
Arkha sudah membersihkan tubuhnya sehingga terlihat lebih segar. Ia membuat sarapan sendiri di dapur. Kopi hitam sudah tersedia di atas meja dan berdampingan dengan air mineral, ia mengolesi selai nanas di lembaran roti tawar yang baru saja ia panggang.
''Kenapa semalam tiba-tiba bayangan mereka benar-benar membuatku berhenti melakukan itu?'' gumam Arkha terheran-heran dengan hal itu. Padahal, ini bukan pertama kalinya ia bersenang-senang selama kembali ke Indonesia. Biasanya tak pernah ada bayangan keluarganya yang hadir, ia selalu bersenang-senang tanpa rasa khawatir.
Aneh. Arkha menganggap hal itu tidak wajar. Seharusnya ia bisa tidak mempedulikan hanya dengan sebuah bayangan, faktanya tidak ada yang tau dirinya sedang berbuat apa dan dimana. Tapi, bayangan tadi malam itu benar-benar membuatnya tidak bisa melanjutkan kegilaannya itu. Arkha semakin dibuat pusing sendiri.
''Jangan-jangan!?!'' Kedua mata Arkha langsung terbelalak dan menuduh.
''Apa jangan-jangan gadis itu lagi kirim guna-guna ke gue?'' gumam Arkha menuduh Vina.
''Arghh! nggak penting banget!'' gerutunya.
Arkha segera membuang pikiran negatifnya itu. Ia menggigit roti tawar panggang yang sudah selesai di olesi dengan selai nanas. Lalu menyeruput kopi hitam buatannya sendiri. Cukup menjadi pengganjal perut yang lapar.
Di kediaman Leonardo
''Mikha anak tampan dan juga sudah wangi.'' ujar Vina senang melihat Mikha yang rapi karena selesai mandi. Karena aromanya anak kecil itu sangat nagih.
Mikha juga ikut senang, ia tertawa-tawa kepada pengasuhnya itu.
''Mikha, nanti om Arkha kesini, mau ajak Mikha jalan-jalan ke mall.'' ujar oma Lidya yang baru masuk ke dalam kamar cucunya.
''Horeeeeee.'' seru Mikha sampai lompat-lompat bahagia sembari bertepuk tangan.
''Ck! orang sombong itu pintar juga membuat ponakannya sayang sama dia.'' gumam Vina dalam hati merasa heran.
Wanita paruh baya itu mendekati cucu kesayangannya. Lalu menciumi dengan gemas, sama halnya dengan yang dirasakan Vina.
''Nanti jangan rewel ya kalau diajak jalan-jalan.'' ujar oma memberi peringatan.
''Iya Omaa.'' jawab Mikha.
__ADS_1
''Ya sudah, Oma mau nemani opa bekerja ya, sayang.'' pamit Oma Lidya.
''Memangnya opa tidak berani ya, Oma? kenapa harus ditemani? 'kan opa bukan anak kecil lagi?'' protes Mikha.
Oma dibuat terkekeh gemas mendengar kepolosan dari cucunya itu.
''Haha iya, opa tidak berani. Makanya Mikha harus giat belajar dan jadi manusia yang kuat ya, biar tidak takut.''
''Ooooo ... berarti opa tidak giat belajarnya, Oma?'' tanya Mikha lagi masih penasaran karena belum mendapatkan jawaban yang tepat.
Vina menahan tawanya. Sedangkan oma Lidya menggaruk tengkuknya yang tidak merasakan apa-apa itu.
''Emmm, pokoknya sekarang Mikha sarapan dulu ya. Oma mau jalan dulu.''
Oma Lidya menyerah tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sang cucu.
Mikha membuang nafas panjang karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari sang nenek.
Bergantian opanya yang berpamitan dengan cucu kesayangannya itu. Tuan Leonardo bercengkrama dengan cucu satu-satunya sebelum berangkat.
''Vin, kami berangkat dulu. Jaga Mikha baik-baik ya. Kalau ada perlu apa-apa, nanti ada Arkha disini.'' ujar tuan Leon.
''Baik Tuan.'' jawab Vina.
Vina sudah diberitahu jika kedua bosnya akan ke luar kota untuk beberapa hari. Konon katanya akan meninjau lokasi tanah yang ditawarkan oleh seseorang. Tuan Leon hendak melihat langsung seperti apa kondisinya karena lokasi tersebut akan dibangun tempat usaha.
Arkha yang sudah diberitahu pun sudah tiba di rumah orangtuanya.
Nyonya Lidya menyambut putranya dengan penuh kasih sayang. Arkha pun langsung mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian. Tak lupa juga cium pipi kanan dan kiri, lalu kening.
''Mama sama papa jadi berangkat sekarang?'' tanya Arkha setelah keningnya di cium oleh mamanya.
__ADS_1
''Jadi dong, maka dari itu, Mama minta selama kami ke luar kota, kamu tinggal disini ya ... nggak lama kok, Ar.'' pinta Lidya.
Arkha ingin menolak, karena itu artinya ia harus bermalam di rumah ini sampai kedua orangtuanya kembali dan harus menahan diri dari pergaulannya. Tapi, ia tak punya pilihan lain selain menurutinya daripada di curigai dan kebongkar semua kenakalannya.
Dengan senyum manisnya, Arkha memberikan jawaban yang melegakan kedua orangtuanya.
''Iya Ma, aku pasti disini menemani Mikha sama kalian kembali.'' jawab Arkha.
Lidya mengusap lengan putranya itu.
''Oh ya, Mikha-nya mana Ma kok nggak kelihatan?'' tanya Arkha sembari celingukan.
''Itu lagi dalam, baru selesai mandi.'' jawab mama.
''Kamu sudah sarapan, Ar?'' tanya mama.
''Sudah kok Ma, ya sudah aku ke dalam sebentar lihat Mikha.'' ujar Arkha.
''Sebentar Ar.'' cegah tuan Leon.
Arkha menghentikan langkahnya.
''Ada apa Pa?'' tanya Arkha.
''Papa sama mama mau jalan sekarang, tadi sudah pamit sama Mikha juga.'' jawab tuan Leon.
''Oohh iya, hati-hati di jalan ya Pa, Ma.'' ucap Arkha.
Tuan Leon dan sang istri langsung meninggalkan rumahnya. Mereka mengendarai mobil sendiri untuk menuju tempat tujuan. Karena ingin menikmati perjalanan darat, karena sudah biasa kemana-mana menggunakan transportasi udara.
Setelah memastikan mobil yang di kendarai ayahnya sudah menghilang dari pandangannya, Arkha bergegas kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
''Om Arkhaa!'' seru Mikha yang spontan membuat orang-orang di rumah itu langsung menutup telinganya, termasuk Arkha yang baru saja di ambang pintu setelah dari teras.