
Pada pukul 17.00 seperti biasa Faiz menyempatkan dirinya pergi ke taman terlebih dahulu, dari kejauhan sudah terlihat ada sosok wanita yang sedang duduk sendiri di sana, Faiz pun berniat putar arah dan tidak jadi menuju ke sana namun saat Faiz berbalik arah wanita itu pun memanggil nama Faiz dengan begitu kerasnya.
“Mas Faiz... tunggu...!!!” Sahut dia
Langkah Faiz pun terhenti dan tertegun sejenak.
“Mau apa dia memanggilku.” Ucap Faiz dari dalam hatinya.
“Kenapa ingin pergi? Aku sengaja menunggu mu di sini.” Ucap wanita itu sambil menghampirinya.
Dan ternyata wanita itu lagi-lagi Marwah yang selalu berusaha mendekati Faiz kembali.
“Maaf Marwah aku gak bisa, aku harus pulang.” Jawab Faiz tergesa-gesa.
“Tunggu... sebentar saja aku mohon.” Pintanya.
Lalu langkah Faiz pun terhenti dan Marwah pun mulai mendekatinya.
“Aku minta maaf jika selama ini kesalahanku tidak bisa untuk mas maafkan, aku jujur sekarang aku telah berubah, aku telah merubah semua kebiasaan burukku apakah aku tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua dari mu?” ucap Marwah panjang lebar.
“Kesempatan kedua apa Marwah?” tanya Faiz menegaskan
“Sekedar untuk bisa dekat lagi denganmu, dengan keluarga mu, sekaligus Alinka istri mu.” Jawab Marwah.
“Maaf Marwah tidak bisa.” Ucap Faiz
“Sekeras itukah sikap mu mas, sampai kau tidak bisa memaafkan ku sedangkan Allah saja maha pemaaf.” Sahut Marwah sambil berlinang air mata.
“Maaf Marwah maksud ku bukan seperti itu, kami sekeluarga telah memaafkan mu jauh lebih dulu sebelum kamu meminta maaf, tapi kami tidak bisa melupakan memori buruk yang telah kamu buat.” Jelas Faiz
“Oh ya sudah kalo seperti itu, aku pergi maafkan aku mas selama ini telah membuatmu kecewa.” Ucap Marwah
Lalu dia pun berlalu dari hadapan Faiz.
Setelah itu Faiz pun kembali ke rumah sakit dan hendak menceritakan itu semua pada Shema.
“Assalamualaikum..” ucap Faiz ketika tiba di ruang rawat Alinka.
“Wa’alaikumussalam, sudah pulang mas?” jawab dan sapa Shema yang sedang membaca novel ciptaan Alinka.
“Alhamdulillah sudah Shema.” Jawab Faiz sambil meletakan tas laptopnya di meja.
Lalu Faiz pun menghampiri Alinka terlebih dahulu.
“Hai sayang, kamu baik-baik saja kan, lama ya kamu nunggu aku, maaf ya hari ini kerajaanku banyak, lain kali aku akan pulang lebih cepat.” Ucap Faiz sambil mengecup keningnya.
“Kangen sekali aku sama kamu, kapan kamu akan bangun sayang? Kamu gak takut apa aku berpaling pada hati yang lain?” sahut Faiz sambil mengelus-elus wajah Alinka.
“Hus... ngomong apaan sih kakak ini, kakak harus kuat, gak boleh sampai berpindah ke lain hati, aku yakin sahabatku akan sembuh dan bangun dari komanya.” Tegur Shema yang merasa sangat tidak enak mendengar ucapan Faiz.
__ADS_1
“Aku merindukan keceriaan istriku Shema sudah 3 bulan lebih loh dia hanya tertidur pulas tanpa melihat semua aktivitas sehari-hari ku.” Jawab Faiz sedikit mengeluh.
“Kakak pasti kuat aku yakin itu jangan patah semangat dong, tanggung sudah di tengah perjalanan.” Ucap Shema.
