(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 32 : Sumber Air Kehidupan


__ADS_3

Vina langsung menutup mulutnya karena sadar tawanya itu sudah berlebihan. Ia juga menyimpulkan bahwa pertanyaan dari Gian termasuk upaya menghentikan tawanya itu.


''Hehe, masih muda, jadi mending jomblo dulu, Mas.'' jawab Vina enteng.


Tidak mau membuang waktu mudanya dengan ketidakpastian. Vina hanya ingin berteman dengan siapa saja saat ini. Ia akan menerima hubungan pendekatan dengan pria saat sudah merasa siap melanjutkan ke hubungan yang serius.


''Tapi, kalau mas Gian kayaknya nggak mungkin deh kalau nggak punya pacar.'' tebak Vina.


Bagaimana Vina tidak menebak hal itu. Naluri wanitanya sama dengan wanita-wanita yang lain, suka menerka-nerka. Giliran tau jawabannya, sakit hati sendiri, wkwkwk 🤭


Menurut sudut pandang Vina, Gian cukup tampan, badannya juga tinggi. Apalagi laki-laki itu sangat piawai dalam membuat masakan. Warung makannya bukan ramai karena paras pemiliknya, tetapi Gian bisa menjamin rasanya tidak akan berubah sejak orangtuanya yang mengelola.


''Kalau kenyataannya memang nggak punya pacar, gimana dong?'' tanya Gian balik.


Belum sempat Vina menjawab, Gian sudah tertawa melihat ekspresi wajah Vina yang tergambar jelas meragukan perkataannya itu.


''Kalau mau daftar, masih bisa nih, Vin.'' canda Gian sembari beranjak.


Vina langsung salah tingkah sendiri saat mendengar candaan Gian. Justru hatinya menjadi dag-dig-dug. Hal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Vina harus bisa mengendalikan hal-hal seperti ini.


''Jangan, Vin! jangaaaan!! kamu harus fokus BE-KER-JA!!" bathin Vina.


Lagi-lagi Vina pun hanya nyengir, sampai tak sadar Gian sudah menjauh dari tempatnya duduk.


Tak lama kemudian, Gian kembali mendekat sembari membawa dua gelas teh hangat.


''Memangnya ada yang lucu ya, Mas?'' tanya Vina.


''Iya, ada.'' jawab Gian kembali duduk.


''Hah? apanya yang lucu?'' tanya Vina lagi

__ADS_1


''Kamu itu lho, Vin.'' jawab Gian kembali terkekeh.


Lagi-lagi Vina nyengir, kali ini sambil garuk-garuk kepala.


''Daripada pusing, ini di minum tehnya.'' ujar Gian menawari.


''Wiihh, terima kasih, Mas Gian.'' ucap Vina sembari mengangkat gelas itu.


''Sama-sama Vina Panduwinata, eh salah, Vina Saraswati 008.'' balas Gian.


Uhuk uhuk uhuk


Mendengar balasan dari Gian membuat Vina yang tengah menyeruput pelan-pelan teh buatan Gian itu langsung tersedak. Bisa-bisanya Gian mengubah-ubah namanya.


''Eh, maaf-maaf ... maaf Vin.'' ucap Gian yang langsung berjalan cepat untuk mengambil air mineral.


''Nggak papa, Mas, nggak papa.'' jawab Vina yang sudah tidak terbatuk-batuk.


''Aku baik-baik aja, tapi, terima kasih, hehe.'' jawab Vina.


Gian mengangguk.


Vina langsung meneguk air mineral yang sudah dibukakan tutupnya itu.


''Bisa-bisanya kepikiran Saraswati 008.'' ujar Vina.


''Nggak tau juga sih, asal nyeplos aja tadi. Eh, malah bikin kamu batuk-batuk, maaf ya.'' ucap Gian yang masih merasa tidak enak.


''Haha, santai aja Mas.'' ujar Vina.


Sesuai dengan apa yang dijanjikan, pasangan suami istri itu sudah kembali. Tapi, baru Ratna yang tampak masuk, sedangkan Hadi meletakkan motor ke garasi.

__ADS_1


''Heee ternyata kalian malah berduaan disini, awas dua-duaan, ketiganya seee-tan.'' ujar Ratna sedikit berbisik pada Gian dan Vina.


''Iya nih, setannya baru saja datang, hahahaha.'' jawab Gian tertawa puas.


Vina pun juga ikut tertawa.


''Asem! kena juga aku.'' gerutu Ratna.


''Hahaha, dari mana, Mbak?'' tanya Gian.


''Kamu nanyeak? kamu bertanyeak-tanyeak?'' balas Ratna.


Rasanya Gian ingin melempar Ratna dengan petasan. Apalagi ekspresi Ratna yang sengaja dibuat lebay itu.


''Hahahaha, dari beli penutup sumber air kehidupan nih.'' jawab Ratna dengan santainya.


Gian dan Vina kompak langsung mengernyitkan keningnya sembari berpikir maksud dari sumber air kehidupan.


Keduanya saling menatap satu sama lain. Beberapa detik kemudian, Vina langsung terbelalak karena paham.


''Mbak Ratnaaaaa!'' seru Vina.


Hahahahahaha


Ratna langsung berlari ke kamarnya dengan suara tawanya yang menggelegar. Sementara suaminya baru saja masuk setelah menutup pintu gerbang. Ia tidak paham apa yang baru saja terjadi. Suara tawa istrinya masih bisa ia dengar.


''Ada apa sih?'' tanya Hadi.


''Biasalah istrimu, Mas.'' jawab Gian.


Tak lama kemudian, Ratna kembali lagi dengan tawa yang sudah berhenti. Mereka berempat pun mulai menyicil untuk besok. Vina tampak nyaman karena di terima di sini, tidak akan yang merendahkan kemampuannya meskipun masih kerap melakukan kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2