
''Sekarang Mikha bilang, apa yang harus Om Arkha, oma, dan opa lakukan?'' tanya Arkha.
Suara tangis Mikha sudah tidak sekencang tadi, hanya tersisa sesak di dadanya yang terdengar sangat menyakitkan itu, sehingga membuat Arkha merasa sedih. Ia terbayang kakak-kakaknya yang bisa menangis jika melihat anaknya tidak bahagia.
Sebagai seorang paman yang sudah pasti sangat menyayangi keponakannya, Arkha tidak tega. Siapa lagi sosok papa yang diharapkan oleh Mikha kalau bukan dirinya. Arkha harus bisa menurunkan egonya yang masih sangat tinggi. Ia berharap Mikha bisa melupakan keinginannya untuk menikah setelah dirinya berusaha untuk selalu ada.
''Permintaan Mikha masih sama, Om.'' tegas Mikha.
Arkha menghela nafas lagi, rasanya memang sudah tidak bisa di tawar lagi permintaan Mikha.
''Apa, sayang?'' tanya Arkha.
''Om harus kabulkan permintaan Mikha, Om Arkha dan mbak Vina harus jadi mama dan papa untuk Mikha!'' pinta Mikha dengan suara yang tegas.
Lidya kembali terbelalak, namun, Arkha memberikan kode pada ibunya itu untuk diam dulu.
Arkha menarik nafas dalam-dalam, lalu memejamkan kedua matanya. Ia kembali memeluk Mikha dengan erat.
''Mikha, kamu harus tau, sayang ... menikah itu bukan untuk becandaan, menikah itu bukan untuk main-main. Menikah berbeda dengan berteman biasa. Belum tentu juga mbak Vina mau. Sekarang mbak Vina ada di mana, Om juga tidak tau.''
Arkha berbicara dengan nada suara yang lembut dengan harapan Mikha bisa mengerti.
''Pokoknya Mikha mau Om Arkha sama mbak Vina yang jadi mama dan papa!''
Mikha langsung melepaskan diri dari pelukan Arkha.
''Mikha, ayo dong jangan begitu, sayang. Om Arkha 'kan..,'' timpal Lidya yang langsung di potong oleh Arkha.
''Ma,'' Arkha meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya agar Lidya diam dulu.
''Kalau Om Arkha tidak mau cari mbak Vina, Om Arkha harus carikan mama yang sama persis dengan mbak Vina!'' pinta Mikha.
Sedang berada di dalam situasi hati dan pikiran yang tidak tenang. Sesayang apapun dirinya pada Mikha, untuk membuat keputusan mengenai pernikahan tidaklah mudah.
''Kasih Om Arkha waktu untuk berpikir dulu ya, Mikha harus makan dulu biar sehat. Om Arkha juga harus bekerja dulu.''
''Tapi, Om Arkha mau 'kan carikan mama yang baik untuk Mikha?'' tanya Mikha yang meminta kepastian.
Arkha tersenyum tipis sembari mengusap lembut kepala Mikha.
''Yang penting Mikha makan dulu ya. Mikha mau jalan-jalan kemana aja, nanti kalau Om Arkha sudah nggak sibuk, pasti Om turuti.'' ujar Arkha.
Mikha hanya diam, tidak mengangguk dan juga tidak menggeleng.
''Om Arkha kembali ke kantor dulu ya.'' pamit Arkha.
__ADS_1
Mikha mengangguk.
Sampai di depan pintu kamar Mikha, Lidya menyusul dan menahan lengan putranya itu.
''Kamu jangan macam-macam, Ar.'' ujar Lidya waspada terhadap keputusan yang akan di ambil putranya itu. Ia masih kekeh untuk menjodohkan putranya itu dengan wanita bernama Rachel.
''Mama jangan bikin aku makin pusing, urus saja Mikha sebaik-baiknya.'' balas Arkha sembari melanjutkan langkahnya.
''Arkha! Mama tidak mau kamu menikah dengan anak kampung itu!'' seru Lidya.
Seruan itu membuat para pekerja di kediaman Leonardo langsung spontan menghentikan aktivitasnya. Mereka sudah mendengar permintaan dari Mikha yang menginginkan pernikahan antara Arkha dan Vina. Sesuatu permintaan yang pastinya sulit, apalagi dunia mereka yang sangat jauh berbeda.
Arkha menghentikan langkahnya sesaat, lalu kembali melanjutkan langkahnya ke depan. Ia langsung menuju ke arah kantor. Banyak pekerjaan yang terpaksa ia tinggalkan karena mendapatkan telepon dari Lidya.
Pak Yanto menatap langkah Arkha. Pria itu terbayang keponakannya sendiri.
''Oalah Gian, Giaan, ganteng-ganteng kok ya bakalan di tinggal nikah.'' gumam pak Yanto.
''Kasian sekali kamu Vin, saya yakin kamu pasti tidak bisa menolak permintaan Mikha. Saya tau kamu sangat menyayangi Mikha.''
