
Seharusnya Faiz wisuda lebih dulu di banding Alinka, tetapi karna Faiz fakum dulu selama 2 tahun untuk membantu pondok pesantren abi di indonesia, jadi wisuda Faiz dan Alinka bebarengan. Karena Alinka baru bisa menyelesaikan kuliah S1 nya di kairo selama 4 tahun sedangkan Faiz hanya butuh waktu 2 tahun saja untuk melanjutkan pada gelar S2 nya di Madinah.
"Akhirnya sampai juga kita di kamar." Sahut Shema sesampainya di asrama sambil melempar tas dan membaringkan badannya di kasur.
"Cuaca hari ini sangat panas ya Lin?" Lanjut tanya Shema kepada Alinka yang terlihat sedang sibuk dengan handphone kesayangannya.
"Lin... Alin... kamu sibuk chatingan sama siapa sih? Aku sampe di cuekin." Sahut Shema yang mulai bete melihat tingkah Alinka.
"Eh... emh... enggak kok Shema, aku hanya membalas pesan kak Faiz saja." Jawab Alinka gugup.
"Gak papa kok Lin kalo kamu mau chatingan sama dia, aku ngerti tapi asal jangan cuekin aku." Ucap Shema jealous.
"Ini udah kok, Shema aku gak bakal cuekin kamu lagi." Jawab Alinka membujuk Shema yang mulai terlihat cemberut.
Lalu mereka pun mulai beristirahat bersama setelah kepenatan aktivitas hari ini.
Di tengah istirahat mereka tiba-tiba ada yang mengetuk pintu asrama.
Tok..tok..tok...!!!
"Assalamu'alaikum?" Sahut seseorang di depan pintu.
"Siapa yang datang?" Tanya Shema terbangun dari tidurnya yang baru saja mau memejamkan mata.
"Biar aku saja yang buka pintu." Sahut Alinka sambil berjalan menuju ke depan pintu.
Selang beberapa detik Alinka terlihat mengobrol sejenak dengan seseorang itu.
"Siapa Lin?" Tanya Shema sekembalinya Alinka dari depan pintu asrama.
"Oh itu tadi ibu asrama, memberikan ku sebuah paket." Jawab Alinka yang terlihat membawa sebuah bingkisan.
"Apa itu?" Tanya Shema penasaran.
"Entah lah." Jawab Alinka sambil mengamati bingkisan tersebut.
"Kita buka sama-sama saja." Sahut Alinka kembali sambil memegang sebuah gunting.
Shema hanya menganggukan kepalanya.
Ternyata bingkisan itu adalah oleh-oleh makanan khas indonesia.
"Wah ternyata isinya makanan," ucap Alinka sambil mengeluarkan satu persatu makanan itu.
"Ini makanan khas indonesia kan?" Tanya Shema sambil melihat lihat semua isi bingkisan.
"Iya." Jawab Alinka fokus membongkar bingkisan tersebut.
Lalu tiba-tiba handphone Alinka pun bergetar.
Drtt..drtt..drtt..!!!
"Tuh handphone mu getar Lin." Tunjuk Shema sambil membantu mengeluarkan isi bingkisan.
"Assalamu'alaikum?" Ucap Alinka dalam sebuah panggilan.
"Wa'alaikumussalam.. gimana udah kamu terima paketnya dek?" Tanya Faiz.
"Oh ternyata ini dari kakak?" Sahut Alinka.
"Itu titipan dari umi, kakak yang bawain dan kakak titipin ke ibu asrama saat kamu sudah pergi ke kampus." Jawab Faiz.
"Makasih ya kak, bingkisannya udah Alin bongkar bareng Shema." Sahut Alinka bahagia.
"Iya sama-sama, makanannya bagi-bagi bareng Shema ya dek." Pesan Faiz.
"Siap bos ku." Jawab Alinka semangat.
Lalu panggilan telpon pun berakhir dan Alinka melanjutkan anboxing kiriman dari Faiz kembali.
"Faiz ya?" Tanya Shema.
"Iya." Jawab Alinka sambil tersenyum.
