamat ya kak Alin ana doakan semoga kak Alin cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali, agar bisa seutuhnya menjalani hari-hari sebagai seorang istri untuk kak Faiz, semoga hubungannya langgeng sampai jannah. Aamiin” ucap Ustad Farid calon suami Zainab.
“Makasih Ustad .” jawab Alinka sambil tersenyum.
Lalu semua pun merasa bahagia pada moment itu.
Dan pada malam itu kali pertama Faiz bisa menyentuh Alinka dengan halal dan menemaninya sepanjang malam.
“Kamu tidur ya, aku di sini akan menjagamu.” Ucap Faiz sambil menggenggam tangannya dan mengecup kening Alinka dengan penuh kelembutan.
Alinka hanya bisa menatap wajah Faiz haru dan seketika meneteskan air matanya.
“Loh kenapa cantikku malah nangis?” tanya Faiz sembari menghiburnya.
Alinka hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya tersebut.
__ADS_1
“Kalo Adek mau sesuatu bilang kakak ya!” ucap Faiz sambil mengelus lembut kepalanya.
Lalu Faiz pun membantu melepas cadar yang di pakai Alinka.
“Kak, kakak sudah tau kah fisikku yang sebenarnya?” tanya Alinka sebelum Faiz membuka cadarnya.
Faiz pun tersenyum.
“Kenapa? Meski pun fisikmu berbeda dari yang lain justru di situlah letak keistimewaan kamu, kamu berbeda dan aku suka kamu apa adanya.” Jawab Faiz sambil membuka cadar Alinka karna malam pun sudah semakin larut.
“Kalo kamu tidur cadarnya dibuka saja, toh gak akan ada orang masuk kamar malam-malam kan, kecuali tenaga medis yang akan cek kondisi kamu, nanti kakak pasangkan lagi cadarnya jika mereka datang.” Sahut Faiz sambil menatap wajah Alinka sambil tersenyum.
“Jadi ini yang selama ini menjadi sebuah trauma untukmu dek? Semua orang menghina mu bahkan mencaci maki mu dan setiap laki-laki dengan mudahnya pergi lalu menyia-nyiakan wanita sebaik kamu?” tanya Faiz pada Alinka.
Alinka hanya mengangguk dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
“Aku tidak akan seperti mereka wahai istriku, aku mencintaimu karna Allah, aku nyaman karna ke pribadian dan akhlakmu, aku tidak akan hanya menikmati kecantikanmu saja percayalah.” Ucap Faiz sambil memegang tangan Alinka dengan erat.
Lalu mereka pun berpelukan untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama saling memendam rasa dan di halalkan oleh ikatan pernikahan.
“Kakak janji gak akan ninggalin Alin sampai Alin menghembuskan napas terakhir?” bisik Alinka saat Faiz memeluknya.
“Ssstt... Apa yang kamu bicarakan, kakak yakin kamu akan sembuh dan kembali normal seperti sedia kala.” Jawab Faiz sambil menutup mulut Alinka dengan satu jari telunjuknya.
“Sudah lah mulai pejamkan matamu, biar aku di sini menjagamu untuk yang pertama kalinya.” Ucap Faiz sambil membelai kepala Alinka dan perlahan Alinka pun memejamkan matanya dan tanpa mereka sadari mereka pun terlelap dengan posisi Faiz yang duduk di samping Alinka sambil terus menggenggam tangannya.
Tapi tepat pukul 00.00 Alinka terbangunkan oleh rasa sakit yang begitu hebat sampai dia tidak bisa menahannya lalu merintih kesakitan.
“Astagfirullah ya Allah, perutku sakit banget, ya Allah.. astagfirullah.. astagfirullah..” ucap Alinka sambil menahan perutnya yang sakit oleh tangannya.
Faiz pun terbangun karna Alinka gelisah dia berguling ke sana kemari sambil merintih kesakitan.
“Dek kenapa dek, apanya yang sakit?” tanya Faiz panik.
