《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
UJIAN DI AWAL KEBAHAGIAAN Part2


__ADS_3

Hari demi hari berlalu tanpa senyuman Alinka, kini dia hanya bisa terbaring lemas tanpa sadar dengan berbagai macam alat dokter yang terpasang di tubuhnya, Faiz dan keluarga pun dengan setia menunggu kesadarannya.


 


“Belum ada keputusan juga dari dokter?” tanya Abi Fakhry pada Faiz.


 


Faiz hanya menggelengkan kepalanya tanpa berbicara sedikit pun.


 


Menunggu dan menunggu yang akhir-akhir ini mereka lakukan, setelah satu minggu Alinka masuk dan di rawat di Rumah sakit itu barulah dokter memberi keputusan untuk mengambil tindakan pada Alinka dengan mengoperasinya untuk mencangkok hatinya yang sudah rusak.


 


“Begini, sengaja saya ulur lama keputusan ini, karna menunggu kondisi pasien stabil terlebih dahulu, meski dia dalam keadaan tidak sadar tapi kondisinya Alhamdulillah baik-baik saja, detak jantungnya normal, tekanan darahnya juga normal dan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya pun berjalan dengan lancar, nah setelah itu baru kami bisa ambil tindakan operasi untuk pasien.” Ucap salah satu dokter yang menangani Alinka.


 


“Syukurlah dokter kalo selama ini istri saya baik-baik saja, saya serahkan saja apa yang akan menjadi terbaik untuk istri saya.” Jawab Faiz pun menyetujui rencana dokter.


 


“Dan selama ini selain menunggu kondisi pasien yang stabil, pihak rumah sakit juga harus menunggu ada stok donor hati di rumah sakit ini yang cukup agak langka, jadi kami harus menunggu lama, tapi Alhamdulillah sekarang sudah ada yang cocok untuk istri Anda.” Lanjut penjelasan sang dokter.


 


“Alhamdulillah, kalo begitu saya serahkan semuanya pada dokter saja.” Jawab Faiz bahagia.


 


“Mungkin nanti malam kami mulai operasi pasien.” Ucap dokter.


 


“Baiklah dokter.” Jawab Faiz.


 


“Sabar ya, InsyaAllah istri Anda akan selamat yakin dan doakan Team dokter agar ada dalam kelancaran.” Ucap dokter sambil menepuk-nepuk pundak Faiz.


 


“Kami juga mendengar Anda adalah sepasang pengantin baru, benarkah itu?” tanya dokter tersebut.


 


Faiz tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


 


“Sabar ya, nanti ada saatnya kalian akan bahagia.” Sahut sang dokter memberi semangat pada Faiz.


 


“Syukron Katsiron dok.” Ucap Faiz


 


Lalu sang dokter pun berlalu dari hadapannya.


 


“Gimana?” tanya ummi saat Faiz kembali dari ruangan dokter.


 


“Alhamdulillah Mi, malam ini Alinka akan segera di operasi untuk pencangkokan hatinya.” Jawab Faiz terlihat guratan senyum di bibirnya.


 


“Alhamdulillah, semoga anak kita segera sembuh dan kembali normal.” Sahut abi, ummi dan ibu.


 


Lalu tiba-tiba datang seseorang yang tidak asing di mata ibu dan abi Hasan.


 


Sosok itu segera menghampiri mereka lalu.


 


“Ibu... bagaimana keadaan Alin?” tanya Shema sambil merangkul ibu kandung Alinka.


 


“Neng Shema, dari siapa neng tau kalo Alinka di sini?” Ucap ibu kaget.


 


“Ada seseorang yang ngasih kabar kalo Alinka kritis di hospital ini Bu, Sekarang gimana keadaan sahabat Shema Bu, Shema gak mau kalo sampe kehilangan Alin.” Tangis Shema pun pecah saat dia menemui keluarga Alinka.


 


“Neng tenang dulu, InsyaAllah Alin baik-baik saja, nanti malam dia akan menjalani operasi.” Jawab ibu kandung Alinka.


 


“Syukurlah Bu, Shema lega mendengarnya, dan soal biaya pengobatan Alinka selama di sini, biar Shema yang tanggung ya Bu, izinkan Shema membantu Alin.” Pinta Shema sambil memohon.


 


“Minta izinlah pada suaminya, karna sekarang Alinka sudah mempunyai suami.” Ucap ibu kandung Alinka.


 


Lalu Shema pun menoleh ke arah Faiz yang terdiam tepat di depan pintu kamar dimana Alinka terbaring.