"Apa katanya?" Tanya Shema kembali.
"Kata kakak, makanannya harus bagi-bagi bareng Shema." Jawab Alinka riang.
"Faiz baik ya, masih saja inget temen dari adiknya." Ucap Shema.
"Yaaa... itulah kak Faiz." Sahut Alinka sambil tersenyum manis.
Setelah itu mereka pun menata rapi stock makanannya lalu melanjutkan istirahatnya kembali.
***
3 bulan pun berlalu begitu cepat, waktu semakin dekat dengan moment bahagia Alinka, Ya... hari dimana study nya di Kairo segera berakhir.
"Shema, apakah semua perlengkapan kita buat esok hari sudah siap?" Tanya Alinka sambil mengecek satu persatu perlengkapan wisudanya nanti.
"Sudah semua dong kita tinggal tunggu hari esok aja." Jawab Shema sambil merapikan semua.
"Keluarga mu sudah ada di sinikan?" Tanya Shema kembali.
"Sudah 3 hari yang lalu mereka datang, sekarang mereka menginap di hotel dekat sini." Jawab Alinka sambil tersenyum bahagia.
"Aku mau mengenal keluarga kandung mu boleh?" Tanya Shema.
"Tentu saja kenapa tidak Shema." Sambil memeluk Shema Alinka pun menjawab pertanyaannya.
"Terimakasih." Ucap Shema sambil tersenyum.
"Sama-sama, nanti sore kita kunjungi keluarga ku di hotel ya." Jawab Alinka sambil tetap tersenyum.
Dan Shema pun menganggukan kepalanya seakan menyetujui ucapan Alinka.
***
Jam 15.00 waktu setempat,
"Keluarga abi Fakhry juga bukannya datang ke sini?" Tanya Shema sambil berjalan menuju hotel tempat menginap keluarga Alinka.
"Tentu saja, tapi mereka akan menghadiri acara wisuda kak Faiz." Jawab Alinka sambil terus berjalan menyusuri jalan ke tempat yang mereka tuju.
"Setelah wisuda apa kamu akan langsung ikut pulang ke indonesia bersama keluarga mu?" Tanya Shema sambil bersedih.
"Mungkin sambil menunggu semua berkas kekulusan lengkap baru aku bisa pulang." Jawab Alinka.
"Meski pun harus menunggu selama satu bulan?" Tanya Shema bahagia.
"Yaaa" ucap Alinka
"Aku senang karna aku masih bisa bersama mu selang beberapa hari." Sahut Shema.
Lalu Alinka pun tersenyum sambil memeluk Shema.
Selang beberapa menit perjalanan, baru lah mereka sampai di hotel yang mereka tuju.
"Di lantai dan kamar nomor berapa keluarga mu menginap Lin?" Tanya Shema sambil melihat di sekeliling nya.
"Katanya di lantai 15, kamar nomor 290" jawab Alinka masih merasa bingung.
"Kalo gitu kita tanyakan saja ke receptionist nya." Usul Shema.
Alinka pun mengangguk dan mereka segera menghampiri receptionist yang berada di hadapan mereka.
Setelah menanyakan keberadaan keluarganya, baru lah mereka segera menuju tempat yang di tunjukan seorang receptionist tersebut.
Dan sampailah mereka di kamar yang keluarga Alinka tinggali.
Alinka pun segera mengetuk pintu beberapa kali dan pintu pun lekas terbuka lalu..
"Assalamu'alaikum...??" Ucap Alinka saat abi nya membukakan pintu.
"Wa'alaikumussalam... nak...!!!" Sahut abi Hasan bahagia dan lekas merangkul putri bungsunya tersebut.
"Siapa bi?" Tanya ibu dari belakang.
"Lihat siapa yang datang?" Ucap abi sambil memperlihatkan Alinka pada ibu kandungnya.
"Alinka...!!!" Sahut ibu sambil berlari menuju ke arah Alinka lalu merangkul dan memeluknya erat.
