
Vina masih sangat kesal mengingat kejadian semalam. Ingin rasanya ia mancabik-cabik wajah Arkha dan memaki-maki sepuasnya. Tapi, tidak semua permasalahan selesai dengan emosi dan nada tinggi. Lagi pula, ia harus menyadari akan kapasitasnya disini. Prioritasnya adalah menjaga Mikha. Arkha juga berstatus sebagai bosnya.
Yang ada dibenak Vina hanyalah Mikhael. Akan seperti apa kecewa yang dirasakan anak kecil itu jika mengetahui om yang disayanginya memiliki kelakuan seperti itu. Gemar bermain wanita dan keluyuran malam.
''Ehm''
Arkha memasuki kamar tidur yang ditempati oleh Mikha dan juga Vina. Ia melihat Vina masih berusaha membangunkan Mikhael dari tidur lelapnya.
Melihat kedatangan Arkha, Vina pun langsung turun dari ranjang. Mikha juga sudah mulai membuka matanya meskipun masih sedikit bermalas-malasan.
''Saya lihat kamu masih mau masak, Mikha biar sama saya.'' ujar Arkha.
Tanpa menjawab dengan perkataan apapun, Vina hanya mengangguk sekilas lalu keluar dari kamar.
Arkha menatap kepergian Vina yang sudah menghilang dari balik pintu kamar, kemudian ia menarik nafas panjang. Bagaimanapun juga, ia merasa bersalah atas egonya semalam.
"Dia benar-benar marah?'' bathin Arkha bertanya-tanya.
''Om Arkha kok melamun?'' tegur Mikha dengan suara serak khas bangun tidur.
''Eh?'' jawab Arkha yang kaget.
''Nggak kok Mikha ... Om Arkha nggak melamun. Ya sudah Mikha cuci mukanya dulu yuk.'' ajak Arkha.
Beberapa menit kemudian, Mikha sudah selesai membersihkan wajah dan tidak lupa untuk gosok gigi. Bersamaan dengan Vina selesai membuatkan susu untuk Mikha.
Arkha melirik di meja makan, disana sudah ada satu gelas kopi. Ia sedikit tersenyum tipis meskipun disembunyikan.
''Ternyata masih nggak lupa juga walaupun lagi marah.'' bathin Arkha.
__ADS_1
Mikhael sudah bangun ketika waktu subuh, tetapi karena masih mengantuk, Vina pun membiarkan anak asuhnya itu untuk kembali melanjutkan mimpinya. Selain itu juga, dengan kepolosannya, Mikha selalu mempertanyakan omnya yang ntah sedang berbuat apa. Di pikiran Vina, wanita semalam itu bermalam disini dan tega melakukan perbuatan yang tidak semestinya.
Demi menjaga rahasia itu, Vina rela berbohong pada Mikhael dan membiarkan pria kecil itu tidur lagi supaya tidak menanyakan Arkha lagi.
''Nanti Om Arkha kerja ya, so ... Mikha di rumah dulu, jangan minta kemana-mana sebelum Om Arkha pulang.'' ujar Arkha.
"Iya, Om Arkha.'' jawab Mikha.
Selesai sarapan, Arkha bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Ia sudah berpenampilan sangat rapi. Harum dari aroma parfum mahal yang digunakannya pun sampai menusuk hidung Vina.
Mikhael yang sudah mandi dengan air hangat pun masih sibuk dengan mainannya.
''Mbak Vina ke belakang sebentar ya." ujar Vina yang mau mengembalikan piring.
"Iya Mbak Ina.'' jawab Mikhael.
Sementara itu, Arkha yang sudah selesai bersiap-siap pun langsung keluar dengan membawa kunci mobilnya.
"Masih di belakang, Om." jawab Vina.
Arkha tersenyum sembari mengusap puncak kepala ponakannya itu. Ia langsung ke belakang untuk menemui Vina.
"Ehm''
Vina yang baru selesai mengeringkan tangannya langsung menoleh ketika mendengar suara deheman.
"Anda tenang saja, saya tidak akan membocorkan rahasia itu kepada siapapun. Baik itu Mikhael, tuan Leon, ataupun nyonya Lidya." ujar Vina.
"Terima kasih.'' ucap Arkha.
__ADS_1
"Satu lagi, kamu jangan kepikiran kalau wanita itu bermalam disini. Dia pulang setelah itu. Saya usir dari sini.'' jelas Arkha.
Vina menyembunyikan wajahnya sesaat karena ia sedang berdesis mendengar penjelasan Arkha.
"Bermalam atau tidak, bukan urusan saya, Tuan. Saya sudah mengiyakan untuk tidak ikut campur dalam urusan anda.'' balas Vina.
Ntah keberanian dari mana yang Vina dapatkan. Ia begitu lancar berbicara seperti itu tanpa ragu.
''Kamu berbeda, kamu pasti marah 'kan sama saya?'' tanya Arkha lagi.
Vina kembali berdesis, kali ini tidak ia sembunyikan.
"Sejak kapan anda peduli dengan saya? sekarang anda cepat pergi saja ke kantor.''
Melihat Arkha yang tidak sinis seperti ini, tingkat ketampanannya semakin menambah. Mungkin pria itu sedang ketempelan jin baik. Biasanya juga tidak peduli akan kemarahan orang lain.
"Semoga saja sikap halusnya bukan karena setelah rahasianya kebongkar.'' bathin Vina.
''Ya sudah, saya berangkat ke kantor sekarang. Tolong jaga Mikhael baik-baik.'' ujar Arkha.
Vina hanya mengangguk. Arkha lebih dulu ke depan, ia berpamitan dengan ponakannya. Sedangkan Vina menunggu dulu agar tidak menjadi pertanyaan bagi Mikhael kenapa keduanya keluar dari dapur secara bersamaan.
''Sepi ya Mbak kalau cuma berdua?'' tanya Mikha dengan suara polosnya.
''Mikha mau yang rame? atauuu, mau pulang ke rumah opa?'' balas Vina.
Mikha pun menggeleng.
"Kita 'kan besok sore pulang ke rumahnya.'' jawab Mikha.
__ADS_1
''Hihi, Mbak kira, Mikha mau minta pulang sekarang. Dan Mbak mau bilang, kalau kita tetap nunggu om Arkha.'' ujar Vina.