(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 8 : Jangan Suka Marah-marah


__ADS_3

Tujuan utama kedatangan mereka tentu saja ke Timezone. Mikhael menunjuk mana saja yang ia minati. Arkha tinggal menuruti saja apa yang menjadi kemauan ponakan tersayangnya itu.


Belum lama Mikhael sudah mulai bermain dan di dampingi oleh Arkha, Vina melihat seseorang yang sepertinya ia kenali.


''Eh Fitri, ketemu disini kita.'' sapa Vina pada temannya yang juga bekerja di kota yang sama.


''Ya Allah Vin, lama juga kita nggak ketemu ya.'' balas gadis itu.


''Gimana kabarmu? sehat 'kan?'' tanya Fitri.


''Alhamdulillah sehat, Vin. Kamu juga sehat 'kan?'' balas Vina.


''Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat ini hehe.'' jawab Fitri.


''Mana anakmu?'' tanya Fitri.


Anak yang di maksud tentu saja anak yang mereka asuh.


''Itu lagi mainan sama om-nya.'' jawab Vina lalu ekor matanya menunjuk kepada dua laki-laki itu. Ia tidak mau menatap langsung, takut pada tatapan Arkha yang tajam seperti ingin memakannya.


Fitri mengikuti arah ekor mata Vina.


''Wah bos kamu masih muda, Vin? cakep pula ... pantesan betah.'' goda Fitri berbisik.


''Ssstttt, itu omnya!'' Vina meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


''Ooooooo.'' jawab Fitri yang bibirnya membentuk huruf O beberapa detik.


Fitri teman satu kampung Vina, mereka sama-sama bekerja menjadi baby sitter di kota. Meskipun mereka berada di kota yang sama, tetapi mereka sangat jarang ketemu. Apalagi Vina yang jarang mengambil hak liburnya. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, biasanya mereka menggunakan hari liburnya untuk liburan, bermain ke tempat wisata yang ramai dikunjungi.


''Lihat tuh tatapan matanya kayak mau makan orang.'' bisik Vina.


Fitri dengan polosnya menatap ke arah Arkha lagi untuk memastikan apa yang sudah dikatakan oleh Vina.


''Ho'oh Vin, cakep-cakep tapi nyeremin.''


''Ehm!''


''Seruu banget Mbak Ina!!!'' seru Mikha.


''Mikha hebat.'' balas Vina sembari bertepuk tangan.

__ADS_1


''Duluan ya Vin, sampai ketemu lain waktu.'' ujar Fitri berpamitan.


''Iya Fit.'' balas Vina.


Deheman dari Arkha langsung berhasil menyingkirkan Fitri. Gadis itu langsung mendekati momongannya yang masih bermain dengan kakaknya.


''Saya tidak yakin kamu bisa bekerja dengan baik!'' sindir Arkha setelah perginya Fitri. Tatapan matanya sangat meremehkan.


Vina terkejut dengan perkataan Arkha itu.


''Maksud anda?'' tanya Vina.


''Masih bertanya? cih!'' cibir Arkha dengan sudut bibirnya yang terangkat.


''Waktumu masih untuk bekerja, bukan untuk menggosip. Paham?!'' lirih Arkha dengan suara yang ia tekankan.


Mikhael masih melanjutkan mainnya, sehingga Arkha bisa berbicara seperti itu.


Dengan terbata, Vina mengangguk, ternyata Arkha juga tidak menyukai ketika melihat para pekerja berbincang dengan orang luar.


''Paham, Tuan.'' jawab Vina.


''Om Arkha jangan suka marah-marah, nanti cepat tua kayak opa.'' protes Mikhael yang baru saja turun dan melihat ekspresi wajah Arkha dan Vina sedang tidak akur.


''Om Arkha nggak marah kok.'' ujar Arkha membela diri lalu memberikan tatapan mata kepada Vina sebagai kode supaya tidak mengadu.


''Iya Mikha, om Arkha lagi kasih nasehat biar Mbak Ina bekerja lebih baik lagi.'' jawab Vina.


