
''Kenapa mataku kedutan terus sih?'' bathin Vina yang akhirnya merasa tidak nyaman karena sudah dari tadi belum berhenti-henti juga.
Tapi, Vina bisa menutupinya dengan bersikap biasa saja. Mereka semua pun juga tidak mungkin memperhatikannya.
Di kediaman Leonardo
Lidya di buat naik darah oleh cucunya sendiri. Drama di mulai sejak pagi tadi, Mikha yang tidak mau mandi, tidak mau sarapan, dan tidak mau di ajak pergi. Jawabannya hanya satu jika mau di turuti, yaitu membawa Vina kembali lagi ke rumah itu. Bahkan kali ini permintaan Mikha tidak main-main, ia mengulang-ulang permintaannya supaya Arkha dan Vina menjadi pasangan. Sampai amarah itu tidak biasa.
Setelah di bawa ke luar negeri, Mikha memang sangat jarang menanyakan Vina, tetapi ia menjadi anak yang pendiam, dan tiba-tiba amarahnya muncul, apalagi ketika pulang sekolah. Ia kerap menghabiskan waktu di dalam kamar.
''Mikha! siapa sih yang mempengaruhi kamu, sayang?''
''Om Arkha itu sudah punya calon istri, jangan maksa sama mbak Vina terus! mereka juga tidak cocok, Mikha.'' ujar Lidya setelah menarik nafas panjang.
Mikha membuka selimut tebal yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya karena marah pada omanya itu.
''Om Arkha 'kan tidak mau menikah sama tante yang Oma kenalkan itu! Oma yang terus-menerus memaksa om Arkha juga 'kan?'' protes Mikha.
Ceklek
Pintu kamar Mikha terbuka, Lidya dan Mikha langsung menoleh. Arkha muncul di balik pintu dan langsung masuk ke dalam setelah menutup lagi pintu kamar Mikha.
''Ada apa ini?'' tanya Arkha.
Lidya langsung menarik nafas panjang. Mikha menatapnya tajam dengan bibirnya yang tertutup rapat.
''Om Arkha jahat!'' seru Mikha.
Arkha perlahan mendekati keponakannya itu, tetapi Mikha langsung melengos setelah menepis tangan Arkha.
''Oke-oke, jangan pada marah-marah dulu ya, kita bicarakan semua ini baik-baik.'' ujar Arkha yang berusaha mencoba untuk tenang.
''Jadi, sekarang maunya Mikha gimana?'' tanya Arkha.
Arkha memeluk keponakannya itu dengan hati-hati. Ia teringat saat Mikha hampir marah, dan Vina memeluknya untuk menenangkan. Upaya itu berhasil, sekarang Arkha akan mencobanya. Apalagi melihat raut wajah mamanya yang sudah tidak terkontrol, Arkha tidak ingin seperti Lidya yang tidak mau mengalah.
''Om Arkha sudah mau menikah apa belum?'' tanya Mikha.
__ADS_1
''Om Arkha memangnya mau sama tante yang oma kenalkan itu?'' selidik Mikha.
Dua pertanyaan dari Mikha langsung pada poin utama. Meskipun Mikha masih anak kecil, tetapi ia cukup mampu membaca situasi dan kondisi. Bahkan, selama ini ini tidak melaporkan pada opa dan omanya mengenai dirinya yang kerap di bully oleh teman-temannya karena tidak pernah di antar oleh daddy atau mommy.
Hari demi hari, tangis itu berubah menjadi benci yang ditahannya. Opa dan omanya pun tak pernah sekalipun menyadari hal itu. Mereka mengira Mikha baik-baik saja ketika di sekolah. Karena jawaban itu memang yang mereka terima ketika menanyakan bagaimana hari-hari Mikha saat sekolah.
Sejak saat itu, ia yang di anggap sudah bisa melupakan Vina secara perlahan, ternyata justru menyimpan amarah yang sangat mendalam.
''Mikha sayang, kenapa Mikha sudah membahas pernikahan Om Arkha?''
''Belum waktunya kamu untuk berbicara tentang orang-orang dewasa, sayang. Kamu harus fokus belajar, kamu bisa bermain sesukamu.'' balas Arkha sembari mengurai pelukannya.
''Mikha lelah, Om! Mikha selalu di bully sama teman-teman karena tidak punya daddy dan mommy! setiap hari Mikha selalu di ejek sama mereka.''