"Ibu kangen nak, 3 tahun ibu berpisah dengan mu, kamu baik-baik aja kan?" Tanya ibu sambil memeluk dan mencium Alinka.
"Alhamdulillah bu, Alin sehat, ibu sama abi dan abang gimana kabarnya?" Ucap Alinka.
"Kami semua baik-baik saja tapi kami sangat merindukan mu nak." Sahut abi dan ibu kandung Alinka.
"Oyah abi, ibu, perkenalkan ini sahabatku namanya Shema." Ucap Alinka sambil memperkenalkan Shema yang sedari tadi berdiri di belakang Alinka.
"Shema perkenalkan ini abi Hasan dan ibu Halimatusa'diah, abi dan ibu kandungku." Sambung ucap Alinka.
Lalu Shema pun salam dan mencium tangan abi dan ibu kandung Alinka.
"Cantik sekali sahabat mu nak," ucap ibu sambil memuji Shema.
"Memang benar bu, dia adalah sahabat tercantik Alin yang pernah Alin kenal." Jawab Alinka sambil melirik ke arah Shema dan Shema pun seakan tersipu malu.
"Ah ibu berlebihan anak ibu juga Alinka tidak kalah cantik dan sholihah di banding aku bu." Jawab Shema sambil tersipu malu.
"Dua-dua nya cantik bagi ibu dengan kelebihan dan kekurangan nya masing-masing, semoga persahabatan kalian tetap terjaga sampai jannah ya." Ucap ibu kandung Alinka sambil memeluk mereka berdua.
"Aamiin..." sahut Alinka dan juga Shema.
__ADS_1
Lalu mereka pun di persilahkan masuk dan ibu tentunya segera mempersiapkan hidangan kecil untuk Shema dan Alinka.
"MasyaAllah... Cemilan indonesia, sudah lama sekali Alin gak makan ini bu, di sini gak ada cemilan cemilan seperti ini." Sahut Alinka antusias.
"Iya makan lah nak, sengaja ibu bawakan ini semua dari rumah." Jawab ibu kandung Alinka sambil menyuguhkan semua cemilan kesukaan Alinka.
"Ini apa Alin?" Bisik Shema yang terlihat bingung melihat semua makanan ini.
"Ini cemilan khas kampung halaman ku Shema termasuk cemilan favoritku." Jawab Alinka sambil tersenyum bahagia.
"Ini apa namanya?" Tanya Shema sambil menunjukan salah satu makanan pada Alinka.
"Ini namanya keripik pisang." Jelas Alinka.
"Pisang?" Ucap Shema bingung.
"Bukan kah pisang itu salah satu buah yang bercitarasa manis, kok bisa pisang di buat keripik?" Tanya Shema semakin bingung.
"Yaaa... tapi pisang yang untuk di buat jadi keripik harus pisang yang masih mentah jadi tekstur dan rasanya masih keras dan hambar, baru pisang seperti itu bisa di buat menjadi keripik." Jelas Alinka panjang lebar.
Shema pun seakan mengangguk mengerti apa yang di jelaskan Alinka.
"Cobain deh rasanya." Ucap Alinka.
Lalu Shema pun mencoba mencicipi makanan tersebut.
"Gurih, asin, garing dan kriuk macam chips photatto ya." Sahut Shema sambil mencicipi keripik pisang tersebut.
"Kamu suka?" Tanya Alinka.
"Hem... lumayan lah." Jawab Shema.
"Bu ngomong-ngomong abang mana kok gak kelihatan?" Tanya Alinka.
"Abang mu lagi tidur nak, sepertinya dia lelah habis perjalanan." Jawab ibu sambil menyajikan semua makanan khas indonesia dari mulai makanan kecil sampai makanan berat.
"Oh yaudah ketemu abang besok aja di tempat acara ya bu." Ucap Alinka.
"Iya tenang aja nak, abang mu akan selalu siap ada di samping mu sekarang." Jawab ibu sambil mengelus wajah Alinka.
Setelah mengenalkan Shema kepada keluarga kandungnya dan melepas rindu yang selama 3-4 tahun sudah tidak terbendung, Alinka pun bergegas kembali ke asrama dan bersiap untuk menyambut esok hari nan bahagia.