 


“Please ya Faiz izinkan aku memberikan apa yang terbaik untuk Alinka.” Mohon Shema.


 


Faiz hanya menatap dalam mata Shema yang terlihat berlinang air mata.


 


“Sebenarnya aku juga masih bisa menanggung semua yang di perlukan Alinka, tapi karna aku tau kalian berdua bersahabat sudah dari lama, maka aku izinkan kamu mencurahkan rasa sayang kamu pada sahabatmu sendiri saat ini dan terima kasih atas perhatiannya pada istriku.” Jawab Faiz tegas.


 


“Makasih ya Faiz, aku janji aku akan selalu ada untuk Alinka saat ini juga.” Ucap Shema antusias dan merasa bahagia.


 


Lalu Faiz pun mengajak Shema untuk melihat Alinka yang sudah lama terbaring di kasur rumah sakit.


 


“Beginilah kondisinya sekarang, mungkin dia sedang bermimpi indah sehingga dia tidak mampu bangun tuk meninggalkan alam mimpinya yang indah itu.” Ucap Faiz sambil mengelus kepala Alinka dengan lembut.


 


Seketika Shema pun memeluk erat tubuh sahabatnya itu.


 


“Aliiin... bangun Lin,, aku datang untukmu, kamu janji kita akan bahagia bersama setelah masing-masing kita menikah, kamu harus bangun Lin kamu harus bangun, lihatlah suami mu sangatlah tampan Lin, apa kamu tidak mau menikmati ketampanannya setelah sekian lama kamu perjuangkan, suami mu begitu Sholeh dan bertanggung jawab juga Lin apa kamu tega hanya membiarkan dia sendiri di sini, ayo bangun Lin aku yakin kamu pasti bisa lawan kondisi mu sekarang.” Ucap Shema dengan berlinang air mata.


 


Faiz hanya merasa terharu melihat suasana itu, ketika sepasang sahabat di pertemukan kembali dalam kondisi yang sangat berbeda.


 


Shema terus mencium tangan dan kening Alinka lalu Shema peluk lagi tubuh Alinka begitu seterusnya Shema lakukan, sampai tiba-tiba sedikit pergerakan dari tubuh Alinka pun terlihat.


 


Alinka terlihat menggerakkan jari tangannya dengan perlahan.


 


“Shema, lihat...!!!” sahut Faiz yang sedari tadi memperhatikannya.


 


“Apa??” tanya Shema sambil menengok ke arah Faiz.


 


“Tangan Alinka, tangan Alinka bergerak...!!!” sahut Faiz terkejut dan sangat merasa bahagia.


 

__ADS_1


Lalu Shema pun memperhatikan kejadian tersebut.


 


Faiz segera memberi tahu dokter atas kejadian itu.


 


“Alin aku tau kamu pasti akan bangun kalo aku datang.” Ucap Shema sambil memeluk Alinka berkali-kali.


 


Perlahan mata Alinka pun terbuka sedikit demi sedikit lalu.


 


“She,,Shema... Aku rindu.” Ucap Alinka perlahan.


 


“Alin...!!! Sama aku juga sangat rindu.” Jawab Shema sedikit berteriak dan memeluk kembali Alinka.


 


“Kamu bangun Lin, kamu jangan tinggal in aku.” Ucap Shema kembali.


 


Lalu dokter pun datang untuk segera memeriksa kemajuan kondisi Alinka.


 


Dan semua anggota keluarga di perbolehkan masuk untuk melihat Alinka.


 


Setelah dokter memeriksa keadaan Alinka beberapa saat dokter pun berkata.


 


“Alhamdulillah, kondisi Anda sekarang sudah sangat stabil dan siap untuk menjalani operasi malam ini.” Ucap dokter sambil menyalami Faiz.


 


Senyum Faiz merekah lebar saat mendengar kata-kata itu lalu dia pun segera menghampiri Alinka istrinya tercinta.


 


“Sayang.” Sapa Faiz.


 


Dan Alinka pun tersenyum mendengar kata itu dari Faiz.


 


“Jangan sakit lagi ya.” Sambung ucapan Faiz sambil berlinang air mata.


 


“Lin, ayo katakan padaku sekarang kamu mau apa?” tanya Shema bersemangat.


 


“Aku sedang tidak mau apa-apa Shema terima kasih, sekarang aku hanya ingin sembuh dan bisa normal menjalankan tugas seorang istri.” Jawab Alinka sambil tersenyum.