Arkha bernafas lega karena Vina mengerti dengan apa yang ia harapkan, yaitu tetap menjadi om kebanggaan Mikhael. Sehingga Mikha tidak marah padanya.


Mikha tampak bahagia akhir pekan ini bisa menghirup udara keramaian di mall. Bertemu sesama anak kecil lainnya yang berusia tak jauh dengannya.


Ketika Vina dan Arkha terlihat lelah, sesekali mengusap keningnya yang mengeluarkan keringat. Kakinya juga terasa pegal karena berjalan dari tempat satu ke tempat lainnya. Ingin rasanya selonjoran di tengah danau. Ah, tapi, tidak mungkin.


''Mikha nggak capek?'' tanya Arkha.


''Enggak.'' jawab Mikha.


''Wahh Mikha hebat sekali ya.'' puji Arkha.


Padahal dalam hati Arkha, dirinya sudah mengeluh juga. Tapi, ternyata anak kecil itu masih terlihat sangat semangat untuk bermain lagi.

__ADS_1


''Janji ini yang terakhir ya, Mikha. Abis itu kita makan terus pulang.'' ujar Vina berusaha untuk membujuk.


''Iya Mbak Ina.'' jawab Mikhael.


Setelah lelah menuruti semua kemauan Mikha, sekarang ketiganya bisa mengistirahatkan kakinya yang sudah semakin terasa pegal-pegal. Terutama untuk Vina dan Arkha, karena Mikha masih belum merasakan lelah.


°°


Bibir berkata tidak capek. Namun, saat perjalanan pulang ke rumah, baru beberapa meter dari parkiran mobil, Mikha sudah mulai menyipitkan kedua matanya, suara ceriwisnya tidak lagi terdengar. Laki-laki kecil itu akhirnya tidur di dalam pelukan Vina yang nyaman.


''Mikha tidur?'' tanya Arkha.


''Sssttt, jangan keras-keras.'' bisik Vina.


''Bisa-bisanya dia mengatur suaraku!" gerutu Arkha dalam hati tanpa menoleh ke arah Vina.


Vina masih mengusap-usap lembut rambut Mikha agar semakin nyenyak.


Arkha melirik sekilas.


''Ehmm!''


Pikirannya traveling sendiri melihat Mikha nyaman di dalam dekapan Vina. Ia tak lagi menatap ke arah sana karena takut jiwa liarnya akan khilaf.


Arkha segera membuka pintu mobil dan menutupnya pelan-pelan setelah tiba di rumah. Vina pun membuka pintu di sebelahnya dengan hati-hati. Vina terlihat agak kesusahan karena harus berputar, sedangkan tangan kirinya menopang tubuh Mikha yang masih tidur pulas.


''Biar saya saja yang gendong Mikha ke dalam.'' ujar Arkha membuka pintu Vina lebih lebar.


Vina terlihat gugup dan juga jantungnya deg-degan, ia langsung kebingungan bagaimana cara menyerahkan Mikha pada Arkha.


''Iya Tuan, silahkan.'' balas Vin.


''Tapi, bagaimana ini?'' tanyanya lirih.


Arkha sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mengambil alih ponakannya itu. Dengan hati-hati, akhirnya Mikhael sudah berhasil berpindah tangan ke gendongan Arkha.


''Ini kuncinya, nanti di kunci.'' ujar Arkha memberikan kunci mobilnya kepada Vina.


''Baik Tuan.'' jawab Vina.


Arkha sudah berjalan lebih dulu untuk membawa Mikha yang sudah tidur ke dalam kamar. Sedangkan Vina mengambil barang-barang bawaannya yang masih di dalam mobil. Setelah selesai dan yakin tidak ada yang tertinggal, Vina langsung mengunci mobil tersebut.

__ADS_1


Dengan langkah yang tergopoh-gopoh, Vina langsung menyusul masuk ke dalam kamar Mikhael.


__ADS_2