(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 55 : Aku Akan Menikahi Vina!


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Arkha, kedua orangtua Vina sudah mendatangi kantor urusan agama (KUA) di kecamatan tersebut. Kebetulan kantornya ada di desa mereka.


''Jauh sekali dapat menantunya, Bu?'' tanya petugas KUA tersebut yang terdengar hanya sekedar basa-basi sembari menyelesaikan pekerjaannya.


''Ya, namanya jodoh, Bu, tidak ada yang tau.'' balas ibu Vina yang diikuti senyum tipis


Petugas KUA yang merupakan seorang wanita itu hanya tersenyum tipis juga sembari menunggu hasil cetakan yang berisi formulir surat numpang nikah untuk Vina.


''Ini Pak, Bu, diisi bagian yang kosong, jangan sampai ada yang tertinggal. Karena putri Ibu dan Bapak tidak disini, jadi di sana harus melakukan suntik vaksin sesuai dengan yang diwajibkan sebagai calon pengantin.'' terang petugas KUA tersebut.


''Ohh, iya Bu, nanti saya sampaikan ke anak kami.'' balas ibu.


Setelah mendapatkan hasil, wanita itu membayar biaya administrasi. Setelah itu langsung kembali ke rumah.


Hal yang pertama dilakukan oleh bapaknya Vina adalah menghubungi putrinya.


''Assalamu'alaikum, Pak.'' ucap Vina dari seberang sana.


Vina sudah mendapatkan informasi bahwa kedua orangtuanya akan mengunjungi KUA. Begitu dering ponselnya menampilkan nomor orangtuanya, detak jantung Vina langsung lebih kencang.


''Wa'alaikumussalam, Vin, ini kita baru pulang dari KUA.'' terang pria itu.


Vina mengatur napasnya sejenak agar terkesan biasa saja dan tidak terlihat ada paksaan.


''Sudah selesai kah, Pak?'' tanya Vina.


''Alhamdulillah sudah, besok siang kita sama mbakmu yang akan datang ke sana.'' ujarnya.


''Ha? besok banget nih, Pak?'' tanya Vina yang langsung terkejut.


Bahkan ia tidak berani menerima telpon dari kakak-kakaknya setelah ini. Kakak-kakaknya pasti sudah mendengar semuanya dari bapak dan ibunya.


''Emm, maksudku, apa nggak terlalu kecepatan, Pak?'' tanya Vina lagi.


''Sesuai sama permintaan calon suami kamu, Nduk ... kalau kita terlalu mepet, yang ada dokumen-dokumennya bisa ada yang kurang lengkap.'' jelas bapak Vina.


Vina langsung mengernyit, mendengar kata calon suami membuatnya terasa geli sendiri. Walaupun faktanya memang seperti itu.


''Emm, ya sudah Pak, terserah aja gimana baiknya. Aku juga nggak paham gimana-gimananya, jadi terima beres aja, hehe,'' balas Vina yang akhirnya menemukan jawaban lurus, daripada dicurigai.


''Oh ya, sekarang diwajibkan untuk vaksin, apa kamu sudah vaksin di sana?'' tanya ibu menimpali dan bergantian memegang ponsel.


''Vaksin?? emmm, be-belum, belum di kasih tau soal itu, Bu.'' jawab Vina yang menjadi gugup.


''Bapakmu sudah mengirimkan pesan ke tuan Arkha soal surat yang sudah jadi ini, tapi, belum di balas. Kita juga bilang kalau kalian harus suntik vaksin terlebih dahulu.'' terang ibu.


Vina memutarkan bola matanya sembari menarik napas panjang.


''Masih sibuk banget, Bu, yang penting jangan sampai nelpon duluan ya.'' ujar Vina mengingatkan lagi.

__ADS_1


''Iya-iya, kita ingat pesan kamu, Vin.'' balas wanita itu.


Beberapa jam kemudian, Arkha hari ini kembali pulang malam dengan alasan lembur. Padahal, ia tengah berlatih untuk berbicara dengan kedua orangtuanya mengenai pernikahan ini.


Fyuuuhhh


Arkha keluar dari mobilnya sembari menghembuskan napas ke udara. Ia melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 21.15 WIB.


''Semoga Mikha sudah tidur.'' gumam Arkha sembari melanjutkan langkahnya.


Lidya tidak mencarinya karena Arkha sudah memberikan kabar akan lembur. Ruangan di lantai dasar hanya terlihat para pekerja.


Tok tok tok


''Mamaa.'' panggil Arkha sembari mengetuk pintu kamar mamanya.


''Yaaa.'' jawab suara dari dalam.


Tak lama kemudian, pintu kamar itu dibuka dari dalam.


''Baru pulang, Ar?'' tanya Lidya.


Arkha mengangguk dan tersenyum tipis.


''Aku mau bicara, Ma, penting.'' tutur Arkha.


Lidya mengernyitkan keningnya dan bertanya-tanya.