 


“Kamu pasti akan sembuh sahabatku, aku akan memperjuangkan itu.” Ucap Shema sambil menggenggam tangannya.


 


Alinka pun seraya tersenyum melihat banyak orang-orang di sekelilingnya yang mensuport dirinya untuk kembali sembuh.


 


“Bu, Alin haus pengen minum.” Sahut Alinka yang memang sudah seminggu dia tidak sadarkan diri membuat dia lapar dan haus ketika dia terbangun.


 


“Sayang, sekarang kamu kan punya kakak, kenapa harus selalu minta sama ibu,” ucap Faiz dengan lembut sambil meminumkan air mineral dengan sedotan untuk Alinka.


 


Alinka hanya tersenyum seperti terlihat masih canggung ketika dia ingin minta sesuatu pada suaminya sendiri.


 


 


Alinka pun seraya mengedipkan matanya pada Shema seakan memberi kode pada dirinya untuk diam.


 


“Tuh kan dia ngode.” Sahut Shema kembali sambil tersenyum.


 


“Ya sudah sekarang mau makan? biar kakak ambilkan.” Tanya Faiz pada Alinka.


 


Dan Alinka pun menganggukkan kepalanya.


 


Lalu Faiz pun membawakan semangkuk bubur untuknya lalu menyuapi Alinka makan.


 


“Mulai saat ini panggilannya jangan kakak mulu dong nak, kan sekarang udah jadi suami.” Ucap ummi Fatimah sambil tersenyum melihat kemesraan mereka.


 


“Lalu mau panggil apa ummi?” tanya Faiz bingung.


 


“Ya apa aja yang lebih Sweet gitu Iz kamu kan masih anak muda ya ngerti lah pasti hal-hal yang Sweet untuk panggilan sayang.” Jawab ummi memberi saran.


 


“Alin panggil kak Faiz Aa aja ya mulai saat ini, kebetulan Alin kan gadis sunda asli.” Sahut Alinka.


 


“Aa panggil kamu Adek tetep ya.” Ucap Faiz sambil menatap Alinka.


 


Alinka pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


 


“Jadi pengen nikah juga Shema ummi melihat mereka.” Sahut Shema yang terharu melihat Alinka dan Faiz.


 


“Ya nikah lah nak, Allah melarang seorang lajang menunda pernikahannya kalo bisa harus di segerakan jika sudah mampu.” Jawab ummi Fatimah pada Shema memberi motivasi.


 


“InsyaAllah Shema sebentar lagi nikah,” ucap Shema sambil tersenyum kecil.


 


“Siapa ni kira-kira calon neng Shema?” tanya ibu kandung Alinka.


 


“Ada lah Bu, orang Indonesia juga pastinya.” Jawab Shema tersipu malu.


 


“Siapakah itu Shema, kamu gak pernah cerita sama aku?” tanya Alinka.


 


“Ada lah Alin aku malu kalo cerita sekarang nanti saja, kalo kamu sudah sembuh.” Jawab Shema wajahnya memerah seperti buah tomat.


 


“Yaudah aku tunggu kabar bahagianya ya Shema.” Ucap Alinka sambil tersenyum.


 


“Nanti kita resepsinya barengan ya Alin, pernikahan mu juga bukan kah belum menggelar acara resepsi?” tanya Shema.

__ADS_1


 


“Belum lah Shema kan Alinnya keburu drop.” Jawab Faiz.


 


“Yaudah kalo gitu kita resepsi bareng di Mesir ya.” Pinta Shema.


 


“Jauh amat harus di Mesir nak, di Indonesia saja sudah.” Ucap ibu kandung Alinka.


 


“Bukannya Faiz menetap di sini ya Bu, jadi Alin pun otomatis ikut suaminya dong.” Sahut Shema.


 


“Kontrak kerja ku sebentar lagi di sini, ya kalo gak di perpanjang kita pulang ke Indonesia tapi kalo di perpanjang kita menetap di sini.” Jawab Faiz.


 


“Semoga di perpanjang ya Allah, agar aku tidak terpisahkan lagi dengan Alinka.” Ucap Shema seakan berdoa.


 


Sebelum malam tiba dan Alinka menuju tindakan operasinya, Faiz dan Alinka sempat berbincang beberapa saat.


 


“A, janji yah apa pun yang terjadi nanti pada Alin Aa harus ikhlas.” Ucap Alinka sambil menatap kedua bola mata Faiz begitu dalam.