''Oma, Opa, sama Om Arkha selalu mengatakan aku ini anak kecil! tapi, Mikha sudah bisa berpikir. Mikha sudah bisa menangis dan juga bisa marah. Tapi, selama ini Mikha tidak cerita sama siapa-siapa karena kalian tidak mau dengar!''
Arkha dan Lidya saling menatap. Mereka pun tidak menyangka kalau Mikha akan mengungkapkan hal itu.
Arkha ingin menyalahkan Lidya, tetapi disini ia pun juga salah. Ia pun langsung menarik nafas panjang dan kembali memeluk keponakannya.
''Kalau begitu, nanti kalau sudah masuk SD, Mikha kembali ke sini ya, panggil Om Arkha dengan sebutan Papa, okay.''
''Siapa yang mau jadi mamanya Mikha?'' tanya Mikha.
''Emmm, ituuu.''
Arkha pun langsung bingung, ia masih tetap belum menginginkan pernikahan. Ia masih menyukai dunia bebasnya yang tanpa ikatan.
''Sudahlah, Ar, kamu menikah saja dengan Rachel.'' paksa Lidya.
''Tidak! Arkha tidak mau menikah dengan dia atau siapapun. Arkha tidak mau menikah.'' jawab Arkha sedikit berbisik.
Pertanyaan terbesar di benak Arkha adalah kenapa hidup harus menikah. Sedangkan ia sangat tidak menyukainya. Tapi, saat ini hatinya sedang dalam kondisi bimbang.
''Kenapa Om Arkha masih tidak mau menikah?''
''Oma tidak sayang sama Mikha!''
__ADS_1
''Opa tidak sayang sama Mikha!''
''Om Arkha juga tidak sayang sama Mikha!''
''Kalian semua jahat! Mikha mau pergi saja ke surga seperti mama dan papa!''
Arkha dan Lidya pun langsung terbelalak mendengar ancaman Mikha.
''Ssstt, Mikha bicara apa sih ... nggak boleh bicara seperti itu lagi ya, sayang.'' tutur Lidya dengan suara lembut.
Mikha langsung menutupkan kembali selimut itu sembari menangis kencang.
Arkha menarik nafas panjang, ia lalu turun dari ranjang dan duduk di sofa. Ia tidak bisa berkata-kata lagi untuk sekarang. Kedua tangannya memegangi kepalanya sembari menunduk. Lidya menghampiri putranya itu. Untuk tangis Mikha, Arkha sengaja membiarkannya terlebih dulu supaya lebih plong.
''Jangan paksa aku untuk menikah dengan wanita itu, Ma! dia itu perempuan tidak baik. Jangan karena demi bisnis, Mama jadi egois!''
''Dari mana kamu tau kalau Rachel tidak baik, Ar?''
''Dia itu gadis yang cantik, berpendidikan tinggi, sopan, berkelas, dan pastinya sangat sepadan dengan kita.''
Anak dan ibu itu berbicara dengan suara yang pelan. Mereka tidak ingin Mikha mendengarnya.
Arkha mengangkat sudut bibirnya, ia sudah tau sosok Rachel seperti apa. Mereka sama-sama penganut hidup bebas, hanya saja Arkha tidak mau jika bermain-main dengan wanita yang berawal sudah saling kenal, kecuali ketika masih di luar negeri dulu. Ia tau kalau perjodohan ini demi bisnis orangtua masing-masing. Bukan hal yang baru terjadi, Arkha sudah sangat hafal dengan hal-hal seperti ini.
''Pokoknya aku tidak mau, Ma!'' bantah Arkha.
Arkha beranjak berdiri, tetapi lengannya langsung di tahan oleh Lidya sehingga membuatnya kembali duduk.
''Lalu, kamu mau menikah dengan siapa?''
''Apa jangan-jangan kamu sudah punya pacar?''
''Wanita itu harus 11-12 sama Rachel!''
Arkha menggeleng cepat.
''Bukan waktu yang tepat untuk membahas itu, Ma.'' balas Arkha.
__ADS_1
Arkha kembali mendekati Mikha yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Ia duduk di sisi ranjang, lalu membuka selimut itu pelan-pelan.
''Sekarang Mikha bilang, apa yang harus Om Arkha, oma, dan opa lakukan?'' tanya Arkha.