(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 10 : Dikuatkan Lagi


__ADS_3

Malam hari bagi Arkha tanpa dunia malamnya, terasa sangat sunyi. Ia baru saja selesai makan malam. Celingukan ke kanan dan kiri mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi solusi bagi kegundahan hati.


Padahal disana ada Vina yang sedang menemani makan malam Mikhael yang berada di sebelah omnya itu.


''Ya, ya ... memang sudah seharusnya ini menjadi tanggung jawabku.'' bathin Arkha sembari menatap Mikha.


"Dia tampak tidak tenang.'' bathin Vina.


Vina hanya melirik sekilas ke arah Arkha yang tengah kedapatan menatap luar, ia kembali fokus mendampingi makan malam Mikhael.


Arkha menatap keponakannya yang sangat lahap menyantap makanan itu. Bibirnya tersenyum tipis melihat Mikhael yang tumbuh aktif dan sehat. Hanya saja pemandangan di sebelah Mikhael membuat Arkha emosi sendiri. Padahal tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh Vina.


Vina menyadari ada yang tengah menatapnya, ia pun langsung mendongak, dan di saat yang sama, Arkha langsung membuang muka.


''Dih! dasar anak kampung! awas saja kalau sampai kepedean!'' bathin Arkha lalu meneguk air mineral di depannya.


''Sabar, Vina, sabaaar ... lebih di kuatkan lagi ya bathinmu.'' bathin Vina kemudian menarik nafas panjang.


''Alhamdulillah, sudah habis maemnya.'' ujar Vina.


Mikha langsung meneguk air mineral yang sudah Vina siapkan, kemudian mengusap mulutnya dengan tisu. Tak lupa juga ia membaca do'a selesai makan yang sudah Vina ajarkan dan di biasakan, sehingga membuat Mikha terbiasa tanpa di suruh.


''Kayaknya tadi Om Arkha belum baca do'a ya?'' tanya Mikhael dengan suara polosnya.


Vina ingin tertawa, namun, sudah pasti ia tahan, apalagi melihat sorot tajam pria itu saat mendapati dirinya hampir saja tertawa.


''Ha? ehm, sudah kok, Om Arkha sudah baca do'a tadi. Tapi, di dalam hati, jadi Mikha tidak dengar.'' jawab Arkha berbohong. Kemudian ia melirik tajam pada Vina.


''Memangnya boleh ya Mbak kalau baca do'anya di dalam hati?'' tanya Mikhael beralih menatap Vina.

__ADS_1


''Iya, boleh.'' jawab Vina.


Seketika Arkha langsung bernafas lega.


''Saya harap, anda akan belajar, Tuan ... karena suatu hari nanti, Mikha sudah pasti akan meminta anda untuk bersuara secara langsung.'' bathin Vina.


Makan malam Arkha dan Mikhael sudah selesai. Arkha yang mendapatkan kepercayaan dari kedua orangtuanya untuk menjaga Mikhael tidak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa. Ia menemani Mikhael bermain. Ia berusaha membuang bayangan dunia malamnya dengan fokus pada Mikhael.


Sebelum bermain, Vina menemani Mikhael untuk belajar terlebih dahulu. Tidak lama-lama, setidaknya Mikha bisa mengingat apa yang sudah diajarkan oleh guru-gurunya di sekolah.


''Sudah selesai 'kan, Mbak Ina?'' tanya Mikha yang sangat senang karena selesai belajar.


''Iya, jadi sekarang boleh main. Tapiii, bereskan dulu buku-bukunya ya.'' titah Vina.


''Iya, Mbak Inaa.'' jawab Mikhael.


Selesai belajar dan membereskan perlengkapan sekolahnya, ganti Arkha yang menemani Mikha. Sedangkan Vina sudah mendapatkan pengusiran hanya dengan ekor mata Arkha yang tajam.


Suara tawa lepas dari Mikhael memenuhi ruang bermainnya yang luas itu. Kaki Arkha sampai dibuat pegal karena harus berlarian kesana dan kemari untuk bermain tembak-tembakan.


''Om Arkha tutup mata dulu, aku mau sembunyi.'' seru Mikha.


''Okee, siap.'' jawab Arkha masih semangat.


Arkha langsung berbalik badan memunggungi keberadaan Mikha.


''Sudah beluuum?'' seru Arkha.


Tidak ada jawaban, itu artinya Mikhael sudah berada di tempat persembunyiannya. Ternyata Mikha sudah paham, kalau sudah sembunyi, maka tidak perlu menjawab ketika ada pertanyaan.

__ADS_1


Arkha menahan tawanya sembari berjalan mengendap-endap untuk mencari Mikha.


''Hayoo ketangkap! dor! dor! dor! hahaha''


Arkha pun langsung melepaskan tawanya saat menangkap Mikha yang sembunyi di bawah perosotannya.


''Om Arkha juga ketangkap!'' balas Mikhael tak mau kalah dengan omnya.


Dua pria berbeda usia itu saling menodongkan pistol air. Mereka saling menyerang dan belum ada yang mau kalah ataupun mengalah.


Vina hendak masuk ke ruangan itu sembari mengantarkan susu untuk Mikhael. Tetapi saat melihat Arkha dan Mikhael yang masih seru, ia menahan diri untuk masuk. Ia menunggu terlebih dahulu sembari menyaksikan momen yang membuatnya tersenyum.


''Haahhh! Om Arkha sudah capek.'' ujar Arkha yang langsung duduk selonjoran sembari bersandar.


''Yaayyy! Om Arkha kalah!'' seru Mikha senang.


''Ya, ya ... Om Arkha sudah kalah.'' jawab Arkha mengalah supaya keponakannya itu senang.


Arkha langsung menatap ke arah pintu karena merasa ada yang melihat. Dan ternyata memang benar, Vina masih berdiri disana. Vina pun langsung gelagapan saat tatapan mata Arkha menuju padanya.


''Ngapain disitu?'' seru Arkha.


''Maaf, saya mau antar susu untuk Mikha.'' jawab Vina.


Arkha tidak menjawab. Sedangkan Mikha yang baru saja minum air mineral yang sudah di sediakan sebelum bermain, langsung menerima gelas berisikan susu untuknya.


''Terima kasih, Mbak Ina.'' ucap Mikhael.


''Sama-sama, Mikha.'' balas Vina.

__ADS_1


Mikha membaca basmallah terlebih dahulu, lalu meminum susu hingga habis. Tak lupa ia ucapkan alhamdulillah karena sudah menghabiskan satu gelas susu.


__ADS_2