
Perjalanan kembali ke kota sedang dilalui. Arkha dan Dicky sedang menunggu jadwal penerbangan. Arkha bepergian dengan pesawat, namun, tidak menggunakan jet pribadi. Karena ia masih belum berbicara apapun mengenai hal ini kepada kedua orangtuanya.
''Anda kalau seperti tadi, cukup bagus juga, Tuan.'' puji Dicky yang menyindir sikap Arkha saat berhadapan dengan orang tua Vina.
''Ya, memang aslinya saya orangnya sangat sopan dan baik hati.'' balas Arkha sembari bermain game online di ponselnya.
Arkha selain menyukai dunia malam, ia juga menyukai game online. Hanya saja dia tidak terlalu aktif di sana, karena sudah lebih sibuk urusan kantor. Game hanya untuk sekedar mengisi waktu senggangnya.
Dicky langsung mengatupkan bibirnya, salivanya hampir muncrat ketika mendengar pujian dari Arkha untuk dirinya sendiri.
''Gimana ****?'' tanya Arkha setelah beberapa saat.
''Dia sudah diamankan di hotel.'' jawab Dicky.
''Hmm, bagus.'' balas Arkha dengan sudut bibirnya yang terangkat.
Sebuah rencana yang ia matangkan sendiri. Meskipun kepergiannya kali ini ke rumah Vina ternyata tidak bertemu dengan gadis itu, bukan berarti membuat Arkha kehilangan akal. Dicky pun langsung paham dengan apa yang diinginkan oleh Arkha.
Di tempat lain
Gadis itu celingukan, kedua matanya langsung bergerak ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Ia langsung mundur, tetapi tangannya ditahan, sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.
''SIAPA KAMU!''
__ADS_1
''AWAS JANGAN MACAM-MACAM YA!''
''TOLONG!''
Ntahlah, tidak ada yang mendekat sama sekali. Vina hanya berhasil satu kali mengeluarkan teriakan untuk meminta pertolongan.
Di saat Vina sedang menanti taksi yang akan membawanya ke tempat Gian, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam menghampirinya. Satu pria berbadan kekar langsung menariknya ke dalam mobil itu. Vina sudah berusaha untuk berteriak, tetapi suara itu tidak berhasil keluar lagi karena mulutnya sudah diberi obat bius. Perlawanan yang ia lakukan juga tidak membuahkan hasil karena sudah pasti kalah dengan tenaga pria itu.
Sebelum berangkat pulang kampung, Gian sudah memberikan pesan pada Vina supaya saat kembali nanti, biar Gian yang akan menjemputnya di terminal. Tetapi, Vina selalu menolak karena tidak mau mengganggu kesibukan Gian. Ia juga tidak ingin membuat pekerja Gian yang lain cemburu dengan perlakuan itu.
''Kenapa Vina belum datang juga ya?'' gumam Gian yang sesekali melihat jam di pergelangan tangannya.
Gian baru ingat, waktu Vina kembali ke sini, rumah makannya sudah jam tutup. Seharusnya ia bisa memaksa karena tidak ada alasan lagi untuk Vina menolak.
Gian mencoba menghubungi nomor Vina, deringan itu terdengar sudah nyambung. Sekali, dua kali, dan tiga kali tidak ada jawaban. Gian langsung panik, ia kembali melihat jam, sudah lebih dari jam 9 malam.
''Coba aku telpon lagi aja.''
Masih tidak ada jawaban. Gian yang duduk di ruang tengah itu langsung beranjak, ia mengambil kunci motornya.
''Nggak ada pilihan lain, aku khawatir Vina kenapa-kenapa. Ini sudah nggak wajar. Nggak mungkin juga Vina mampir- mampir. Kalaupun, mampir, pasti kasih kabar.''
Gian terus berbicara sendiri sembari berjalan untuk mengambil motornya yang sudah masuk ke garasi.
__ADS_1
Vina membuka kedua matanya secara perlahan, ia mengedipkan matanya berkali-kali agar bisa fokus untuk memandang. Posisinya saat ini sedang di atas kasur. Setelah menyadari bahwa kasur itu berbeda dengan yang biasa ia tiduri, Vina langsung terbelalak, seketika ia terduduk.
''DIMANA INI?!'' pekiknya.
Vina mengitari pandangannya, tidak ada siapa-siapa di sana, ia sendirian. Spontan Vina menangis ketakutan, ia melihat tubuhnya dan ternyata pakaian yang ia kenakan masih utuh sehingga membuat gadis itu bisa bernafas lega.
''Aku dimana ini?'' tanya Vina lirih sembari turun dari ranjang mewah itu.
''SIAPA YANG BAWA AKU KESINI?!'' seru Vina.
Vina meyakini, orang yang telah membawanya kemari tidak jauh. Ia yakin orang itu tengah memantaunya, ntah secara langsung maupun dengan kamera pengintai.
''KELUAR KAMU! NGGAK USAH SEMBUNYI!'' seru Vina lagi yang terus menantang.
Meskipun dengan menangis, Vina tetap bisa berteriak. Hal itu karena dirinya sudah terpengaruh oleh emosi.
''CEPAT KELUAR KAMU! JANGAN JADI MANUSIA PENGECUT!!'' seru Vina lagi.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Prok prok prok
Pemilik suara tepuk tangan itu langsung membuat Vina kembali terbelalak.
__ADS_1