"Bu, Alin pamit pulang ke asrama dulu ya, nanti pagi Alin udah booking MUA buat make over ibu untuk acara wisuda Alin, Alin ingin semua yang teristimewa buat esok hari." Ucap Alinka berpesan pada ibunya.
"MUA? Padahal gausah ibu gak mau dandan menor-menor biasa aja." Jawab ibu Alin yang merasa canggung buat di make over dengan MUA.
"Gak papa sekali ini aja bu untuk Alin." Ucap Alinka pun memohon.
Dan akhirnya ibu pun mengabulkan keinginannya.
"Yaudah Alin pulang dulu ya bu, Assalamu'alaikum." Sahut Alinka sambil mencium ibunya.
"Wa'alaikumussalam." Jawab abi dan ibu Alinka.
Setelah berjalan beberapa saat sampailah Alinka dan Shema di asrama tercinta, mereka segera bersitirahat menabung tenaga untuk hari esok yang penuh dengan kejutan.
"Lin, MUA sudah kamu hubungikan harus kapan dia dateng dan mulai tugasnya di sini?" Tanya Shema menegaskan.
"Sudah siap Shema mereka datang sebelum waktu subuh." Jawab Alinka.
"Pakaian..?" Tanya Shema kembali.
"Ini laundry baru saja mengantarkannya ke ibu asrama dan ibu asrama segera memberikannya padaku." Jawab Alinka sambil menunjukan satu buah gaun yang sangat cantik dan anggun.
"Kembaran kita yah," sahut Shema sambil melihat baju barunya.
"Kita kembar tapi tak seiras ya..." ucap Alinka sambil tertawa dan memeluk Shema.
"Nanti malam ummah bakal dateng ke sini buat nginep semalam karna MUA kita semua sama dari satu MUA, ibu kamu gak suruh nginep aja Lin ke sini? Biar kita malam ini bisa saling melepas rasa rindu semalaman." Ucap Shema memberi usulan pada Alinka.
"Iya juga ya, kalo nunggu MUAnya selesai make up dari sini takut kesiangan lagi nanti buat dateng ke penginapan ibu." Sahut Alinka sambil termenung.
Lalu Alinka pun bergegas mengambil handphonenya bermaksud untuk menghubungi kakaknya untuk mengantarkan ibu ke asrama.
Tuuuutt...!!! Tuuutt...!!!
Suara nada sambung telpon pun terdengar keras.
"Lama sekali abang angkat telpon apa masih tidur dia," gerutu Alinka
Tidak lama kemudian..
"Hallo.. Assalamu'alaikum...??" Ucap abang Husna dalam sebuah panggilan.
"Wa'alaikumussalam... ah abang lama sekali abang angkat telpon, abang masih tidur ya?" Sahut Alinka komplain pada kakaknya.
"Masa udah sore gini abang masih tidur dek, tadi abang habis dari kamar mandi, oh ya maaf tadi gak sempet ketemu ya, emangnya ada apa sekarang kamu telpon?" Tanya kakak Alinka.
"Tempatnya kan abang gak tau," jawab bang Husna.
"Tenang Alin Shareloc sekarang." Ucap Alinka.
"Oke deh tapi minta izin abi juga takutnya abi gak ngizinin." Pesan bang Husna.
"Beres itu mah kak, oke nanti anterin ibu ke sini yak please." Ucap Alinka memohon.
"Iya iya.." jawab kakak Alinka.
Dan panggilan telpon pun berakhir singkat.
Setelah meminta izin pada abi dan abi pun mengizinkan ibu untuk menginap di asrama Alinka, bang Husna pun lantas mengantar ibu dengan petunjuk shareloc yang sudah Alinka kirim.
Malam itu pun menjadi malam yang sangat indah untuk Alinka dan Shema, karna mereka bisa tidur bersama ibu dan ummah mereka masing-masing. Setelah sekian lama di pisahkan oleh jarak dan waktu juga kesibukannya.
