
Vina masih tak habis pikir dengan keadaan apartemen Arkha. Tidak sesuai dengan penampilan yang sempurna saat sedang beraktivitas di luar.
''Ini di mulai dari mana siih?'' bathin Vina sembari mengedarkan pandangannya. Setiap sudut, menurut Vina semuanya berantakan.
''Benar-benar nggak pernah di beresin apa gimana?'' gumam Vina dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Belum apa-apa, Vina sudah merasakan pusing.
Sebesar dan semewah apapun bangunan kalau penghuninya tidak menjaga kebersihan tetap saja akan hilang sisi keindahannya. Sebaliknya, sesederhana apapun tempat tinggal, meskipun masih berdinding papan sederhana, kalau penghuninya selalu menjaga kebersihan, kita bisa melihat sisi keindahannya. Selain kesan indah, yang menempati pun akan merasakan nyaman.
Huufftttt
Vina menghela nafas panjang. Manusia memang tidak ada yang sama.
''Kamarnya disana.'' tunjuk Arkha membuyarkan lamunan Vina.
''Apa, Tuan?'' tanya Vina karena tidak mendengar secara jelas.
''Makanya jangan ngelamun!'' protes Arkha.
''Maaf Tuan.'' ucap Vina.
''Awas kalau sampai kesurupan disini gara-gara melamun!'' ancam Arkha yang membuat Vina mengernyitkan keningnya.
''Sepertinya anda sendiri yang kesurupan.'' bathin Vina.
''Kamarnya di-sa-na.'' ulang Arkha dengan mengeja dan tangan menunjuk kamar.
''Oh ... iya Tuan, maaf.'' balas Vina.
Vina meraih tas yang berisi keperluan Mikhael untuk ia bawa ke dalam kamar.
''Eh, nggak usah, biar saya saja yang bawa itu tasnya ke kamar. Kamu bereskan belanjaan tadi, Mikha biar saya yang ngajak main.'' cegah Arkha.
''Oh gitu ... baik Tuan, ini tasnya.'' Vina menyerahkan tas yang sudah berada di tangannya itu.
''Hmm.'' balas Arkha singkat seraya menerima tas yang diserahkan oleh Vina.
"Tolong jangan bikin Mikha nangis ya, Tuan." pinta Vina sedikit takut.
"Berisik!" protes Arkha lirih dan bersuara tajam.
Mikha masih asik dengan mainnya yang ia bawa dari rumah. Sehingga tidak mendengar perbincangan Tom and Jerry disana.
Vina pun bernafas lega karena Mikhael tidak menggubris hal lain yang bisa memberikan pengaruh tidak baik di masa-masa perkembangannya ini.
__ADS_1
''Mikhael sayang, ikut Om Arkha ke kamar Mikha yuk, temani Om beresin ini.'' ajak Arkha.
''Tapi, Mikha masih mainan ini Om.'' jawab Mikhael sembari menunjukkan mainannya m
''Bawa ke kamar saja ya, sini Om Arkha bantuin.'' rayu Arkha.
"Kita mainan di kamar dulu, disini mau dibersihkan sama mbak Vina." jelas Arkha yang bisa menyebutkan nama seseorang saat di hadapan Mikha.
''Iya Om, sebentar.'' balas Mikha langsung beranjak.
Mainan yang sudah berserakan di lantai langsung di angkut semua untuk di bawa ke dalam kamar. Sementara Vina langsung bergegas ke dapur untuk menyusun hasil belanjaan tadi.
Vina membuka pintu kulkas berukuran besar tersebut dengan percaya diri, lalu tiba-tiba helaan nafas panjang langsung keluar ketika melihat isinya tak kalah berantakan.
"ASTAGHFIRULLAH AL'ADZIIM"
Vina menarik nafas panjang lagi sampai berkali-kali karena benar-benar heran.
''Pasti sudah banyak yang kadaluarsa nih, ya Allah begini banget bos-bos.'' gerutu Vina sembari mengeluarkan semua isi kulkas untuk di bersihkan terlebih dahulu.
Tak sesuai dengan rencana awal, tadinya ingin langsung memasak karena masih ada waktu menjelang Maghrib. Tapi, ketika melihat keadaan apartemen membuat semuanya tertunda. Ia akan memasak setelah kulkas bersih dan rapi.
''Masaknya nanti aja deh abis Maghrib.'' bathin Vina.