“Lantas sekarang aku harus bagaimana Shema? Oh iya aku lupa, tadi aku pergi ke taman dan di sana Marwah mendatangi aku lagi.” Ucap Faiz menceritakan kejadian tadi sore
“Terus apa tanggapan kakak?” tanya Shema
“Aku mengacuhkannya Shema.” Jawab Faiz
“Bagus, jangan kasih dia kesempatan untuk masuk ke kehidupan kalian.” Ucap Shema.
“Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja Shema sebelum apa yang dia inginkan tercapai.” Sahut Faiz
“Pokoknya mulai dari sekarang kakak harus lebih waspada lagi.” Ucap Shema
“Baiklah.” Jawab Faiz sambil menganggukkan kepalanya.
“Tetap berhati-hatilah kak, jaga hati dan pikiran jangan sampai termakan bujuk rayunya, aku tau dia pemain yang sangat Handal.” Ucap Shema.
Lalu malam pun menjelang begitu cepat, waktunya Shema pulang bergantian menunggu Alinka di rumah sakit dengan ibu dan ummi lalu waktunya Shema pulang dan beristirahat.
Tepat pukul 22.00 waktu setempat, tiba-tiba handphone Faiz pun berdering dan satu pesan masuk Faiz pun segera membukanya karna takutnya itu pesan dari kampus menyangkut pekerjaannya, tapi ternyata dugaan Faiz salah itu adalah pesan dari Shema yang entah dari mana dia bisa mendapatkan nomor handphone Faiz.
Isi pesan tersebut adalah sebuah ajakan Shema meminta Faiz untuk bertemu esok hari di suatu tempat yang telah Shema tunjukan, tapi Faiz pun menghiraukan pesan itu lalu mencoba untuk melupakan semua.
“Shema gak boleh terlebih dulu tau tentang masalah ini, karna bisa saja dia menyelidikinya sendiri jadi lebih baik aku rahasiakan terlebih dulu pesan ini dari Shema.” Ucap Faiz dalam benaknya
Lalu Faiz pun menyimpan dan menutup rapat tentang pesan tersebut.
Pikirannya bimbang antara mengikuti ajakan Marwah atau tetap untuk menjaga hati dan dia pun merasa stres dan bingung pada malam itu.
Sampai dia pun tertidur di sisi Alinka sambil memeluknya.
Esok hari pun tiba, kembali Faiz ingat pesan semalam dan ketika melihat Shema Faiz pun merasa takut akan hal yang sedang ia tutupi darinya.
“Kalo aku memutuskan menemui Marwah Shema pasti tidak akan setuju tapi kalo tidak, aku takut Marwah memang sudah benar-benar berubah dan aku sangat tega tidak memberinya kesempatan kedua.” Gumam Faiz
Shema sendiri pun sama sekali tidak mencurigai gerak gerik Faiz pagi itu, semua berjalan seperti biasa setelah sarapan lalu pamit pada Alinka Faiz pun berangkat kerja sampai sore menjelang.
Sepanjang hari Faiz pun terus mempertimbangkan niatnya untuk menemui Marwah, dia dilema antara kasian dan takut terjebak untuk yang kedua kalinya, tapi dia berusaha meyakinkan dirinya untuk sekedar menemui Marwah dan menyambung tali silaturahmi saja dengannya tidak ada hal yang lebih.
Sore itu pukul 17.00 Faiz pun menemui Marwah di tempat yang sudah Marwah janjikan semalam.
“Hai mas,, akhirnya kamu bersedia datang juga.” Sapa Marwah dengan sangat bahagia.
“Iya Marwah langsung saja, ada perlu apa kamu memanggilku ke sini?” tanya Faiz dengan wajah canggungnya.
__ADS_1
“Duduk saja dulu mas, santai jangan terlalu terburu-buru.” Jawab Marwah sambil menarik tangan Faiz agar dia bisa duduk di kursi yang telah dia sediakan.