***
Malam pukul 21.00 waktu setempat,
Sebelum tidur Alinka sempat berbincang singkat dengan ibunya.
"Akhirnya Alin bisa tidur bareng ibu lagi, bisa peluk ibu lagi dan bisa merasakan hangat dan cium wangi aroma tubuh ibu." Ucap Alinka sambil memeluk erat ibunya.
"Tidurlah nak, malam ini ibu ada di sampingmu, entah berapa lama kita tidak pernah tidur seperti ini lagi ya, semenjak kau menginjak usia dewasa, ibu semakin sulit untuk menjamah dirimu." Jawab ibu sambil mengelus dan mencium kening Alinka.
Dan Pada malam itu Shema dan Alinka pun tertidur dengan di keloni ibu dan ummahnya seperti saat mereka waktu bayi.
***
Jam menunjukan pukul 06.00 Shema dan Alinka pun segera bersiap untuk mandi dan sholat subuh, lalu mulai make up.
Setelah ibu dan Alinka bangun jam 03.00 pagi karna terbiasa untuk melaksanakan sholat tahajud terlebih dahulu.
Lalu Alinka, ibu, Shema dan Ummah pun satu persatu mulai di make over oleh MUA yang sudah Shema pesan jauh-jauh hari.
***
Tepat pukul 07.00 pagi semua pun selesai di make over dan tinggal menunggu Wan Aziz menjemput mereka dengan kendaraan yang sudah wan Aziz siapkan untuk keluarga Alinka juga.
Tiba-tiba terdengar keras suara klakson mobil di depan gerbang, lalu semua pun bersiap dan menghampiri suara klakson tersebut.
Ternyata benar saja wan Aziz dan satu mobil lainya siap untuk menjemput Alinka dan keluarga.
"Sudah siap ummah?" Tanya Wan Aziz pada ummah Rubya.
"Sudah ba, kita langsung jemput saja abi dan kakak Alinka yang menginap tidak jauh dari sini." Ucap ummah Rubya.
"Ayo segera saja kita berangkat agar sampai di tempat wisuda bisa lebih dulu di banding tamu undangan lain." Sahut wan Aziz sambil mempersilahkan ibu dan Alinka masuk ke dalam mobil yang sudah di sediakan khusus untuknya.
Mereka pun segera menuju tempat menginap abi Hasan ayah kandung Alinka.
Beberapa saat kemudia sampailah mereka di depan penginapan dan langsung saja Alinka berlari ke dalam untuk menjemput abinya.
Dengan berpakaian gaun dan dandanan khas wisuda Alinka terlihat bagaikan putri yang sedang menjemput pangerannya, semua mata tertuju padanya kibaran cadar yang membuat setiap mata teduh di buatnya menambah kesejukan saat melihatnya, tidak ada hasrat atau pun nafsu saat melihat wujud Alinka yang berpakaian seperti itu, dia hanya terlihat sebagai putri muslimah yang sangat sopan dan anggun.
Akhirnya Alinka sampai juga di depan pintu kamar penginapan dan segera mengetuk pintu tersebut.
Lalu abi pun membukakan pintu dan abi pun sangat terpesona saat pertama kali melihat penampilan Alinka yang sangat berbeda dari biasanya.
"Alin? Ini benar kamu?" Tanya abi saat melihat Alinka.
"Iyah bi kenapa, Alin terlihat aneh ya?" Jawab Alinka
"Tidak aneh sayang, hanya saja abi baru pertama kali melihat kamu berpenampilan seperti ini." Ucap abi sambil terus menatap putrinya.
"Alin sudah datang bi?" Sahut bang Husna dari belakang abi.
"MasyaAllah... Alin... ini benar kamu?" Sahut bang Husna kembali terkejut.
"Kenapa kak?" Tanya Alinka
"Cantik bagaikan putri yasmin kamu Lin." Sahut bang Husna sambil menatap Alinka dari ujung kepala sampe ujung kaki.
"Yasudah, yasudah, ayo kita segera berangkat nanti kita terlambat lagi." Ucap Alinka sambil menggandeng tangan abi lalu mereka pun berangkat.