Pak Yanto menghela nafas panjang.
''Kalau pernikahan itu benar-benar terjadi, semoga kamu tidak makan hati ya, Vin. Semoga seiringnya waktu, tuan Arkha bisa mencintai kamu. Tuan Leon dan nyonya Lidya juga bisa menerima kamu sebagai menantunya.''
''Sekalipun kamu sudah membuat ponakan saya terluka, dan bisa jadi dia akan menangis tersedu-sedu di pojokan sambil makan kaki meja, saya tidak akan kecewa sama kamu, Vin. Kamu gadis yang baik, tapi, kamu harus terjebak dalam situasi yang seperti ini, itu pasti tidak mudah.''
Pak Yanto terdiam melamun membayangkan kisah asmara para anak-anak muda itu. Sangat rumit sekali untuk di bayangkan.
''Pak Yanto.'' panggil seseorang.
''Pak.'' panggilnya lagi.
''Woy, PAK!'' seseorang itu akhirnya menaikkan volume suaranya.
''Woy!! apa teriak-teriak?!'' balas pak Yanto.
''Ngapain Pak Yanto gigitin dinding?'' tegur pekerja lainnya di rumah Leonardo.
Pak Yanto langsung memperhatikan posisinya. Ia terkejut sendiri karena tengah bersandar di dinding dapur dan menempelkan giginya disana.
''ASTAGHFIRULLAH ... kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih, Rul!!'' balas pak Yanto sembari meninggalkan dapur karena terlanjur malu.
Pak Yanto menoleh lagi ke dapur, teman kerjanya yang bernama Nurul itu masih cekikikan.
''Kurang asem si Nurul!'' gerutunya.
__ADS_1
Setibanya di kantor, Arkha pun belum juga bisa fokus untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia membuka file rekaman kamera pengintai di apartemen dan rumah orangtuanya.
Arkha akan melihat kembali rekaman-rekaman yang memperlihatkan para pengasuh Mikha. Yang pernah menginap di apartemen hanyalah Vina saja, karena setelah itu tidak ada yang mampu bertahan lama.
''Kenapa Mikha mengharuskan anak itu? kalaupun bukan sama anak itu, harus yang sama persis dengan anak itu?'' gumam Arkha bertanya-tanya.
Memang benar banyak perbedaan cara asuh Vina dan baby sitter setelahnya. Vina tidak terlihat bermain ponsel saat sedang bersama Mikhael, kecuali saat menerima telepon. Sementara yang lain, saat Mikha tengah bermain, mereka sambil membuka ponsel.
Fyuuhh
Arkha menghembuskan nafas panjang ke udara. Ia langsung menutup kembali file-file tersebut. Beberapa rekaman sudah cukup untuk ia buatkan kesimpulan.
''Kalau aku harus mencari wanita selain anak itu, bagaimana caranya supaya bisa tau kalau mereka memiliki kepribadian yang sama?'' gumam Arkha.
Arkha teringat beberapa tahun yang lalu saat keluarganya meminta Vina untuk sadar diri. Dan, sekarang ia harus menghadapi permintaan Mikha yang tidak main-main itu. Untuk meminta Vina kembali rasanya memang malu, karena seperti menelan ludah sendiri.
Arkha mengacak-acak rambutnya sendiri, ia menekan-nekan kepalanya yang terasa pening.
''Kenapa harus menikah, Mikhaaa?'' seru Arkha di ruangan yang kedap suara itu, sehingga aman tidak bisa di dengar oleh orang-orang di luar ruangan tersebut.
''Mikha mau jalan-jalan kemana? mau mainan yang seperti apa? Om Arkha bisa turuti sekarang juga, AARRGGHH!!''
Lagi-lagi Arkha mengacak-acak rambutnya yang sudah acak-acakan itu. Walaupun sudah acak-acakan, ia tetap terlihat tampan.
Arkha menarik nafas berkali-kali, ia berusaha santai dan tenang. Ia harus fokus pada pekerjaan ini.
--
Sore hari ketika Arkha pulang dari kantor, ia langsung menuju ke kamar Mikha.
''Mikha sudah mandi ya?'' tanya Arkha.
Lidya menemani cucunya di dalam kamar, ia menatap putranya itu dengan tatapan yang bertanya-tanya mengenai keputusan apa yang sudah dibuat.
''Sudah, Om.'' jawab Mikha.
''Ada Om Arkha, Oma mandi dulu ya.'' ujar Lidya.
Mikha mengangguk.
...
Jam 7 malam, Arkha mengajak Mikha untuk mengunjungi tempat bermain yang dulu sering Mikha kunjungi saat akhir pekan.
Mikha tidak lagi membahas permintaannya itu. Ia terlihat menikmati bermainnya.
__ADS_1
''Om Arkha akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu, sayang.'' bathin Arkha yang sudah mendapatkan keputusannya sendiri.