''Apa Mikha sudah tidur?'' tanya Arkha.


''Sudah, makanya Mama balik ke kamar.'' jawab Lidya.


''Ya sudah, di kamar Mama saja, sekalian telfon papa.'' ujar Arkha.


Lidya semakin dibuat penasaran oleh putranya sendiri. Mereka pun masuk dan duduk di sofa yang berwarna abu-abu tua itu.


Mereka tidak langsung berbicara, Lidya menatap putranya penuh dengan tanda tanya. Sedangkan Arkha terlihat mencari nomor tuan Leon. Dan, tak lama kemudian, Arkha menghubungi nomor tersebut.


Sebelumnya, Arkha sudah mengirimkan pesan kepada ayahnya kalau akan menelpon ketika sudah sampai di rumah. Tapi, deringan itu berakhir tanpa jawaban.


''Kamu ada masalah, Ar? muka kamu kelihatan tegang sekali. Apa kamu di tipu sama klien?'' selidik Lidya.


Arkha hanya menggeleng dan mengisyaratkan agar mamanya tidak berbicara dulu karena panggilan kedua mendapatkan jawaban.


Percakapan di buka dengan obrolan hangat.


''Pa, Ma, seperti yang sudah aku katakan tadi, ada hal penting yang harus ku sampaikan sekarang.'' tutur Arkha yang membuat kedua orangtuanya itu menatapnya dalam.


''Aku akan menikahi Vina!'' ungkap Arkha.

__ADS_1


Leon dan Lidya langsung terbelalak, saking shocknya sampai tidak bersuara apapun.


''Kali ini, aku tidak membutuhkan penolakan apapun. Aku tidak bisa dan tidak minat untuk menikah dengan wanita manapun. Tapi, setelah ku pertimbangan dalam-dalam semua ini, aku tidak ingin ada penyesalan jika terjadi apa-apa pada Mikha.'' jelas Arkha.


''Kenapa harus Vina?!'' balas Lidya dengan suara yang keras.


"Papa dan Mama sudah memiliki banyak rancangan dengan tuan Gilbert untuk pernikahan kalian, Aaarr!" sambung wanita itu yang sudah sangat kesal.


Di layar ponsel itu terlihat tuan Leon yang hanya bisa memijat pelipisnya.


''Coba Mama tanya saja ke Mikha, kenapa dia mintanya harus gadis kampung itu?'' balas Arkha.


''Tapi, itupun kalau Mama tega melukai perasaan Mikha dengan pertanyaan itu.''


''Pa, Ma! aku hanya akan sekedar menikahinya demi membuat Mikha senang. Demi membuat Mikha tidak lagi berbicara tentang menyusul kedua orangtuanya. Karena ungkapan itu sangat menyakitkan ku, Pa, Ma!''


''OH NO! ARKHAAAA!''


Lidya langsung menyandarkan kepalanya di sofa.


''Dengan restu atau tanpa restu dari kalian, aku akan tetap menikahinya minggu depan.'' tutur Arkha.


''APA!!'' pekik Leon dan Lidya bersamaan.


Arkha menatap papa dan mamanya itu secara bergantian.


''Ya, aku sudah mengurus semua ini diam-diam, tanpa sepengetahuan kalian.''


Orang tua Arkha semakin dibuat terkejut oleh putranya sendiri.


''Anak kampung itu pasti kesenangan nikah sama kamu, dia pasti akan mencari kesempatan terus, Ar! Mama tidak mau punya penerus dari darah orang kampung, Mama nggak mau!'' seru Lidya.


''Sudah Arkha bilang, sekedar menikahinya, bukan untuk menyentuhnya, aku juga tidak sudi.'' balas Arkha yakin.


''Apakah Mikha benar-benar tidak bisa diajak negosiasi?'' tanya tuan Leon.


''Cucumu itu benar-benar keras kepala, Pa!'' sahut Lidya.


''Bukankah itu persis sekali dengan Mama.'' timpal Arkha.


''Ish! kamu nih, Ar! Mama bukan keras kepala, Mama itu hanya memegang teguh prinsip ini!'' jawab Lidya mencari pembelaan.


Ketiganya terdiam, bertarung dengan isi kepala masing-masing.


''Terserah kamu mau gimana, Ar! yang pasti Papa tidak akan hadir dalam pernikahan kamu itu! Papa masih belum bisa!" ujar Leon yang langsung menutup sambungan telepon.


''Lho! kalau gitu Mama juga tidak akan hadir! terserah kamu mau nikah sama dia! tapi, ingat! jangan sampai kamu terjebak nafsu sama gadis kampung itu!'' ancam Lidya yang langsung beranjak dari sofa dan keluar dari kamarnya sendiri.


Arkha menatap kepergian Lidya yang sudah hilang dari balik pintu. Lalu beralih menatap ponselnya.

__ADS_1


''Ribet sekali hidup harus menikah!'' gerutu Arkha.


__ADS_2