Setelah sampai di depan gerbang semua bertanya kepadanya.
"Lama sekali kamu Lin ngapain dulu aja kamu di dalam?" Tanya Shema
"Abi dan abang tiba-tiba tidak mengenaliku." Ucap Alinka sambil tersenyum.
"Pantas saja, Alinku sekarang kan lagi berubah menjadi princess yasmin." Sahut Shema sambil menyenggol pundak Alin.
"Apa sih kamu Shema seperti abang saja pake bilang mirip putri yasmin, padahal putri yasmin kan hanya dongeng semata." Jawab Alinka.
__ADS_1
"Yakan putri yang nyatanya ini, putri Alinka cantik melebihi putri yasmin, sholehah pula, iya gak bang?" Sahut Shema menegur bang Husna.
"Ii..ii..ii..iya ukhty...!!!" Jawab bang Husna gugup.
"Panggil saja Shema." Ucap Shema sambil mengulurkan tangannya mengajak berkenalan pada bang Husna.
"Husna..." jawab bang Husna sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian mereka pun berangkat ke gedung dimana berlangsungnya acara.
***
Beberapa jam kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan lalu Shema dan Alinka pun segera pamit masuk ruangan terlebih dahulu untuk mengikuti persiapan sebelum acara di mulai.
"Abi, ibu... Alin pamit masuk dulu ya, nanti ibu sama abi dan wan Aziz juga ummah masuk aja setelah acara di mulai sekarang acara belum di buka ibu sama abi bisa menunggu di tempat yang sudah di sediakan panitia." Ucap Alinka pada kedua orang tuanya.
Lalu ibu dan abi pun menyetujui perkataan Alinka.
"Ayo Shema kita masuk semua dosen dan teman-teman sudah berkumpul di ruangan." Ajak Alinka sambil menarik tangan Shema bersemangat.
Shema pun hanya mengikuti langkah Alinka yang sedang bahagia.
Semua teman-teman berkata pangling melihat penampilan Alinka pada saat itu, terlihat amat cantik dan anggun termasuk ustadzah Laila pun dosen yang hampir jadi mertua Alinka memuji dirinya.
"Alin, ini Alinka kan? Perempuan yang dulu di taksir Amer anak saya?" Ucap ustadzah Laila menyapanya di depan lobi.
"Iya ustadzah, ternyata ustadzah masih mengingat saya." Jawab Alinka ramah.
"Ternyata kamu cantik juga ya, sayang dulu gak jadi menantuku dan sekarang Amer sudah menjadi seorang duda karna di tinggal istrinya selingkuh dan dia juga meninggalkan seorang anak perempuan bersamanya, sekarang saya harus mengurus cucu beserta ayahnya kembali." Jelas cerita ustadzah Laila.
Sungguh terkejut saat Alinka mendengar kabar tersebut, tidak dia sangka, orang yang dulu dia kagumi di hancurkan oleh harapan seorang ibu yang justru salah menilai seseorang hanya dengan melihat keadaan saat seseorang itu susah, tapi Alinka yang dulu dia ragukan sukses melangkah bahkan lebih jauh dan berhasil bersinar melebihi kesuksesan perempuan pilihan ustadah Laila sendiri waktu itu.
Lalu...
"Apakah kamu bersedia menerima anak saya kembali?" Tanya ustadzah Laila.
"Emh... sss..." ucapannya di putus oleh ucapan Shema terlebih dulu.
"Maaf sebelumnya ustadzah, sekarang Alinka sudah mempunyai calon suami dan sebentar lagi akan menikah." Jawab Shema sambil menggenggam erat tangan Alinka.
"Benarkah itu Alinka?" Tanya ustadzah Laila.
Shema pun berusaha memberi Alinka kode atas ucapannya tersebut.
"Iii...ii..iya ustadzah maaf sebelumnya." Jawab Alinka gugup.
"Siap dia orangnya Alin, apakah dia berkebangsaan mesir atau orang asli dari tanah air mu?" Tanya ustadzah Laila penasaran.