 


“Aa juga janji, Aa jangan menghukum diri Aa sendiri jika sesuatu terjadi pada Alin.” Sambung ucapan Alinka sambil sesekali membelai wajah Faiz.


 


“Kamu bicara apa dek, Aa yakin operasinya akan berjalan dengan lancar dan kamu bisa sembuh kembali, kita akan bahagia bersama anak-anak kita kelak.” Jawab Faiz menepis semua ucapan Alinka.


 


“Tapi Aa harus janji dulu sama Alin,” desak Alinka.


 


Faiz hanya terdiam lalu membuang muka dari pandangan Alinka sambil menahan rasa sendu yang teramat.


 


“Aa...!!!” sahut Alinka.


 


Faiz pun menatap wajah Alinka kembali.


 


“Janji yah? Alin mohon...!!!” ucap Alinka.


 


Faiz menganggukkan kepalanya sambil sedikit meneteskan air matanya.


 


“Aa jangan nangis, kelak Alin sudah bahagia dan Aa juga harus bahagia dengan melanjutkan hidup Aa di masa depan.” Ucap Alinka semakin membuat tangis Faiz pecah.


 


“Stop,, Aa mohon stop jangan bicara seperti itu lagi, alangkah baiknya kita bicara yang baik-baik saja karna sejatinya kata-kata itu adalah sebuah doa.” Jawab Faiz membungkam perkataannya yang memilukan hati.


 


“Dengarkan Aa, kamu akan baik-baik saja, kamu akan sembuh kembali dan kita akan mempunyai keturunan yang Sholeh dan Sholihah kelak.” Ucap Faiz seakan memberikan semangat dan doa untuk Alinka.


 


“Apa pun yang akan terjadi pada mu aku akan tetap berada di samping mu, meski pun aku harus menunggu dengan waktu yang sangat lama, aku akan tetap mencintai mu karna Allah, aku suami mu, milik mu seutuhnya.” Sambung ucapan Faiz lalu dia memeluk erat Alinka.


 


Saat itu Shema pun tiba-tiba masuk dia pulang membeli sesuatu untuk Alinka dan tidak sengaja melihat moment romantis itu.


 


“Up’s maaf!” sahut Shema ketika dia melihat Alinka dan Faiz sedang berpelukan.


 


“Tidak apa Shema masuk saja, kamu pulang dari mana?” tanya Faiz segera melepas pelukannya dengan Alinka.


 


“Aku habis beli ini untuk Alin.” Jawab Shema sambil menunjukkan barang yang di bawanya.


 


“Apa itu?” tanya Faiz sambil menghampirinya.


 


“Air zamzam?” tanya Faiz.


 


“Ya, aku pikir air zamzam berkhasiat penyembuh untuk penyakit apa saja semoga dengan rutinnya Alin minum air zamzam akan ada keajaiban untuk dirinya.” Jawab Shema.


 


“Makasih ya sahabatku, kamu memang orang paling pengertian semenjak zaman kuliah dulu.” Ucap Alinka.


 


“Sama-sama sahabatku.” Jawab Shema sambil menghampiri Alinka lalu memeluknya.


 


“Aku ingin kamu sembuh.” Bisik Shema perlahan.


 


“Ada kurma juga sayang, kamu mau? Biar Aa suapin.” Sahut Faiz sambil memindahkan itu semua ke tempat terbuka.


 


Alinka mengangguk dan tersenyum pada Faiz.


 


Setelah sore menjelang, perasaan Alinka semakin gelisah, takut operasinya gagal atau sesuatu terjadi padanya yang membuat dia melamun.


 


“Sayang kamu kenapa?” tanya Faiz sambil mengelus kepalanya.


 


“Alin takut A,” jawab Alinka.


 


“Gak usah takut, kan ada Aa di sini.” Ucap Faiz memberi semangat padanya.


 


Alinka pun menatap Faiz dengan penuh haru.


 


“Tuhan, dia orang yang aku cinta selama ini dan aku baru saja memiliki dia seutuhnya, jika suatu saat terjadi hal yang tidak di inginkan terhadapku, aku ikhlas, aku titip dia pada mu.” Ucap Alinka dalam hati saat menatap wajah Faiz.


 


“Sayang, jangan bengong dong, kamu pasti bisa melawan penyakit ini kamu harus yakin kamu bisa kembali sembuh.” Ucap Faiz menyadarkan lamunannya.


 


Alinka pun hanya mengangguk dan tersenyum padanya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2