Alat penanak nasinya tidak perlu dicari ataupun bertanya kepada pemilik apartemen karena sudah nampak, meskipun sepertinya tidak atau jarang digunakan. Vina mengambil kantong beras berat 5 kilogram yang di beli tadi. Ia membukanya dengan gunting, lalu mengambil beras tidak banyak-banyak karena Arkha tidak begitu sering mengonsumsi nasi.
Setelah memastikan magic com sudah berada di tanda memasak alias lampu "cook" yang menyala, Vina kembali melanjutkan untuk berurusan dengan kulkas.
Vina sempat shock ketika melihat isi kulkas cukup banyak botol dan kaleng minuman beralkohol. Namun, itu bukan haknya selagi tidak merugikannya. Apalagi selama ini Arkha masih bisa bersikap normal ketika berhadapan dengan keluarganya. Meskipun ia sangat membenci hal itu.
''Mikha jangan sampai buka kulkas ini.'' bathin Vina semakin mempercepat gerakan tangannya.
Sat set sat set, isi kulkas sebelumnya sudah ia keluarkan semua. Vina langsung membersihkan agar bisa di tempati oleh penghuni baru.
Setelah penghuni baru masuk, karena juga lumayan banyak. Vina segera memasukkan terlebih dulu botol-botol dan kaleng-kaleng itu agar tidak ketahuan Mikha jika tiba-tiba dia keluar dari kamar dan mencarinya.
Vina memeriksa satu persatu isi kulkas sebelumnya, dan benar saja, banyak yang sudah di makan setengah, setengahnya lagi disisakan begitu saja dan membuka kemasan lainnya, beberapa lainnya juga benar-benar sudah kadaluarsa.
''Lama banget!'' protes Arkha.
''Eh!'' pekik Vina yang langsung mundur.
Vina hampir saja kejengkang karena Arkha muncul dari balik pintu kulkas.
__ADS_1
''Maaf Tuan, saya tidak bermaksud lancang. Tapi, saat saya mau membereskan belanjaan tadi, e.. saya melihat kulkasnya berantakan, hehe. Dan banyak kemasan yang sudah kadaluarsa, jadinya saya susun ulang biar anda tidak susah memilihnya nanti.'' jelas Vina.
''Cih! sok perhatian.'' gumam Arkha.
Vina langsung melirik tajam mendengar gumaman Arkha, tetapi secepatnya ia langsung menunduk.
''Terserah kamu! Mikha minta susu tuh, cepat buatkan.'' suruh Arkha.
''Baik Tuan. Sebentar saya bawa termos mininya dan susunya juga di dalam kamar.'' ujar Vina.
''Hm.'' balas Arkha singkat.
Vina membalas dengan senyum singkat meskipun di dalam hatinya ingin ngomel kepada pria di depannya itu.
''Jawab agak panjang dikit kek, ham hem ham hem.'' gerutu Vina.
Arkha segera memeriksa kulkasnya setelah Vina pergi, lalu ia mengangguk-angguk menatap kulkasnya yang sudah bersih dan rapi.
''Hmm, rajin juga.'' bathinnya dengan kepala mengangguk-angguk.
Sementara itu, Vina cepat-cepat mengambil susu dan termos mini yang ia bawa di dalam tas.
''Mbak Vina bikinkan susunya dulu ya.'' ujar Vina kepada Mikha yang masih mainan.
''Iya Mbak Ina.'' jawab Mikha.
Vina langsung keluar dari kamar, saat di pintu berpapasan dengan Arkha yang hendak masuk. Keduanya sama-sama terkejut, tapi, Vina langsung bergeser untuk memberikan ruang pada Arkha supaya bisa lewat.
Tapi, bukan Arkha jika tidak ada masalah dengan Vina. Padahal sudah diberikan ruang oleh Vina. Keduanya spontan menghentikan langkah tanpa kata-kata.
''Cepetan lewat! malah jadi patung!'' omel Arkha setelah bergeser.
Tanpa menjawab, Vina langsung bergegas keluar.
"Permisi." ucap Vina cepat.
Arkha pun juga tak menjawabnya.
''Nyonya dulu ngidam apa sih?? kok anaknya begitu banget, heran!'' gerutu Vina.
Ia dengan cekatan membuatkan susu untuk Mikha karena sudah ditunggu.
''ASTAGHFIRULLAH!!'' pekik Vina.
__ADS_1