"Nama calon suami Alinka adalah Faiz ustadzah, dia asli dari indonesia dan dia juga anak seorang kyai besar di kotanya dan kebetulan Alinka sempat mengabdikan diri di pondok pesantren milik ayahnya tersebut sebagai seorang ustadzah." Jelas Shema dengan imajinasi karangannya sendiri.
"Benar begitu Alinka?" Tanya ustadzah Laila.
"Iii..ii..iya benar sekali ustadzah." Jawab Alinka sangat gugup mengikuti kebohongan Shema.
"Sayang sekali kalo begitu ya, padahal Amer masih sangat sayang pada Alinka." Ucap ustadzah Laila.
Lalu ustadah Laila pun berlalu meninggalkab mereka.
"Uuuhh... akhirnya miss sombong dan jutek senegri mesir pun pergi dari hadapan kita Alin, aku sangat tegang berhadapan dengannya." Sahut Shema sambil menghela napas sangat panjang.
"Apalagi aku, kamu ajak aku berbohong." Ucap Alinka sedih.
"Tapi ini demi kebaikan kamu, kalo aku gak berbohong, aku pastikan kamu gak bakal bisa pulang ke indonesia Alin, karna kamu akan di minta nikah sama Amer yang udah jadi duda." Jelas Shema sebal.
Alinka diam tak bergeming,
"Sudahlah, toh aku bilang calon mu itu kak Faiz kan kakak mu sendiri." Ucap Shema sambil merangkulnya.
"Yasudah yuk kita masuk." Ajak Shema sambil mengiringi Alinka masuk kedalam ruangan gedung wisuda.
"Siapa itu... ssstt.. ssstt..!!!" Bisik-bisik dari teman-teman kuliah Alinka.
"Dia kan Alinka, cw bercadar dari indonesia itu loh," sahut mereka.
"Kok dia cantik sih kalo dandan." Sahut mereka kembali.
"Iya bagaikan putri dari dunia dongeng ya." Ucap mereka sambil terus menatap ke arah Alinka.
Tanpa Alinka gubris, Alinka dan Shema pun terus berjalan di hadapan orang-orang tersebut.
"Beberapa saat lagi acara akan di mulai dan pasti orang tua kita akan segera di persilahkan masuk ke dalam ruangan." Ucap Alinka sambil memilih tempat duduk di barisan kedua dari yang terdepan.
"Iya, gak sabar deh rasanya sebentar lagi kita akan mendapat gelar sarjana." Sahut Shema antusias.
Dan acara pun segera di mulai, semua orang tua/wali dari setiap mahasiswi di persilahkan duduk di tempat yang sudah di sediakan.
***
Setelah beberapa jam acara berlangsung dengan khidmat, akhirnya Alinka dan Shema pun mendapatkan gelar sarjananya terutama Alinka yang mendapat predikat cumlaude.
"Selamat ya Alin, aku bangga sekali mempunyai sahabat seperti mu." Ucap Shema saat Alinka di panggil ke depan untuk menerima gelar tersebut sambil memeluknya erat.
"Makasih ya Shema berkat kamu juga yang selama ini selalu nemenin aku suka maupun duka, kamun tidak pernah tinggalin aku meski di saat aku terjatuh." Sahut Alinka sambil menangis haru.
"Pokoknya kita sahabatan til jannah ya janji?" Ucap Shema.
Dan Alinka pun menganggukan kepalanya, sambil mengusap air mata Shema pun terus memeluk Alinka seakan tidak ingin kehilangannya.
Beberapa saat setelah itu, barulah semua peserta wisuda di perbolehkan keluar ruangan dan menemui keluarganya masing-masing.
Saat berjalan menuju keluarganya berada, Shema dan Alinka pun berjalan dengan tergesa tidak sabar untuk menceritakan berita bahagia ini kepada mereka.
"Shema itu mereka keluarga kita ada di sebelah sana." Tunjuk Alinka sambil menunjuk ke arah keluarganya menunggu.
