(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 28 : Penyesalan?


__ADS_3

Tidak terbayangkan bisa beralih profesi dalam waktu yang secepat ini. Kemarin masih bermain dengan Mikha, menemani mandi dan makan anak kecil itu.


Vina tersenyum tipis di tengah-tengah lamunannya. Hari kemarin sudah berlalu, tepatnya tadi malam. Kejadian yang sangat membuatnya merasa menjadi manusia rendah.


"Jangan ngelamun, nanti kesambet.'' tegur Gian.


Terlalu larut dalam lamunan, Vina tidak mendengar teguran dari Gian.


Gian akhirnya ikut duduk di kursi panjang itu.


"Eh, Mas Gian! sejak kapan ada disini?'' pekik Vina sembari celingukan.


''Sejak kemarin.'' canda Gian.


Vina ikut tertawa kecil.


"Jangan melamun, sebentar lagi sudah mau Maghrib.'' ujar Gian mengingatkan.


"Iya Mas Gian, maaf ya." balas Vina.


Warung makan sudah tutup jam 16.30 WIB. Semua menu habis, Vina membersihkan meja-meja, etalase, dan lainnya. Saat di kursi panjang, di tempat terakhir ia membersihkan, Vina langsung duduk sembari melihat suasana yang berbeda dari pemandangan beberapa tahun terakhir.


"Mbak Inaaaaaa''


Bayang-bayang suara Mikhael masih kerap kali masuk ke dalam pikiran Vina. Memang tak semudah itu karena ia sangat menyayangi Mikhael. Apalagi waktu itu belum lama berlalu.

__ADS_1


Di kediaman keluarga Leonardo


"Mikha nggak mau mandi, Omaa!'' teriak Mikhael dengan bibirnya yang mengerucut.


Lidya di buat pusing oleh penolakan sang cucu yang sudah waktunya membersihkan badan. Tetapi sejak tadi selalu menjawab nanti, nanti, nanti, dan sekarang justru bilang tidak mau mandi.


"Ayo dong mandi, Mikhaa.'' bujuk Lidya lagi.


''Mau mandi kalau sama mbak Ina!'' seru Mikha.


Lidya justru dibuat geram, tapi, tetap ditahannya. Ia semakin membuat kesimpulan bahwa Vina telah memberikan pengaruh buruk pada cucunya itu. Buktinya sekarang sang cucu berani keras padanya. Padahal selama ini tidak pernah.


''Ada apa ini kok masih manyun?''


''Om Arkhaa.'' seru Mikhael dan langsung memeluk om Arkha-nya itu.


"Mikha kenapa kok nggak mau mandi sama oma?'' tanya Arkha.


"Mikha maunya mandi sama mbak Ina, Om.'' jawab Mikhael.


Nama itu lagi, Arkha menghela nafas panjang. Ia menyadari bahwa semua itu hal yang wajar saja. Tidak sesingkat itu untuk melepaskan nama yang sudah sejak kecil selalu berada di sisi Mikha.


''Mikha harus mandi ya. Mandi sama Om Arkha ya.'' bujuk Arkha dengan nada suara yang lembut seperti saat Vina sedang membujuk Mikhael. Secara tidak sadar, perlakuan Vina pada keponakannya itu memang terekam di dalam memorinya, meskipun ia tidak setiap hari bersama.


Bujukan itu belum berhasil mendapatkan jawaban yang pasti dari Mikha. Pria kecil itu masih terdiam.

__ADS_1


"Mandi dulu, nanti Om Arkha nginap disini nemani Mikha.'' bujuk Arkha yang mengupayakan hal apapun.


Mikhael langsung menatap Arkha.


"Om Arkha nggak bohong?'' tanya Mikha.


Dengan senyum yang lebar, Arkha mengangguk untuk meyakinkan ponakannya itu.


"Nggak dong, nanti kita main sama-sama.'' jawab Arkha.


"Mau ya mandi sama Om Arkha?''


Akhirnya, Mikha mengangguk.


Tidak mau membuat Mikha berubah pikiran. Arkha langsung bergegas membawa Mikha ke kamar mandi. Lidya dengan sigap menyiapkan keperluan mandi cucu kesayangannya itu.


Beberapa menit kemudian, Mikha sudah harum dengan berganti pakaian dan pengharum khas anak-anak.


"Bagaimana caranya supaya cucuku lupa sama anak itu?'' bathin Lidya.


Arkha menghampiri Lidya, ia langsung duduk di sebelah mamanya.


"Apa ada penyesalan di hati Mama?'' tanya Arkha lirih. Ia tak ingin Mikha mendengar percakapan mereka.


"Penyesalan?'' Lidya terlihat menahan tawa yang meremehkan pertanyaan dari putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2