
Besan tuan Leon sempat meminta pada keluarga Leonardo untuk menghubungi Vina kembali. Tetapi permintaan itu di tolak mentah-mentah. Mereka sangat tidak tega melihat Mikha yang belum bisa menemukan kenyamanan dengan pengasuhnya yang baru, hingga sampai ganti beberapa kali. Saat di minta akan tinggal sama mereka pun tidak diperbolehkan juga oleh Lidya, ia hanya mengizinkan jika hanya sekedar untuk melepas rindu atau menginap beberapa hari.
--
Setelah melakukan penerbangan cukup lama, Lidya dan Mikhael akhirnya tiba di tanah air.
Arkha yang menjemput keduanya di bandara. Ia begitu merindukan keponakannya itu. Sama halnya dengan sang ponakan.
''Akhirnya kita bertemu lagiii.'' seru Arkha.
''Iya, Om.'' jawab Mikha.
''Bagaimana hari-hari kamu, Ar?'' tanya Lidya yang pertanyaan itu sudah sangat sering ia lontarkan.
''Hmm, baik Ma, seperti biasa.'' jawab Arkha.
Mereka langsung menuju ke arah rumah. Besan Leonardo sudah menunggu di sana, mereka juga sangat merindukan cucunya itu.
Arkha mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tak lama setelah menyusuri jalan yang cukup lengang, akhirnya mereka tiba di kediaman Leonardo.
Kakek dan nenek Mikha sudah menyambutnya di depan. Sebenarnya mereka sangat menyayangkan keputusan keluarga Leonardo yang memboyong Mikha ke luar negeri. Tetapi mereka tidak memiliki kuasa yang lebih untuk melawan keluarga Leonardo.
''Cucu Nenek.'' seru wanita paruh baya itu yang langsung membuka tangannya.
__ADS_1
Panggilan mereka sempat sama yaitu oma dan opa, tetapi akhirnya di ubah agar memiliki perbedaan. Juga untuk memudahkan ketika sedang bercerita.
''Nenek, kok sekarang kurus?'' tanya Mikha.
Wanita itu langsung terkekeh gemas.
''Iya sayang, Nenek makannya sedikit.'' jawabnya.
''Jangan makan sedikit ya, Nek. Makan yang banyak kayak Mikha.''
Nenek Mikha pun mengangguk.
Pertemuan hangat di antara dua keluarga itu. Karena masih rindu, mereka pun menginap di kediaman Leonardo. Lidya juga tidak mempermasalahkan hal itu, ia juga yang memberikan penawaran pertama.
Di sebuah desa, tengah siap di gelar acara pernikahan. Wajah Vina sedang di poles oleh seorang perias yang cukup terkenal di kecamatan itu. Gadis yang jarang memoles wajahnya itu terlihat sangat anggun dengan balutan kebaya modern berwarna biru tosca, seragam untuk bridesmaid di pernikahan sepupunya.
''Habis ini giliran kamu, Vin!'' ujar seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke kamar tempat Vina di rias.
Suara-suara yang sudah diantisipasi oleh Vina. Ia hanya nyengir sesaat. Wanita itu belum juga pergi dari kamar tersebut.
''Siapkan aja amplop dan isinya yang tebel ya Bude, jangan suaranya aja yang tebel, hehehehe''
Wanita itu merupakan salah satu tetangga sepupu Vina yang terkenal asal ceplas-ceplos kalau berbicara. Mereka sudah saling kenal sehingga berani menegur Vina.
__ADS_1
Perias wanita itu langsung terkekeh, namun ia tahan mendengar respon dari Vina yang berani.
''Dasar anak muda jaman sekarang, di bilangi malah jawab aneh-aneh!'' protes wanita itu dengan suara emosi.
Posisi Vina yang membelakangi wanita tersebut pun hanya bisa menutup mulutnya untuk menahan tawanya.
Tak lama kemudian, wanita itu langsung melenggang pergi sembari menggerutu.
Hahahahaha
Di ruangan itu ada beberapa orang, pengantinnya sedang ada di kamarnya sendiri dan juga sudah siap. Mereka langsung melepaskan tawanya saat emak rempong itu pergi.
''Dasar emak-emak, langsung kena mental tuh.'' ujar perias yang sedang melakukan finishing.
''Kamu kok ya berani sih, Dek?'' tanya perias itu.
''Nggak tau juga sih, Mbak, kenapa kok mulutku berani banget tadi.'' jawab Vina.
''Tapi, emang sesekali orang seperti itu tuh harus di kasih pelajaran biar nggak tuman asal buka aja itu mulut!'' sahut lainnya.
''Dia yang mulai, eehh, dia sendiri yang merasa tersakiti. Dasar!''
Mereka tertawa lagi, untung saja di antara mereka tidak ada anak dari emak rempong tadi.
__ADS_1
Empat orang yang akan mendampingi pengantin pun sudah siap. Mereka terlihat cantik-cantik dengan make-up yang tidak tebal. Hajatan yang terbilang cukup mewah untuk ukuran orang kampung. Karena saudara Vina tersebut merupakan pegawai negeri sipil, sehingga memiliki banyak kenalan. Sepupunya Vina pun juga mengikuti jejak ayahnya, menjadi seorang guru.