"Iya Alin, ayo cepet, aku ingin segera memeluk ummah," sahut Shema
"Aku juga ingin segera menunjukan gelar ini pada ibu," sambil memperlihatkan selempang yang sudah di pasangkan sang maha guru kepadanya.
Setelah mereka berada di hadapan keluarganya masing-masing segeralah mereka rangkul ibu dan ummahnya sendiri.
"Ibu akhirnya Alin bisa menyelesaikan pendidikan ini dan Alin mendapat gelar cumlaude bu." Sahut Alinka bahagia sambil merangkul ibunya.
"Syukur Alhamdulillah nak, ibu sangat bangga dan bahagia pada mu." Jawab ibu Halimatusa'diah ibu kandung Alinka sambil menciumnya.
"Alin harus segera beritahukan abi dan umi bu." Ucap Alinka.
"Iya pasti sayang, mereka pasti sangat bangga dan pengorbanannya tidak sia-sia." Jawab ibu sambil memeluknya.
"Abi lihat anakmu akhirnya sarjana...!!!" Sahut Alinka sambil memperlihatkan pakaian dan toganya kepada abi.
"Alhamdulillah, suskses terus nak, semoga kamu bisa memanfaatkan ilmu mu di tanah kelahiranmu melanjutkan perjuangan abi." Jawab abi Hasan sambil mengelus kepalanya.
"Wah akhirnya adik bungsu abang yang manja ini berhasil menjadi sarjana juga menyusul kakaknya." Ucap bang Husna sambil menghampiri dan memeluk adiknya tersebut.
"Iya bang Alhamdulillah." Jawab Alinka sambil memeluk bang Husna.
"Oyah cepet kabarin umi sama abi yang lagi di kampus kak Faiz, bilang Alin dapat predikat CUMLAUDE." Usul ibu.
"Iya bu." Jawab Alinka sambil segera mengambil handphone kesayangannya.
Setelah panggilan video terhubung..
"Assalamu'alaikum abi, umi...!!!" Sahut Alinka bahagia.
"Wa'alaikumussalam nak, bagaimana acaranya lancar?" Jawab umi dan abi
"Alhamdulillah lancar mi,,
Umi, abi tebak Alin dapat predikat apa dari kampus?" Sahut Alinka bersemangat.
"Apa sayang umi gak tau?" Tanya umi
"Abi, umi, Alin dapat predikat CUMLAUDE...!!!" Ucap Alinka bahagia.
"MasyaAllah, Tabarakallah nak, memang gak salah abi sama umi kuliahin kamu ke mesir, akhirnya ada hasilnya juga." Sahut umi terkejut bahagia.
"Nanti setelah dari sini, abi segera tengokin kamu ke sana tunggu kami ya nak, kak Faiz mu juga pasti akan sangat bahagia mendengar berita ini." Ucap abi Fakhry.
"Umi, abi kalo bisa jangan dulu bilang sama kak Faiz ya, Alin mau kasih kejutan sama kak Faiz." Pesan Alinka.
"Oh oke siap kalo begitu nak." Sahut umi dan abi.
Dan tidak lama panggilan video pun berakhir.
Tiba-tiba setelah percakapan dengan keluarga abi Fakhry, ada seseorang mengantarkan satu buah paket yang berupa buket bunga mawar putih super jumbo.
"Siang...!!!
Apa benar ini dengan ukhty Alinka?" Tanya seorang kurir kepada Alinka.
"Iya benar, ada apa ya akhy?" Jawab Alinka.
"Ini mohon di terima kiriman dari hamba Allah." Ucapnya sambil memberikan buket bunga tersebut.
"MasyaAllah besar sekali, tapi cantik." Sahut Alinka dan di bantu dengan Shema buat memegangi buket super jumbo tersebut.
"Terimakasih ya akhy." Ucap Alinka
"Iya sama-sama" jawab kurir tersebut lalu dia pergi.
"Dari siapa ya?" Tanya Alinka kepada Shema sambil menatap buket bunga tersebut dengan penuh rasa penasaran.
Shema hanya mengernyitkan dahinya seakan tidak tau apa-apa.
__ADS_1