《 WAJAH DI BALIK CADAR 》

《 WAJAH DI BALIK CADAR 》
Satu Titik Terang Part1


__ADS_3

Tepat pukul 18.00 Faiz baru pulang dari suatu tempat yang memang dari tadi ia rahasiakan.


 


“Assalamualaikum.” Ucap dia sewaktu dia sampai di rumah sakit.


 


“Wa’alaikumussalam... dari mana aja kamu Faiz?” Sahut abi sedikit agak tegas.


 


“Dari rumah teman abi.” Jawab Faiz dengan santainya lalu dia pun segera menghampiri Alinka dan mencium keningnya.


 


“Maafkan Suami mu baru bisa jenguk kamu hari ini ya sayang, kamu gak papa kan, gimana dengan keadaanmu hari ini baik-baik aja kan?” Sapa hangat Faiz pada Alinka.


 


“Faiz, abi mau tanya, sebenarnya kamu masih sayang gak sih sama Alinka?” tanya Abi Fakhry.


 


“Jelas masih sayang lah abi.” Jawab Faiz sambil terus menatap wajah Alinka dan membelai lembut wajahnya.


 


“Jika memang masih sayang kenapa kamu main gila sama perempuan lain di luar sana?” tanya abi sedikit emosi.


 


“Maksud abi apa?” Faiz pun berbalik tanya dengan bingung.


 


“Jangan pura-pura tidak mengerti Faiz, abi tau semuanya.” Jawab abi Fakhry.


 


“Maksud abi?” Faiz masih mengelak atas desakan abi.


 


“Marwah, dia kan orangnya? Perempuan yang kamu ajak main gila di belakang Alin, bisa-bisanya istrimu sedang terbaring lemah kamu malah senang-senang di luar sana dengan perempuan itu, kamu mengerti tidak akan perasaan Alinka Faiz?” bentak Abi yang tersulut emosi.


 


“Baik abi, Faiz jujur, Faiz memang sedang dekat dengan seorang wanita dan yang abi bilang itu memang benar Marwah dia lah orangnya yang selama ini mengurangi rasa sepi ku di saat Alinka tidak berdaya.” Jawab Faiz terus terang.

__ADS_1


 


“Tapi kamu tau gimana perasaan Alinka jika dia dalam kondisi sadar Faiz, ingat jangan sekali-kali kamu mencoba melukai hati seorang wanita karna kamu mempunyai 4 orang wanita dalam hidup mu Faiz yaitu ibu mu dan ke 3 saudara perempuan mu, jika salah satu dari mereka ada di posisi Alinka apa kamu tega?” bentak abi panjang lebar.


 


“Tapi Faiz hanya manusia biasa bi yang mempunyai hawa ***** bukan malaikat, dan untuk menghindari hal yang tidak di inginkan Faiz akan putuskan untuk menikahi Marwah tapi tidak pula untuk menceraikan Alinka.” Jawab Faiz dengan tegas.


 


“Sadar kamu Faiz, dapat ajaran dari mana kamu bisa berpikir seperti itu?” sangkal abi.


 


“Bi, tolong mengerti Faiz ini dalam keadaan mudarat nabi dan ajaran Islam juga membolehkan seseorang beristri lebih dari satu jika dalam keadaan seperti ini.” Jawab Faiz tetap tenang menghadapi abi nya yang sudah terlanjur emosi.


 


“Sudah-sudah Bi, selesaikan masalah ini dengan kepala dingin, biarkan Faiz berpikir dengan jernih terlebih dahulu agar dia bisa kembali mengambil keputusan dengan seadil-adilnya.” Lerai umi pada abi yang sedang beradu argumen dengan putranya.


 


Lalu umi pun mendekati Faiz dan menasihatinya dengan lembut.


 


“Nak, pikir kembali dengan baik-baik, apa keputusan mu itu sudah benar, dengan memutuskan beristri dua kamu akan hidup bahagia? Tapi bagaimana dengan perasaan Alin, ummi yakin dia akan sembuh dalam waktu dekat ini percaya pada keajaiban Allah Iz, nabi pun di beri mukjizat ketika beliau sedang di timpa masalah yang amat besar, begitu pula pada manusia biasa kasih sayang Allah tidak akan berbeda pada setiap hambanya nak, hanya saja beda jenis dan cara Allah memberikan pertolongan pada setiap hambanya.” Jelas umi sambil mengelus punggungnya dengan lembut.