“Dokter,, dokter!!! Tolong istri saya dok, dia merasa sangat kesakitan.” Sahut Faiz yang terlihat panik baru pertama kalinya melihat penyakit Alinka kambuh.
“Kambuh lagi,” ucap dokter sambil berlari menuju tempat tidur Alinka.
Tapi di sana Alinka terlihat sudah tidak bergerak sama sekali, matanya tertutup dengan wajah yang memucat namun keringat terus keluar deras dari keningnya.
Seketika Faiz pun langsung berlari dan berusaha menggoyahkan badan Alinka untuk membangunkannya.
“Alin,, Alin,, kamu bertahan Lin, kakak udah panggilkan dokter untuk mu.” Teriak Faiz terlihat sangat panik melihat kondisi Alinka.
“Pingsan, baru kali ini rasa sakit sampai mengalahkan kesadaran pasien dan obat pereda nyeri pun sudah tidak bisa membantunya kembali.” Ucap dokter sambil memeriksa detak jantung Alinka.
“Lalu apa yang harus saya lakukan dok, istri saya harus selamat.” Tanya Faiz sedikit menitikkan air mata.
“Jalan keluarnya Cuma satu, dengan berobat keluar Negri yang fasilitas dan alat-alat kesehatannya lebih lengkap.” Jawab dokter.
“Oke kalo begitu saya akan bawa istri saya berobat ke Madinah sekarang juga dok, dokter tinggal buat surat rujukannya saja.” Ucap Faiz dengan sigap.
“Itu lebih baik, baiklah saya akan segera membuatkan surat rujukannya.” Jawab dokter.
Lalu Faiz pun segera memberi tahukan kabar itu pada abi dan ummi nya di rumah lalu mengurus perjalanannya ke Madinah untuk melarikan Alinka ke rumah sakit terbaik di sana.
“Assalamualaikum bi,, Alinka kritis kembali dan Faiz akan membawanya berobat ke Madinah sekarang juga, karna ada rumah sakit yang sangat bagus di sana dan Faiz yakin Alinka akan selamat dan tertolong.” Ucap Faiz memberi kabar pada orang tuanya.
“Baiklah kalo begitu nak, pergilah nanti abi dan keluarga Alinka menyusul.” Jawab abi Fakhry.
“Baik Abi doakan Faiz berhasil memperjuangkan keselamatan Alinka.” Pinta Faiz.
“InsyaAllah nak, InsyaAllah Allah akan selalu bersama mu.” Ucap abi Fakhry.
Lalu Faiz pun segera mengurus semua hal yang bersangkutan dengan pengobatan Alinka dan di antarkan langsung oleh mobil Ambulans sampai bandara dan mendapat jalur khusus untuk keberangkatannya ke Madinah.
__ADS_1
Di sisi lain Abi Fakhry pun sibuk mengabari keluarga Alinka dan berusaha membuat situasi tetap aman terkendali.
Sesampainya Alinka di Rumah sakit yang di pilih oleh Faiz di Madinah, ia langsung di larikan ke IGD dan langsung di tangani oleh dokter-dokter ahli di sana.
Dan Faiz pun disuruh menunggu seorang diri di luar selama pemeriksaan berlangsung.
Faiz pun selalu berdoa semoga istrinya itu selamat dan dapat bertahan.
Dengan ke khawatiran yang sangat menghantui, Faiz berusaha membuat dirinya selalu tenang dan fokus pada pengobatan Alinka saja.
Mengetahui kabar tentang Faiz teman-temannya yang tinggal di sekitar kota itu pun langsung berdatangan dan berusaha memberi dukungan penuh pada Faiz agar selalu sabar dan tabah.
“Assalamualaikum? Sabar ya antum pasti bisa melewati ini semua, ana mendengar berita ini dari teman-teman yang lain makanya langsung saja dari tempat kerja kita langsung datang kemari, katanya antum sudah menikah ya sebelum hari yang sudah di tentukan?” tanya sahabat Faiz selama kerja di Madinah.