“Mana Alinka kok gak ikut?” tanya Marwah.
“Dia sibuk di rumah.” Jawab Faiz ketus.
“Loh kok sibuk mulu sih dan aku lihat-lihat kapan kalian jalan barengnya?” ledek Marwah sambil sedikit menyenggol pundak Faiz.
“Maaf Marwah aku tidak bisa berlama-lama, jika memang ada hal yang ingin kamu bicarakan cepat katakan, karna aku harus cepat pulang, istriku sudah menunggu lama di rumah.” Ucap Faiz menegaskan
“Oke.. Oke,, baiklah jadi begini, aku hanya ingin menyambung tali silaturahmi kembali yang sudah lama renggang saja dengan kalian, bolehkan?” Tanya Marwah.
“Kalo hanya sekedar itu boleh-boleh saja, asal kamu jangan mengulangi kesalahan yang telah kamu perbuat kembali terhadap keluargaku terutama Alinka istriku.” Jawab Faiz dengan lantang dan tegas.
“Baiklah kalo seperti itu, kita sepakat ya, tidak ada kata curiga, canggung, atau benci lagi di antara kita?” tanya Marwah sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Faiz.
“Deal..!!!” ucap Marwah kembali
Lalu mereka pun sempat memesan makanan terlebih dahulu karna Marwah lah yang memaksa Faiz untuk tinggal sebentar lagi bersamanya sekedar menemani ngopi cantiknya pada petang itu.
Setelah semua selesai barulah Faiz izin pulang dan bergegas menuju rumah sakit yang tidak pernah Marwah tau selama ini.
Tepat pukul 19.00 waktu setempat, Faiz pun baru tiba di kamar rawat Alinka.
“Assalamualaikum.” Ucap Faiz dengan napas yang tersengal-sengal.
“Wa’alaikumussalam, tumben kok kak pulangnya malam?” tanya Shema
“Tadi aku pulang dari kampus langsung ke apartemen agar bisa langsung bersih-bersih lalu langsung ke sini, biar gak repot bolak-balik saja, jadi datangnya kemalaman deh.” Jawab Faiz sambil tersenyum pada Shema.
“Oh ya sudah kalo gitu kakak sudah makan?” tanya Shema
“Belum Shema, bentar lagi deh aku delivery order saja.” Jawab Faiz
“Oh ya sudah kalo begitu, aku tinggal ke minimarket sebentar ya kak, titip Alinka nya.” Sahut Shema sambil bergegas pergi.
“Ini sudah jadi kewajibanku Shema.” Jawab Faiz sambil tersenyum
Lalu Shema pun berlalu dari tempat itu.
Sekembalinya Shema dari minimarket, dia melihat Faiz pun sudah terlelap di samping Alinka dengan begitu pulasnya lalu tiba-tiba handphone Faiz pun berdering satu panggilan masuk dan Shema pun melihat di layar handphone nya nomor tanpa nama, dia tidak berani mengangkat panggilan tersebut karna dia pikir itu satu hal yang privasi dan dia tidak berhak untuk ikut campur di dalamnya sedangkan mau membangunkan Faiz pun Shema tidak tega karna melihat dia sudah sangat pulas dalam mimpinya, jadi dia pun membiarkannya sampai handphone tersebut mati dengan sendirinya.
Pada pagi harinya Shema pun memberi tahu bahwa ada yang menelepon semalam dan dia tidak tau itu siapa, Faiz pun segera mengecek handphone nya lalu sedikit terkejut.
“Ada apa kak? Sepertinya kakak kaget melihatnya memang yang menelepon semalam siapa?” tanya Shema ketika melihat ekspresi wajah Faiz yang sedikit panik.
“Bukan siapa-siapa dia hanya rekan kerja ku.” Jawab Faiz berusaha menyembunyikannya dari Shema.
“Oh ya sudah kalo begitu, sarapan dulu kak sebelum berangkat kerja.” Ucap Shema sambil menyiapkan semua.
__ADS_1