 


 


“Tapi bukankah kamu juga harus terlebih dulu meminta persetujuan keikhlasan dan ke Ridho an Alin sebelum dia akan di madu nak.” Ucap umi


 


“Tapi umi dengan keadaan Alinka yang seperti ini mana bisa Faiz meminta izin pada Alin langsung, pasti tidak akan ada jawaban, tapi kan di sisi lain masih ada kedua orang tua nya, jadi Faiz akan meminta izin pada abi dan ibu untuk hal ini.” Jawab Faiz dengan mudahnya


 


“Mereka pasti mengizinkan nak, tapi hati orang tua mana yang rela melihat cinta anak kandung nya terbagi mereka pasti akan merasa sakit dan kecewa.” Ucap umi sambil berlinang air mata.


 


“Sudah lah umi Faiz jadi semakin pusing, lebih baik sekarang Faiz pulang ke apartemen dulu lalu jika sudah agak mendingan Faiz akan kembali ke sini.” Sahut Faiz dengan nada bicara agak tinggi pada umi nya.


 


“Faiz, turunkan nada bicara mu, sudah berani ya kamu bernada tinggi pada umi mu sendiri...!!!” ucap abi pun marah kala mendengar ucapan Faiz.

__ADS_1


 


Tapi sayangnya Faiz tidak menggubris kata-kata abi lalu dia pun pergi begitu saja tanpa pamit pada kedua orang tuanya.


 


“Ini nih ini, jika dia dekat dengan wanita itu dia berubah menjadi anak pembangkang, memang negatif sekali aura wanita itu bagi anak kita mi, itu alasan abi tidak suka pada Marwah dan tidak pernah merestui hubungan mereka.” Sahut abi pada umi


 


Tetapi umi menanggapi ucapan abi hanya dengan linangan air mata di pipinya.


 


“Tenang saja mi, umi jangan sedih, abi yakin Faiz anak kita akan kembali lagi pada pelukan kita.” Ucap abi berusaha menenangkan umi lalu memeluknya.


 


Abi Hasan dan ibu pun terlihat tegang dan khawatir akan keselamatan hubungan rumah tangga Alinka dan Faiz.


 


“Maafkan anak kami ya Bu, entah apa yang sedang merasuki diri Faiz sehingga dia menjadi seperti itu.”  Ucap umi pada ibu kandung Alinka seraya meminta maaf.


 


“Tapi kami sudah ikhlas kok umi, jika Faiz akan mengambil keputusan untuk menikah kembali, ke depannya jika memang Alinka tak kunjung sadar kami akan membawa dia pulang ke tanah air dan biarkan hanya kami yang mengurus Alinka sepenuhnya, karna kami tidak ingin membebani keluarga Ustad Fakhry. “ ucap abi Hasan sendu


 


“Jangan bilang seperti itu, kita ikhtiar dan berjuang bersama² terlebih dulu untuk menyelamatkan pernikahan anak-anak kita, jangan menyerah toh ke depannya kita tidak tau apa yang sedang Allah rencanakan untuk kita.” Jawab abi Fakhry menepis semua ke putus asa an abi Hasan.


 


Lalu semuanya pun berusaha mendingin kan dulu pikiran untuk selanjutnya mengambil keputusan dengan sebijak mungkin.


 


Ibu pun menghampiri Alinka dan memandang wajah putrinya,


 


“Bangun nak, kamu harus selamatkan pernikahan mu tidak ada yang bisa menghalangi keinginan Faiz selain kamu sendiri.” Ucap ibu sambil mencium tangan putrinya dan meneteskan air mata.


 


Umi pun berusaha menegarkan hati dan perasaan ibu yang saat ini sedang hancur.


 

__ADS_1


“Maafkan anak kami Faiz ya Bu.” Bisik umi sambil memeluk ibu kandung Alinka sambil berlinang air mata.


__ADS_2