
''Vina?'' gumamnya.
Arkha yang kebetulan lewat pun langsung mengurangi kecepatan laju mobilnya. Ia semakin mempertajam pandangannya pada seseorang yang sudah ia kenal itu.
Waktu yang menjadi kebetulan untuk kembali melihat gadis itu.
''Iya, anak itu, nggak salah lagi.'' gumamnya dan langsung menginjak rem.
''Berarti dia tidak pulang kampung?'' sambung Arkha bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Gian yang berada di belakang Vina pun mengajaknya berbicara sembari menuju ke arah mobil. Terlihat mereka sudah sangat akrab, lebih tepatnya Gian yang mengakrabi kehadiran Vina, apalagi gadis itu masih sering terlihat malu-malu. Kepercayaan yang diberikan oleh pak Yanto benar-benar dilakukan dengan baik oleh Gian.
''Ikan-ikan pada aman 'kan, Mas?'' tanya Vina.
Gian langsung mengecek bak mobilnya, sebelumnya ia ke tempat peternak lele dan gurame. Biasanya langsung di antar, tapi, karena Gian datang langsung, ia juga sengaja sekali-kali mengambil sendiri.
''Maaf ya ikan, besok kamu sudah pindah alam.'' ujar Vina pada lele-lele yang masih hidup itu.
Hahaha
Seketika Gian langsung tertawa.
''Apa-apaan itu? ketawa-ketawa berdua.'' gumam Arkha sinis.
''Ck ck! berarti memang anak itu dari dulu sudah nggak bener! pasti laki-laki itu pacarnya selama ini!'' tuduh Arkha.
''Memang pantas keluar dari keluargaku!'' gumam Arkha geram.
Setelah melihat ikan, Vina dan Gian langsung masuk ke dalam mobil. Apalagi mengingat waktu yang semakin mendekati persiapan jam makan siang.
''Kenapa ketawa, Mas? ada yang lucu kah?'' tanya Vina ketika mereka sudah mulai melanjutkan perjalanan arah pulang.
__ADS_1
Gian masih menyelesaikan tawanya sembari oper gigi.
''Kamu itu Vin, ada-ada aja minta maaf sama ikan.'' jawab Gian.
''Ooohhh, hehe''
Setelah suara tawa itu berhenti, keduanya sama-sama diam. Vina menatap ke arah luar. Tiba-tiba sorot matanya menyipit saat menatap arah spion.
''Kayak kenal sama mobil itu?'' bathin Vina.
Vina terdiam, lalu kembali mempertajam pandangannya ke arah spion dan dengan spontan ia memajukan kepalanya. Mobil itu terlihat tepat di belakang mobil Gian.
Vina langsung menoleh ke arah belakang, dengan cepat ia kembali menghadap ke depan.
''Ada apa sih, Vin?'' tanya Gian ikut menoleh ke belakang.
''Eh, nggak ada apa-apa kok, Mas, hehe''
''Tuan Arkha?!''
''Apa benar itu si tuan sombong?!''
''Ngapain dia ngikuti mobil kita??''
Meskipun yakin mengenai penglihatannya, Vina tetap penasaran.
''Eh, kita??? mobil mas Gian aja maksudnya.'' sambung Vina yang mengoreksi rasa penasarannya dalam hati.
Sesekali Gian juga menoleh ke arah Vina, ia juga melihat sikap aneh di raut wajah gadis itu.
Tidak lama kemudian, mereka sudah tiba di rumah makan milik Gian. Vina dan Gian keluar dari mobil secara bersamaan. Vina masih menangkap keberadaan mobil yang membuntutinya. Vina semakin yakin, mobil itu milik Arkha, dan Arkha sendiri yang tengah berada di dalam mobil itu.
__ADS_1
"Apa dia tau kalau ini aku? itu dia lihat ke arah sini terus?" gumam Arkha.
"Dasar gblg!! ya jelaslah dia tau!" omel Arkha pada dirinya sendiri.
Arkha kembali melanjutkan laju mobilnya dan mempercepat laju ke arah kantor.
Vina yang berdiri di sebelah mobil Gian pun, arah pandangannya tidak lepas dari mobil Arkha.
"Dia langsung pergi! berarti dia ngikutin aku." bathin Vina.
"Ayo masuk, Vin." ajak Gian.
"Vin."
"Vin."
"KENAPA ANDA MENGIKUTI SAYA?!" seru Vina dengan kedua matanya yang tajam.
"Vin, kita 'kan perginya bareng-bareng." ujar Gian.
Vina langsung menutup mulutnya dan mengerjapkan kedua matanya berkali-kali.
"Ya Allah, maaf Mas Gian, maaf." ucap Vina.
Gian terkekeh kecil, kedua tangannya sudah membawa box putih yang berisi ikan-ikan segar itu.
"Ya sudah ayo masuk, jangan melamun disini." ajak Gian.
Vina langsung mengangguk. Ia merutuki dirinya sendiri di dalam hati karena tak bisa menjaga sikap dengan baik.
Meskipun pikiran Vina masih tetap tertuju pada mobil tadi. Ia sudah bisa mengendalikannya dan sekarang kembali lanjut beraktivitas di rumah makan Gian.
__ADS_1