“Wa’alaikumussalam, Syukron antum sudah bisa menyempatkan diri datang kemari, iya ana sudah menikah lebih cepat dari hari yang sudah di tentukan, karna ana sangat khawatir setelah melihat kondisi calon istri ana.” Jawab Faiz.
“Kalo boleh tau penyakit apa yang di derita istri antum?” tanya sahabat Faiz.
“Pembengkakan hati dan limpa, jadi hati dan limpa nya mengalami kerusakan awalnya dari penyakit kanker tapi istri ana tidak mau menjalani Kemoterapi, karna menurutnya rambut seorang istri itu adalah mahkota dan dia tidak mau kehilangan mahkota berharganya itu dia memilih pengobatan biasa saja.” Jelas Faiz pada teman-temannya.
“InsyaAllah Iz, istri antum di sini pasti akan sembuh, sudah banyak pasien yang berhasil di obati oleh dokter-dokter di sini, penyakit istri antum terbilang masih ringan, bahkan penyakit yang hampir tidak ada obatnya pun dokter di sini bisa menyembuhkannya dengan seizin Allah juga.” Sahut teman Faiz.
“Selalu berdoa ya, minta pada Allah kesembuhan dan keselamatan untuk istrimu.” Ucap Sahabat Faiz.
“Makasih antum semua sudah mensuport ana dalam keadaan seperti ini.” Jawab Faiz dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kalo bisa boleh kita melihat foto istrimu?” tanya teman-teman Faiz.
“Iya bisa, ini dia saat kita akad kemarin di ruangan ICU.” Jawab Faiz sambil memperlihatkan foto Alinka.
“MasyaAllah baru kali ini ana melihat orang yang sedang sakit tetap menjalankan sunahnya, dia tetap pakai cadar meski dia sedang di rawat di rumah sakit?”
“Iyah Alhamdulillah, dia begitu Sholehah dan ana bangga sudah mendapatkannya.” Jawab Faiz bangga menceritakan Alinka pada teman-temannya.
Lalu mereka pun menemani Faiz sampai keluarga Faiz dan Alinka datang menyusulnya ke Madinah.
Di kemudian hari Tepat pukul 09.00 waktu setempat keluarga Alinka beserta keluarga Faiz pun tiba di sana dan Faiz pun dengan perasaan lega menyambut kedatangan mereka.
“Assalamualaikum.” Sahut mereka.
“Gimana keadaan Alinka iz?” tanya abi Fakhry sambil memeluknya.
“Belum juga ada kepastian dari dokter bi dan Alin pun belum siuman.” Jawab Faiz meneteskan air mata.
“Putriku..!!!” sahut ummi Fatimah dan ibu kandung Alinka.
“Sabar nak, kamu harus tabah menghadapi semua cobaan ini.” Ucap Abi Hasan sambil menepuk-nepuk pundaknya.
Faiz hanya menganggukkan kepalanya sambil bersandar lemas pada pelukan abi Hasan.
“Umi, abi, ibu, sebaiknya kalian beristirahat di apartemen yang sudah Faiz sewa kalian pasti cape.” Sahut Faiz.
“Ibu masih mau nungguin kabar Alinka.” Jawab ibu kandung Alinka.
“Ummi pun.” Sahut ummi Fatimah.
“Ya sudah kalo begitu barang-barang kalian Faiz bawa ke apartemen Faiz ya, biar gak repot.” Ucap Faiz.
Lalu mereka pun menyetujui arahan Faiz dan Faiz pun izin pulang terlebih dahulu ke apartemennya.
“Kalo begitu bareng kita aja, kebetulan kita bawa mobil.” Kata sahabat dan teman-teman Faiz, lalu mereka pun beranjak pergi dan Alinka ibu, ummi sama Abi yang jaga untuk sementara Faiz pulang ke apartemennya terlebih dahulu.
__ADS_1